Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 92. Temuan polisi


__ADS_3

Wendi dan Sri sudah menikah selama dua Minggu. Akan tetapi malam pertama mereka belum juga terlaksana. Mereka belum melaksanakan ritual untuk menguatkan mereka sebagai pasangan suami istri.


Sri datang menemui Lilis untuk curhat. Lilis terkejut saat tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Lis, aku masih belum bisa menerima sikap mas Wendi. Dia masih menyukaimu," kata Sri sambil menangis.


"Sri, bukankah saat kalian memutuskan untuk menikah, kamu sudah yakin dengan segala resikonya, termasuk jika dia belum sepenuhnya melupakan cintanya? Tapi aku yakin Sri, dia mencintaimu, jangan jadikan aku orang ketiga diantara pernikahan kalian. Aku tidak ingin ikut terlibat. Aku sudah pusing dengan hilangnya Wahyu," kata Lilis.


"Maafkan aku, Lis. Aku tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini. Akulah yang terlalu picik."


"Jangan menyalahkan diri sendiri. Kalian sudah menikah, kamu berhak memiliki cinta suamimu. Lakukan saja tugasmu sebagai seorang istri. Apalagi kamu juga mencintainya. Insyaallah jika kamu sabar, kamu akan dapat menuai apa yang kamu tanam," kata Sri sambil memeluk sahabatnya.


"Aku akan mencobanya," kata Sri.


"Selama suamimu masih berusaha melupakan masa lalunya, kamu harus membantunya. Meskipun seandainya dia tidak bisa, kamulah yang harus membuat dia melepaskan diri dari masa lalunya."


"Lis, aku dan Mas Wendi memutuskan untuk kembali ke kota B. Semoga disana aku dan Mas Wendi akan bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Apakah kamu juga akan kembali ke kota B?" tanya Sri sambil melepaskan pelukannya.


"Aku tidak tahu. Karena keinginanku saat ini hanyalah menunggu sampai Wahyu di temukan. Aku tidak bisa memikirkan yang lain lagi," jawab Lilis sedih.


"Lilis, maafkan aku. Aku tidak dapat menemanimu disaat kamu sedih. Aku malah larut dengan masalah perasaanku sendiri," kata Sri.


"Tidak apa-apa Sri. Aku mengerti kesulitan mu. Jika kalian sudah memutuskan untuk kembali ke kota B, aku hany bisa bersyukur, karena memang hanya kalian yang bisa mengurus restoran Muney. Restoran itu, restoran yang sangat berharga bagiku," kata Lilis terharu mengingat hal itu.


"Tenang saja, Lis. Kami akan menjaga pemberian tanda cinta dari suamimu dengan baik," kata Sri.


"Terima kasih, Sri. Ingat, kewajiban istri. Layani suamimu dengan baik, jangan biarkan dia mencari pelampiasan di luar. Jangan sampai kamu menyesal nantinya," kata Lilis mengingatkan.


Mereka kembali berpelukan untuk saling menguatkan.


"Lis, semoga Wahyu dapat segera ditemukan. Agar aku bisa melihat lagi senyum di wajahmu yang hilang sejak hilangnya Wahyu," dia Sri untuk sahabatnya.

__ADS_1


"Aamiin, aamiin. Terima kasih, Sri."


Saat itu, datanglah Bu Wati dan Mbak Mona yang akhirnya membuat Sri pamit pulang.


Hari ini, Bu Wati dan Mbak Mona datang lagi untuk menagih janji Lilis yaitu membawa Naina jalan-jalan. Tetapi sesuai pesan dari suaminya, pergi dan tidaknya Naina tergantung pada pilihan Naina sendiri.


Karena itu, Lilis memanggil Naina menemui nenek dan bibinya.


"Ibu, Mbak Mona. Sesuai pesan dari Mas Nathan, harus ditanyakan pada Naina. Apakah dia bersedia ikut atau tidak. Kalian pasti curiga, kalau aku sudah mempengaruhi Naina. Tidak, aku sama sekali tidak mendikte jawaban Naina. Jadi jawaban Naina, bisa dipastikan asli," kata Lilis.


"Kami percaya padamu, Lis. Kami juga menghormati keputusan suamimu tentang masalah ini," kata Bu Wati.


"Kalau begitu, aku akan bertanya pada Naina yang sudah ada di sini. Naina, ini ada nenek dan bibimu, mereka ingin mengajak kamu pergi jalan-jalan. Naina mau pergi atau tidak?" tanya Lilis lembut.


