Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 74. Lahiran


__ADS_3

Suasana pagi yang begitu indah. Matahari bersinar cerah tanpa terhalang mendung. Semua orang mulai menjalankan aktivitasnya masing-masing. Ada yang pergi sekolah, ada yang pergi bekerja dan ada yang berolahraga.


Naina juga sudah siap untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, Mbah Uti yang akan mengantarkan Naina pergi sekolah. Sekarang Lilis menggunakan jasa ojek untuk mengantar dan menjemput Naina sekolah. Lilis mencari tukang ojek yang sudah dia kenal dengan baik dan sekarang menjadi langganan Lilis.


Lilis duduk di teras setelah mengantar Nathan pergi bekerja dan Naina pergi ke sekolah. Saat ini dia dirumah sendirian. Dia menahan diri untuk tidak masuk kedalam rumah, karena jika masuk rumah bawaannya pingin tidur dan bermalas-malasan.


Untuk ibu hamil, tidur pagi hari dianggap pamali. Tidak hanya bagi wanita hamil saja tidur pagi dianggap pamali, tetapi bagi gadis muda yang belum menikah juga pamali. Beda daerah, beda juga adat istiadatnya.


Untuk menghilangkan rasa kantuknya Lilis melakukan senam khusus ibu hamil. Dengan jongkok 5 menit, memegang lutut sekitar 5 menit juga dan mengambil sapu lidi pendek untuk menyapu halaman. Dengan begitu dia bisa membersihkan halaman sekaligus melakukan gerakan ibu hamil.


Di kampung, memang kalau sedang hamil tua harus banyak-banyak menyapu halaman. Yang dipentingkan sebenarnya bukan menyapunya tetapi gerakan dan posisi menyapu sama dengan gerakan senam ibu hamil.


Selesai melakukan kegiatan pagi, Lilis kembali duduk di teras. Tiba-tiba, perutnya mulai terasa sakit. Jika dihitung waktu melahirkan memang masih 2 Minggu lagi sesuai perkiraan dokter. Akan tetapi mungkin saja, adik ini sudah mau melihat dunia.


Lilis menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia berdiri dan melangkah perlahan-lahan untuk mengurangi rasa sakit diperutnya. Sakit diperutnya seakan semakin menusuk ulu hatinya. Sementara di sisi bawah mulai terasa nyeri. Untuk duduk saja terasa tidak nyaman.


Kontraksi ini semakin lama semakin kuat. Semakin lama rasa sakit itu semakin tak tertahankan dan Lilis segera masuk kedalam rumah untuk mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Sambil menahan sakit, Lilis berbicara pelan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Mas, aku mungkin akan melahirkan."


"Apa, aku akan segera pulang."


Bunyi sambungan telepon telah ditutup. Lilis yakin, Nathan akan segera pulang setelah mendapat telepon darinya. Di luar, suara sepeda motor tukang ojek langganan Lilis terdengar semakin dekat. Lilis tahu, itu berarti ibunya sudah pulang. Lilis berjalan keluar untuk meminta bantuan. Saat sampai diluar, ibunya terkejut melihat Lilis menahan rasa sakit.


"Lis, kamu kenapa, apakah kamu akan melahirkan?"

__ADS_1


"Mungkin saja Bu, kontraksinya sudah sejak tadi. Aku akan menghubungi suamimu," kata sang ibu panik.


"Mas Nathan sudah saya hubungi, Bu. Mungkin sebentar lagi dia pulang."


"Kalau begitu kamu tahan sebentar lagi atau ibu pergi ke rumah Bu RT untuk meminjam mobil Bu RT?"


"Tunggu mas Nathan saja, Bu. Aku ingin ditemani mas Nathan," kata Lilis sambil menahan sakit yang semakin kuat.


Lilis ingin duduk, karena capek berdiri dan berjalan. Akan tetapi, perutnya terasa ada sesuatu yang mengganjal dari atas sampai bawah. Benar-benar terasa tidak nyaman. Dia kembali berdiri, dan saat itu suara mobil terdengar pelan.


Nathan datang bersama Wendi dengan membawa sebuah mobil untuk membawa Lilis pergi ke rumah sakit. Nathan tampak panik dan cemas melihat kondisi Lilis saat ini.


"Lilis, bagaimana. Sangat sakitkah? Apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan rasa sakitmu?"


Lilis hanya menggelengkan kepalanya.


