Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 42. Malam terindah


__ADS_3

Nathan menatap Lilis penuh tanda tanya. Lilis hanya tersenyum melihat suaminya penasaran dengan sikapnya.


"Berdoalah dulu untuk kita dan calon anak kita kelak," ucap Lilis pelan.


"Bimbing aku, istriku," ucap Nathan malu karena dia belum hafal doa sebelum berhubungan intim dengan sang istri.


"Bismillah, allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa," ucap Lilis dan Nathan bersahutan.


Nathan berjanji, setelah ini, doa sebelum maupun sesudah, akan di hafalkan. Jangan sampai karena hal ini, keinginannya akan terganggu.


Dengan lembut, Nathan mulai menyisir setiap lekuk tubuh istrinya dengan jari tangannya. Ciuman lembut Nathan mendarat di kening Lilis, mengawali ciuman-ciuman berikutnya kebagian tubuh yang lain.


Nikmat, dan perasaan bahagia yang belum pernah dirasakan Nathan sebelumnya, membuatnya kecanduan. Ingin mengulang, dan mengulangi lagi. Apalagi saat sampai pada puncaknya, Nathan merasakan pelepasan yang membuatnya tiba-tiba kelelahan.


Nathan mencium kening Lilis sebelum tergolek lemah di samping Lilis.


"Terimakasih, sayang."


"Ucapkan doa dulu, Mas," Lilis mengingatkan.


"Bantu aku."


"Alhamdu lillaahi dzdzii khalaqa minal maa i basyaraa," ucap mereka berdua bersahutan.


Lilis lalu beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Diikuti suaminya yang tidak mau ditinggal oleh Lilis.


Selesai membersihkan diri, mereka segera mengucapkan doa sebelum tidur lalu tidur sambil berpelukan.


***


Menjelang fajar, Lilis bangun karena sudah menjadi kebiasaannya selama ini, bangun pagi-pagi sekali untuk memasak di warung. Lilis menatap wajah sang suami yang masih terlelap tidur sambil memeluknya. Rasanya, untuk bergerak saja, Lilis merasa kesulitan. Bagaimana caranya dia akan bangun nantinya, agar tidak membuat Nathan terbangun?


Untuk sesaat, Lilis menatap wajah tampan yang sedang memeluknya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kalau dia bisa memiliki suami yang nyaris sempurna. Hidungnya yang mancung kadang membuatnya agak minder. Disentuhnya hidung suaminya yang tepat berada didepan wajahnya. Begitu dekat, hingga dadanya makin berdesir.


Bisakah aku mencium wajah tampan ini, ataukah nanti dia akan marah?


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak Lilis. Dia merasa bergidik karena pikirannya mulai kemana-mana.


Apakah Mas Nathan akan berpikir kalau aku mesum? Bagiamana aku tahu, dia marah atau tidak dengan keinginanku ini, kalau tidak dicoba?


Dengan hati berdebar kencang, Lilis mendekatkan bibirnya pada pada hidung suaminya. Sentuhan bibir Lilis membuat Nathan menggeliat dan semakin memeluk erat tubuh Lilis. Tiba-tiba, wajah Nathan mendekat dan mencium bibir Lilis yang masih terbuka hingga matanya membulat karena kaget.

__ADS_1


Lilis hampir kehabisan nafas karena ciuman Nathan yang cukup lama. Dengan segenap tenaganya, Lilis berusaha menghentikan ciuman Nathan. Namun tidak berhasil, malah makin membuat ciuman Nathan bertambah ganas. Akhirnya Lilis menggigit bibir suaminya lembut hingga membuat Nathan meringis kesakitan dan melepaskan ciumannya.


Nathan terbangun dan mendapati rasa sakit di bibirnya. Dia menatap Lilis dengan tatapan penuh pertanyaan sambil memegang bibirnya.


"Aduh, kok sakit. Apa yang terjadi dan kenapa kamu ngos-ngosan?" tanya Nathan penasaran.


"Maafkan Lilis, Mas. Tapi, semua ini ulah kamu, Mas. Makanya bibir kamu aku gigit. Nggak terlalu sakit kan?" tanya Lilis sambil memegang bibir suaminya.


"Boleh gigit lagi, nggak sakit kok. Maaf aku menyakitimu?" tanya Nathan sambil mengelus pipi Lilis.


"Nggak kok Mas. Sudahlah, Lilis mau bangun sekarang. Mau mandi dulu, terus mau masak untuk sarapan sambil menunggu waktu subuh tiba," pamit Lilis sambil duduk.


Nathan ikut duduk dan membantu Lilis mengikat rambutnya yang panjang.


"Terimakasih, Mas."


"Hadiahnya?"


Sebuah ciuman mendarat di pipi Nathan. Nathan membalas senyum Lilis yang tersenyum manis setelah menciumnya. Ada perasaan ingin di dalam hati Nathan yang berusaha ditahannya. Sebagai pengantin baru dan baru pertama berhubungan intim dengan wanita, keinginan itu datang kembali begitu kuat.


