Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 14. Talak


__ADS_3

Melihat kondisi Bu Siti, tidak serta membuat Desta kasihan. Dia malah menjadi kesal dan marah-marah tidak karuan.


"Dasar orang tua miskin. Sudah tahu kita tidak punya uang, pake acara pingsan segala. Makanya jangan ikut campur urusan anak."


"Mas, ibu saat ini sedang sakit, kamu masih saja mengatai ibu. Punya perasaan sedikit bisa nggak sih mas."


"Sudah, kamu urus sendiri saja ibu kamu. Aku tidak mau tahu."


"Memang siapa yang mau minta bantuan mas Desta, yang selalu mengeluh."


"Iya, ya. Kamu mau minta bantuan Wendi, panggil saja dia," ucap Desta menyindir.


"Mas, kamu benar-benar membuat aku merasa jijik mendengar ucapanmu, mas."


"Hah, jijik apaan."


Desta berlalu pergi setelah membuat Lilis terbawa emosi. Desta benar-benar bisa membuat emosi Lilis naik ke tingkat paling tinggi. Badannya yang masih lemah setelah melahirkan, sekarang masih harus merawat ibunya yang sedang pingsan.


Tidak berapa lama, Bu Siti mulai sadar. Lilis tersenyum lega. Setelah ayahnya meninggal, ibunya telah berperan ganda merawatnya sejak kecil. Sebagai ibu dan juga sebagai seorang ayah. Lilis tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Beliau juga tidak pernah berniat menikah lagi meski masih terbilang muda.


Beliau mendedikasikan hidupnya hanya untuk membesarkan Lilis seorang diri. Kini, setelah Lilis dewasa, harapan terbesarnya adalah membahagiakan ibunya. Namun sampai saat ini, keinginannya belum terwujud. Bahkan setelah Lilis menikah dengan Desta, ibunya tampak selalu sedih.


Lilis sendiri bingung, pernikahan macam apa yang sebenarnya sedang dia jalani saat ini bersama Desta. Jika dilanjutkan, semua tidak akan bahagia, tetapi jika berpisah ada Naira yang butuh sosok seorang ayah.


Tetapi, bukannya dulu ibu juga bisa merawat dan membesarkan dia seorang diri?


"Ibu, ibu sudah sadar? Bagaimana ibu, apa yang ibu rasakan. Maaf Bu, Lilis tidak bisa membawa ibu ke rumah sakit."


"Ibu tidak apa-apa. Ibu hanya kaget saja melihat kamu diperlakukan seperti itu oleh suamimu. Ibu sangat sedih, Lis."


"Ibu, maafkan Lilis. Demi cinta, Lilis telah membawa kesedihan pada hidup ibu. Rumah kita yang dulu damai, kini telah berubah penuh air mata. Tapi Lilis janji, Lilis akan berjuang agar semua bisa berubah kembali seperti dulu."

__ADS_1


"Apa yang akan kamu lakukan, Lis. Apa kamu akan berpisah darinya?"


"Jika itu yang terbaik, mungkin itu jalan terakhir yang akan Lilis ambil. Lilis masih akan berusaha memperbaiki pernikahan Lilis dan mas Desta. Sebagai upaya Lilis yang terakhir sebelum Lilis memutuskan untuk berpisah. Lilis tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari setelah berpisah."


"Ibu tidak bisa ikut campur tentang perasaanmu. Ibu hanya bisa berdoa, agar anak ibu mendapatkan jalan terbaik untuk hidupmu di masa depan."


"Ibu, terimakasih. Ibu tidak marah pada Lilis karena telah salah memilih. Kedepannya, Lilis akan patuh pada ibu."


Lilis memeluk ibunya, hingga terdengar suara tangis Naina yang sedang kehausan.


"Naina pasti haus. Segeralah beri dia ASI yang cukup supaya dia tumbuh dengan sehat."


Lilis bergegas memberi Naina ASI. Lilis menatap Naina penuh kasih sayang. Tak terasa air matanya menetes. Bukan karena sedih, tetapi dia sangat bahagia memiliki Naina. Penguat jiwa dan hatinya.


Selesai memberi Naina ASI, Lilis segera menidurkan Naina, karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Apalagi saat ini ibunya juga sedang sakit, Lilis harus melakukan pekerjaan rumah sendiri.


Lilis masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya sudah terlelap tidur. Lilis hanya mampu menghela nafas dan segera mengambil pakaian kotor suaminya untuk segera dicuci. Tidak banyak, tetapi ketika Lilis memperhatikan pakaian suaminya dengan seksama. Sepertinya pakaian ini harganya pasti mahal. Bahannya halus tidak seperti pakaian suaminya yang lain.


