Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 98. Bukan anggota keluarga


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


Kehidupan Lilis di kota tidak seindah dulu. Meskipun Kakek sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga kecil Nathan dan Lilis, tetapi apa yang di lakukan Kakek pada Lilis dan anak-anaknya masih sangat menyakitkan.


Saat itu, ada acara kumpul dan makan bersama keluarga di rumah Kakek yang kini sudah di tempati oleh Guntur dan Sita. Nathan datang bersama Lilis dan kedua anaknya, Naina dan Wahyu.


Semua sudah berkumpul dan siap makan bersama. Kakek duduk paling ujung. Disebelah ada Guntur dan Sita.


Disebelahnya lagi ada Nathan, Lilis dan Naina. Sedangkan Wahyu ada dalam pangkuan Nathan.


Bagi Lilis, ini adalah kebahagiaan yang sempurna. Dia bisa menyatu di dalam keluarga Sugara. Nathan juga terlihat bahagia bisa membawa Lilis dan anak-anaknya masuk ke dalam keluarga Sugara. Kebahagiaan apa lagi yang ingin dicapai selain melihat Kakek dan Lilis bisa duduk bersama setelah sekian lama menikah.


"Kakek bahagia sekali hari ini kita bisa berkumpul bersama sebagai keluarga Sugara. Meskipun sepertinya ada yang bukan anggota keluarga, tapi coba dimasukkan menjadi anggota keluarga," ucapan Kakek mengejutkan semuanya.


"Maksud Kakek apa?" tanya Nathan curiga.


"Tidak ada. Hanya, bukan darah keluarga Sugara, seharusnya tidak perlu ada di sini," kata Kakek menatap Naina dan membuat semua orang jelas siapa yang di maksud Kakek.


Hati Lilis tiba-tiba seperti tersayat-sayat, perih dan sakit. Airmatanya juga tidak dapat ditahannya. Apalagi saat ini dia dalam keadaan hamil, emosinya sedikit naik jika di sulut.


"Kakek, Naina juga anakku, jadi dia juga anggota keluarga Sugara. Meskipun darah yang mengalir ditubuhnya bukan darahku," kata Nathan.


"Nathan, Kakek tidak bermaksud mengatakan kalau Naina bukan bagian dari keluarga Sugara, benar begitu kan Kek?" kata Guntur mencoba mendinginkan situasi yang mulai memanas.


"Guntur, jangan menganggap aku orang bodoh. Meski orang bodoh pun, dia pasti pasti tahu siapa yang di maksud Kakek itu siapa," ucap Nathan kesal.


"Nathan, aku tidak bermaksud menganggap dirimu bodoh. Aku hanya tidak ingin suasana makan bersama ini menjadi canggung," kata Guntur merasa bersalah.


"Sudah. Kalian tidak usah bertengkar. Kenapa kamu harus marah, Nathan. Dia memang bukan darah dagingnya bukan . Jadi kalau aku menyebutnya bukan anggota keluarga, kamu tidak perlu sakit hati," kata Kakek sambil meneruskan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Maaf, Kek. Jika kehadiran Naina di sini hanya membuat kalian bertengkar, mungkin sebaiknya kamu pergi saja. Permisi," ucap Lilis sambil menarik tangan Naina.


"Mbak Lilis, jangan pergi ...," teriak Sita.


"Nathan berterimakasih sudah mengundang kamu. Karena salah satu dari kami tidak diterima di rumah ini, aku juga akan pergi," ucap Nathan langsung beranjak dari kursinya mengejar Lilis dan Naina.


Lilis dan Naina sudah masuk mobil terlebih dahulu. Mereka tidak naik taksi karena yakin jika Nathan juga akan ikut pulang dengannya. Dan benar saja, tidak lama setelah itu, Nathan tampak keluar rumah sambil menggendong Wahyu.

__ADS_1


"Syukurlah, kamu ada di mobil. Tadinya aku khawatir kamu akan pergi dengan naik taksi," kata Nathan sambil menyerahkan Wahyu pada Lilis.


"Aku percaya kalau Mas Nathan akan ikut pulang juga," ucap Lilis sambil tersenyum.


"Kamu masih bisa tersenyum. Tadi aku lihat kamu sangat sedih dan menangis, aku takut sekali melihatnya," kata Nathan mengusap rambut Lilis pelan.


"Ayah, kenapa kita cepat sekali pulangnya? Kakek tidak suka dengan Naina?" tanya Naina sedih.


"Tidak, sayang. Kakek hanya sedang sakit, tinggi tingginya kumat. Jadi kita pulang duluan saja biar Kakek bisa istirahat," kata Nathan sambil tersenyum.


"Benar Naina. Sekarang kita pulang dulu. Lebih enak tinggal dirumah sendiri. Makan dan tidur dengan tenang tanpa takut perkataan orang," kata Lilis terlihat kesal.


