Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 107. Kembali ke rumah lama


__ADS_3

Seminggu kemudian, Nathan dan Lilis memutuskan untuk pergi ke kota B untuk mengunjungi makam Bu Siti sekaligus menjenguk Kakek Edward.


Ketiga anak-anak mereka terlihat sangat senang sekali, terutama Bunga. Gadis kecil yang tidak pernah bertemu dengan saudara ayah dan ibunya terutama Kakek buyut mereka, menjadi sangat antusias.


Sementara Naina yang sudah lama memendam rindu pada Mbah Uthi, menangis di pelukan ibunya karena merasa sangat senang mendengar mereka akan mengunjungi Mbah Uthi.


Mereka berpamitan kepada keluarga Giri dan juga pada Dokter Pradipta. Meskipun mereka hanya berencana untuk pergi ke Kota B hanya beberapa hari saja, tidak ada salahnya meminta doa dan pamit pada orang-orang terdekat mereka.


Mereka pergi dengan menggunakan mobil pribadi yang baru mereka beli sebulan yang lalu. Karena perjalanan cukup jauh, Lilis meminta anak-anaknya untuk tidur jika mereka sudah lelah dan mengantuk selama perjalanan.


"Mas, sudah memberitahu Wendi?" tanya Lilis di samping suaminya yang sedang menyetir.


"Sudah, mereka sudah menyiapkan rumah kita yang lama," jawab Nathan sambil fokus menyetir.


"Mereka masih menjaga rumah kita, meski mereka akhirnya memutuskan membeli rumah baru," kata Lilis.


"Itulah sahabat sejati. Mereka amanah dalam menjalankan amanat. Di zaman sekarang ini, jarang ada sahabat yang seperti mereka. Benar kan kataku?" kata Nathan sambil tersenyum dan melirik ke arah Lilis.


"Mas Nathan, benar. Mereka berdua, adalah sahabat Lilis sejak kecil. Mereka yang selalu ada disaat Lilis menghadapi banyak masalah. Saat Lilis sedih maupun senang, mereka tetap bisa jadi sahabat yang baik. Walupun setelah ada Mas Nathan, banyak yang tergantikan olehmu," kata Lilis melirik ke arah suaminya.


"Jangan bikin aku grogi, ya. Aku sedang menyetir, mesti fokus," kata Nathan pura-pura tidak suka.


"Ya sudah. Aku mau diem saja. Tapi awas kalau ngantuk. Ingat kita berempat bergantung padamu, Mas."


"Ish, marah? Kalau sedang tidak nyetir sudah aku cium kamu. Bikin gemes, saja," kata Nathan sambil menahan tawa.


Beberapa saat, Lilis diam seribu bahasa. Bukan marah atau kesal, tetapi mungkin lebih baik dia diam dan tidak mengganggu konsentrasi suaminya mengemudi. Tiba-tiba, mobil berhenti di depan sebuah rumah makan. Lilis sempat kaget, karena tidak biasanya perjalanan beberapa jam ini mampir ke rumah makan.


"Beneran diam? Kamu tidak bertanya kenapa mobil berhenti di sini?" tanya Nathan sambil menghela nafas dan memandang wajah Lilis.


"Kan nanti Mas Nathan akan bilang sendiri. Kalau berhenti didepan rumah makan, ya pastinya Mas Nathan lapar, mau makan," jawab Lilis pura-pura polos.


Nathan melepaskan sabuk pengaman dan mendekati Lilis. Tangannya meraih dagu dan ditatapnya wajah Lilis yang mulai memerah karena malu.


"Ada, apa mas? Mas mau apa?" tanya Lilis yang tidak dijawab oleh Nathan.


Lilis menelan ludah dan terlihat canggung melihat kelakuan suaminya yang sok kayak drama-drama di televisi.

__ADS_1


Sementara Nathan menikmati sikap istrinya sambil menahan tawa. Setelah beberapa menit, Nathan bergerak cepat mencium bibir istrinya tanpa memberi kesempatan Lilis bernafas. Nathan dan Lilis tidak menyadari jika Wahyu sudah terbangun.


"Ayah, apa kita sudah sampai? Kalian sedang apa?" tanya Wahyu sambil melebarkan matanya.


Pertanyaan Wahyu mengejutkan ayah dan ibunya yang segera menghentikan ciumannya dan kembali ke tempat duduknya.


