Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 18. Kota penuh kejutan


__ADS_3

Kehidupan Lilis mulai mengikuti kebiasaan keluarga Mbak Ratih. Acara makan tidak ada pembicaraan. Padahal Lilis dulu paling suka mengobrol sambil makan. Sekarang itu seperti kebiasaan orang kampung.


Lilis kini lebih sering berinteraksi dengan pelanggan. Bahkan Lilis sudah mengenal beberapa dari mereka yang kebanyakan bekerja di sebuah pabrik. Ketika Lilis mengantarkan pesanan mereka, Gemi salah satu kenalan Lilis, sempat mengajak bicara Lilis.


"Mbak Lilis, ditempat kerja aku ada lowongan kerja, mbak. Mbak kan dulu pernah kerja dipabrik juga kan? Yok Mbak, nanti lamarannya bisa titip ke aku."


"Aduh, makasih dek Gemi. Bukannya aku tidak menghargai ajakan dek Gemi, tapi aku lagi belajar membuat usaha. Jadi lain kali saja, aku akan ikut kerja di pabrik kalau usaha aku gagal," ucap Lilis sambil tersenyum.


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya malah senang, mendengar Mbak Lilis mau buka usaha sendiri. Gemi doakan usaha Mbak Lilis berhasil."


"Makasih dek Gemi atas doanya. Tetapi entah kapan usahaku bisa terwujud. Mungkin masih lama. Tetapi berusaha itu wajib, ya kan?"


Lilis tersenyum pada Gemi dan dibalas senyum juga oleh Gemi. Lilis memang menumbuhkan jiwa juang agar dirinya tidak mudah putus asa menghadapi kerasnya hidup yang dijalaninya saat ini.


"Lis, pergilah ke pasar sebentar. Ini daftar belanjaan yang harus kamu beli. Dan ini uangnya."


"Baik, Mbak Ratih. Lilis pake motor yang mana, Mbak?"


"Kamu minta kunci motor sama mas Reza, yang biasa dia pake buat ke pasar."


Lilis mencari Reza namun dia tidak menemukan di warung. Lilis lalu bertanya pada salah satu pelayan di warung Mbak Ratih.


" Mbak Surti, kamu lihat mas Reza?"


"Untuk apa kamu mencari pak Reza?" tanya Surti penasaran.


"Mau minta kunci motor, untuk pergi ke pasar membeli bahan warung."


"Oh...tadi aku lihat Pak Reza masuk rumah. Mungkin sedang ke kamar mandi. Kamu tunggu aja sebentar. Tapi kalau memang mendesak banget, samperin aja di rumah."


"Terimakasih, Mbak Surti."


Lilis takut Reza akan lama kembali ke warung, jadi Lilis memutuskan untuk masuk ke rumah. Rumah Mbak Ratih terletak di belakang warung makan miliknya. Jadi menurut Lilis tidak masalah jika mencari Reza di rumah.


Lilis membuka pintu sambil memanggil nama Reza. Namun hingga beberapa saat tidak ada jawaban.


Mungkin Mbak Surti salah lihat. pikir Lilis.


Lilis hendak beranjak keluar, namun tiba-tiba sebuah tangan kuat meraih tangannya dari belakang, hingga membuat Lilis kaget.


"Ada apa mencariku?"


Lilis mengibaskan tangan Reza secara spontan. Hal itu membuat Reza kaget.


"Lis, kamu kasar sekali," ucap Reza kesal.

__ADS_1


"Maaf, mas Reza. Lilis hanya kaget saja," ucap Lilis seraya minta maaf.


Padahal, memang tidak sopan memegang tangan lawan jenis yang tidak ada hubungan apa-apa. Namun Lilis berusaha berpikir positif atas kelakuan Reza.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Katakan ada apa mencariku?"


"Mau meminta kunci motor. "


"Mau kemana?"


"Pergi ke pasar."


"Bagaimana kalau mas antar. Mas takut kamu lupa jalan pulang."


Lilis terlihat risih dengan tatapan mata Reza. Reza seolah hendak menelannya bulat-bulat ditambah nada bicaranya seperti seorang playboy saja.


Tapi mana mungkin mas Reza laki-laki macam begitu? Mungkin aku yang terlalu berlebihan. pikir Lilis.


"Tidak perlu, mas Reza. Lilis kemarin sudah tahu jalan pergi dan pulang dari pasar."


"Ya, sudah. Lis, apa kamu senang tinggal di tempat kami?"


"Senang, mas."


"Baguslah kalau begitu."


Setelah sepuluh menit perjalanan, sampailah Lilis di pasar. Lilis memarkir motor di tempat parkir yang sudah tersedia. Ketika berjalan, tiba-tiba seseorang menabraknya.


