
Suasana pagi tampak indah seindah wajah Lilis yang dipenuhi kebahagiaan setelah berbaikan dengan suaminya. Lilis mengajak Wahyu bermain sedangkan Nathan mengantar Naina pergi ke sekolah.
Sepulang mengantar Naina, Nathan menggantikan Lilis bermain dengan Wahyu. Lilis duduk di sofa sambil sesekali ikut mengomentari permainan kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya.
Lelah bermain, Wahyu tertidur di pangkuan ayahnya. Lilis melihat betapa suaminya begitu menyayangi anak-anaknya.
"Sayang, bagaimana kalau kita pindah rumah?" tanya Nathan mengagetkannya.
"Apa Mas, pindah rumah?" tanya Lilis kaget.
"Iya. Aku merasa tidak tenang membiarkan kalian di rumah. Bagaimana aku bisa bekerja jika pikiranku dipenuhi kekhawatiran pada keselamatan kalian," kata Nathan sambil menatap Lilis.
Lilis termenung mendengar penjelasan suaminya. Dan apa yang dikatakan suaminya memang benar. Hidup di dalam kekhawatiran tidak akan membawa ketenangan dan itu bisa mengurangi kebahagiaan keluarga mereka.
"Mas, aku adalah istrimu. Jadi apapun keputusanmu aku akan mendukungmu selama itu untuk kebahagiaan kita sekeluarga," jawab Lilis yang mulai berusaha mendukung keputusan sang suami.
"Baik. Karena kamu sudah setuju. Kita akan pergi diam-diam. Karena aku tidak ingin siapapun tahu tempat tinggal kita yang baru," kata Nathan lagi.
"Terserah Mas Nathan. Kami akan menggantungkan hidup padamu mulai saat ini," kata Lilis tersenyum tipis.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan berbicara pada Wendi dan Sri untuk menjaga restoran Muney. Demikian juga dengan warung makan milikmu. Aku akan meminta Mbak Surti untuk mengurusnya dan tidak boleh menghilangkan kebiasaan memberi makan orang-orang yang miskin dan kelaparan. Semoga mereka akan amanah menjaga harapan kita," kata Nathan menghilangkan kekhawatiran Lilis.
"Terima kasih, Mas. Sudah mempertimbangkan semuanya. Tapi, bagaimana dengan rumah ini?"
"Aku harap kamu setuju. Selama ini, Wendi dan Sri tinggal di rumah kontrakan. Aku ingin mereka merawat rumah ini dan tinggal disini. Bagaimana?"
"Suamiku memang memiliki pemikiran yang bagus dan sangat memahami keinginanku. Lilis juga tidak ingin melupakan sedikitpun setiap kenangan. Karena rumah ini memiliki banyak kenangan bersama ibu. Aku tidak akan pernah menjualnya," kata Lilis.
__ADS_1
"Jadi aku benar bukan, dengan tidak menjual rumah ini, suatu saat kita bisa melihat dan bisa merasakan setiap kenangan itu. Besok kita akan pergi, jadi malam ini persiapkan apa yang akan kita bawa."
"Sebenarnya kemana kita akan pindah, kenapa mendadak sekali? Apakah Mas Nathan sudah pernah tahu tempatnya?" tanya Lilis penasaran.
"Nanti juga kamu akan tahu. Aku pernah kesana,dan aku sudah meminta temanku untuk mempersiapkan semuanya. Kamu tidak perlu khawatir tentang tempat tinggal," kata Nathan meyakinkan Lilis.
"Aku tidak khawatir, Mas. Karena aku yakin Mas Nathan pasti akan memberikan uang terbaik untuk kami," kata Lilis sambil tersenyum.
***
Malam ini, akan menjadi malam terakhir mereka tinggal di rumah ini. Lilis menemani Naina tidur sementara Nathan menemani Wahyu. Setelah Naina tertidur, Lilis pindah kekamarnya untuk mengurus Wahyu. Akan tetapi ternyata Wahyu dan ayahnya sudah tertidur diatas ranjang.
Lilis hanya tersenyum saja melihat keduanya. Lilis lalu mulai menata pakaian dan barang-barang pribadinya kedalam koper besar. Setelah itu, barang-barang milik suaminya juga sekalian dia tata dan di masukkan kedalam koper.
Setelah itu, Lilis berniat kekamar Naina untuk menata pakaian Naina. Tapi, Lilis sudah kelihatan capek, dan dia sudah tidak sanggup lagi. Lilis memutuskan untuk tidur di samping suami dan anaknya.
