Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 52. Tes DNA


__ADS_3

Setelah Guntur bergabung dengan bisnis keluarga Sugara, banyak gosip yang beredar dan menjadi bahan omongan semua orang. Baik karyawan biasa maupun dari pihak manajemen dan pemegang saham.


Tidak hanya membicarakan asal usul Guntur tetapi lebih jauh lagi tentang kisah cinta segitiga antara Samuel Sugara, Sofia dan Dokter Ririn. Yang membuat hati Nathan sakit adalah saat ibunya yaitu dokter Ririn disebut sebagai pelakor. Dan keberadaan Nathan diragukan sebagai ahli waris keluarga Sugara.


Nathan menemui sang Kakek untuk membicarakan masalah itu. Nathan tidak bisa tinggal diam dan ingin membungkam mulut semua orang.


"Kakek, Nathan ingin tes DNA," kata Nathan dengan hati gundah.


"Untuk apa? Kakek yakin kamu adalah anak dari Ayahmu, Samuel. Kamu tidak perlu mendengarkan omongan orang-orang diluar sana. Mereka hanya dingin membuat keluarga kit terpecah belah," kata Kakek meyakinkan Nathan.


"Tapi Nathan tidak puas jika bum bisa memberikan bukti yang nyata pada semua orang yang sudah meragukan kesetiaan ibu," kata Nathan.


"Nathan, kenapa semua harus jadi begini. Kau adalah cucu kesayangan Kakek, jangan membuat hal yang mudah menjadi sulit," kata Kakek sambil menghela nafas.


"Kakek, Lakukan hal yang sama untuk membersihkan nama ibuku," kata Nathan.


"Baiklah, besok kita pergi ke rumah sakit dan lakukan seperti apa yang kamu inginkan," kata Kakek.


Nathan merasa lega mendengar perkataan Kakek. Mungkin inilah cara terakhir untuk bisa membersihkan nama ibunya. Nathan segera pulang untuk memberitahukan hal itu pada Lilis.


Lilis sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Nathan untuk melakukan tes DNA karena itu seperti menunjukan keraguan tentang kesetiaan ibunya. Namun semua sudah terlanjur diputuskan. Lilis hanya bias memberi dukungan moral untuk suaminya.


Esoknya, Lilis ikut mengantar Nathan dan Kakek pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Mereka segera melakukannya meski sempat Kakek menanyakan untuk yang terkahir kali agar tes ini tidak perlu dilakukan. Akan tetapi, Nathan sudah bulat dan tidak akan berubah.


Selesai menjalani tes DNA, Kakek langsung pulang bersama pak sopir sedangkan Nathan mengajak Lilis pergi ke makam kedua orangtuanya. Nathan tertunduk lesu di samping makam ayah dan ibunya. Setelah selesai berdoa, Nathan dan Lilis kembali pulang.


Sambil menunggu hasil tes DNA, Nathan menyibukkan diri dengan bekerja dan memanjakan Lilis. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 12 memang masih belum terlalu kelihatan karena Lilis memang memiliki tubuh yang agak kurus.


Nathan juga mengurus sekolah Naina dengan memasukkannya ke sebuah sekolah PAUD didekat rumah mereka. Nathan berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami bagi Lilis, sebagai seorang ayah bagi Naina dan sebagai seorang anak bagi ibu mertuanya. Lilis merasa bersyukur telah dipertemukan dengan laki-laki sebaik Nathan.

__ADS_1


***


Lilis pergi ke warung makan untuk melihat keadaan warungnya yang sudah beberapa hari ini tidak dikunjunginya. Lilis duduk sambil melihat-lihat orang-orang datang dan pergi silih berganti. Masih dengan wajah-wajah lama. Para pelanggannya yang masih setia makan di warung miliknya.


Juga ada wajah-wajah baru, yang semoga bisa betah dan menjadi pelanggannya. Sepertinya dengan kondisi warung yang tempatnya lebih baik, lebih bersih dan rapi, semakin menambah pelanggan tertarik dan merasa nyaman.


Saat itu, ada rame-rame di depan warungnya. Lilis merasa penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi. Ternyata ada seorang pengemis yang datang ingin meminta makanan. Tetapi, orang salah seorang pelayan dan beberapa orang ingin mengusirnya. Lilis mendekatinya dan meminta pelayan untuk membiarkan pengemis itu masuk.


"Mbak Sita, biarkan dia masuk," kata Lilis.


