
Lilis…"
"Mas Desta, kamu kenapa ada di sini?" tanya Lilis kaget.
"Aku sengaja datang untukmu," ucap Desta percaya diri.
"Untukku?" ucap Lilis sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Benar. Aku ingin minta maaf padamu dan pada Naina, anak ku."
"Anakku, katamu mas?"
"Iya, kenapa? Emang dia anak aku kan?"
"Hhhh, jangan mimpi mas Desta. Dulu, siapa yang tidak mengakui dia anak. Saat itu, kamu sama sekali tidak mau melihatnya, apalagi menyentuhnya dan memberinya kasih sayang. Bahkan untuk membeli susu untuk Naina saja kami hampir tidak bisa dan kamu pun tidak peduli. Sekarang setelah Naina sudah besar, kamu mau mengakui dia anak?" ucap Lilis marah.
"Lis, makanya aku datang untuk minta maaf padamu. Aku berjanji aku tidak akan berbuat seperti itu lagi."
"Memang, kamu tidak akan bisa berbuat itu lagi, kita sudah resmi bercerai sekarang. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Bagaimana kalau kita rujuk?"
Lilis terdiam sejenak. Mencari jawaban yang bisa membuat Desta menyerah secepatnya.
"Kamu terlambat. Aku sebentar lagi akan menikah, sebaiknya kamu kembali ke Jawa saja. Hiduplah seperti apa yang kamu mau, aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu."
"Aku tidak percaya, kamu semudah itu melupakan aku. Aku adalah cinta pertamamu, jadi aku yakin kamu masih mencintaiku sekarang."
"Kamu begitu percaya diri, mas. Tapi aku tidak sulit untuk melupakanmu dengan semua hal buruk yang pernah kamu lakukan padaku, Naina serta ibuku. Apa kau pikir aku akan mau jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lembah penderitaan? Apakah kau pikir, gelas yang sudah jatuh dan pecah akan dapat kembali seperti semula?"
Desta terdiam mendengar perkataan Lilis. Dia teringat semua yang pernah dilakukannya pada Lilis, Naina dan ibu Siti. Bayangan masa lalu itu, sudah menjadi batu sandungan yang sangat berat untuk Desta kembali melangkah ke depan menjemput Lilis.
"Tapi, aku tidak ingin menyerah sampai kamu bersedia rujuk denganku," ucap Desta sambil mendekati Lilis.
"Tidak mungkin. Sudah kukatakan aku akan segera menikah."
Desta meraih tangan Lilis hingga membuat Lilis kaget. Lilis berusaha melepaskan tangannya, namun tenaga Desta lebih kuat darinya. Lilis mengumpulkan segenap tenaganya untuk melawan tenaga Desta.
"Aku tidak percaya kalau kamu akan menikah. Mana calon suamimu? Jangan membohongiku," ucap Desta sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lepaskan tangan Lilis!"
Nathan tiba-tiba muncul didepan pintu dan membuat Desta kesal.
"Kamu siapa? Jangan ikut campur!" tanya Desta kesal.
"Aku calon suaminya."
Ucapan Nathan membuat Desta dan Lilis kaget. Lilis tidak menyangka, Nathan akan sampai sejauh itu membantunya. Lilis pun segera mengibaskan tangan Desta. Sedangkan Desta masih tidak percaya jika Lilis akan benar-benar menikah lagi dengan orang lain.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa dia menyakitimu?" tanya Nathan mesra.
"Aku, baik-baik saja," jawab Lilis agak gugup.
Desta terus memperhatikan kedua orang didepannya yang menunjukkan kemesraan yang canggung.
Pasti mereka hanya berpura-pura akan menikah. Dikiranya aku bodoh. Tidak akan semudah itu aku menyerah, Lilis.
"Kalian tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tahu, kalian hanya bersandiwara agar aku menyerah bukan? Aku tidak akan melepaskan kamu, Lilis, sampai kamu mau kembali padaku," ucap Desta sambil tertawa pelan.
Lilis menatap ke arah Nathan yang tersenyum tipis. Lilis terlihat sangat cemas, jika Desta tidak menyerah dan terus mengganggunya. Bagaimana dia akan bisa hidup dengan tenang.
"Izinkan aku melakukan yang lebih," bisik Nathan di telinga Lilis.
