Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 37. Menuju pernikahan


__ADS_3

Sehabis Isyak, Nathan datang ke rumah Lilis untuk menjemput mereka. Lilis sudah menyiapkan diri baik hati maupun pikirannya untuk menghadapi apa yang akan terjadi nanti. Baik yang buruk maupun yang baik.


Lilis juga sudah menyiapkan Naina dengan baik dan tampil cantik. Naina sangat senang sekali, apalagi saat Lilis bilang, ayah Nathan akan mengajaknya membeli boneka. Naina sangat bersemangat sekali dan berjanji akan menurut pada Lilis.


Setelah berpamitan pada Bu Siti, mereka bertiga segera berangkat menuju ke rumah sakit. Lilis bingung harus duduk di depan menemani Nathan atau di belakang menemani Naina.


"Duduklah dibelakang, temani saja Naina," ucap Nathan menghilangkan kebingungannya.


"Ayah, kok ada boneka di mobil ayah. Boneka siapa?" tanya Naina.


"Oh, iya. Ayah lupa, ini boneka milik Naina. Tadi ayah lupa kasih ke Naina."


"Asyik, boneka Naina."


"Bilang apa sama ayah?" kata Lilis.


"Terimakasih, ayah Nathan," ucap Naina menggemaskan.


"Kita berangkat sekarang, agar tidak kemalaman," kata Nathan.


Nathan segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan cepat ke arah rumah sakit. Sampailah mereka di rumah sakit dengan aman.


Nathan membawa Lilis dan Naina untuk menemui Kakek. Sebelum masuk, Nathan mengetuk pintu dulu agar tidak membuat Kakek kaget.


"Ayo, Lis. Kita masuk, jangan takut, aku selalu bersamamu."


"Ayah, kita mau menemui siapa?" tanya Naina.


"Kakek ayah. Nanti Naina panggil Kakek buyut ya?"


"Kakek Uyut..." ucap Naina lucu.


"Ayo..."


Mereka masuk dan mendapati Kakek Edward tengah pura-pura tertidur. Meskipun Nathan tahu, Nathan mengikuti permainan Kakek.


"Ayah, Kakek Uyut sudah tidur. Naina juga mengantuk," ucap Naina sambil menguap.


Naina memang terbiasa tidur sehabis Isyak, dan tidak terbiasa begadang.


"Naina mengantuk?" tanya Nathan.


"Bagaimana, Mas. Naina sudah mengantuk dan dia harus tidur sekarang," ucap Lilis cemas.


"Sini, tidur di sofa aja. Lis, bagaimana kalau kita menginap di rumah sakit malam ini?" tanya Nathan.


Untuk sesaat, Lilis terdiam mendengar permintaan Nathan.

__ADS_1


"Tapi, besok Lilis hari buka warung. Takut para pelanggan kecewa," kata Lilis menjelaskan kesulitannya.


"Besok, pagi-pagi sekali, aku akan mengantarkan kamu dan Naina pulang."


"Kalau begitu, aku akan memberitahu ibu dulu, agar beliau tidak khawatir denganku dan Naina."


"Naina sini sama ayah, biar ibu minta izin sama nenek."


"Ayah, kenapa Kakek Uyut tidak bangun juga?"


"Naina mau coba sebuah permainan?"


"Permainan apa, ayah?"


Nathan membisikan sesuatu pada Naina. Naina tersenyum senang sambil mengangguk pelan. Setelah itu dia berjalan mendekati Kakek Edward perlahan-lahan.


Tangan mungil Naina, menyentuh pipi Kakek Edward dengan lembut. Kakek berusaha menahan diri agar tidak terbangun hanya karena sentuhan seorang gadis kecil.


"Kakek Uyut, Kakek Uyut. Naina boleh cium Kakek? Kalau Kakek Uyut diam, berarti Kakek tidak keberatan," ucap Naina.


Kakek Edward sudah tidak tahan lagi, ketika Naina benar-benar mencium pipinya. Naina bisa mencium Kakek karena bantuan Nathan dengan mengangkat tubuh Naina yang kecil.


Mata Kakek terbuka lebar. Perasaannya kacau, antara ingin marah dan senang melihat Naina yang sangat imut.


"Kamu siapa?" tanya Kakek Edward tanpa ekspresi.


"Namaku Naina."


"Ayah Nathan adalah ayah Naina."


"Nathan..."


"Kakek, dia anakku. Anak Lilis. Kami kesini untuk meminta restu dari Kakek," ucap Nathan sambil mengendong Naina.


"Kakek akan mengizinkan jika kamu bisa memberi Kakek, cicit-cicit yang imut-imut seperti Naina. Juga seorang pewaris laki-laki keluarga Sugara."


Tanpa banyak bertanya, Nathan telah memiliki jawaban atas permintaan Kakek.


"Baik, Nathan terima permintaan Kakek," jawab Nathan sambil melihat ke arah Lilis yang sudah kembali setelah menghubungi ibunya.


Lilis tampak kaget dengan permintaan Kakek.


Cicit-cicit, imut-imut? Memang Kakek ingin berapa cicit? Apa dikiranya aku tempat produksi anak?