"Kamu kenapa, Mas? Apa kamu sakit?"


"Mas, aku ini istrimu. Kapan pun kamu ingin, jangan sungkan padaku. Istrimu siap melayani keinginanmu kapan saja, asalkan Mas Nathan tahu waktu dan tempat saja," jawab Lilis.


Mereka mulai berdoa dan mengulang malam pertama mereka kembali, dengan lebih bergairah. Setelah itu, mereka mandi bersama untuk membersihkan diri.


***


Lilis mulai memasak nasi dan membuat beberapa telur mata sapi. Untuk suaminya, dia sudah menyiapkan roti bakar dan susu. Entah Lilis bisa mengikuti kebiasaan Nathan atau sebaliknya Nathan yang mengikuti kebiasaan sarapan Lilis.


Lilis terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang dan berbisik mesra saat Lilis masih menyiapkan sarapan.


"Sayang, apa tidak sebaiknya cari pembantu?"


"Tidak perlu, Mas. Aku masih bisa mengerjakannya sendiri. Nanti aku akan minta Sri dan Wendi untuk membantuku menjaga warung. Dengan begitu, aku bisa lebih fokus padamu, Naina dan membereskan pekerjaan rumah," jawab Lilis.


"Apa mereka akan mau tinggal di kota ini. Sedang di kampung mereka memiliki pekerjaan sendiri."


"Kalau Wendi, ada kemungkinan dia menolak, karena dia memiliki banyak tambak ikan dan tambak udang di kampung."


"Ternyata, dia pengusaha sukses."

__ADS_1


"Hmm. Kalau Sri, mungkin saja akan menerima. Karena dia pernah ingin ikut aku kesini."


Lilis menghentikan aktivitasnya memasak, ketika Nathan mencium lehernya dan dia merasa geli.


"Gimana mau masak, kalau begini, Mas."


"Maaf, aku nggak akan ganggu."


"Nggak ganggu tapi nempel terus."


Lilis membalikan badannya hingga tubuh mereka berhadapan. Nathan tersenyum melihat Lilis tampak serius menatapnya. Lilis melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya lalu berjinjit untuk bisa seimbang dengan tubuh suaminya yang tinggi.


Dengan senyum yang tiba-tiba merekah, Lilis mencium pipi Nathan kanan dan kiri kemudian hidung dan yang terakhir bibir suaminya. Meski hanya menempel saja, sensasi itu sudah cukup membuat Nathan melayang.


Mereka saling menggoda dan tertawa, hingga mereka tidak menyadari keberadaan Bu Siti. Bu Siti datang hendak membantu Lilis menyiapkan sarapan pagi karena berpikir jika Lilis kewalahan menyiapkannya sendirian.


Pemandangan pagi ini, membuat Bu Siti sangat bahagia melihat anak dan menantunya juga bahagia. Bu Siti selalu berdoa agar pernikahan Lilis kali ini, akan menjadi pernikahan terakhirnya dan membuat Lilis merasakan indahnya kehidupan berumah tangga.


Bu Siti berbalik arah menuju kamar Naina yang ternyata dia sudah bangun dan hendak keluar kamar.


"Naina, sudah bangun. Mau kemana?"


"Mau mencari Ibu, Mbah Uyut," jawab Naina masih mengantuk.


"Untuk apa mencari ibu. Naina mandi dulu, nanti baru cari ibu. Mbah Uyut bantu mandi ya, Naina."


Bu Siti membantu Naina mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mereka keluar bersama untuk sarapan. Ternyata, Lilis tiba-tiba datang untuk mengajak Naina dan Bu Siti untuk sarapan bersama. Lalu mereka bertiga berjalan menuju ke meja makan.


Naina tampak bingung karena ayah Nathan sarapan roti dan susu sementara mereka bertiga sarapan nasi putih dan telor mata sapi. Naina pun bertanya pada ayah Nathan.


"Ayah Nathan, sarapannya kok tidak sama dengan Naina? Apakah itu enak?"


"Enak dong, Naina mau coba? Ini ayah masih punya."


Naina mengambil roti dari Nathan sambil melihat ke arah Lilis yang hanya tersenyum sambil mengangguk, melihat Naina sangat penasaran dengan sarapan Nathan. Naina mencoba roti pemberian Nathan. Tampak wajah berubah ekspresi saat mengunyah roti itu.


"Tidak enak," kata Naina diikuti tawa mereka bertiga.


Namanya juga tidak terbiasa, jadi rasanya memang berbeda. Keluarga Lilis yang berasal dari kampung di Jawa, terbiasa dengan sarapan nasi. Bisa nasi goreng, atau nasi putih dengan sambal dan telur dadar. Sangat berbeda dengan keluarga Nathan yang terbiasa sarapan roti.


Lilis menyadari, begitu banyak hal yang berbeda diantara dia dan Nathan. Akan tetapi, Lilis lebih suka dengan istilah, perbedaan itu indah dan akan membuat hidup lebih berwarna.

__ADS_1


__ADS_2