Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 106. Saat bicara yang tepat bagi Lilis


__ADS_3

Dering suara telepon memanggil Nathan dan Lilis untuk menjawab. Akan tetapi mereka sedang sibuk berbagi tugas pagi. Lilis mengurus anak-anak, sedangkan Nathan membuat sarapan. Ini mereka lakukan karena Bik Nah hari ini sedang cuti. Jadi mereka tidak sempat melihat ponsel.


Semua pekerjaan sudah beres, anak- sudah siap berangkat sekolah dan sarapan juga sudah siap di atas meja makan. Mereka bersiap untuk makan, sampai Nathan mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Wendi.


Lilis yang ingin memanggilnya untuk sarapan, mendengarkan apa yang Nathan bicarakan dengan Wendi.


"Wen, ada kabar apa?"


"Kamu lama sekali angkat teleponnya? Lagi sibuk apa pagi-pagi begini?"


"Biasa, tugas bik Nah yang lagi cuti aku yang pegang."


"Wah, aku kira kamu masih diatas ranjang lagi malas-malasan."


"Jangan bahas ranjang pagi-pagi begini. Udah katakan ada apa?


"Kakekmu sedang sakit. Beliau sekarang dirawat di rumah sakit. Kalau bisa, luangkan sedikit waktu untuk menjenguk Kakek."


"Terima kasih sudah memberitahu aku."


"Sama-sama."


Setelah itu, Nathan menutup panggilan telepon dari Wendi. Wajahnya tampak murung dan ingatan masa lalu terpampang jelas di matanya. Sedih, kecewa dan kerinduan bercampur menjadi satu.


"Mas, yuk sarapan. Anak-anak sudah menunggu sejak tadi," panggil Lilis seolah dia tidak tahu apa yang di pikirkan suaminya.


"Iya, sebentar. Aku taruh ponsel dulu," jawab Nathan sambil menyeka setitik airmata yang menetes di pipinya.


Lilis meninggalkan suaminya menuju ke meja makan. Disana ketiga anaknya sudah menunggu.


"Ibu, mana ayah?" tanya Naina.

__ADS_1


"Bentar lagi, sayang. Ayah sedang terima telepon dari paman Wendi. Sebentar lagi juga ke sini," jawab Lilis sambil tersenyum.


"Sudah pada nungguin Ayah, ya? Ayah berasa seperti seorang selebritis, banyak yang nungguin," canda Nathan sambil duduk di kursinya.


"Ih, Ayah. Kita nungguin ayah, karena kita sudah lapar. Ini nasi goreng kesukaan kita," kata Naina.


"Naina kenapa, tidak bisa buat ayah senang. Bilang kek, 'memang ayah seperti artis'. Gitu aja susah banget. Gini-gini ayah sudah buat ibumu jatuh cinta sama ayah, lho?" kata Nathan sambil menatap Lilis dengan senyuman.


"Sudah, mau makan atau mau bicara terus. Mas, sini aku ambilkan nasinya. Nanti gantian ya seperti biasa dari ayah dulu. Karena tangan ibu cuma dua," kata Lilis sambil meraih piring yang di berikan suaminya.


Itulah kebiasaan makan bersama keluarga Nathan. Mereka memastikan jika dalam sehari paling tidak mereka bisa makan bersama 2 kali. Waktu sarapan dan makan malam. Bahkan kalau bisa, mereka akan makan bersama sampai 3 kali dengan makan siang. Walaupun itu memang jarang dilakukan.


Selesai sarapan, Nathan pergi bekerja sambil mengantar Naina dan Wahyu sekolah seperti biasanya. Sedangkan, Lilis mengerjakan pekerjaan rumah sambil menjaga Bunga. Inilah yang Lilis kerjakan ketika Bik Nah sedang cuti karena ada kepentingan keluarga.


Lilis masih kepikiran pembicaraan suaminya dengan Wendi di telepon pagi ini. Suaminya tidak akan pernah mengungkit lagi tentang Kakek dan apapun yang berhubungan dengan keluarga Sugara padanya.


Lilis mencoba mencari cara agar sang suami bisa diajak diskusi tentang Kakek. Lilis tahu, meskipun Nathan marah dan benci pada Kakek Edward, tapi tetap saja seorang cucu pasti sangat merindukan Kakeknya. Akan tetapi terkadang Lilis takut juga, peristiwa ibunya meninggal akan terulang lagi.


Tetapi, jika kita takut pada apa yang belum terjadi, hal itu akan membuat kita menjadi mundur kebelakang dan tidak akan bisa maju. Bagiamana kita tahu itu akan, terjadi jika kita tidak mencobanya? Walaupun konsekuensi yang harus diterima sangat besar.


Seperti biasa, waktu yang paling tepat untuk berbicara pada suaminya adalah ketika mereka akan tidur. Karena sudah menjadi kebiasaan mereka, untuk berbincang dahulu sebelum tidur. Biarpun itu hanya beberapa kalimat, mereka akan menyempatkan untuk mencari bahan obrolan.


