Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 104. Flashback Dokter Pradipta


__ADS_3

Kelahiran anak ke 3 Lilis, menjadi kado spesial bagi keluarga Nathan. Bayi Lilis lahir dengan kondisi sehat dan normal. Bayi perempuan itu diberi nama Bunga. Diharapkan bunga akan menjadi gadis yang bisa mengharumkan namanya dengan prestasi.


Kebahagiaan mereka semakin bertambah, saat usaha Nathan mulai berkembang pesat dan kini telah berubah menjadi restoran walaupun masih berskala kecil. Berapapun hasil yang di dapatkan dari setiap tetes keringatnya, Nathan selalu berusaha mensyukurinya


Nathan juga menerapkan berbagi makanan pada setiap hari Jum'at untuk sedikit meringankan beban orang miskin. Mungkin jika nanti usahanya semakin besar, dia akan bisa lebih banyak lagi berbagi rezeki.


Semua orang disini sangat baik pada keluarga Nathan terutama pada Lilis dan anak-anaknya. Dokter Pradipta kini berperan sebagai orangtua bagi Nathan dan Lilis. Beliau sangat menyayangi anak-anak Lilis seperti pada cucunya sendiri.


Tiga tahun kemudian.


Usaha restoran kecil Nathan telah berubah menjadi sebuah restoran besar dan sudah memiliki cabang di beberapa tempat. Mereka sudah bisa membeli mobil sendiri, akan tetapi Lilis menolak untuk membeli rumah baru yang lebih besar.


"Sayang, tidakkah kamu merasa, rumah ini terlalu kecil untuk kita berenam?" tanya Nathan sambil memperhatikan ketiga anaknya bermain diruang keluarga.


"Mas, aku rasa rumah ini cukup untuk kita. Bibi kan tidak tidur disini, jadi kita hanya renovasi saja rumah ini agar ditambah satu kamar untuk Wahyu. Bunga dan Naina bisa tidur sekamar berdua," jawab Lilis menjelaskan.


"Tapi, aku masih tidak nyaman dengan rumah ini. Anak-anak sudah bertambah besar dan mereka harus tidur di kamar yang terpisah. Mereka juga butuh kamar yang lebih luas untuk mereka bisa belajar dengan baik," kata Nathan dengan pemikirannya sendiri.


"Kita bisa berhemat listrik dan lain-lainnya dengan rumah sederhana kita ini. Apakah Mas Nathan malu, kita tinggal di rumah ini?"


"Ini bukan masalah malu atau tidak. Ini untuk kenyamanan kita dan anak-anak. Dulu, kita tidak memiliki uang, tapi sekarang, kita sudah hidup berkecukupan. Tidak ada salahnya kita memberikan rasa nyaman untuk anak-anak kita," kata Nathan masih kekeh dengan pendapatnya.


"Tapi aku ingin anak-anak belajar hidup sederhana. Jangan hanya karena kita memiliki uang, kita mengajari mereka hidup boros," kata Lilis


Begitulah, baik Nathan maupun Lilis masih sama kekeh dengan pendapatnya mereka masing-masing. Inilah konflik pertama mereka setelah mereka menjadi orang kaya. Sepertinya mereka tidak ada yang mau mengalah. Lilis akhirnya mendiamkan Nathan dan dia tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya itu.


Saat itulah, Dokter Pradipta datang dengan membawa ayam goreng kesukaan anak-anak Lilis. Naina, Wahyu dan Bunga menyambut kedatangan kakek Pradipta dengan senyum gembira.


"Kakek datang," teriak Wahyu pada kedua saudaranya.


"Kakek, Kakek bawa apa?" tanya Naina.

__ADS_1


"Kakek ...," ucap Bunga pelan.


"Tenang, Kakek bawa ayam goreng kesukaan kalian. Jangan berebut ya? Naina, sebagai yang lebih besar kamu saja yang bagi ke mereka," kata Dokter Pradipta sambil menyerahkan sebungkus ayam goreng pada Naina.


Setelah menyerahkan ayam goreng, Dokter Pradipta menemui Nathan dan Lilis yang masih tampak tegang karena belum menemukan titik terang tentang perdebatan mereka tadi.


"Ada apa ini, kenapa kalian tampak sedih?" tanya Dokter Pradipta mencoba mencairkan suasana yang tampak tegang.


"Kami hanya sedang beda pendapat saja," jawab Nathan sambil tersenyum.


"Itu hal biasa dalam rumah tangga. Aku juga pernah merasakan hal itu saat masih bersama istriku dulu," kata Dokter Pradipta.


"Apa karena itu kalian memutuskan berpisah?" tanya Nathan.


"Salah satunya. Juga karena tidak ada kecocokan lagi. Lebih tepatnya tidak ada cinta diantara kami," jawab Dokter Pradipta sambil menghela nafas.