"Tapi, Bu ... dia ...," kata mbak Sita terbata-bata.


"Biarkan saja, Mari Nenek, masuk dan silahkan menikmati masakan Jawa," kata Lilis sambil mempersilakan nenek itu masuk.


"Terimakasih, nak. Nenek sudah lapar, ingin makan," kata Nenek agak lemah.


"Silahkan duduk, Nenek. Biar Lilis yang melayani Nenek," kata Lilis tersenyum ramah.


Lilis masuk kedalam untuk menyiapkan hidangan. Para pelayan merasa heran, melihat bos mereka begitu ramah dan baik pada seorang pengemis. Sita berusaha mengusir pengemis karena takut akan mempengaruhi pelanggan warung lainnya.


"Mbak Lilis, maafkan Sita, karena berusaha mengusir pengemis tadi. Sita tidak tahu jika itu pantangan di warung ini. Nanti aku akan meminta Sita untuk meminta maaf pada pengemis itu dan pada Mbak Lilis," kata Mbak Surti sambil membantu Lilis.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti, niat baik Sita. Dia tidak perlu meminta maaf pada Nenek dan aku. Aku yang akan mewakili dia untuk meminta maaf pada dia," kata Lilis sambil tersenyum pada Mbak Surti.


"Baiklah kalau begitu. Besok-besok, aku akan menjelaskan hal-hal yang harus mereka ketahui tentang warung ini," kata Mbak Surti.


Lilis membawa sepiring nasi gandul dan segelas es sirup untuk Nenek.


"Ini, nasinya sama es sirup. Selamat menikmati," kata Lilis sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi, nenek tidak punya uang. Hanya segini yang Nenek punya," kata Nenek sambil mengeluarkan 3 lembar seribuan.


"Oh, tidak perlu Nek. Makanan ini gratis untuk Nenek. Uangnya bisa untuk yang lain?" kata Lilis lembut.


"Terimakasih, semoga nak ..."


"Lilis, Nek."


"Semoga nak Lilis, diberi umur yang panjang, keluarga ya g Sakinah mawadah warahmah, rezeki yang melimpah dan warungnya makin lancar," dia nenek untuk Lilis.


"Aamiin, terimakasih atas doanya."


"Nak Lilis sedang hamil, kan. Semoga anaknya lahir dengan selamat dan diberi anak yang baik dan berbakti pada orangtuanya."


"Aamiin aamiin. Terimakasih sekali lagi, Nenek," kata Lilis.


Nenek segera menikmati makanan yang ada dimeja. Lilis menarik nafas panjang. Teringat pada ibunya yang dulu seorang pemulung. Setiap hari mencari barang-barang bekas untuk makan dan membiayai sekolahnya. Makan dua kali sehari itu sudah bagus, karena terkadang Lilis dan ibunya hanya makan sekali sehari.


Jika ada yang memberi makanan, kita akan mendoakan sebanyak mungkin untuk membalas kebaikannya. Seperti nenek ini juga. Hanya sepiring nasi dan segelas minuman, semua doanya diucapkan untuk membalasnya.


Setelah kejadian hari itu, tidak ada satupun karyawan yang berani mengusir pengemis yang ingin makan disana. Jika ada pelanggan lain yang protes, mereka akan mengatakan bahwa ini adalah peraturan warung mereka. Jika mereka keberatan, silahkan melakukan komplain dengan pemiliknya, yaitu Lilis.


Sementara itu, masa tunggu hasil tes DNA sudah berakhir. Hari ini, Lilis menemani Nathan pergi kerumah sakit. Disan sudah menunggu, Kakek, Guntur, Desta dan beberapa orang pemegang saham. Hari ini Nathan ingin meyakinkan semua, bahwa dia berhak atas warisan bisnis keluarga Sugara dan untuk membersihkan nama ibunya. Satu hal yang Nathan ingat, perkataan beberapa orang yang masih terdengar jelas sampai sekarang.


"Bagaimana ibunya Nathan bisa hamil jika ayahnya sama sekali tidak mencintainya? Jangan-jangan, ibunya selingkuh dan mengatakan itu anak pak Samuel."


Dokter sudah datang dengan membawa selembar kertas hasil tes kemarin.


"Hasil tes DNA antara Bapak Edward Sugara dan Bapak Nathan Sugara, menyatakan bahwa 99,9 persen adalah ... "

__ADS_1


__ADS_2