Jadi, meskipun terkadang jika mereka berbeda pendapat, tidak akan terjadi kejadian seperti waktu itu. Diam-diaman, hingga terlihat oleh orang lain.


"Mas, aku ingin mengunjungi makam ibu. Sepertinya sudah lama, kita tidak kesana. Anak-anak pasti juga akan setuju dengan ide ibunya," kata Lilis mengawali obrolan.


"Apa kamu yakin mau pergi sekarang?" tanya Nathan sambil memeluk tubuh Lilis yang sejak tadi menempatkan kepalanya diatas bahu Nathan.


"Iya, yakin. Sekalian kita bisa menjenguk Kakek. Menurut Mas Nathan bagaimana?" tanya Lilis manja.


"Kalau kamu sudah bersikap manja seperti ini, bagaimana aku bisa menolaknya. Tapi tentang Kakek, aku ada sesuatu yang harus kamu tahu," jawab Nathan.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Tadi pagi, Wendi menghubungiku dan mengatakan kalau Kakek sedang sakit. Meski begitu, aku tidak berani bilang kepadamu. Aku takut kamu memiliki trauma pada perbuatan Kakek padamu," jawab Nathan.


"Memang, aku pernah memiliki trauma pada perbuatan Kakek padaku. Tetapi, untuk kecelakaan yang menimpa ibu, aku masih belum sepenuhnya yakin jika itu perbuatan orang suruhan Kakek," kata Lilis sambil mempererat pelukan suaminya.


"Jadi kamu mau bilang, aku salah?" tanya Nathan sambil berusaha melepas pelukannya.


Lilis dengan kuat menahan kedua tangan suaminya yang agak emosi karena ucapannya. Mereka berdiam diri untuk waktu yang cukup lama. Setelah emosi suaminya agak reda, perlahan-lahan Lilis melepaskan kedua tangan suaminya. Sambil tersenyum, Lilis mencium bibir Nathan sebagai permintaan maafnya.


"Maaf. Lilis tidak bermaksud menganggap keputusan Mas Nathan dulu itu salah. Tetapi, sampai saat ini, kita tidak tahu siapa dibalik meninggalnya ibu. Bahkan polisi juga tidak menemukan bukti apapun dan menganggap itu sebagai kasus tabrak lari," kata Lilis menjelaskan agar suaminya tidak kesal lagi.


"Mungkin kamu benar. Aku terlalu dini menyimpulkan kesalahan Kakek. Aku terlalu terbawa emosi dan tidak melihat bahwa ada kemungkinan bukan Kakek pelakunya," kata Nathan sambil menghela nafas.


"Nah, karena sekarang Mas Nathan sudah menyadari semua itu, kapan kita akan pergi?"


"Aku bereskan dulu pekerjaanku. Setelah itu, kita baru tentukan kapan kita berangkat," kata Nathan sambil menatap Lilis yang terlihat gembira.


Lilis tersenyum bahagia dan kembali memeluk suaminya erat sambil berbisik pelan.


"Aku sangat beruntung memilikimu, Mas."


"Aku juga. Aku sangat beruntung memilikimu. Kamu tidak hanya bisa membuatku bahagia, tetapi kamu juga bisa membuatku menuju hidup yang lebih baik," kata Nathan.


"Anak-anak pasti akan sangat gembira bisa mengunjungi makam Mbah Uthi-nya," kata Lilis lagi.


"Kenapa kamu bisa sangat baik kepada semua orang. Bahkan terhadap orang yang pernah menyakitimu, kamu tidak pernah memiliki dendam."


"Apakah rasa sakit hati itu akan hilang saat kita sudah membalas dendam pada orang yang menyakiti kita? Aku pikir, ketika kita membalas dendam, kepuasan hanya kita rasakan sesaat. Hal itu hanya bisa mengurangi bukan menghapuskan. Balik lagi pada pilihan masing-masing orang. Dan aku memilih menyembuhkan luka dengan memaafkan dan mencoba menerima garis hidup yang memang harus aku jalani. Karena setiap luka, pasti akan ada obatnya. Meski bekasnya tidak akan pernah hilang."


"Setiap sakit pasti akan ada hikmahnya. Akan ada gantinya. Jika Desta baik, kita tidak akan bertemu dan menikah. Memiliki anak-anak yang manis. Jika Wahyu tidak hilang, mertuamu akan mengambil Naina darimu. Jika ibumu tidak meninggal, kita tidak akan ke kota ini dan memulai usaha baru dengan jerih payah kita sendiri. Dan berhasil," sambung Nathan.

__ADS_1


"Semua kesedihan akan di ganti oleh Allah jika kita bisa Ikhlas menerima sebagai takdir-Nya. Bukan kita pasrah, tapi kita membuka hati dan tidak menyalahkan Allah atas apa yang terjadi pada kita," ucap Lilis yang kemudian tertidur di pelukan suaminya.


Bersambung


__ADS_2