Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 99. Peristirahatan terakhir


__ADS_3

"Ibu ...."


Suara jeritan Lilis membuat Nathan panik. Lilis tidak dapat menahan tangisnya karena merasa detak jantung ibunya sudah berhenti. Lilis semakin panik melihat ibunya sudah tidak bernafas lagi.


Setelah mobil berhenti, beberapa petugas medis segera membawa Bu Siti ke ruang UGD untuk segera di lakukan pemeriksaan dan perawatan. Tubuh Lilis lemas dan hampir tidak bisa bergerak. Nathan memapah Lilis dan membantunya duduk di kursi tunggu.


Tidak berapa lama, salah seorang dokter yang menangani Bu Siti, keluar. Nathan segera menanyakan kondisi ibu mertuanya.


"Bagaimana kondisi ibu mertua saya, Dok?" tanya Nathan panik


"Maaf, kamu sudah berusaha semampu kami. Tapi Tuhan berkehendak lain. Ibu mertua anda sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit. Sekali lagi maaf," kata Pak Dokter.


Mendengar penjelasan dokter tersebut, tubuh Nathan lemah dan tidak percaya jika ibu mertuanya sudah meninggal. Bagaimana dia akan menjelaskannya pada Lilis. Padahal tadi mereka baru saja pergi piknik.


Sementara Lilis mulai curiga ketika melihat Nathan tampak lemah dan sedih. Lilis mendekati Nathan dan mulai bertanya tentang kondisi ibunya.


"Mas, bagaimana kondisi ibu sekarang?" tanya Lilis sambil terisak-isak.


"Sayang, apa sebaiknya kamu ganti pakaian dulu. Lihat, pakaianmu penuh dengan darah. Ajak anak-anak pulang dulu, biar aku yang akan mengurus ibu disini. Aku sudah panggil Seno kesini. Nanti biar dia yang mengantarmu pulang," jawab Nathan mengalihkan pertanyaan Lilis.


"Aku tanya kondisi ibu, Mas. Kenapa kamu malah memintaku pulang?" tanya Lilis lagi.


"Aku akan memberitahumu setelah kamu membersihkan semua darah di tubuhmu. Kamu sedang hamil, lagipula Naina dan Wahyu akan sangat trauma melihat darah yang menempel di pakaianmu saat ini. Menurutlah padaku kali ini. Ini untuk kebaikanmu dan anak-anak," jawab Nathan meyakinkan Lilis.


Lilis sadar, hampir seluruh pakaiannya terkena darah dari ibunya dan ini memang tidak baik untuk pertumbuhan mereka. Mereka pasti akan selalu mengingat saat ini dan mengingat tubuh ibunya yang penuh darah. Selama ini, suaminya yang selalu menuruti keinginannya, tidak ada salahnya kali ini Lilis menurut pada perintah suaminya. Karena perintah suaminya seharusnya menjadi kewajibannya untuk menerima.


Seno sudah datang dan Nathan segera mengajak Seno berbicara berdua. Entah apa yang mereka bicarakan. Setelah itu, Lilis dan kedua anaknya bergegas pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Tidak lama kemudian, datanglah Wendi dan Sri. Disusul mbak Ratih dan mas Reza dan beberapa tetangga dekat lainnya.


Lilis bingung ketika Sri memeluknya dan menangis. Lilis melihat Naina dan Wahyu yang di gendong Mbak Ratih.


"Sri, ada apa? Aku memang sedih ibu kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, tetapi kenapa kalian tampak lebih sedih dari aku?" tanya Lilis penasaran.


"Lilis, tadi Nathan memintaku datang menemanimu sekaligus dia memintaku mengatakan hal yang sangat penting padamu," jawab Sri.

__ADS_1


"Kalau penting, kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku, kenapa malah memintamu yang mengatakan?" tanya Lilis tambah penasaran.


" Mungkin, dia tidak tega atau mungkin dia ingin aku menjagamu karena dia harus menjalankan tugasnya."


"Kamu membuat aku penasaran saja, Sri. Katakan saja sekarang."


"Kamu tenangkan diri dulu, Lis. Ibu kamu sudah meninggal," ucap Sri pelan tapi bagaikan petir bagi Lilis.


"Apa, ibuku meninggal? Tidak mungkin, itu tidak mungkin ...."


Lilis tiba-tiba pingsan. Hal itu membuat Sri panik dan meminta Wendi dan Seno untuk membantu mengangkat tubuh Lilis dan dibaringkan di atas tempat tidurnya. Sri berusaha membangunkan Lilis dengan memberinya aroma minyak kayu putih.


Tidak berapa lama, Lilis mulai membuka matanya perlahan. Dan tangisnya mulai pecah.


