Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 31. Identitas Nathan


__ADS_3

Sudah hampir 4 bulan, Nathan sibuk diluar rumah. Meski dia tidak pernah mengabaikan urusan pekerjaannya, tetap saja hal itu membuat kakek Edward Sugara yang baru datang dari Singapura merasa cemas.


Kakek penasaran, hal apa yang membuat Nathan begitu berubah. Nathan yang biasanya sibuk dengan urusan pekerjaan hingga hampir tidak ada waktu santai. Apalagi memikirkan soal wanita dan pernikahan.


Nathan Sugara, pewaris tunggal bisnis restoran milik keluarga Sugara yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Sejak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat 6 tahun yang lalu. Dia sudah dipaksa untuk menjadi pemimpin di usianya yang terbilang masih muda, saat dia masih dibangku kuliah.


Menjalani 2 profesi, menjadikannya orang yang ketat dalam mengatur waktu. Dia akan memantau sendiri, pembelian bahan-bahan makanan yang akan digunakan di dalam restoran miliknya.


Kakek Edward mendapatkan laporan dari salah satu orang kepercayaannya sejak 2 bulan yang lalu. Akan tetapi, karena masih ada urusan penting yang harus diurus di luar negeri, beliau menunda hingga 2 bulan kemudian.


Kepulangan Kakek kali ini, untuk tinggal di Indonesia dan membuat Nathan bersedia berkeluarga. Keluarga Sugara harus segera memiliki pewaris untuk kelangsungan keturunan keluarga Sugara kedepannya.


Jika bisa, tidak hanya satu anak, seperti Nathan yang seorang anak tunggal. Kakek Edward akan memastikan jika Nathan kali ini tidak akan menolak rencana pernikahan yang sudah Kakek rencanakan.


Nathan pulang dengan pakaian sederhana yang sering dia pakai jika bertemu Lilis. Dia mengira, kakeknya akan datang nanti malam. Dengan santainya dia masuk kedalam rumah sambil bersiul layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta.


Nathan tidak menyadari jika sang Kakek, sedari tadi memperhatikannya dari lantai atas. Nathan menaiki tangga sambil tersenyum mengisyaratkan hatinya sedang gembira.


"Ehem…"


Nathan menghentikan langkahnya, telat di depan kakeknya.


"Ka…kakek, kapan Kakek pulang? Kenapa tidak mengabari Nathan?" tanya Nathan kaget.


"Kakek hanya sudah tidak sabar ingin melihat cucu Kakek. Jadi Kakek memajukan jadwal penerbangannya. Tidak disangka, Kakek akan menemukan hal yang tidak pernah Kakek lihat sebelumnya."


Kakek terkekeh melihat Nathan salah tingkah. Nathan benar-benar malu, sifat kekanak-kanakan Nathan dilihat oleh Kakeknya.


"Cepatlah mandi. Setelah makan malam, ada yang ingin Kakek bicarakan denganmu."


"Baik, Kek. Nathan pergi mandi dulu."


Nathan bergegas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara sang Kakek masih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat cucu kesayangannya salah tingkah.


Selesai makan malam, Nathan menemui Kakek yang sedang santai di ruang keluarga.


"Kau sudah datang, duduklah."


Nathan duduk didekat kakeknya yang sedang membaca buku. Kakeknya segera meletakkan buku yang dibacanya diatas meja setelah melihat kedatangan Nathan.


"Kakek, sebenarnya ada hal apa yang ingin Kakek bicarakan dengan Nathan?" tanya Nathan penasaran.


"Berapa usiamu sekarang?" tanya Kakek tampak serius.

__ADS_1


"Kakek, pertanyaan macam apa itu?"


"Jawab saja."


"26 tahun."


"Sudah cukup wajar."


"Apa maksud Kakek?"


"Kamu adalah anak satu-satunya dari keluarga Sugara. Kamu memiliki kewajiban untuk memberikan penerus bagi keluarga Sugara kedepannya."


"Nathan masih belum mengerti dengan apa yang Kakek katakan," tanya Nathan pura tidak tahu arah tujuan Kakek.


"Nathan, besok Kakek akan membawamu bertemu teman Kakek. Dia memiliki anak gadis yang sangat cantik dan pintar. Dia lulusan luar negeri. Kakek ingin menjodohkan kalian. Kakek yakin, kamu pasti cocok dengannya."


"Kakek, sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Lagipula, Nathan ini sudah dewasa dan bisa mencari sendiri calon istri yang Nathan cintai, Kakek."


