
Selesai sarapan, ibu Siti pamit pada Lilis dan Nathan untuk pergi kerumah Bu RT karena ada acara syukuran. Beliau diminta untuk ikut membantu membuat masakan Jawa, karena nanti akan ada beberapa tamu yang suka masakan Jawa.
Lilis membersihkan bekas makanan dan mencuci piring yang kotor. Setelah itu, Lilis bergabung dengan Nathan dan Naina yang sedang bermain boneka. Boneka cantik pemberian Nathan sebelum menikah dulu, kini menjadi boneka kesayangan Naina.
Lilis duduk di samping suaminya, sementara Naina menidurkan adik bonekanya di dekat Nathan.
"Ibu, Naina mau adik yang bisa menangis dan tertawa," kata Naina terlihat agak kesal.
"Iya, nanti ibu belikan yang bisa menangis. Ada kok, banyak di toko mainan," kata Lilis tersenyum.
"Bukan mainan," kata Naina.
"Bukan mainan, terus apa?" tanya Lilis penasaran.
"Istriku, dedek mungkin yang dimaksud Naina," jawab Nathan sambil tertawa.
"Iya ayah. Dedek bayi."
"Oh, dedek bayi? Nanti ya sayang. Ayah dan ibu baru belajar membuat dedek bayi. Naina tunggu saja, nanti kalau Naina sudah masuk sekolah, dedek bayinya mungkin baru bisa lahir," ucap Nathan sambil menahan tawa.
"Benarkah ibu?" tanya Naina.
"Iya, Naina. Sekarang, Naina lanjut main sama bonekanya, ayah dan ibu temani disini," kata Lilis lembut.
Naina kembali asyik bermain dengan boneka kesayangannya. Sementara Nathan menarik Lilis agar lebih dekat dengannya.
"Dengar kan, Naina sudah pingin punya adek. Kita harus berusaha lebih giat, biar bisa wujudkan keinginan Naina," kata Nathan menggoda Lilis.
"Maunya... Mas, juga kan?" goda Lilis balik.
"Apa kamu nggak pingin juga?" jawab Nathan sambil mencium pipi Lilis.
Wajah Lilis berubah merah merona karena malu. Nathan memang bisa membuat hidup Lilis merasa berarti sebagai seorang istri. Sangat berbeda jauh ketika dia bersama Desta. Desta lebih peduli dengan ponselnya ketimbang dirinya. Saat bersama, Nathan hampir tidak pernah memegang ponsel. Dia akan lebih memilih menggoda Lilis dan Naina.
"Mas, persediaan bahan sayuran sudah habis. Nanti, aku mau pergi ke pasar sebentar," kata Lilis meminta izin pada Nathan.
__ADS_1
"Biar nanti aku antar. Kapan?"
"Nanti, agak siangan sedikit."
Nathan berdiri dan melangkah menuju ke kamar. Tidak lama kemudian, dia sudah kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia duduk kembali di samping Lilis.
"Ini, uang hasil kerja kerasku selama ini. Sekarang, semua yang aku miliki adalah milikmu, termasuk uangku sejak aku masih muda. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah bertanya tentang uangmu. Uang hasil kerja kerasmu akan tetap menjadi milikmu," kata Nathan serius.
Lilis menatap sebuah kartu yang pernah dilihatnya sebelum dia menikah dengan Nathan. Kartu itu sekarang di berikan padanya tanpa dia harus meminta seperti pengemis. Mata Lilis berkaca-kaca, untuk pertama kalinya, Lilis menerima uang dari kerja keras sang suami.
"Ada apa, sayang? Ambillah, gunakan untuk keperluan kita sehari-hari. Kamu juga boleh menggunakannya untuk membeli keperluan pribadimu. Intinya, uang ini milikmu."
Lilis menerima kartu dari suaminya dengan senyum termanisnya yang disertai dengan rasa terharunya yang sangat dalam.
"Terimakasih, Mas."
Nathan memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Nathan tidak menyadari jika Lilis teringat masa lalunya. Mas lalu yang teramat pahit bagi Lilis. Ternyata Desta memang berbeda dengan Nathan dari segi apapun. Namun terbersit di hati Lilis, apakah semua itu akan bertahan lama, ataukah hanya sekejap saja? Akan tetapi, Lilis akan menikmati apa yang dimilikinya saat ini.
Setelah agak siang, Lilis dan Nathan pergi ke pasar yang biasa Lilis datangi. Nathan menggendong Naina yang tersenyum karena senang bisa pergi keluar dengan Nathan. Setelah dari pasar, mereka pergi ke supermarket terdekat untuk sekedar melihat-lihat. Namun jika ada yang di sukai, akan mereka beli.
Mereka juga menuju wahana bermain yang ada di Supermarket tersebut. Naina sangat menikmati beberapa permainan sambil ditemani ayah Nathan. Suara gelak tawa mereka terdengar lepas tanpa beban.
