
Sejak hilangnya Wahyu, Lilis menjadi agak sedikit berubah. Dia lebih cepat emosi dan mudah marah. Setelah itu, dia akan mengurung dirinya di dalam kamar. Lilis yang dulu murah senyum dan sabar kini telah hilang bersama hilangnya Wahyu.
Lilis berharap, Nathan mengerti kesedihan dan penderitaan yang dirasakan oleh Lilis, akan tetapi balik lagi pada hatinya. Perasaan bersalahnya sangat besar, padahal Nathan tidak pernah menyalahkan dirinya atas hilangnya Wahyu. Lilis merasa sangat tertekan.
Ditambah lagi, sampai saat ini belum ada kabar dari kepolisian tentang keberadaan Wahyu. Mungkin karena tidak adanya petunjuk, Wahyu sangat sulit di temukan.
Saat itu, datanglah Naina menghampirinya dan mengatakan bahwa ada tamu datang.
"Ibu, ada tamu mencari ibu," kata Naina dengan suara gemetar karena takut ibunya marah.
Mendengar dan melihat Naina takut padanya, membuatnya sadar. Ternyata dirinya kini telah berubah menjadi monster yang ditakuti oleh anaknya sendiri. Lilis tiba-tiba takut, jika setelah kehilangan Wahyu, dia juga akan kehilangan Naina karena sikapnya yang jahat pada Naina.
Naina seperti apakah aku saat ini hingga kamu begitu takut padaku? batin Lilis.
"Naina, kemari ...," pinta Lilis sambil mengulurkan tangan.
Akan tetapi, Naina malah bertambah takut. Naina menggelengkan kepalanya sambil melangkah mundur.
"Naina membenci ibu? Naina tidak inginkan ibu lagi?" tanya Lilis sambil menangis.
Mendengar ucapan ibunya, Naina bergerak perlahan mendekati ibunya. Dengan ragu-ragu, Naina menyentuh tangan ibunya.
"Ibu ...."
"Naina, maafkan ibu. Ibu sudah membuat kamu takut. Ibu sudah jahat padamu," kata Lilis sambil memeluk Naina."Jangan benci ibu, Naina. Hanya kamulah satu-satunya milik ibu. Ibu sangat mencintaimu."
"Ibu, Naina juga sayang ibu. Naina takut, ibu yang membenci Naina. Naina takut kalau ibu marah," kata Naina sesenggukan.
"Maafkan ibu. Mulai sekarang, ibu tidak akan lagi membiarkan Naina sedih. Ibu yakin, Allah akan menjaga adikmu, dimana pun dia berada. Ibu yakin Allah akan mempertemukan kita dengan Wahyu," kata Lilis lalu melepas pelukannya. "Siapa yang datang mencari ibu?"
"Katanya dia nenek dan bibi Naina. Apakah benar, Bu?"
"Oh, mereka. Benar Sayang, mereka nenek dan bibimu. Semua orang yang lebih tua dari kita, mereka biasa kita panggil bibi dan nenek, bukan begitu?" kata Lilis bingung harus menjawab apa dan bagaimana.
__ADS_1
"Katanya lagi, aku bukan anaknya ayah Nathan. Apakah itu benar, ibu?" tanya Naina sedih.
"Sayang, apakah ayah Nathan tidak menyayangimu? Apakah ayah Nathan bukan ayah yang baik bagi Naina?" tanya Lilis kesal pada mantan ibu mertua dan kakak iparnya.
"Ayah sangat menyayangi Naina. Ayah Nathan, ayah terbaik buat Naina," jawab Naina
"Sayang, ayah Nathan memang bukan ayah kandungmu, tetapi ayah Nathan jauh lebih baik dari ayah kandungmu. Suatu saat, saat kamu sudah besar dan mengerti, ibu dan ayah akan memberitahumu," kata Lilis. "Naina masuk kamar saja, biar ibu yang temui mereka."
"Baik , Bu."
Setelah Naina pergi menuju kamarnya, Lilis bergegas keluar untuk menemui mantan ibu mertua dan kakak iparnya. Dengan tatapan tidak bersahabat, Lilis menemui mereka. Lilis kesal karena ulah mereka yang berusaha memberitahu tentang ayah kandung Naina. Lilis memiliki pemikiran tersendiri, terkait kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Naina tentang ayah kandungnya.
Saat ini, Naina masih mengalami trauma atas penculikan dirinya oleh Desta yang adalah ayah kandungnya. Bagaimana memberitahu Naina, bahwa lelaki yang telah menculik dirinya dan membuat dirinya trauma adalah ayah kandungnya? Karena itu, Lilis ingin mencari waktu yang tepat agar Naina bisa menerima kenyataan dan lepas dari traumanya terlebih dahulu
"Untuk apa kalian datang kemari? Bukankah aku sudah memberi kalian jawaban yang jelas?" tanya Lilis menahan kesal.
