Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 11. Lilis melahirkan


__ADS_3

Lilis meringis menahan sakit, sakit yang tiada terkira. Dia ingin menjerit ketika tubuhnya dibawa ke ruang bersalin. Lilis bergumam lirih, "apakah aku akan melahirkan sekarang?"


Apa yang dirasakan Lilis, lebih seperti tanda-tanda akan melahirkan. Lilis merasakan kontraksi yang sangat hebat. Seperti apa yang pernah dia baca di google.


Kontraksi yang dirasakannya sedikit banyak mirip dengan kram saat menstruasi. Bedanya, kontraksi ini terasa beberapa kali lebih berat daripada kram perut menstruasi.


Lilis juga merasakan perutnya seperti perut kembung. Yang membuat Lilis sangat tidak nyaman. Rasa perut kembung ini tak mereda bahkan Lilis seperti mau buang angin atau buang air besar. Sepertinya, persalinan sudah akan terjadi. Lilis masih belum faham karena ini pertama baginya.


Menjelang bayi lahir, kontraksi yang dirasakan Lilis semakin kuat sebagai upaya mendorong bayi keluar dari rahim. Rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh bagian perut, mulai dari bagian depan, kanan dan kiri perut, hingga ke punggung. Perut Lilis juga terasa keras sekali saat kontraksi dan panggul terasa seperti ditekan.


Lilis merasakan intensitas rasa sakit yang semakin berat dan semakin pendek jaraknya. Lilis juga merasakan semakin berat intensitas rasa sakit, yang mungkin menandakan waktu melahirkan sudah dekat.


Lilis terus menahan rasa sakit dan dia merasa harus berjuang demi sang buah hati. Lilis pun teringat pada Desta, suaminya. Disaat seperti ini, dia tidak ada disini. Tapi Lilis tidak ingin bersedih dan putus asa. Dia menyemangati dirinya sendiri, untuk tetap bertahan walau tanpa Desta.


Setelah perjuangan yang begitu gigih, lahirlah seorang bayi mungil dan cantik dengan persalinan normal. Tanpa operasi. Lilis menghela nafas lega dan airmata bahagianya mengalir perlahan.


Kini masalahnya, siapa yang akan mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga putrinya. Wendi menawarkan diri untuk melafalkan adzan pada telinga putri kecil Lilis. Lilis melihat ke arah sang ibu yang mengangguk pelan, sebagai isyarat setuju atas tawaran Wendi.


Akhirnya, Wendi yang melakukan tugas Desta yang kini entah dimana. Selesai melafalkan adzan, keluarga besar Desta datang menjenguk Lilis dan putrinya. Mereka terlambat selangkah, karena tugas Desta menemani sang istri melahirkan malah diambil alih oleh orang lain.


Meski mereka kecewa dengan Desta, namun mereka sangat bahagia, Lilis melahirkan dengan selamat secara normal.


Lilis segera dipindahkan ke ruang rawat inap sehingga bisa dijenguk oleh keluarga yang lain. Ayah dan ibu mertua Lilis datang dan berusaha menghibur hati Lilis yang sedang kecewa pada Desta. Disaat dibutuhkan, Desta sama sekali tidak bisa diandalkan.


"Lis, bagaimana kondisi badan kamu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Bu Sri, ibu mertua Lilis.


"Agak sedikit lemas, Bu," jawab Lilis pelan.

__ADS_1


"Kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, Lis. Lis, anak kamu cantik sekali seperti kamu," ucap sang ibu mertua Lilis sambil tersenyum.


"Iya, Bu. Tapi, Lilis bingung mau kasih nama siapa. Nunggu mas Desta datang saja."


"Apa Desta sudah tahu jika kamu melahirkan?"


"Ponselnya dari tadi tidak bisa dihubungi. Entah baterenya habis atau sengaja dimatikan."


"Lis, maafkan anak ibu. Sampai memiliki anak, dia belum menghasilkan apa-apa, bahkan sekarang malah tidak tahu ada dimana. Kalau ponselnya sengaja dimatikan, itu tidak mungkin. Mungkin saja memang baterainya lagi habis."


Lilis tersenyum sedih, Bu Sri tidak tahu jika Desta dan dia, bertengkar hebat tadi siang. Lilis juga tidak berniat memberitahu Bu Sri tentang kondisi rumah tangganya yang sebenarnya.


