
Pernikahan Wendi tinggal dua minggu. Wendi dan Sri sudah pulang terlebih dahulu untuk persiapan lamaran dan pernikahan. Sebelum pergi, mereka menemui Lilis dan sekaligus memberi semangat pada ibu dua anak ini agar tetap kuat dan tegar.
"Lilis, aku ikut sedih karena pernikahanmu Kembali gagal. Aku sebenarnya ingin sekali membantumu, tetapi kami harus segera pulang kampung untuk mempersiapkan pernikahan," kata Wendi sambil menghela nafas.
"Tidak apa-apa, Wen, Sri. Kalian pergi dulu, aku masih harus mengurus warung. Aku harus menyerahkan pada Mbak Surti karena aku tidak tahu apakah nanti aku akan kembali ke kota ini atau tidak," kata Lilis sambil menghela nafas.
"Lis, apakah sudah tidak ada cara lagi agar kalian tidak jadi bercerai? Kasihan anak-anakmu. Saat aku melihat Naina, dia diam-diam menangis. Dia pasti sangat sedih sekali," kata Sri sedih.
"Aku tahu Sri, tapi mau bagaimana lagi. Aku bingung, aku hampir putus asa jika tidak ingat mereka masih membutuhkan aku. Aku ... aku harus kuat, aku harus bisa menahan diri untuk tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Mungkin suatu saat ketika mereka dewasa, mereka akan menyalahkan aku, tapi saat ini keselamatan mereka lebih penting dari apapun."
Lilis menangis dalam pelukan sahabatnya, Sri. Sri hanya bisa memberinya semangat demikian juga dengan Wendi.
"Lis, setelah menikah, kami juga tidak akan kembali, jika kamu dan anak-anakmu tidak kembali. Kami disini karena ada kamu, kamu yang meminta kami bekerja disini. Kami setuju karena kami ingin ikut menjagamu sebagai sahabat. Tetapi jika kamu ingin tinggal di kampung, kami juga akan tinggal dikampung. Kita buka usaha bersama di kampung," kata Wendi.
"Jangan bicara seperti itu. Setelah kalian menikah, kalian berhak menentukan jalan kalian sendiri. Lagipula aku sudah dewasa, sudah punya 2 anak. Kalian ingin menjagaku sepertinya aku ini masih kanak-kanak," kata Lilis tersenyum.
"Nah, gitu dong, tersenyum. Sudah lama tidak melihat kamu tersenyum," kata Sri senang.
Mereka mulai bicara santai dan melupakan kesedihan yang sedang Lilis alami.
***
Setelah meyerahkan warung pada Mbak Surti, Lilis memutuskan segera pulang ke kampung. Selain ingin menghadiri acara pernikahan Wendi dan Sri, dia juga berniat menetap di kampung. Lilis mulai mengepak seluruh pakaian yang ada karena dia tidak berniat kembali, jadi semua pakaian dan barang-barang penting akan di bawa semua.
Lilis sudah membeli tiket pesawat secara online. Dan besok mereka akan segera berangkat. Meninggalkan kota yang memberinya banyak kenangan manis bersama Nathan. Kenangan yang tidak mungkin bisa dia lupakan seumur hidupnya.
"Lis, sudah selesai?" tanya sang ibu sambil duduk disampingnya.
"Sebentar lagi Bu. Untung Wahyu tidur lebih cepat dan anteng. Mungkin karena besok dia akan melihat kampung halaman ibunya," kata Lilis tersenyum.
"Mungkin juga. Yang susah itu Naina," kata Bu Siti sedih.
__ADS_1
"Kenapa Naina Bu?"
"Dia tadi bertanya pada ibu, apa ayah Nathan akan ikut kita ke kampung. Ibu bingung harus jawab apa. Selain itu masih banyak pertanyaan lain. Yang lebih bikin ibu sedih, saat dia bertanya kenapa ayah tidak pernah pulang kesini lagi, apakah karena Naina sering melakukan kesalahan?" kata Bu Siti menirukan pertanyaan Naina.
"Ibu, aku juga bingung bagaimana harus menjelaskan pada Naina. Takut Naina terpukul dengan keadaan ayah dan ibunya," kata Lilis.