"Kalau tidak ada cinta kenapa menikah?" tanya Lilis.


Flashback on.


Lama kelamaan, mereka saling jatuh cinta. Pradipta mengungkapkan perasaanya terlebih dahulu dengan segala keterbatasannya. Dia tidak berharap Ririn menerimanya, dia hanya tidak ingin menyesal karena tidak pernah menyatakan perasaanya pada orang yang dia cintai.


Pradipta sangat bahagia ketika, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ririn membalas cintanya. Hubungan mereka berlanjut hingga dua tahun lamanya. Sampai akhirnya hubungan percintaan mereka diketahui oleh orangtua Ririn.


Orangtua Ririn berusaha memisahkan mereka, karena mereka tidak setuju memiliki menantu orang miskin yang tidak sederajat dengan mereka. Orangtua Ririn memang sangat kaya, memiliki banyak usaha. Akan tetapi Ririn memiliki hati yang sangat baik dan sederhana. Dia tidak pernah membedakan teman-temannya. Buktinya juga, meski dia tahu Pradipta miskin, Ririn masih tetap mencintainya dengan tulus.


Sampai suatu hari, Ririn tiba-tiba memutuskan untuk berpisah dengan Pradipta dan akan pindah kuliah keluar negeri. Pradipta sangat kaget dan meminta Ririn menjelaskan pada Pradipta tentang semua itu.


"Ririn, meskipun kamu memilih pindah kuliah keluar negeri, kenapa kita harus putus. Kita masih bisa berhubungan jarak jauh. Sekarang zaman sudah canggih, kita bisa Video Call setiap hari," kata Pradipta berharap Ririn merubah keputusannya.


"Tapi aku tidak bisa. Aku ingin fokus pada kuliah aku demikian juga dengan kamu. Kamu adalah harapan satu-satunya keluarga kamu. Kamu harus bisa menjadi dokter dan membuat bangga orangtuamu, bukankah itu impianmu?" jawab Ririn.

__ADS_1


"Benar, menjadi seorang dokter adalah impianku sejak lama. Tetapi sekarang, kamu adalah impianku juga. Mari kita sama-sama membuat impian ini terwujud," kata Pradipta memohon.


"Pradipta, tidak selamanya semua yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Ada salah satu yang harus dikorbankan untuk bisa mencapai tujuan yang lain" kata Ririn.


"Jadi kamu memilih mengorbankan cinta kita agar kamu bisa mencapai impianmu?" tanya Pradipta kesal.


"Begitulah, jadi kamu harus fokus belajar untuk menjadi seorang dokter yang hebat. Tunjukan padaku, meski tanpa aku, kamu bisa," kata Ririn sambil mengusap air matanya yang tidak mau berhenti.


"Ririn, kamu menangis. Aku tahu kamu pasti terpaksa melakukan ini. Ayo kita hadapi semua kesulitan ini bersama," kata Pradipta sambil memegang tangan Ririn.


"Tidak, besok aku sudah harus pergi keluar negeri. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Yakinlah, jika memang kita berjodoh, kita pasti akan bertemu kembali. Saat itu aku ingin melihat kamu sudah menjadi Dokter Pradipta."


Setelah berkata seperti itu, Ririn melepaskan pegangan Pradipta lalu melangkah pergi meninggalkan Pradipta yang masih belum percaya bahwa kisah cintanya sudah berakhir hari ini.


Sejak saat itu, Pradipta belajar dengan tekun dan akhirnya lulus menjadi seorang dokter. Ketika mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah Ririn sudah menikah dengan anak orang kaya. Pradipta patah hati dan melakukan kesalahan dengan teman seprofesinya dan akhirnya mereka menikah.


Pernikahan yang memang tidak didasari cinta, tidak tahan diterpa gelombang badai yang menerpa. Saat Pradipta mengetahui, semua yang dilakukan Ririn adalah demi dirinya agar bisa terus mencapai impiannya menjadi dokter. Ririn mendapatkan ancaman dari ayahnya, jika mereka tetap bersama, maka Pradipta dipastikan tidak akan pernah menjadi seorang dokter seperti impiannya.


Pradipta berpisah dengan istrinya dan berusaha untuk bisa mendapatkan cinta Ririn kembali. Akan tetapi kekecewaan yang dia dapatkan saat Ririn mengatakan bahwa Ririn sudah jatuh cinta pada suaminya.


Pradipta merasa patah hati dan berniat membalas dendam. Sayangnya, Ririn dan suaminya meninggal karena kecelakaan. Akan tetapi dendamnya tetap melekat di hatinya.


Flashback off


"Dokter Pradipta," panggil Nathan mengejutkannya.


"Aku sudah membalas dendam," kata Dokter Pradipta gugup.


"Apa ...."


Bersambung

__ADS_1


yuk baca karya temen aku ya judulnya dibawah ini



__ADS_2