Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 48. Lilis hamil


__ADS_3

Wendi dan Sri mulai belajar untuk menjalankan bisnis restoran milik Lilis. Restoran hadiah pernikahan dari Nathan yang di beri nama restoran 'Muney' yang diambil dari nama Lilis Muneyaroh. Karena Wendi dan Sri belum pernah menjalankan usaha resto, maka mereka akan diberi Diklat khusus oleh ahlinya atas perintah Nathan.


Mereka belajar selama 2 Minggu dan akan terus berlanjut meski restoran 'Muney' telah dibuka. Nathan ikut membantu memberikan pengalamannya sebagai pemilik resto yang sudah lama dijalankannya. Segala macam bimbingan sengaja Nathan berikan, agar Wendi dan Sri siap bergerak sendiri tanpa dia. Dia hanya akan menerima laporan dan membantu jika restoran menghadapi masalah.


Lilis hanya bertugas memberinya resep masakan yang akan dijual di resto mereka. Lilis juga tidak perlu datang untuk bekerja, karena Nathan tahu, Lilis pasti sudah lelah karena sibuk mengurus warung makannya.


Nathan sudah mengurus semuanya termasuk warung makan Lilis. Mbak Surti yang akan bertanggungjawab mengurusnya dibantu beberapa karyawan baru. Warung makan Lilis yang sekarang, lebih besar dan terkesan mewah setelah direnovasi Nathan beberapa waktu lalu.


Masalah harga, tidak akan berubah karena Lilis tidak ingin memberatkan pelanggannya, terutama mereka yang bekerja sebagai buruh pabrik dan buruh bangunan. Karena Lilis pernah merasakan, bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji kecil. Apalagi mereka yang seorang perantau, harus membayar uang kontrakan dan lain-lain.


Hari ini, Nathan dan keluarga akan pergi berlibur, seperti yang Nathan janjikan pada Lilis. Naina sudah mondar-mandir sambil bernyanyi karena senang. Sedangkan Nenek duduk di sofa menunggu Lilis dan Nathan yang masih belum keluar kamar.


"Istriku, apa kamu baik-baik saja? Apakah ada yang salah dengan tubuhmu?" kata Nathan.


"Tidak, Mas. Entahlah. Aku hanya merasa agak lemas saja," jawab Lilis lemah.


"Apa kita batalkan saja rencana berlibur kita. Kita pergi ke dokter saja. Aku takut kamu nanti kenapa-napa," kata Nathan sangat cemas.


"Jangan dibatalkan. Ini pertama kalinya Naina dan ibu pergi berlibur. Aku nanti akan duduk diam, pasti tidak akan apa-apa."


"Kamu yakin?"


"Yakin, Mas. Ayo kita berangkat," kata Lilis sambil berdiri.


Beberapa hari ini, Lilis memang merasa agak tidak enak badan. Untungnya semua pekerjaan sudah di serahkan pada Mbak Surti. Ataukah memang sekarang, tubuh Lilis menjadi manja karena adanya Nathan?


Mereka memutuskan untuk tetap pergi. Dengan catatan, Lilis tidak ikut bermain ke pantai. Setelah perjalanan yang melelahkan, sampailah mereka di wilayah pantai. Mereka menuju ke sebuah hotel untuk menginap dan meletakkan barang bawaan mereka.


Lilis merasa pusing dan akhirnya Nathan memutuskan untuk membawa Lilis rumah sakit terdekat. Lilis tidak bisa menolak karena takut membuat semua orang cemas.

__ADS_1


"Selamat, anda akan menjadi seorang ayah," kata Dokter yang membuat Nathan kaget tetapi juga senang.


"Istri saya hamil, Dok?"


"Benar. Usia kehamilannya sudah memasuki Minggu ke empat. Saya harap, tolong dijaga asupan gizi ibu dan anak. Karena tubuh istri anda sangat lemah. Mungkin istri anda tidak nafsu makan. Saya akan meresepkan vitamin dan obat penambah darah untuk istri anda," kata Dokter sambil menuliskan resep untuk Lilis.


Kehamilan Lilis, membuat Nathan sangat protektif. Kali ini, dia memutuskan untuk kembali setelah mendapat persetujuan Naina dan Bu Siti. Semua demi Lilis dan bayinya.


"Ibu minta maaf, karena ibu, rencana berlibur kita jadi batal," ucap Lilis sedih.


"Ibu jangan sedih. Kata ayah Nathan, Naina akan punya dedek bayi tapi Naina harus nurut sama ayah. Agar dedek bayinya sehat. Naina juga harus jaga dedek bayi supaya dedek bayi tidak sakit," kata Naina dengan kelucuannya.


