
Lilis berencana mengajak Nathan untuk pergi berlibur. Bukan liburan orang kaya, tetapi liburan ala-ala orang kampung yang biayanya tidak mahal alias murah meriah.
Lilis ingin membuat sebuah kenangan indah bagi suaminya, agar dia tidak akan pernah lupa, bahwa meski tinggal di kampung, kita juga bisa refreshing. Bukan hanya orang-orang yang berduit saja. Meskipun tempat dan tujuannya berbeda. Lilis akan mengajak Nathan pergi ke sebuah tempat wisata alami di kampungnya.
Mereka tidak akan pergi sendiri. Ada beberapa rombongan yang ikut pergi kesana. Rombongan pertama, Nathan, Lilis, Naina, Bu Siti dan Wahyu. Rombongan kedua, Wendi, Sri dan kedua orangtua Wendi. Rombongan ketiga, beberapa saudara dan tetangga dekat juga ikut meramaikan.
Tempat yang akan mereka kunjungi adalah sebuah tempat yang bagus menurut Lilis. Sebuah waduk yang sekarang menjadi tempat wisata yang sangat indah. Disana mereka bisa makan ikan bakar dan naik kapal. Bahkan ada juga beberapa mainan anak-anak.
Mereka nanti bisa naik kapal bersama dan melihat kapal-kapal penangkap ikan yang kemudian dijual kepada para pengunjung dalam keadaan sudah dibakar. Disana disediakan tikar untuk makan. Jika ingin agak irit, kita bisa membawa nasi dari rumah sendiri agar nanti disana tinggal beli ikan bakar.
Nathan yang belum pernah pergi, penasaran ingin tahu lebih jauh tentang tempat itu. Dia mendekati Lilis yang sedang menyiram bunga di depan rumahnya.
"Sayang, memang seperti apa tempatnya?" tanya Nathan penasaran.
"Ya gitu lah Mas. Bagus kalau menurut aku. Tapi nggak tahu bagi Mas Nathan," jawab Lilis.
"Kalau kata istriku bagus, berarti memang tempatnya bagus. Kenapa perginya mesti rame-rame?"
"Begini, Lilis jelasin ya," kata Lilis sambil duduk diikuti Nathan yang kemudian ikut duduk di disampingnya.
"Aku siap mendengarnya," jawab Nathan sambil tersenyum manis.
"Begini. Tempat itu sebenarnya hanyalah sebuah waduk biasa. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, tempat ini mulai dikunjungi warga sekitar. Kemudian oleh dinas pariwisata, dibangunlah waduk ini menjadi tempat wisata yang indah. Awalnya saat dulu aku pernah kesana, hanya ada kawasan seperti pasar ikan dan sekalian tempat Bakar ikan. Kita disana, bisa memilih ikan yang akan dibakar, mau yang besar atau kecil dengan harga yang berbeda tentunya. Kita tinggal tunggu deh, sampai ikan bakarnya matang dan siap dihidangkan. Hmmm, baunya udah terasa sampai disini," Cerita Lilis lancar.
Nathan tersenyum saja, melihat gaya bercerita Lilis yang seolah ada yang sedang menghidangkan ikan bakar didepannya. Timbul keinginan Nathan untuk menggoda istrinya yang sedang memejamkan mata membayangkan beberapa ikan bakar yang siap dimakan.
__ADS_1
Ciuman Nathan mendarat di bibir Lilis yang basah oleh lidahnya sendiri. Mata Lilis langsung terbuka lebar dan gigitan kecil di bibir Nathan membuat Nathan meringis menahan sakit yang nikmat.
"Sayang, kenapa kamu gigit? Tapi boleh juga, ada sensasinya. Bisa di praktekkan lagi nanti," kata Nathan sambil mengusap bibirnya.
"Salah siapa tadi. Lagi enak-enakan ngebayangin ikan bakar, malah ada manisan di bibir. Aku gigit aja sekalian," kata Lilis sambil tersenyum.
"Kamu tadi kan sedang cerita, ditungguin kok malah ngebayangin ikan bakar. Aku kan mau tanya, kenapa perginya mesti rame-rame. Kita bisa pergi sendiri saja," kata Nathan.