Lilis memberi isyarat pada Nathan untuk memberi penjelasan. Namun Nathan berpura-pura tidak melihatnya.


"Naina mau tidur di samping Kakek?" tanya Kakek.

__ADS_1


"Mau-mau. Kelihatannya kasurnya empuk," jawab Naina sambil tersenyum.


Nathan merebahkan tubuh Naina di samping tubuh Kakek. Naina tersenyum membuat hati sang Kakek menjadi luluh. Naina memang sanggup membuat sang Kakek memiliki rasa kasih sayang padanya.


Naina dan Kakek mulai tertidur dengan lelap. Sementara, Lilis dan Nathan tidur di sofa. Lilis hampir tidak bisa memejamkan matanya karena masih teringat persyaratan dari Kakek. Nathan menyadari, apa yang Lilis pikirkan.


"Lis, masih belum bisa tidur?"


"Sebentar lagi."


"Tidak perlu kamu pikirkan apa yang Kakek katakan. Yang penting sudah mendapat izin dulu, itu yang penting," kata Nathan berusaha membuat agar Lilis tidak terbebani dengan permintaan Kakek.


Lilis tersenyum, lalu terlelap dalam mimpinya. Nathan juga segera tertidur setelah melihat Lilis sudah tertidur.


Menjelang subuh, Nathan dan Lilis pamit pada Kakek dan bergegas pergi untuk mengantar Naina dan Lilis pulang pulang untuk mempersiapkan jualan pagi ini.


***


Seminggu telah berlalu, Nathan datang menemui Lilis untuk memberikan kabar bahwa, dua hari lagi adalah hari pernikahan mereka. Mereka akan menikah tanpa adanya pesta, sesuai kesepakatan mereka.


Sebagai gantinya, Nathan akan memberikan sebuah kejutan yang akan diberikan pada Lilis setelah mereka menikah.


Hanya dalam waktu dua hari, Lilis harus mempersiapkan segala sesuatunya saat menikah nanti. Sebuah pernikahan yang sangat Lilis harapkan bisa menghilangkan trauma dan kenangan buruknya tentang kehidupan berumahtangga yang pernah dia lalui.


Saat Desta mendengar berita pernikahan Lilis, dia kembali mendatangi Lilis untuk berusaha membujuk Lilis agar tidak memberi Naina ayah tiri. Desta tidak malu sama sekali, menemui Lilis di warung makan milik Lilis yang sedang ramai.


"Lis, Naina masih memiliki ayah kandung, kenapa mesti kamu carikan dia seorang ayah tiri?" tanya Desta sambil berdiri dibelakang Lilis yang sedang membuat pesanan.


"Mas Desta, saat ini aku sedang sibuk. Aku mohon, pergilah. Jangan sampai aku berteriak kalau Mas Desta berniat menggangguku," jawab Lilis kesal.


"Biarkan saja, aku malah senang jika mereka menangkap kita dan menikahkan kita sekarang sebelum kamu menikah dengan si Nathan itu," ucap Desta.


"Menikahkan kita? Jangan mimpi. Kapan kamu akan menyerah, Mas. Biarkan kami hidup tenang," ucap Lilis menekan emosinya.


"Aku tidak akan menyerah, setidaknya biarkan dia mengenalku sebagai ayahnya bukan dia. Aku yang memberikan benih kenapa dia yang dipanggil ayah?"


"Kamu selalu mengulang hal yang sama. Dan jawaban aku tetap sama juga. Jadi jangan membuang waktumu lagi. Carilah pekerjaan dan hiduplah dengan baik," ucap Lilis sambil menghela nafas.


"Kamu semakin berani dan tidak takut padaku lagi. Apa karena kamu punya Nathan, si orang kaya itu? Aku pasti akan membuat Nathan membayar semuanya."


"Kamu yang salah, kenapa mesti menyalahkan orang lain seharusnya kamu ngaca dari sikapmu dulu. Pantas tidak kamu dicintai. Aku memang tidak menyesal pernah mencintai kamu dan menikah denganmu. Karena jika bukan karena kamu, aku tidak akan pernah pergi ke kota ini dan menemukan jalan rejekiku. Jika bukan karena aku salah memilih pasangan sepertimu, aku tidak akan bertemu dengan Mas Nathan.


"Jadi kamu menyesal?" tanya Desta kesal.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Naina adalah bukti cintaku padamu. Tetapi, cinta didalam hatiku sudah sirna semenjak kau menghianati cinta ini."


"Bukankah, Lilis sudah menyuruhmu pergi?"

__ADS_1


Suara Nathan mengejutkan Lilis dan Desta. Desta tampak kesal karena merasa, Nathan selalu ada disaat dia ingin mendekati Lilis. Sedangkan Lilis tampak cemas, karena dia takut jika Nathan salah paham terhadap dia dan Desta.


Apakah Nathan akan menganggap aku wanita murahan yang masih mau diajak bicara oleh mantan suami? Apalagi setelah mendengar apa yang aku katakan tadi. Padahal pernikahan ini tinggal dua hari lagi.


__ADS_2