Naina menatap kedua orang wanita yang dikatakan ibunya sebagai nenek dan bibinya.


"Bagaimana Naina?" tanya Bu Wati.


"Naina, kami ini keluarga Naina juga. Ayolah kita pergi jalan-jalan. Ada banyak mainan disana," kata Mbak Mona.


"Naina, sekali lagi ibu bertanya. Apakah kamu bersedia pergi bersama mereka?"


"Tidak, Bu," jawab Naina keras.


"Ibu, mbak Mona. Kalian sudah dengar sendiri jawaban Naina. Jadi aku juga tidak bisa memaksanya untuk mau ikut dengan kalian."


"Lilis, sebenarnya kami sangat kecewa dengan jawaban Naina ini. Tapi, sudahlah, kami juga tidak ingin memaksa Naina. Nanti kalau sudah dewasa, ingatlah bahwa di kampung sini ada kami. Keluarga ayahmu," kata Bu Wati.


Meskipun mantan ibu mertuaku dan mbak Mona terlihat sangat kecewa, tetapi mereka telah ikhlas melepaskan Naina. Mungkin ini salah satu hikmah hilangnya Wahyu. Mereka kasihan melihat Lilis kehilangan bayi sehingga mereka membiarkan Naina tetap bersamanya.


Dua bulan telah berlalu. Kabar hilangnya Wahyu mulai tidak terdengar lagi. Lilis dan Nathan tidak putus asa. Mereka masih tetap berharap Wahyu akan ditemukan.

__ADS_1


Suatu hari, Nathan mendapatkan kabar dari kepolisian bahwa telah ditemukan sindikat pengemis di kota yang membawa bayi. Bayi-bayi itu bukan bayi mereka sendiri. Tetapi bayi itu mereka dapatkan dari berbagai cara. Ada yang menyewa, ada yang membeli dan ada yang menculik.


Nathan dan Lilis bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat dan mengenali apakah di antara bayi- bayi itu anak anak mereka. Pikiran Lilis kacau karena jika bayi-bayi itu sampai harus dirawat di rumah sakit, pasti kondisi bayi-bayi itu tidak baik.


Sampai di rumah sakit, Nathan dan Lilis bergegas menemui polisi yang menjaga bayi-bayi itu.


Mereka di antar menuju kesebuah ruangan khusus. Disana ada beberapa bayi yang sedang menjalani perawatan. Lilis dan Nathan menuju bayi pertama. Seorang bayi perempuan yang tampak kurus dan kekurangan gizi. Sungguh sangat kasihan.


Lilis mulai tidak dapat menahan air mata yang tiba-tiba menghalangi penglihatannya. Lilis menarik lengan suaminya.


"Ada apa?" tanya Nathan.


"Aku, ingin menangis. Mataku gelap," jawab Lilis.


Nathan berbalik dan menatap Lilis yang mulai terisak-isak. Diambilnya sapu tangan dari dalam sakunya. Diusapnya air mata Lilis yang mulai menetes.


"Istriku sayang, kuatkan hatimu. Bukankah kita ingin mencari Wahyu? Sekarang ada kesempatan mengenali anak kita, bukankah kita berharap, Wahyu ada diantara mereka?" kata Nathan menguatkan hati Lilis.


"Iya, mas. Lilis akan berusaha untuk tidak menangis," jawab Lilis menarik nafas panjang.


Lilis dan Nathan meneruskan melihat satu demi satu bayi-bayi hasil temuan polisi. Mereka semua tampak sangat menyedihkan. Semuanya kekurangan gizi, mungkin sengaja dibuat seperti itu supaya orang-orang merasa kasihan.


Tetapi, sampai bayi ke 3, tanda-tanda Wahyu belum juga terlihat. Tentu saja Lilis mengetahui ciri-ciri Wahyu yang tidak diketahui orang lain. Sebuah tanda lahir yang berada di punggung Wahyu akan sangat membantu Lilis menemukan Wahyu diantara beberapa bayi yang ada di ruangan ini.


Bayi terakhir yang dirawat di tempat paling pojok di dalam ruangan ini. Harapan satu-satunya yang masih tersisa untuk Lilis.


Bersambung


Yuk baca karya temen aku judulnya dibawah ini


__ADS_1


__ADS_2