"Benarkah, kenapa tidak bilang dari tadi, kalau kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Kakek sambil tersenyum.


Rupanya Nathan sudah masuk jebakan Kakeknya. Jika dia tidak di pancing dengan perjodohan, dia tidak akan mau berterus-terang.


"Kami ingin menikah secepatnya."


"Baik, bawa wanita itu menemui Kakek secepatnya."


"Besok, Nathan akan mengajaknya menemui Kakek. Hanya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada Kakek."


Dengan hati ragu, Nathan berniat jujur pada Kakeknya.


"Katakan saja, Kakek siap mendengarnya."


"Wanita yang ingin Nathan nikahi, dia seorang janda dengan satu anak."


Kakek terdiam. Sorot matanya tajam menatap Nathan yang hanya bisa menghela nafas. Berharap sang Kakek tidak akan mempermasalahkan status Lilis.


"Kakek hampir tidak percaya, cucu Kakek yang sangat tampan dan berpendidikan, bisa jatuh cinta dengan seorang janda? Kakek lebih penasaran lagi, ingin segera melihatnya. Ceritakan sedikit tentang dia pada Kakek."


"Terimakasih, Kek. Dia wanita yang sederhana, cantik, baik dan dia bisa masak. Masakannya enak. Dia memiliki warung makan yang lumayan ramai bukti kalau masakannya banyak disukai orang."


"Baik-baik, Kakek mengerti. Cucu Kakek sedang jatuh cinta sekarang. Jadi, bawa saja besok temui Kakek."


Nathan merasa senang, karena Kakek terlihat sangat senang mendengar dia sudah mencintai seseorang. Tidak terlihat penolakan diwajah Kakek meski tahu Lilis seorang janda.

__ADS_1


***


Nathan berangkat ke rumah Lilis untuk menemui Bu Siti. Tentu saja untuk meminta izin menikahi Lilis. Dengan pakaian rapi, Nathan dengan penuh percaya diri mengetuk pintu rumah Lilis.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Sebentar, ya."


Terdengar suara Lilis membalas ucapan salam Nathan. Tidak lama kemudian, Lilis membukakan pintu untuknya. Hati Nathan berdegup kencang, manakala melihat Lilis berdandan.


Warna lipstik yang terlihat lebih menggoda. Rambutnya yang hitam panjang diikat kuncir kuda, sederhana tapi cantik. Ditambah hati yang lembut dan penuh pengertian terhadap sesama.


"Mas, pagi sekali. Masuklah," ucap Lilis membuyarkan lamunannya.


Nathan berjalan perlahan, rasanya seperti hendak menghadiri wawancara lamaran pekerjaan. Khawatir, cemas dan gelisah. Apakah akan diterima atau ditolak, masih belum bisa diprediksi.


"Duduklah, aku panggil ibu dulu."


Lilis melangkah masuk kedalam kamar Naina. Bu Siti sedang membantu Naina memakai pakaian karena baru selesai mandi.


"Bu, mas Nathan sudah datang. Biar Lilis yang urus Naina," kata Lilis sambil tersenyum.


"Baiklah. Ibu temui Nathan dulu," kata Bu Siti.


"Mbah Uti, Naina ikut ketemu ayah Nathan," ucap Naina sambil mengikuti Bu Siti.


"Naina, pakai pakaian dulu sama ibu. Nanti nyusul Mbah Uti temui ayah Nathan," jawab Bu Siti lembut.


"Bener, Naina. Sini, pakai dulu pakaiannya, nanti kita sama-sama temui ayah Nathan," tambah Lilis.


Naina memang anak yang penurut, dia pun membiarkan Bu Siti pergi menemui Nathan. Lilis membantu Naina berganti pakaian melanjutkan pekerjaan Bu Siti yang belum selesai. Sementara Bu Siti sudah siap, mendengarkan apa yang ingin disampaikan Nathan.


Nathan dan Bu Siti duduk berhadapan. Nathan tampak terlihat gugup juga, meski dia seharusnya percaya diri. Dengan status dirinya yang seorang pemimpin dan pendidikan yang tinggi, harusnya tidak gugup lagi menghadapi calon mertua. Tetapi tetap saja perasaan takut ditolak mengganjal di hatinya.


"Nathan, ada hal apa yang membuat kamu ingin berbicara dengan ibu?" tanya Bu Siti.


"Nathan, ingin meminta izin pada Bu Siti untuk menikahi Lilis," kata Nathan gugup.


"Ibu, tidak setuju," jawab Bu Siti yang membuat Nathan panik.


Dia ditolak?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2