Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 47. Kecewa dengan sikap Kakek


__ADS_3

Kakek Edward datang bersama Nathan. Rupanya Kakek telah memutuskan untuk memberitahu Nathan tentang keberadaan Guntur yang mengaku sebagai anak dari ayahnya Nathan. Nathan tidak mau berbicara banyak, sebelum ada hasil dari tes DNA yang akan segera mereka lakukan.


Nathan kaget saat melihat Desta ada bersama Guntur. Perasaan Nathan menjadi tidak enak dan perasaan curiga tiba-tiba merasuk kedalam hatinya. Akan tetapi, Nathan tidak menunjukkannya didepan Kakek.


Beberapa saat kemudian, datanglah seorang dokter yang meminta Kakek dan Guntur masuk untuk menjalani prosedur tes DNA. Nathan DNA Desta duduk berjauhan sambil menunggu mereka keluar.


Mata Nathan sesekali melihat kearah Desta. Mantan suami istrinya itu, tampak menyimpan dendam yang dalam. Tetapi, Nathan tidak akan pernah takut dengan Desta.


Kakek dan Guntur sudah keluar dan mereka tampak saling berpandangan. Guntur menganggukkan kepala sebelum Guntur dan Desta melangkah pergi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, hanya mereka yang tahu. Kakek Edward hanya tersenyum saja melihat Guntur.


Kakek dan Nathan juga mengikuti langkah mereka untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan, Nathan dan Kakek hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


"Nathan, seandainya terbukti dia anak dari ayahmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kakek setelah mereka sampai dirumah Kakek.


"Apa maksud Kakek? Seandainya dia terbukti anak ayah, dia akan menjadi saudaraku," jawab Nathan.


"Kakek sangat takut kamu akan membenci ayahmu atau Kakek. Karena Kakek penyebab semua kejadian ini," kata Kakek tampak sedih.


"Kakek, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah lama berlalu. Jika Kakek menyesal dan terus merasa bersalah, berarti Kakek sama saja menyesali keberadaan Nathan. Karena Nathan ada dari kesalahan Kakek," ucap Nathan kesal.


"Kakek tidak bermaksud seperti itu, Nathan. Kakek hanya kasihan pada dia dan ibunya. Selama ini pasti mereka menjalani hidup yang sulit.


"Nathan tahu, selama ini Kakek hidup dalam penyesalan karena telah membuat ayah tidak bahagia. Nathan bukannya tidak tahu, kalau hubungan ayah dan ibu tidak seperti pernikahan pada umumnya. Tapi Nathan salut pada ayah, karena dia tetap menjaga komitmen bersama ibu," kata Nathan sambil menghela nafas panjang.


"Kakek, ingin menebus kesalahan Kakek padanya. Kakek ingin dia juga bisa merasakan apa yang pernah dibangun oleh ayahnya dulu."


"Nathan tidak akan pernah menghalangi keinginan Kakek. Lakukan apapun yang bisa membuat Kakek tidak lagi merasa bersalah. Bahkan, saya akan menyerahkan semuanya jika perlu."


"Bukan begitu Nathan. Kamu salah paham. Kakek tidak akan pernah mengambil apa yang sudah kamu miliki. Hanya, biarkan dia bersamamu untuk belajar mengelola bisnis ayahnya," kata Kakek Edward menjelaskan agar Nathan tidak marah.

__ADS_1


"Sudahlah Kek, Nathan pergi saja. Semoga Kakek bahagia."


Nathan bergegas meninggalkan Kakek yang yang masih terbawa perasaan pada Guntur. Nathan menyimpan rasa sedih yang sangat dalam atas sikap Kakek kali ini. Dulu, mungkin Kakek hanya sayang kepadanya karena tidak ada cucu yang lain, tetapi sekarang, ada kemungkinan beliau memiliki cucu yang lain.


Nathan pulang dengan perasaan sedih dan terluka, tetapi dia tidak ingin membuat Lilis dan ibu mertuanya khawatir. Makanya dia menyembunyikan perasaanya untuk sementara waktu hingga dia sanggup bercerita pada Lilis.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam... Baru pulang, Mas? Bagaimana kondisi Kakek?" tanya Lilis sambil mencium tangan suaminya lalu mengikutinya duduk.


"Kakek baik-baik saja. Untuk sementara kita tidak perlu pergi ke rumah Kakek. Jadi, mulai sekarang, aku akan menumpang di rumah kamu."


"Kamu bicara apa, mas. Rumahku adalah rumahmu juga," kata Lilis sambil memegang tangan suaminya.


"Istriku, bagaimana jika aku jatuh miskin dan tidak memiliki apapun. Apakah kamu masih mau meneruskan hidup denganku?" tanya Nathan.