Lilis khawatir jika mertuanya tahu kelakuan Desta, mereka akan kecewa dan marah pada Desta. Selama Lilis masih bisa bertahan, Lilis akan menerima semuanya meski dengan berat hati, apalagi sekarang sudah ada anak.


"Iya, Bu. Apakah mas Desta pernah mengatakan pada ibu tentang usahanya?"


"Usaha? Sepertinya ayah mertuamu pernah bilang ke ibu, kalau Desta sedang membuka usaha. Tetapi ibu tidak tahu pasti, usaha seperti apa. Nanti ibu tanyakan ke ayahmu."


"Tapi sebenarnya ibu juga penasaran usaha apa yang begitu banyak mengeluarkan modal. Sudah beberapa kali minta uang untuk tambahan modal sama ayahnya. Juga untuk uang belanja kalian, karena usahanya belum menghasilkan."


"Mas Desta minta uang lagi pada ayah?"


"Benar, Lis. Sebenarnya, ibu dan ayah kasihan padamu. Bagaimana kalian bisa makan, jika Desta belum memiliki hasil usaha dan kamu juga sudah berhenti bekerja? Karena itu, setiap bulan ayah memberi Desta uang."


Lilis menghela nafas berat. Desta sungguh sudah keterlaluan. Uang pesangon Lilis sudah diambil, masih juga meminta uang dari orangtuanya untuk memberi makan keluarga.


Lilis ikut penasaran dengan usaha yang dijalankan Desta. Setelah pulang nanti, mungkin saatnya meminta kejelasan dari suaminya. Setelah tadi sore, dia menghindari permintaan berkata jujur pada Lilis.

__ADS_1


Lilis masih berharap, jika suaminya akan berubah. Masih berharap bisa terus mempertahankan pernikahannya yang sudah tidak seimbang. Lilis selalu berusaha yang terbaik untuk bisa terus menapaki bahtera rumah tangga, sedangkan Desta seolah cuek saja dengan pernikahan ini.


Lilis tidak ingin merasa salah memilih pasangan. Salah mengenali suami, yang awalnya baik dan bertanggungjawab berubah acuh dan tidak ada perhatian sama sekali. Lilis masih berpikir positif, jika saat ini, suaminya sedang sibuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga.


Apalagi setelah kehadiran putri kecilnya, Lilis berharap semua sesuai dengan harapannya. Ketika Lilis ingat bahwa saat dia sedang berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan putri mereka, suaminya sama sekali tidak ada di sampingnya.


Bahkan sebenarnya, kebahagiaan yang dia rasakan ketika menikah dengan Desta, tidak seindah yang Lilis harapkan. Hatinya selama ini tidak pernah merasakan ketenangan dan selalu gelisah dan penuh rasa curiga. Meskipun dia tidak pernah mengatakan pada siapapun, bahkan selalu menutupinya dari orang lain.


"Lis, ibu dan ayah pulang dulu. Kami akan berusaha mencari Desta, agar segera datang ke sini," ucapan sang mertua menyadarkan Lilis dari lamunannya.


"Iya, Bu. Doakan agar Lilis segera bisa cepat pulang."


"Ibu akan selalu mendoakan kamu, Lis. Besok ibu akan datang lagi."


"Lis, ayah mohon kamu sabar ya menghadapi Desta. Mungkin karena dulu kami selalu memanjakan dia, jadinya dia kurang ada tanggung jawab. Biasanya dia bisa mendapatkan semuanya dengan mudah."


"Ayah, jangan menjelekan anak sendiri. Lilis saja tidak pernah mengeluh," ucap Bu Sri membela Desta.


"Jika, kamu butuh sesuatu, bilang saja pada ayah atau ibu. Kami pasti akan membantu sebisa kami."


"Iya, ayah. Lilis mengerti."


"Kami pergi."


Lilis menatap kepergian mertuanya yang memang sangat baik, bahkan teramat baik. Sangat berbeda jauh dengan suaminya. Mereka juga yang membuat Lilis bertahan karena tidak mudah memiliki mertua yang baik seperti mereka. Seandainya saja, Desta memiliki separo sikap dan sifat orangtuanya, mungkin kehidupan pernikahan mereka akan lebih baik.


Ternyata harapan itu lebih menyenangkan daripada kenyataan.

__ADS_1


Bersambung


jangan lupa like dan koment...


__ADS_2