"Lilis, sabar. Mungkin ini sudah takdir. Kita doakan saja agar ibumu diterima disisi-Nya," kata Sri berusaha menenangkan Lilis.


Lilis hampir tidak percaya jika ibunya akan pergi secepat itu. Mereka baru saja pergi piknik bersama dan tiba-tiba ibunya harus pergi untuk selamanya. Lilis merasa belum sepenuhnya membuat ibunya bahagia. Selama ini, Lilis hanya bisa menyusahkan ibunya dan selalu membuat ibunya cemas.


"Ibu ...."


Hanya itu yang sanggup Lilis ucapkan saat mengingat ibunya. Sementara diluar terdengar bunyi suara mobil jenazah datang yang membawa jenazah sang ibu.


Lilis keluar kamar bersama Sri. Kedua wanita yang sedang hamil itu, saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Lilis menyaksikan jenazah ibunya yang diturunkan dari mobil jenazah. Setelah jenazah sang ibu di baringkan diatas dipan, Lilis menangis dibawahnya di temani Sri dan beberapa orang tetangga yang sedang membacakan surat Yassin untuk sang ibu. Prosesi pemakaman jenazah sang ibu sudah mulai di lakukan, dari dimandikan sampai siap untuk dibawa ke tempat pemakaman.


Lilis berniat ikut ke pemakaman tetapi Nathan melarangnya, karena melihat kondisi Lilis yang lemah. Akan tetapi Lilis bersikeras untuk ikut, sehingga pada akhirnya Nathan mengizinkan Lilis dan kedua anaknya juga ikut.


Untuk terakhir kalinya Lilis mengantarkan ibunya di peristirahatannya yang terakhir. Hanya doa yang selalu Lilis panjatkan untuk ibunya. Sebelum pergi meninggalkan makam ibunya, Lilis mengatakan pada ibunya bahwa dia akan berusaha hidup lebih baik meski tanpa ibunya.


Lilis dan semua keluarga dekat meninggalkan makam Bu Siti. Sesekali Lilis menoleh kearah makam, hatinya belum percaya jika semua ini adalah nyata.


Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang bersuara selain suara Wahyu yang sedang berbicara semaunya di dalam pangkuan Nathan. Meski hati Lilis sangat sedih, tetapi ketika mendengar suara Wahyu, Lilis masih bisa tersenyum kecil.


Setelah sampai di rumah, Nathan meminta Seno dan Wendi untuk mempersiapkan acara 3 sampai 7 hari peringatan kematian sang mertua. Selama 7 hari itu, baik Lilis maupun Nathan tidak ada yang membicarakan masalah kecelakaan Bu Siti. Para saudara dan orang-orang yang datang mengucapkan rasa bela sungkawa kepada Lilis dan Nathan termasuk Kakek dan Guntur yang datang setelah Bu Siti di makamkan.

__ADS_1


Suatu hari, Lilis dengan tiba-tiba memulai pembicaraan itu dengan suaminya.


"Mas, sebenarnya ada hal yang belum aku katakan pada Mas Nathan," kata Lilis sambil duduk di dekat suaminya yang sedang bermain dengan Wahyu di atas ranjang.


"Ada apa?" tanya Nathan pelan.


"Aku merasa, orang yang menabrak ibu adlah suatu kesengajaan," kata Lilis sambil menarik nafas dalam.


Nathan berhenti bermain dengan Wahyu dan menatap Lilis dalam-dalam.


"Maksudmu ada orang yang sengaja menabrak ibu?"


"Bukan ibu, tapi aku," kata Lilis semakin membuat Nathan kaget.


"Apa, ka ... kamu?" ekspresi Nathan berubah emosi.


"Iya, seharusnya akulah yang meninggal ditabrak sepeda motor itu, Mas. Ibu yang sudah menyelamatkan aku dengan menghadang di belakangku sebelum motor itu menyentuhku," ucap Lilis sambil menangis pelan.


"Kurang ajar. Siapa yang sudah dengan sengaja menjadikan kamu sebagai target pembunuhan?" ucap Nathan marah.


"Lilis tidak tahu, Lilis tidak bisa berpikir lain lagi saat ini. Aku hanya ingin mengungkapkan ini karena aku tidak ingin menyimpannya sendiri,"kata Lilis.


"Sayang, biar aku yang akan mencari tahu jika memang apa yang terjadi pada ibu adalah suatu kesengajaan. Maka orang itu tidak akan lepas dari hukuman," kata Nathan sambil memeluk Lilis.


"Ayah ... bunda ...."


Ucapan Wahyu yang membuat Lilis dan Nathan bisa tersenyum kembali ditengah kesedihan yang mereka alami.


Bersambung


yuk mampir ke karya temen aku ya judulnya ada dibawah ini


__ADS_1


__ADS_2