"Aku memilihmu bukan karena kamu banyak uang. Tetapi karena kamu bisa memberiku rasa aman, dan rasa di lindungi sebagai wanita. Mas, bukannya aku mendoakan yang buruk untukmu. Akan tetapi, aku berharap kamu dilahirkan di keluarga yang biasa seperti aku. Jadi aku tidak perlu banyak menyesuaikan diri," kata Lilis sambil tersenyum.


"Terimakasih karena kamu sudah memilihku dan percaya aku bisa memberimu rasa aman dan terlindungi. Kedepannya aku akan menjadi suami yang lebih bisa kamu, ibu dan Naina andalkan. Meskipun apapun keadaanku," kata Nathan meyakinkan Lilis.


"Mas, Terimakasih karena sudah merenovasi warung makan Lilis dan sudah membeli tanahnya sekalian. Dengan begitu, Lilis akan lebih tenang dan tidak terbebani dengan biaya sewa," kata Lilis sambil memberi ciuman mesra di pipi suaminya.


"Itu karena kamu menolak hadiah pernikahan yang sudah aku siapkan sejak lama untukmu."


"Bukan begitu, Mas. Aku tidak menolak, hadiah restoran baru darimu. Akan tetapi, aku tidak ingin para pelanggan ku kecewa. Mereka adalah teman-teman yang menemani aku disaat aku susah. Mereka setiap hari datang untuk menikmati masakan ku. Jika aku beralih ke restoran, mereka tidak akan datang kesana, karena mereka tidak akan merasa nyaman."


"Aku mengerti, tetapi kamu tetap pemilik restoran itu. Aku sudah membicarakan ini dengan Wendi. Dia bersedia mengurus restoran barumu bersama Sri," kata Nathan.


"Jadi, mereka setuju tetap tinggal di kota ini? Syukurlah, tadinya aku yang mau membicarakan ini dengan mereka. Tapi, sudahlah sama saja."


"Mau ketemu Sri apa Wendi?" tanya Nathan cemburu.

__ADS_1


"Ih, Mas Nathan kok ngomongnya gitu. Lihat aku," kata Lilis sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Nathan.


Nathan menelan ludah karena melihat wajah Lilis yang begitu dekat. Ini masih sore, jadi Nathan tidak mau dirinya terperangkap oleh gairahnya sendiri. Apalagi Lilis mulai mendekatkan wajahnya, Nathan langsung merasa bagian tubuhnya menegang. Nathan panik, dia langsung melepas tangan Lilis dan mencium keningnya lalu pergi.


"Mas..."


"Aku, harus mandi," pamit Nathan sambil tersenyum.


Nathan tidak bisa membohongi hatinya, jika Lilis mulai manja dan bersikap romantis, jiwa kelelakiannya akan muncul seketika. Nathan harus bisa menahan diri. Bagus jika hal itu terjadi saat mereka berdua di tempat tidur. Tetapi jika hal itu terjadi disiang hari dan tempat yang tidak seharusnya, bisa berabe.


Lilis hanya bisa tersenyum dan menarik nafas panjang melihat kelakuan sang suami.


Lilis mulai menyiapkan makan malam dan berharap akan ada yang membantunya menyiapkan hidangan. Tetapi hari ini Naina dan Bu Siti sedang pergi ke rumah Bu RT untuk silaturahmi. Lilis bahagia karena, melihat ibu dan Naina tidak lagi hidup kekurangan dan kesusahan seperti dulu. Mereka bisa bermain, dan berkumpul dengan tetangga-tetangga lain dan menikmati masa tua yang indah.


Sebuah pelukan hangat dirasakan oleh Lilis. Wangi aroma khas sang suami, menyebar dan menusuk hidungnya.


"Kenapa masak sambil melamun?" tanya Nathan berbisik pelan.


"Hanya teringat masa lalu."


"Jangan selalu teringat masa lalu. Apa kamu ingin membuat aku cemburu?"


"Aku hanya ingin lebih bersyukur. Dulu dan sekarang sangatlah berbeda. Dan ternyata, sekarang lebih baik. Jadi aku harus bersyukur agar Allah tidak menarik kembali apa yang aku miliki saat ini."


"Aku ada rencana berlibur ke pantai. Mungkin seminggu lagi. Jadi, kamu mesti buat persiapan," kata Nathan sambil mencium pipi Lilis.


"Naina, ibu?" tanya Lilis menghentikan kegiatannya.


"Tentu saja mereka ikut. Mereka juga butuh hiburan. Nanti Naina bisa main pasir disana. Dia pasti akan sangat senang sekali."


"Terimakasih, Mas. Kamu tidak melupakan mereka," kata Lilis pelan.

__ADS_1


Lilis mengucap syukur karena telah diberikan Lelaki yang tidak hanya baik, Kaya dan perhatian. Tetapi juga bisa menyayangi Ibu dan Naina dengan tulus meski Naina bukan darah dagingnya.


__ADS_2