Lilis membawa pakaian Desta menuju ke sumur di samping rumah. Sebelum merendam pakaian, Lilis memeriksa saku celana suaminya karena takut ada barang berharga yang tidak boleh kena air.


Sebuah kertas yang dilipat agak kecil menarik perhatian Lilis. Ternyata sebuah bill hotel ternama di Bandung. Hari dan tanggal yang sama, saat Lilis melahirkan Naina. Hati Lilis bagai ditikam belati, sakit dan perih.


Lilis menyimpan bukti bill hotel di sakunya. Dia melanjutkan mencuci pakaian suaminya dengan perasaan campur aduk. Selesai melakukan pekerjaan rumah, Lilis menunggu dan mencari waktu untuk bertanya pada suaminya. Terdengar suara suaminya sedang bicara di telepon dengan seseorang.


Lilis bersabar hingga suaminya selesai berbicara barulah Lilis mendekatinya.


"Mas, ini apa?"


Desta tampak terkejut melihat kertas yang ada di tangan Lilis. Dia segera mengambilnya dari tangan Lilis.


"Dari mana kamu mengambil ini? Kamu lancang sekali menggeledah pakaianku."

__ADS_1


"Aku tidak sengaja, menemukannya saat pakaian mas Desta akan aku cuci. Tapi mas, untuk apa mas Desta menginap di hotel? Dan hari, tanggal yang tertera disitu, tepat ketika aku melahirkan. Saat itu ponsel kamu mati, sehingga kami tidak bisa menghubungi kamu, mas. Jadi saat itu kamu sengaja mematikan ponsel kamu karena kamu sedang berada di hotel? Kamu tega sekali mas, padaku dan pada anak kita. Kamu disana dengan siapa, wanita mana?" Lilis tidak bisa menahan kekesalan dalam hatinya.


"Lis, mungkin ini saatnya aku jujur padamu. Dan aku sudah memikirkannya sejak lama. Sebaiknya kita pisah saja."


Ucapan datar Desta, mampu membuat hati Lilis terguncang. Kata pisah yang dilontarkan suaminya, seharusnya dia yang meminta pisah, bukan sebaliknya. Jadi selama ini, dia sudah menginginkan perpisahan ini.


"Apa mas, pisah? Alasan apa yang membuat kamu ingin berpisah dengan aku dan anak kita?"


"Lis, saat ini aku sudah menikah lagi dengan wanita lain. Dan dia memintaku untuk menceraikan kamu."


Pernyataan Desta yang tenang dan tanpa rasa bersalah, membuat Lilis sangat marah. Desta ternyata sudah menghianati cintanya dan bahkan dengan santainya mengatakan bahwa dia sudah menikahi wanita itu.


"Mas, jadi selama ini kamu yang selingkuh, kamu yang berbuat zina dan kamu malah menuduhku yang berbuat zina. Sekarang tidak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan disisimu, mas Desta."


"Baguslah jika begitu, hari ini, detik ini kamu aku talak. Sekarang kita bukan suami istri lagi. Aku akan segera berkemas karena sebentar lagi, istri baruku akan datang menjemputku."


Meski Lilis sudah mempersiapkan diri untuk berpisah dengan Desta, tetap saja hati Lilis merasa sedih. Mencintai pria yang salah, adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.


Mungkinkah ini jawaban atas doanya kemarin. Dia dan Desta mungkin tidak berjodoh, dan memang harus berpisah. Ini takdir yang harus Lilis jalani dengan ikhlas. Dan entah dia akan bisa jatuh cinta lagi atau tidak pada pria lain. Tetapi perpisahan ini meninggalkan trauma baginya yang amat dalam.


Tidak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Lilis. Seorang wanita cantik dan seksi turun dari mobil dan menelepon seseorang yang ternyata adalah Desta, suaminya yang kini telah menjadi mantan.


Sebelum Desta pergi, dia mengatakan sesuatu pada Lilis dengan nada menyindir.


"Aku menceraikan kamu, karena kamu miskin. Sebenarnya aku masih mencintaimu, seandainya kamu kaya, aku pasti akan tetap berada disisimu menjadi suamimu yang setia."


Lilis menatap kepergian mantan suaminya dengan tatapan penuh kemarahan. Marah karena ternyata cinta bisa kalah oleh harta dan uang.


Aku berjanji, aku akan menjadi wanita sukses. Aku akan menunjukkan bahwa aku dan anakku juga bisa bahagia tanpa kamu, mas Desta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2