Keesokan harinya, mereka segera berangkat tanpa pamit kepada siapapun. Mereka menyewa sebuah mobil dan sopir untuk mengantar mereka sampai ke tempat tujuan.
"Mas, udah bicara dengan Sri dan Wendi? Aku takut mereka akan marah karena aku tidak pamit pada mereka," kata Lilis pelan.
"Sudah, setelah aku bicara padamu , aku pergi menemui mereka. Awalnya Wendi marah, karena merasa aku tidak bisa menjaga kalian. Kamu tahu, kalau menyangkut kamu, dia itu terlihat sangat sensitif sekali. Jangan-jangan, dia masih ...."
Lilis menutup mulut suaminya dengan telapak tangannya sebelum Nathan berbicara lebih jauh. Mata Nathan melebar dan dia tidak bisa melepaskan tangan Lilis karena saat ini sedang memangku Wahyu.
"Nyesel aku tadi bertanya tentang mereka," kata Lilis kesal sambil melepaskan tangannya dari mulut Nathan.
"Jangan marah, nanti cantiknya hilang. Bukan begitu, Naina?" kata Nathan sambil bertanya pada Naina yang sejak tadi, Naina hanya diam saja.
__ADS_1
"Naina, ditanya ayah, kok diam saja?" tanya Lilis bingung melihat Naina hanya diam saja. " Naina marah pada ibu?"
"Naina, apa kamu marah pada ayah?" tanya Nathan bingung.
Lilis memeluk Naina yang tiba-tiba menangis. Naina memang masih kecil, tetapi dia sudah melihat dan mengalami begitu banyak hal tentang kehidupan yang seharusnya belum dia alami. Sejak peristiwa penculikan oleh ayah kandungnya, penculikan adiknya, kedua orangtuanya yang hampir berpisah, setelah itu peristiwa kecelakaan Mbah Uthi tepat di depan matanya.
Ditambah lagi kepergian Mbah Uthi untuk selamanya, membuatnya berubah murung dan pendiam. Lilis tidak tahu lagi, bagaimana membuat Naina kembali ceria. Lilis juga merasa bersalah, karena akhir-akhir ini dia sibuk dengan kesedihan hatinya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Naina.
Bukan hanya Lilis yang sedih, tetapi Naina mungkin lebih sedih daripada siapapun. Orang yang paling dekat dan selalu menemani Naina adalah Mbah Uthi. Lilis lupa semua itu. Kini dia harus bisa membuka hati Naina agar bisa menggantikan kesedihan Naina dengan senyuman.
Gadis sekecil ini, tidak bisa mengungkapkan kesedihannya dan hanya di simpan sendiri. Sebagai ibu, Lilis merasa gagal. Dia tidak bisa menjadi tempat yang nyaman bagi Naina untuk berbagi kesedihan. Lilis harus banyak belajar dari almarhum ibunya, dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Seperti dirinya, begitu nyaman memiliki ibu seperti almarhum Bu Siti.
Ibunya bisa menjadi ibu, ayah sekaligus teman. Bisa menjadi tempat curhat dan berbagi suka dan duka tanpa mendikte anaknya. Membiarkan Lilis memilih sendiri apa yang Lilis suka. Meski salah pada akhirnya, akan tetapi beliau tidak pernah menyalahkan pilihan Lilis tapi berusaha membantu Lilis keluar dari kesedihan karena salah dalam memilih.
"Naina, maafkan ibu," kata Lilis sambil menangis.
"Ibu, kenapa kita meninggalkan Mbah Uthi sendirian di sini? Apakah kita tidak akan kembali lagi?" tanya Naina sambil menangis.
"Sayang, kita tidak meninggalkan Mbah Uthi, karena Mbah Uthi akan selalu ada di dalam hati kita. Disini, Mbah Uthi selalu ada disini. Naina jangan menangis, Mbah Uthi akan sedih jika melihat Naina sedih," kata Lilis sambil menunjuk dada Naina lalu dengan lembut mengusap airmata Naina.
"Ibu, mengapa kita harus pergi?" tanya Naina.
Lilis hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Naina.
Kamu tidak akan mengerti Naina, betapa hidup ini tidak sesuai yang kita inginkan.
Bersambung
__ADS_1
yuk baca karya temen aku, judulnya ada dibawah ini