Mereka semua tertawa mendengar perkataan Naina. Naina sangat penurut setelah diberitahu bahwa dia akan segera memiliki dedek bayi. Menjaga agar ibu tidak sedih, memastikan ibu makan yang bergizi dan membuat ibu beristirahat yang cukup.


Naina akan menjadi wakil ayah Nathan, selama ayah Nathan pergi bekerja. Semua itu hanya untuk membuat Naina belajar bertanggung jawab.


"Oh, kemarin ayah bilang begitu ya? Ayah hampir lupa. Tahun ajaran baru nanti, ayah akan daftarkan Naina ke sekolah. Senang sekarang?" kata Nathan mengingat jika Naina memang sudah waktunya masuk sekolah.


"Ibu mau Naina ambilkan buah? ada jambu, pisang, manggis dan anggur. Ibu maunya yang mana?" tanya Naina perhatian.


"Naina, ibu nggak mau makan itu. Ibu lagi nggak mau makan," jawab Lilis sambil bersandar pada bahu Nathan.


"Istriku sayang. Jika kamu terus-terusan tidak mau makan, anak kita bakalan kekurangan gizi dan kamu juga akan lemah. Kamu dengar kata Dokter kemarin, kan? Atau mau aku yang ambilkan?" tanya Nathan sambil menegakkan tubuh Lilis.


"Nggak usah, Mas. Aku nggak mau makan," ucap Lilis manja.


"Tapi kamu harus makan, oke?"


Nathan melangkah menuju ke dapur. Disana, ibu mertuanya tengah membuat bubur. Beliau heran, ketika melihat Nathan masuk ke dapur.

__ADS_1


"Ibu, masih ada lauk kah?" tanya Nathan.


"Nak Nathan mau makan lagi? Di atas meja makan masih ada ayam goreng. Ada lalapan juga," jawab Bu Siti.


"Bukan Nathan, Bu. Tapi, Lilis yang harus makan. Beberapa hari ini dia tidak berselera makan. Jika diteruskan akan sangat berbahaya untuk dirinya maupun bayi dalam kandungannya," kata Nathan sambil mengambil piring.


"Untuk Lilis? Ini, ibu sudah buatkan bubur untuknya. Kalau makan nasi dia tidak mau, bubur ini mungkin bisa jadi solusinya."


"Oh, terimakasih Bu. Aku yakin Lilis pasti suka, karena ini masakan ibu spesial untuknya," kata Nathan yakin.


"Sini, biar ibu ambilkan. Nanti, biar ibu yang bawa untuknya. Kamu pasti sudah capek, istirahat saja," kata Bu Siti sambil mengambil semangkuk bubur.


"Biar Nathan saja, Bu. Sejak Lilis hamil, dia lebih sering bersikap manja padaku. Mungkin itu bawaan bayi, jadi biar Nathan saja yang menemaninya makan," kata Nathan meminta bubur dari Bu Siti.


"Baiklah. Lilis benar-benar beruntung memiliki suami seperti kamu, Nathan. Semoga selamanya tidak akan berubah," ucap Bu Siti seraya berdoa.


Lilis benar-benar berubah sejak hamil. Sepertinya, dia balas dendam karena saat hamil dulu, Lilis tidak bisa bermanja. Jangankan bermanja, setiap hari harus mikir kemana bisa berhutang untuk makan dan bagaimana cara membayarnya. Dan mantannya selalu sibuk dengan teman-temannya bermain game online dan berpesta.


Saat meminta menemaninya melakukan memeriksakan ke dokter, dia sama sekali tidak mau dan malah menyuruh sang ibu untuk menemaninya.


Sekarang, mau makan saja, sang suami yang mengambilnya. Ada Naina yang siap mengupas buah untuknya. Ada ibu yang akan selalu menemaninya jika sedang sendirian.


"Istriku sayang, ibu tadi membuatkan bubur untukmu. Ayo dicoba," kata Nathan sambil menyodorkan semangkuk bubur.


"Lilis tidak mau makan, Mas," ucap Lilis manja.


"Aku suapin ya?"


Nathan sangat sabar menghadapi sikap manja Lilis. Sampai harus menyuapinya agar dia mau makan. Dengan malu-malu, Lilis menerima suapan demi suapan dari sang suami. Naina juga ingin disuapi seperti ibunya. Akhirnya, Nathan harus menyuapi kedua ibu dan anak kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2