"Ya, Bu. Lebih enak di rumah sendiri. Naina bisa makan sesukanya," kata Naina.


"Kalau begitu, semua siap. Kita pulang sekarang," ucap Nathan sambil tersenyum.


Nathan sekeluarga meninggalkan rumah sang Kakek dan entah kapan akan bisa kembali datang kerumah itu lagi.


***


Nathan mengajak Lilis, ibu mertuanya, Naina dan Wahyu, merayakan ulang tahun Wahyu di sebuah tempat wisata di kota B. Mereka tampak bahagia karena Wahyu sudah mulai bisa berjalan dan memanggil ayah bunda.


"Selamat siang. Perkenalkan, saya Rinto. Saya tertarik dengan keluarga bahagia kalian. Saya tidak pernah menikmati indahnya sebuah keluarga. Jadi bolehkah saya ikut merasakan kebahagiaan kalian?" kata Pak Rinto penuh harap.


Nathan dan Lilis saling berpandangan, sebelum akhirnya mereka mengangguk setuju.


"Selamat siang. Silahkan jika berkenan bergabung dengan keluarga kami," kata Nathan memberi tempat pada Pak Rinto.


"Terima kasih," kata Pak Nathan sambil duduk di sebelah Nathan.


"Silahkan, di cicipi Pak Rinto. Hanya makanan seadanya saja," kata Lilis mempersilahkan Pak Rinto makan.


"Wah, ini lebih dari sekedar nikmat. Ini lebih enak daripada makanan di restoran," kata Pak Rinto sambil mengambil sepotong ayam goreng.


"Kakek, Kakek seperti anak kecil, suka ayam goreng juga," celetuk Naina sambil menyantap ayam goreng ditangannya.


"Kakek ini, mau kembali ke masa kecil Kakek. Masa kecil yang tidak bisa makan ayam goreng seperti kamu, gadis kecil. Kamu namanya siapa?" tanya Pak Rinto.

__ADS_1


"Naina, Kakek," jawab Naina.


"Naina, nama yang cantik."


"Kenapa Kakek tidak bisa makan ayam goreng?" tanya Naina.


"Kakek tidak memiliki uang. Ayah dan ibu Kakek sangat miskin. Untuk makan saja, Kakek harus bekerja dulu," kata Kakek Rinto.


"Ini sudah sore, kami akan pulang dulu, takut kemalaman di jalan. Maaf sekali, Pak Rinto," kata Nathan.


"Oh, mau pulang. Nggak apa-apa, silahkan. Saya juga harus segera pulang," Kat Pak Rinto.


Nathan bergegas meminta Lilis dan semuanya untuk berkemas. Mereka harus segera pulang sebelum hari gelap. Pak Rinto juga pergi setelah Nathan dan keluarganya berniat pulang. Mereka segera naik ke mobil untuk secepatnya pulang.


Sebelum mereka kembali ke rumah, Nathan mampir ke sebuah toko dipinggir jalan untuk membeli air minum. Nathan meminta mereka untuk tidak turun karena Nathan tidak akan lama. Akan tetapi karena Wahyu merasa rewel saat mobil berhenti, Lilis akhirnya keluar dikuti Naina dan ibu Sri.


Saat Lilis hendak berjalan sambil menenangkan Wahyu, tiba-tiba sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menuju kearah Lilis dan Wahyu. Bu Sri dengan cepat menghalangi dengan berdiri menghadang tepat di depan sepeda motor tersebut dan brakk ...


Tubuh Bu Siti tergeletak di jalan beraspal dan bersimbah darah. Lilis tampak histeris melihat kondisi ibunya


"Ibu ...."


"Mbah Uti ...."


"Tolong ibu saya. Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Lilis.


Kontan saja, hal itu membuat orang-orang di sekitar mendekat. Akan tetapi tidak ada satupun yang berani menolong Bu Siti. Nathan yang baru saja keluar dari toko, semata kaget melihat ada kerumunan orang di pinggir jalan dekat mobilnya. Perasaan Nathan mulai cemas dan khawatir. Apalagi saat mendengar suara teriakan istrinya.


Sampai di tempat kejadian, Nathan panik melihat ibu mertuanya telah terbaring di jalan bersimbah darah. Dengan segera dia membuang minuman di tangannya dan segera mengangkat tubuh Bu Siti ke dalam mobilnya. Lilis memberikan Wahyu pada Naina dan disuruhnya duduk di jok depan karena Lilis tidak ingin Naina trauma melihat darah yang terus keluar dari kepala neneknya.


Lilis naik ke jok belakang sambil memanggil-manggil nama ibunya yang sudah tidak bisa menyahut panggilannya lagi. Saat sampai di rumah sakit. Suara teriakan Lilis memilukan orang yang mendengarnya.


"Ibu ...."


Bersambung


yuk baca karya temen aku judulnya ada dibawah

__ADS_1



__ADS_2