Desta merasa sakit hati melihat kemesraan mereka. Dengan penuh rasa kesal, dia pun segera pergi keluar untuk menenangkan diri sejenak. Dia mencari rumah kontrakan di dekat rumah Lilis. Maksudnya untuk melihat apakah benar, Lilis akan menikah dengan Nathan ataukah semua itu hanya sandiwara saja.
Sedangkan Lilis dan Nathan tampak salah tingkah setelah mereka berpelukan. Dalam hati Nathan maupun Lilis, sama-sama senang. Namun mereka tidak bisa menunjukan perasaan mereka satu sama lain. Hati mereka sama-sama merasakan debaran yang tidak biasa.
"Mas Nathan, mau makan siang?" tanya Lilis untuk menghilangkan rasa canggung.
"Boleh. Tapi porsinya dikurangi dan nggak pake kuah."
"Tunggu sebentar, ya."
Lilis membuat pesanan Nathan dengan hati masih berdebar-debar. Nathan tersenyum melihat Lilis juga terlihat gugup seperti dirinya.Nathan duduk sambil terus berpikir. Nathan penasaran dengan pria yang berani memaksakan kehendak pada Lilis. Namun dia belum berani bertanya pada Lilis.
"Mas, ini pesanannya," kata Lilis mengagetkan Nathan.
"Iya, makasih. Lis, boleh aku tahu siapa laki-laki tadi?"
__ADS_1
"Mantan suamiku. Namanya Desta."
"Uhuk-uhuk."
Nathan tersedak mendengar jawaban Lilis. Dia segera meminum air yang diberikan Lilis, lalu mengusap wajahnya dengan tisu.
"Mas Nathan, kenapa?" tanya Lilis cemas.
"Aku, kaget saja. Mantan suamimu mengejarmu hingga sejauh ini, untuk memintamu rujuk kembali. Benar-benar memiliki niat yang besar. Kota ini, adalah kota perbatasan. Jika keluar negeri, malah hanya tinggal naik kapal beberapa menit saja. Tapi dia, demi kamu…"
"Sudah bicaranya?" ucap Lilis kesal.
Lilis pergi dengan hati kesal dan marah mendengar perkataan Nathan. Nathan merasa bersalah pada Lilis. Padahal dia tidak ada niat untuk membuat Lilis kesal.
***
Makanan yang dijual Lilis hari ini sudah habis sebelum malam. Lilis sangat bersyukur. Jika setiap hari, bisa menjual makanan dan habis sebelum malam, dia masih banyak waktu untuk bersama Naina. Juga akan lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Mbak Surti sudah pulang duluan, setelah selesai mencuci dan beres-beres. Lilis juga berniat segera pulang. Namun dirinya terkejut saat melihat Nathan berdiri di depan pintu seolah menunggu dirinya. Lilis pura-pura tidak tahu, dan dia keluar tanpa menyapanya.
"Lilis, masih marah?" tanya Nathan menghentikan langkah Lilis.
"Aku tidak marah, hanya sedang tidak ingin bicara saja," jawab Lilis jutek.
"Aku temenin kamu pulang, ya?"
"Tidak usah, bisa pulang sendiri. Ini kan masih sore."
Nathan terdiam melihat Lilis ngambek. Nathan merasa bahagia juga karena Lilis ngambeknya manja. Bahkan, Lilis terlihat cantik juga saat marah.
"Ngambeknya jangan lama-lama. Aku minta maaf kalau apa yang aku katakan tadi, membuat kamu marah."
Lilis menghela nafas panjang. Lagian, kenapa dia mesti marah pada Nathan? Apa yang dikatakan tadi memang benar. Hanya saja, dia tidak ingin mendengar Nathan memuji Desta di depannya.
"Lain kali, aku tidak mau dengar lagi, kamu memuji dia di depanku."
"Iya, maaf. Di maafin ya?"
Lilis tersenyum manis sekali, membuat Nathan tidak tahan ingin benar-benar memilikinya. Dia menunduk, untuk menyamarkan perasaannya. Tetapi, lama-lama menahan perasaan itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Aku akan mencari kesempatan mengatakan cinta, sebelum terlambat. Dulu kalah start dari Galah. Sekarang, kedatangan mantan suaminya menjadi ancaman paling besar. Aku tidak boleh kalah start lagi dan memberi kesempatan dia untuk mendekati Lilis.
Bersambung