"Belum sampai, sayang. Ayah tadi sedang lihat wajah ibu ada debu, jadi ayah coba ngilanginnya. Udah, nanti kalau sudah dewasa, kamu akan tahu sendiri," jawab Nathan bingung dan bicara ngawur.


"Wahyu, tidur lagi saja. Sebentar lagi juga sampai," kata Lilis lembut.


Wahyu kembali tidur di samping Naina.


***


Setelah perjalanan cukup panjang, hampir 5 jam. Mereka sampai juga di rumah lamanya. Nathan dan Lilis turun dan membantu anak-anak mereka turun dari mobil. Mereka disambut Wendi dan Sri dan seorang anak laki-laki yang seusia Bunga. Namanya Rendy.


"Selamat datang kembali di rumah lama kalian. Wah, ramai sekali. Sudah jadi berlima sekarang," sambut Wendi sambil memeluk Nathan.


"Kalau iri, tambah dong. Jangan hanya satu," kata Nathan sambil menepuk-nepuk punggung Wendi.


"Lis, selamat datang yah. Aku senang sekali, akhirnya kamu kembali juga," sambut Sri sambil memeluk Lilis.


"Apa sih yang sulit bagi kamu merayu suamimu yang sudah cinta mati sama kamu?" tanya Sri tertawa kecil.


"Bisa saja."


Mereka tertawa bersama. Mereka masih sama seperti dulu, masih saling menyayangi dan saling memahami.


"Masuk-masuk. Aku sudah siapkan masakan yang enak untuk kalian," ajak Sri kepada semua keluarga Lilis.


"Biarkan mereka mandi dulu biar segar setelah perjalanan jauh," kata Wendi.


"Kami akan pergi. Besok saja aku akan kembali kesini," kata Sri.


"Loh, katanya sudah masak? Makan bareng dong di sini," kata Lilis.


"Aku mau beri kesempatan kalian untuk bernostalgia," kata Sri tersenyum

__ADS_1


"Terserah kalian saja," kata Nathan.


Wendi dan Sri segera pamit pulang. Sementara Nathan sekeluarga bergegas mandi dan mereka mulai menikmati makanan yang sudah disiapkan Wendi dan Sri. Anak-anak, ternyata menikmati masakan Sri dan terutama ayam gorengnya. Selesai makan, mereka beristirahat karena hari sudah menjelang malam. Mereka melakukan kewajiban berjamaah dan segera beristirahat.


"Mas, apa rencana kita besok?" tanya Lilis.


"Kita ke makam ibu dulu. Batu kita menemui Kakek. Bagaimana?"


"Boleh juga. Ingat ya mas. Jangan pake emosi saat bertemu Kakek. Beliau sudah terlalu tua untuk bersedih. Kita tidak tahu kapan Kakek bisa bertahan. Berikan Kakek sedikit senyum di masa-masa akhir hidupnya yang entah sampai kapan beliau bisa bertahan dengan penyakitnya," kata Lilis.


"Iya, sayang. Mas mengerti,"jawab Nathan sambil tersenyum manis.


"Ibu ...," teriak Naina sambil menangis.


"Ada apa, sayang," tanya Lilis panik.


"Sayang, kamu kenapa, bertengkar sama adikmu?" tanya Nathan panik juga.


Lilis memeluk Naina yang masih menangis. Sementara adik-adiknya berlari kecil mengejar Naina.


"Kakak kalian kenapa bisa menangis?" tanya Nathan pada Wahyu dan Bunga.


"Wahyu tidak tahu ayah. Tadi waktu lihat foto nenek-nenek dikamar kak Naina, tiba-tiba Kak Naina langsung menangis. Dan berlari mencari ibu?" jelas Wahyu.


"Benel ayah, Bunga takut kok Kak Naina bisa nangis," ucap Bunga sedih.


"Kalian tidak usah takut, Kak Naina tidak apa-apa. Wahyu, coba ambil foto nenek di kamar Kakak," perintah Nathan.


"Baik, ayah."


Wahyu bergegas mengambil foto bu Siti di kamar Naina. Setelah itu di diberikannya foto itu kepada ayahnya.


"Kian lihat baik-baik. Ini adalah nenek kalian. Tapi sekarang beliau sudah almarhum atau meninggal. Karena kalian belum mengenal nenek, besok kita akan pergi ke rumah nenek yang baru," kata Nathan.


Wahyu dan Bunga duduk dipangkuan ayahnya sambil melihat dan memperhatikan foto nenek mereka.


Sementara Lilis masih berusaha menenangkan Naina yang kangen dengan Mbah Uthi-nya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2