"Ibu hanya bilang, kalau ayahnya sedang pergi bekerja ke luar kota. Ibu sampai harus berbohong agar dia tidak bertanya lebih jauh lagi," kata Bu Siti.
"Terima kasih Bu, sudah membantu Lilis menjawab. Semoga besok semua akan berjalan lancar sesuai rencana."
"Aamiin."
Lilis melanjutkan mengepak pakaiannya yang hanya tinggal sebagian lagi.
Esoknya, tepat pukul 6 pagi, Lilis, ibu dan kedua anaknya naik taksi menuju ke bandara. Bawaan yang banyak membuat mereka kerepotan. Tiba datang seorang pria yang menawarkan bantuan untuk membantu mereka membawa barang-barang bawaan mereka.
"Permisi, butuh bantuan?" tanya seorang pria yang terlihat baik.
"Bukan. Saya penumpang juga. Saya lihat tadi anda kerepotan, jadi hati saya tergerak untuk membantu."
"Oh, kalau begitu terimakasih," ucap Lilis.
"Tujuan kalian ke kota mana? Ini kalau kalian boleh tahu."
"Ke kota S," jawab Lilis.
"Sama, kota tujuan saya juga kota S. Kebetulan sekali, jadi saya bisa bantu bawa barang-barangnya."
"Wah, sekali lagi terima kasih nak," ucap Bu Siti.
Lilis dibantu pria itu melakukan check-in dan pria itu juga membantu meletakkan barang-barang di bagasi kabin pesawat. Setelah semua beres, mereka naik pesawat dan kebetulan lagi mereka bersebelahan.
__ADS_1
"Kebetulan yang tidak disengaja. Anaknya ganteng pasti seperti ayahnya," tanya pria itu.
"Ya, seperti ayahnya."
"Kenapa ayahnya tidak iku, padahal kalian banyak membawa barang-barang. Maaf terlalu lancang bertanya," tanya pria itu.
"Ayahnya sedang tugas ke luar kota. Kami pergi ini untuk menghadiri acara pernikahan teman kampung," jawab Lilis.
"Oh, tugas luar kota," kata pria itu sambil tersenyum.
Mereka diam setelah pesawat berangkat. Dan Lilis termenung sambil mengingat saat-saat indah yang kini hanya akan menjadi kenangan. Setelah perjalanan hampir 3 jam, pesawat telah sampai di kota S. Pria itu kembali membantu Lilis mengambil barang-barang bawaan mereka.
"Mau dibantu mencari taksi untuk ketempat tujuan?" tanya pria itu.
"Benarkah, anda bisa bantu? Boleh-boleh, terima kasih sebelumnya," kata Lilis.
Pria itu segera menghubungi seseorang dan dan dalam hitungan menit, taksi sudah siap untuk berangkat. Sebelum berpisah, Lilis dan Bu Siti mengucapkan banyak terima kasih kepada pria itu yang Lilis lupa menanyakan namanya.
Setelah perjalanan hampir 4 jam, mereka baru sampai di rumah Lilis. Kedatangan Lilis di sambut oleh orangtua Wendi, Wendi dan Sri. Rumah Bu Siti terlihat sangat bersih dan rapi. Karena setelah Lilis memiliki uang, rumahnya sudah di renovasi dan dirawat dengan baik oleh orangtua Wendi.
Suasana rumah Lilis sangat ramai. Apalagi ibu Wendi dan Sri sudah memasak untuk mereka makan malam bersama. Suasana sangat santai dan bersahaja. Kebersamaan dikampung yang sangat Lilis rindukan.
Setelah selesai makan malam dan bersilaturahmi sebentar, mereka pamit pulang. Sedangkan Sri, membantu membereskan piring dan mencuci peralatan dapur lainnya.
Lilis merasa senang dan terhibur karena mereka baru saja datang dan sudah disambut dengan meriah oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Lilis menidurkan Wahyu dikamar Lilis dan dia duduk beristirahat.
Malam telah menunjukan pukul 11 malam. Terdengar suara ketukan pintu. Lilis meminta Naina membukakan pintu, karena mengira Sri yang kembali.
"Naina, siapa yang datang? Mbak Sri datang lagi?" tanya Lilis dengan suara keras dari dalam kamar.
"Ayah ...."
__ADS_1