"Sebenarnya ini kita tidak janjian. Tetapi mereka memang ingin makan bersama. Kebetulan aku juga ingin pergi kesana, jadi kita berangkatnya barengan. Terus nanti, ibunya Wendi yang akan bawa nasi putihnya. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi," kata Lilis.
"Kalau begitu tidak perlu bawa barang berlebihan," kata Nathan.
"Benar. Nanti malam, kita siap-siap. Biar besok tinggal berangkat," kata Lilis.
Nathan menatap lembut Lilis yang segera melanjutkan kegiatannya menyirami tanaman bunganya.
Esok harinya. Lilis dan keluarga sudah bersiap-siap untuk pergi. Di luar sana, sebuah mobil sudah siap menunggu di depan rumah. Setelah semua beres, mereka segera naik ke dalam mobil. Naina tampak senang dan sepanjang perjalanan dia bernyanyi riang.
Sampai ditempat tujuan, ternyata kedua rombongan lain sudah sampai terlebih dulu. Mereka menunggu kedatangan rombongan keluarga Lilis agar bisa masuk bersama.
Setelah masuk ke area wisata, mereka segera memesan sebuah tempat dan memesan ikan bakar sebanyak 50 ekor. Sambil menunggu ikan bakar matang, ada yang naik kapal dan ada yang bermain di taman.
Bu Siti dan ibu-ibu yang lain tetap menunggu sambil duduk-duduk diatas tikar. Sedangkan Lilis, Nathan dan anak-anak memutuskan untuk pergi bermain di taman. Nathan menemani Naina bermain ayunan sambil bercanda. Sedangkan Lilis dan Wahyu hanya menonton saja.
Setelah cukup lama, seseorang memanggil mereka untuk segera berkumpul di tempat makan yang sudah disewa oleh ibunya Wendi. Kali ini mereka makan bersama sebagai rasa syukur karena Wendi akan segera menikah.
__ADS_1
Ikan bakar yang jumlahnya 50 ekor dan beberapa piring sambel itu, sudah berada di depan mereka yang sedang duduk melingkar. Nasi telah dibagi-bagi sesuai selera. Setelah berdoa bersama, mereka segera menyantap apa yang ada di depan mereka.
Nathan membantu Naina makan ikan karena takut Naina kena duri ikan. Karena duri ikan ini sangat besar dan keras. Selesai makan, mereka kembali melanjutkan acara refreshing. Disana ada kolam renang juga yang bisa untuk segala usia.
Ada juga tempat untuk berfoto ria, lengkap dengan pemandangan indah. Bunga-bunga yang sudah di rancang sedemikian rupa menjadi tampak indah. Lilis sekeluarga memanfaatkan momen ini, untuk mengambil beberapa gambar. Wendi dan Sri membantu mereka untuk menciptakan kenangan indah di tempat ini.
Setelah sore menjelang, mereka segera pulang agar tidak kemalaman sampai di rumah. Rasa lelah membuat mereka tertidur selama perjalanan. Sampai dirumah mereka segera mandi dan menjalankan kewajiban karena hari sudah mulai malam.
Lilis menidurkan Wahyu, dan dia juga langsung merebahkan diri diatas ranjang yang nyaman. Disusul suaminya yang juga tampak lelah.
"Sayang, capek juga yah abis piknik," kata Nathan.
"Iya, apalagi anak-anak. Gimana tempatnya menurut Mas Nathan?" tanya Lilis.
"Bagus juga. Tempat yang cukup indah. Selain ada taman bermain untuk anak-anak, ciri khas disana adalah ikan bakarnya dan tempat yang nyaman untuk acara makan bersama," kata Nathan.
"Betul Mas, yang paling menarik memang ikan bakarnya. Selain rasanya enak juga harganya murah. Lebih murah dari harga ikan di pasar," kata Lilis pelan karena mengantuk.
"Tidurlah, kamu tadi seharian gendong Wahyu, pastilah sangat capek. Aku pijitin, biar agak santai," kata Nathan sambil bangun dari tidurnya.
Nathan memijit kaki Lilis dengan lembut namun berasa. Lilis pun terlelap dalam mimpinya. Barulah setelah itu, Nathan menyusul istrinya tidur.
Bersambung
Mampir k karya temen aku
__ADS_1