Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 110. Akhir Bahagia (End)


__ADS_3

Nathan dan Lilis duduk di sebuah taman yang berada di depan rumahnya. Mereka telah melewati banyak peristiwa hidup yang membaut mereka semakin menyadari bahwa hidup tidak selamanya indah. Ada kalanya tangis dan kesedihan mengiringi jalan hidup.


Karena di setiap tangis akan ada tawa, dan di setiap kesedihan akan ada kebahagiaan yang datang. Lebih baik miskin harta tapi kaya hati daripada kaya harta tapi miskin hati. Harta bisa dicari, tapi miskin hati sulit mencarinya.


Anak-anak sedang asyik bermain bola ditemani Kakek Edward yang kini memilih hidup damai bersama cucu-cucu buyutnya untuk menghabiskan masa tuanya. Karena ternyata harta yang dimilikinya tidak bisa membuatnya tersenyum. Tetapi kehadiran orang-orang yang dicintainya, yang bisa membuatnya bisa tersenyum tanpa beban.


Harta warisan keluarga Sugara telah di bagi dua dan Kakek hanya menyisakan beberapa properti untuk masa tuanya.


Nathan dan Lilis memilih tinggal bersama-sama orang-orang yang mencintai mereka. Mulai saat ini mereka memutuskan untuk menetap dan tidak akan lari lagi ketika menghadapi sebuah masalah. Kasihan anak-anak. Ketika mereka sudah mulai nyaman dengan tempat baru mereka, mereka harus kembali lagi ke tempat yang baru dan harus menyesuaikan diri lagi.


"Mas, Lilis bahagia, akhirnya kita bisa berkumpul dengan keluarga mas Nathan. Keluarga kita hanya tinggal Kakek saja. Untunglah kita memiliki banyak anak, sehingga rumah kita bisa selalu ramai dengan suara-suara mereka," kata Lilis sambil bersandar di bahu suaminya.


"Sayang, aku rasa, mereka bertiga masih kurang rame," kata Nathan sibuk tersenyum.


"Maksud Mas Nathan apa?" tanya Lilis penasaran.

__ADS_1


"Maksudku, kita bisa berusaha memiliki anak lagi," jawab Nathan tersenyum licik.


"Mas, anak lagi? Memang Mas Nathan mau berapa anak lagi?" tanya Lilis sok ingin tahu, padahal Lilis ingin mencubit Nathan agar tidak berhalu terlaku tinggi.


Dia tidak pernah merasakan, betapa perjuangan seorang ibu saat melahirkan adalah pertarungan antara hidup dan mati. Dia hanya menabur benih saja, sementara Lilis yang harus bisa menjadi ladang yang subur untuk bisa memanen hasilnya.


"Sayang, tambah 3 lagi. Bagaimana?" kata Nathan.


"Kenapa nggak sekalian aja minta 8 lagi biar sekalian bisa bermain bola," kata Lilis meledek.


Lilis tampak kebingungan dengan sikap suaminya.


"Mulai, apa?"


"Buat anak lah Sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut, agar anak-anak kita nanti juga lembut," kata Nathan yang membuat wajah Lilis merah merona karena malu.

__ADS_1


Nathan memeluk Lilis mesra. Hati mereka di penuhi bunga-bunga yang indah. Nathan merasa sangat bahagia setelah mengetahui bahwa ayah dan ibunya saling mencintai. Pada awalnya dia merasa menjadi anak yang tidak dicintai, tetapi setelah tahu orangtuanya saling mencintai dan tidak pernah berkhianat, Nathan merasa bangga pada mereka berdua. Mereka akan menjadi panutan Nathan, saling mencintai hingga akhir hidup.


Semoga kami akan selalu bisa, menjaga hati kami masing-masing. Agar tetap hanya satu cinta, satu hati, satu rasa dan satu tujuan, menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.


Aamiin.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนEnd๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung karya ini dari awal.๐Ÿ™ Terutama, teruntuk kak Lilis. Love you all.๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Semoga karya ini bisa menjadi bacaan yang menghibur dan bisa tersampaikan pesan yang author ingin sampaikan pada semua readers.


Salam author


Eni pua

__ADS_1


__ADS_2