
Hasil tes DNA sudah keluar. Kakek, Nathan, Guntur dan Desta hadir di rumah sakit untuk mendengarkan hasil tes DNA. Mereka menunggu kedatangan dokter dengan pikiran tidak tenang dan hati yang cemas.
Setelah cukup lama menunggu, datanglah dokter Wira dengan membawa selembar kertas yang sangat penting untuk mereka.
"Selamat siang semuanya. Saya Dokter Wira yang akan membacakan hasil tes DNA antara bapak Edward Sugara dengan bapak Guntur. Menurut hasil tes DNA antara bapak Edward Sugara dengan bapak Guntur, dinyatakan 99 persen identik. Demikian untuk digunakan sebaik-baiknya," kata dokter Wira.
Hasil yang sangat membuat Nathan terpukul. Sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa Guntur lah anak dan cucu yang sebenarnya, yang dicintai oleh Ayah dan juga oleh Kakeknya. Menghadapi kenyataan bahwa, kehadirannya akan tergantikan oleh Guntur. Nathan menarik nafas berat untuk meringankan beban berat dihatinya.
Desta dan Guntur tersenyum lega. Kini Guntur akan resmi menjadi salah satu ahli waris keluarga Sugara. Otomatis hidup mereka akan semakin terjamin. Apalagi bagi Desta, dengan terbuktinya Guntur sebagai anak dari Keluarga Sugara, akan membuat hidup Nathan berubah. Desta tertawa puas melihat Nathan tertunduk lesu.
"Terimakasih, Dokter Wira," kata Kakek sambil menyalami Pak dokter.
Kakek meminta Nathan dan Guntur, untuk berkumpul di rumah Kakek untuk membuat keputusan. Mereka segera berangkat ke rumah Kakek bersama.
Setibanya dirumah Kakek, mereka duduk di sofa ruang tamu. Kakek menghela nafas panjang sebelum memulai berbicara.
"Nathan, karena terbukti Guntur adalah saudara kamu, anak dari ayah kamu Samuel Sugara. Maka Kakek akan memutuskan bahwa Guntur akan menyandang nama belakang keluarga kita. Jadi namanya akan menjadi Guntur Sugara. Apa kamu keberatan?"
"Tentu saja tidak, kakek. Semua sesuai keinginan Kakek."
"Karena Guntur sudah menjadi bagian dari keluarga Sugara, maka juga akan ikut membantu bisnis keluarga Sugara. Guntur, apa kamu bersedia?"
"Kakek, saya sangat berterimakasih, karena sudah diakui dan diterima dengan baik di keluarga ini. Saya senang memiliki Kakek dan adik seperti Nathan. Tapi saya tidak bisa ikut membantu bisnis keluarga. Pendidikan aku hanya tamat SMA saja," kata Guntur.
"Guntur, kamu ini bagaimana? Bukankah ini yang kita inginkan, kenapa kamu menolak keinginan Kakekmu? Kamu jangan bodoh, terima saja, ini bisnis keluargamu yang berarti bisnismu juga," kata Desta pelan dengan nada kesal.
"Benar kata temanmu. Bisnis ini bisnis keluarga. Jadi kamu memang harus mau menerimanya. Pendidikan bukan masalah, kamu bisa belajar dari adikmu, Nathan. Bukan begitu, Nathan?" kata Kakek.
__ADS_1
"Iya, Kakek," jawab Nathan berat.
"Kalau memang keinginan Kakek seperti itu, Guntur akan menerimanya dengan senang hati. Mohon bimbingan aku, Nathan," kata Guntur tersenyum senang.
"Karena, sekarang kamu adalah yang tertua di keluarga kita, aku akan memanggilmu Mas Guntur. Bukankah begitu, Kakek?" tanya Nathan sambil melihat reaksi Kakek Edward.
"Benar-benar, Nathan. Kamu memang benar. Dia kakakmu dan Guntur kamu sekarang telah menjadi anak tertua keluarga Nathan. Senin depan, datanglah ke kantor. Kamu akan Kakek kenalkan dengan para pemegang saham setelah itu dengan karyawan di restoran kita," kata Kakek.
"Maaf, Kakek. Selama ini, Guntur hidup kekurangan dan kesulitan uang. Dia tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dipakai untuk bekerja," ucap Desta dengan berani.