Tanpa mereka sadari, apa yang mereka lakukan sejak masuk Supermarket menjadi pusat perhatian seseorang. Bahkan orang itu, merasa sangat muak melihat perhatian Nathan pada Lilis dan anaknya.
Orang itu ternyata adalah Desta. Dia dan Guntur pergi untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka. Saat Desta melihat, Nathan bersama Lilis dan putrinya, Desta berusaha mengikuti mereka karena penasaran.
Selama menikah dengan Lilis, Desta tidak pernah sekalipun mengajak Lilis pergi ke supermarket. Jangankan supermarket, ke toko saja tidak pernah. Jangankan untuk membelikan Lilis pakaian, untuk keperluan makan sehari-hari saja, Desta sangat perhitungan dan pelit.
Desta merasa sakit hati pada Nathan. Ini semua karena Nathan memiliki banyak uang sehingga bisa memanjakan Lilis. Dengan begitu usaha Desta mendekati Lilis kembali, telah sia-sia.
Dalam hati Desta berjanji akan membuat Nathan tidak memiliki apapun. Desta ingin melihat, apakah Nathan masih bisa memanjakan Lilis seperti sekarang ketika dia tidak memiliki uang seperti dirinya dulu?
***
Lilis kaget saat berada di kasir. Begitu banyak barang yang dia beli. Dia melihat kearah Nathan yang tersenyum dan mengangguk memberi isyarat untuk membayar saja, apa adanya. Lilis menuruti saja isyarat dari Nathan.
__ADS_1
Barang belanjaan yang begitu banyak membuat Lilis penasaran. Apa saja yang ada didalamnya. Sampai di rumah, Lilis segera membuka salah satunya. Ternyata sebuah pakaian yang tadi sangat di sukai Lilis. Tetapi, Bukannya tadi dia tidak membelinya.
Lilis tertegun mengingat sesuatu. Mas Nathan. Lilis bergegas menemui Nathan untuk menanyakan hal itu.
Nathan yang lelah karena menggendong Naina, merebahkan diri di sofa di ruang keluarga. Lilis mendekatinya dengan penuh tanda tanya. Dia duduk di tepi sofa tempat Nathan berbaring.
"Ada apa, sayang. Apakah kamu ingin tahu tentang beberapa barang belanjaan hari ini?" tanya Nathan sambil tetap berbaring.
"Iya , Mas."
"Aku perhatikan, tadi kamu sangat menyukainya. Tetapi kamu sengaja tidak mau membelinya karena harganya mahal. Benar kan? Kamu sekarang adalah istrinya Nathan Sugara, jadi apapun yang kamu suka, jangan lihat harganya. Belilah semuanya yang kamu mau."
"Terimakasih, Mas. Tetapi, Lilis tidak ingin terlalu menghambur-hamburkan uang untuk hal yang masih bisa di tahan, hal yang tidak terlalu penting," kata Lilis.
"Baiklah, sayang. Aku menghargai prinsip kamu. Maafkan aku, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," kata Nathan agak sedih.
"Mas, aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah. Aku malah merasa senang sekali karena kamu sudah memberiku kejutan. Hanya saja, jangan sering-sering. Mencari uang itu tidak mudah. Lebih baik membeli barang-barang yang benar-benar kita butuhkan," kata Lilis sambil memegang tangan Nathan.
Nathan tersenyum, lalu mencium tangan istrinya.
"Kalau kamu senang, nanti malam cobalah. Aku ingin melihat istriku memakai pakaian yang aku belikan."
"Iya, nanti pasti akan Lilis pakai. Sekarang istirahatlah dikamar. Mas Nathan pasti sangat capek, habis gendong Naina tadi. Nanti sekalian aku pijitin," kata Lilis sambil tersenyum.
"Aku nggak hanya butuh pijitan, tapi juga butuh kehangatanmu," kata Nathan sambil duduk.
"Masih siang, Mas. Bicaranya sudah ngelantur saja," ucap Lilis sambil tersenyum.
"Katanya kalau lagi pingin nggak perlu sungkan. Kok kamu malah jawabnya gitu, PHP in aku," kata Nathan merajuk.
"Iya, Mas. Maafin Lilis. Kalau begitu, kita mandi dulu, biar bersih."
"Boleh. Kita mandi sama-sama."
Setelah berkata begitu, Nathan segera mengangkat tubuh Lilis dan dibawanya kekamar mandi untuk mandi bersama. Lilis hanya menikmati masa-masa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya dengan penuh rasa syukur. Sekarang dia benar-benar memiliki seorang suami yang sanggup membuatnya berpikir lain tentang sebuah pernikahan.
__ADS_1
Pernikahan yang membuatnya menjadi ratu di rumah dan di hati suaminya.