"Maaf," ucap pemuda itu lalu segera berlalu pergi.


Lilis belum sempat berkata apapun dan pemuda itu secepat kilat hilang diantara pengunjung pasar yang lain. Lilis menuju kesebuah toko yang cukup ramai. Catatan Mbak Ratih segera diberikan pada salah satu pelayan di sana.


Ketika Lilis hendak membayar barang yang dia pesan, Lilis tidak menemukan dompet yang tadi ditaruhnya di saku. Lilis tampak kebingungan dan cemas. Jika uang itu hilang, bagaimana dia bisa membayar barang yang sudah terlanjur dia pesan. Lilis hampir menangis.


Uang dari Mbak Ratih cukup besar sekitar 500 ribu. Jumlah uang yang sama seperti jatah uang belanja dari mantan suaminya dulu. Baginya, uang segitu sangatlah banyak. Jika uang itu, benar-benar hilang, bulan ini dia tidak akan bisa mengirimi Naina uang. Karena dia harus mengganti uang yang hilang.


Naina, maafkan ibu sayang.


"Maaf, mbak. Dompet saya hilang. Bisakah barang belanjaan saya titip dulu, nanti kalau sudah ketemu akan saya ambil, " ucap Lilis sedih.


"Mbak pendatang baru ya?"


"Ya. Belum satu bulan datang ke kota B ini."


"Pantas. Ya sudah, semua barang ini akan kami simpan kembali. Mbak boleh datang lagi, kalau dompet Mbak sudah ketemu," kata pelayan toko tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Lilis meninggalkan toko tersebut untuk mencari dompetnya. Meskipun dia tidak tahu dimana dompetnya terjatuh, Lilis tetap berusaha mencari. Sekian lama mencari, dompet Lilis tidak terlihat sama sekali.


Lilis mulai panik, diapun termenung dipojok depan pasar yang sepi pengunjung. Tanpa dia sadari, datanglah seorang wanita mendekatinya.


"Mbak ini kenapa, duduk termenung disini sendirian?" Suara seorang wanita mengagetkan Lilis. Lilis pun berhenti menangis. Didepannya telah berdiri seorang wanita sekitar 40 tahun tapi masih terlihat sangat cantik. Dengan pakaian mewah yang pastinya sangat mahal.


"Anda siapa?" tanya Lilis penasaran.


"Saya seorang penolong, bagi yang mau ditolong. Mbak nya cantik, hanya kurang polesan saja," kata wanita itu sambil mengamati wajah Lilis.


"Saya tidak mengerti."


"Tidak apa. Perkenalkan, nama saya madam Susi," ucap wanita yang bernama Susi sambil mengulurkan tangan.


"Lilis," ucap Lilis menyambut jabat tangan Madam Susi.


"Mari duduk sebentar. Mbak sepertinya orang baru di kota B ini? Apa Mbak ada kesulitan?"


"Benar, saya baru. Tadi dompet saya tiba-tiba hilang, sehingga saya tidak bisa membayar barang yang sudah saya pesan."


"Kasihan sekali. Mbak kerja apa?"


"Pelayan warung makan."


"Mbak tidak berniat mencari pekerjaan yang mudah, tapi bisa menghasilkan banyak uang?"


"Mana ada, pekerjaan seperti itu?"


"Ada, ada kok pastinya. Terlebih kamu punya dasar kecantikan alami yang pasti menjadi idola."


"Tidak, saya hanya ingin punya usaha sendiri. Sebuah warung makan sederhana."


"Nah, itu lebih bisa lagi. Bekerjalah dengan Madam Susi selama setahun. Dijamin kamu bisa membeli warung makan sekaligus tanahnya."


"Maaf, saya lebih suka bekerja dan mengumpulkan uang gaji sedikit demi sedikit."


"Susah sekali membujuk kamu, ya?"


Lilis tiba-tiba tertegun, setelah merasakan sebuah pisau kecil ditodongkan ditubuhnya secara tersembunyi oleh Madam Susi. Lilis ketakutan, namun dia tidak menunjukannya.


Kota B begitu penuh kejutan, yang tidak pernah terbayangkan oleh Lilis. Lilis hanya bisa berdoa, agar Allah menjaganya di manapun dia berada. Jika hari ini dia harus mati ditangan Madam Susi, semoga Allah menjaga Naina dan ibunya.


"Diam, gadis cantik. Kamu terlalu keras kepala. Pekerjaan yang aku tawarkan, sebenarnya sangat gampang. Kamu tinggal berdandan yang cantik dan menemani pria-pria kesepian untuk minum. Lagipula, sudah terlihat kalau kamu sudah tidak perawan lagi kan. Jadi kamu bisa bermain plus-plus."


"Anda terlalu menghina saya, Madam Susi." bisik Lilis lirih.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2