"Oh, benar juga. Tapi kamu siapa, apa kamu saudaranya guntur?" tanya kakek.
"Perkenalkan nama saya Desta, teman sekamar Guntur," kata Desta sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh Kakek.
"Kakek mengerti, sebentar," kata Kakek sambil mengeluarkan sebuah kartu ATM dari dalam dompetnya. "Kartu ini, isinya tidak seberapa. Tetapi kalau untuk kebutuhan kamu, ini pasti lebih dari cukup."
"Terima saja, Mas Guntur. Kamu harus memakai pakaian yang cocok untuk ke kantor, agar tidak membuat Kakek malu," kata Nathan curiga jika Guntur hanya pura-pura tidak mau.
"Baiklah, kalau begitu."
Guntur menerima kartu ATM dari tangan kakeknya. Diikuti senyum licik Desta yang mulai terlihat diwajahnya. Jika melihat uang, mata Desta pasti berubah, memang dia mata duitan dari dulu.
"Kami permisi dulu, Kek, Nathan," pamit Guntur.
"Sampai ketemu Senin depan," jawab Nathan.
"Hati-hati dijalan. Nathan, mereka tidak punya mobil, kamu bisa antar mereka sebelum pulang," perintah Kakek.
__ADS_1
Nathan awalnya agak kesal, tetapi dia tidak tega menolak perintah Kakek. Nathan akhirnya setuju mengantarkan Guntur dan Desta pulang. Sepanjang perjalanan, Nathan sangat kesal melihat wajah Desta yang terlihat dengan senyum mengejek dirinya. Nathan hampir tidak tahan ingin meninju muka Desta.
Setelah mengantar mereka sampai tujuan, Nathan bergegas pulang. Hatinya kacau dan butuh tempat untuk rileks sebentar. Melupakan apa yang terjadi hari ini. Tetapi, Nathan sadar saat ini istrinya sedang hamil, jadi dia tidak bisa membawa perasaan kacaunya ke rumah.
Nathan tersenyum manis menutupi kegundahan hatinya saat ini. Cukup dia saja yang kacau, tetapi jangan sampai rumahtangganya ikut kacau.
"Assalamualaikum," ucapan salam Nathan ketika sampai didepan pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam."
Lilis membuka pintu, saat mendengar suara salam dari suaminya. Senyum manis Nathan terlihat manis dan membuat Lilis terlihat malu-malu saking senangnya. Karena dulu, Lilis tidak pernah melihat Desta, mantan suaminya tersenyum, bahkan terkesan cuek. Kalau pulang, yang terlihat diwajahnya hanya wajah dingin dan mengabaikan keberadaanya meski saat itu dia sedang hamil dan butuh perhatian.
Sangat berbeda dengan Nathan. Meski sedang menghadapi masalah, dia masih memikirkan kondisi Lilis yang sedang hamil. Kalau bisa, Nathan akan menelan sendiri masalahnya, asal tidak membuat Lilis sedih.
"Bagaimana kondisi kamu hari ini, apa masih suka mual-mual? Masih belum selera makan?"
"Tanyanya banyak amat. Mau dijawab yang mana dulu?" tanya Lilis manja.
"Semuanya, ayo duduk. Jangan kelamaan berdiri, nanti kamu kecapekan."
Lilis menyerah jika Nathan sudah menumpahkan perhatian penuh pada dirinya. Padahal hanya berdiri saja diributkan. Akan tetapi hal seperti itulah, yang membuat Lilis kangen selalu ingin bersama Nathan. Hal kecil, tetapi bagi Lilis merupakan hal yang sangat indah.
"Sudah nggak mual-mual lagi. Jadi sudah bisa diajak jalan," jawab Lilis sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi aku yakin, kamu pasti belum makan. Aku ambil makanan dulu, nanti aku suapi lagi seperti biasanya. Oh, Naina dan ibu kemana?" tanya Nathan karena dirumah tampak sepi.
"Ibu menemani Naina tidur. Biarkan saja mereka istirahat. Mas, mandi dulu saja. Baunya sampe sini, takut dedek bayinya nggak bisa nafas, mas."
__ADS_1
"Ya udah. Tapi makannya nanti, tunggu aku habis mandi. Ayo, temani aku ke kamar. Tunggu saja dikamar sambil istirahat," ajak Nathan sambil menggandeng Lilis menuju ke kamar.