"Lilis, kami datang ingin mengucapkan rasa ikut bersedih dengan apa yang menimpa anak kalian. Makanya, Lis, kami ini meminta Naina baik-baik, kamu malah menolaknya. Mungkin ini teguran untuk kamu, karena kamu pelit berbagi kebahagian," ucap mantan ibu mertuanya sinis.
"Lis, meskipun kamu menolak keinginanku, izinkan aku mengajak Naina pergi jalan-jalan. Dia pasti akan sangat senang sekali," kata mbak Mona.
"Bagaimanapun, kami juga berhak atas Naina. Kami tidak akan lagi meminta Naina setelah hilangnya anak kalian, Wahyu. Kami hanya ingin mengajak Naina jalan-jalan. Biarkan dia mengenal kami sebagai keluarganya juga. Anggap saja, ini adalah permintaan nenek yang kangen cucunya," kata Bu Wati.
"Ibu, mbak Mona. Lilis bukan tidak ingin Naina mengenal kalian sebagai keluarganya. Akan tetapi kalian sendiri tahu, apa yang dilakukan Mas Desta padaku dan Lilis di kota B, membuat Naina trauma sampai-sampai Naina harus aku bawa ke psikiater beberapa kali. Sekarang dia baru saja mulai melupakan kejadian itu, bagaimana kalau dia tahu, pria itu adalah ayahnya? Kalian bisa bayangkan bagaimana sedihnya dia," kata Lilis menjelaskan.
"Lilis, kami janji, kami tidak akan lagi berusaha membuat dia tahu siapa ayah kandungnya. Sampai kamu sendiri yang akan memberitahunya. Kami hanya ingin bersama Naina sebentar saja, mumpung kalian ada di sini?" kata mbak Mona.
"Tapi aku tidak yakin dengan perkataan kalian. Seperti saat ini saja, kalian sudah berusaha membuat Naina curiga, jika ayah Nathan bukan ayahnya."
"Lilis, itu kami keceplosan saat melihat Naina. Kami ingin memeluknya, tapi dia menolak. Makanya, kami bilang kalau kami ini adalah nenek dan bibinya. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," kata Bu Wati sedih.
"Meskipun aku percaya kalian, tetapi sekarang aku sudah menikah dan Mas Nathan telah menjadi ayah dari Naina. Jadi, aku tidak bisa memutuskan sendiri, apakah Naina bisa ikut kalian jalan-jalan atau tidak. Aku harus meminta izin dari suamiku," kata Lilis.
"Kalau begitu, aku ingin bertemu suamimu untuk meminta izin," kata Bu Wati.
__ADS_1
"Tidak perlu, biar aku saja yang bicara dengan mas Nathan. Ibu, Lilis masih menghormati ibu dan Mbak Mona sebagai nenek dan bibi dari Naina. Lilis mohon, jika nanti Mas Nathan setuju, jangan khianati kepercayaan Lilis. Karena jika kalian sampai menghianati kepercayaan Lilis dan mas Nathan, jangan harap, kalian akan bisa bertemu Naina selamanya," ancam Lilis.
"Tentu saja kami tidak pernah menghianati kepercayaan kalian. Setelah selesai jalan-jalan, kami akan mengembalikan Naina pada kalian. Janji," ucap Bu Wati.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Lis," pamit mbak Mona.
"Ibu juga pamit pulang. Assalamualaikum," ucap Bu Wati diikuti ucapan salam dari Mbak Mona.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis.
Lilis menatap kepergian ibu dan kakak dari Desta dengan tatapan sedih. Lilis tahu bagaimana perasaan Bu Wati terhadap Naina. Naina adalah cucu pertama yang lahir di keluarga mereka.
Tentu saja, kasih sayang mereka pada Naina sangat besar. Akan tetapi jika mereka meminta Naina untuk dijadikan anak, sampai kapanpun Lilis tidak akan pernah setuju. Jika hanya sekedar ingin mencurahkan kasih sayang atau memberinya cinta, Lilis masih bisa menerima.
"Assalamualaikum."
Suara salam dari suaminya membuyarkan lamunannya.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis sambil tersenyum melihat Nathan pulang.
"Sayang, kamu ...."
Nathan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tadi pagi saat dia pergi, Nathan masih melihat kondisi Lilis yang masih tidak stabil. Tetapi, saat dia kembali, Lilis sudah lebih baik.
Lilis memeluk suaminya tanpa peduli jika suaminya baru saja pulang dari kantor polisi untuk melihat perkembangan pencarian Wahyu.
"Bagaimana perkembangan pencarian Wahyu, Mas," tanya Lilis.
Nathan hanya menghela nafas panjang.
Bersambung
Yuk mampir ke karya temen aku
__ADS_1