"Nathan, mobil sudah siap. Ayo langsung saja bawa kerumah sakit," kata Wendi tenang. Wendi bisa tenang karena dulu pernah menyaksikan kondisi Lilis saat akan melahirkan Naina. Dia yang membawa Lilis ke rumah sakit dan memperdengarkan adzan dan Iqomah di telinga Naina karena Desta tidak ada di sana.


"Lilis, ayo kita segera ke rumah sakit. Supaya dokter bisa segera mambantumu," kata Nathan sambil memegangi tubuh Lilis yang bersandar padanya.


"Ibu siapkan pakaian dan yang lainnya dulu," kata Bu Siti segera mengemasi beberapa pakaian dan barang lainya yang sekiranya diperlukan saat di rumah sakit.


"Mas, tunggu dulu. Aku ingin kekamar mandi," kata Lilis tiba-tiba merasa ingin buang air besar.


Nathan memapah Lilis masuk kekamar mandi. Tiba-tiba Lilis merasa sesuatu kuat dari bagian bawahnya dan Byuuur ....


Ternyata air ketubannya sudah pecah, dan Lilis tidak bisa lagi menahan kontraksi bayinya. Lilis pasrah jika harus melahirkan di rumah tanpa ada bidan atau dokter yang membantunya. Dia meminta suaminya untuk membantunya berbaring ditempat tidur dan dia mengejan sekuat tenaga.

__ADS_1


Semua orang merasa panik dan cemas melihat Lilis. Akan tetapi, Lilis segera sadar dan menahan kontraksi sang bayi. Dia menyadari apa yang akan terjadi jika dia sampai melahirkan di rumah sementara air ketubannya sudah pecah sejak tadi. Bayinya bisa mati dan tidak bisa dilahirkan secara normal jika kehabisan cairan.


Lilis menarik nafas dalam-dalam dan menhembuskannya perlahan. Dia dibantu suaminya masuk kedalam mobil. Setiap kontraksi datang, Lilis menahan sakitnya dan menahan rasa ingin mengejan dengan meremas jari suaminya dengan sekuat tenaga. Hal itu terjadi berkali-kali, hingga jari tangan suaminya terasa sakit. Hanyabitu yang bisa Nathan lakukan untuk membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Lilis. Lilis menahan sakit yang teramat sangat karena dia tidak boleh mengejan demi keselamatan bayinya.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat. Dan Lilis segera ditangani oleh dokter.


"Tolong Dok, air ketubannya sudah pecah sejak setengah jam yang lalu," kata Nathan panik.


Lilis di bawa kesebuah ruangan khusus untuk diperiksa. Dokter agak terkejut saat mendapati pembukaan Lilis sudah sempurna.


"Pembukaan sudah sempurna," kata salah satu dokter.


"Air ketubannya juga sudah pecah dari setengah jam lalu. Kita segera bersiap, semoga bayinya masih bisa lahir secara normal tanpa harus operasi," kata yang lain.


Lilis mengejan sesuai instruksi dari dokter dan hanya dalam hitungan detik, bayi mungil sudah keluar dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan normal. Lilis menghela nafas dan berucap syukur pada Allah telah melahirkan dengan selamat.


Sementara diluar, Nathan mondar-mandir karena panik. Melihat Lilis begitu kesakitan, Nathan merasa bersalah. Ini karena ulah dia membuat Lilis hamil. Dan ternyata wanita melahirkan itu butuh perjuangan yang sangat sulit. Bahkan nyawa bisa menjadi taruhannya.


Wendi dan Bu Siti hanya bisa berdoa, semoga Lilis di beri kekuatan dan keselamatan saat melahirkan. Ibu dan anak selamat, itu yang penting.


"Nathan, duduklah. Kepalaku pusing melihat kamu bolak-balik terus," kata Wendi sambil menghela nafas.


"Wendi, aku ini sedang panik dan cemas. Bagaimana kondisi Lilis di dalam sana. Sudah beberapa menit belum ada kabar," kata Nathan.


"Kamu kira melahirkan anak itu mudah. Ini belum seberapa. Dulu waktu Naina lahir, bisa lebih dari 3 jam," jawab Wendi.


"Apa, 3 jam. Bagaimana Lilis bisa bertahan, menahan rasa sakit seperti itu hingga 3 jam lamanya?" tanya Nathan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Itulah hebatnya seorang ibu," Jawa Bu Siti. "Seorang ibu bisa menahan apapun demi anaknya. Makanya derajat seorang ibu lebih mulia dari ayah. Bahkan sampai 3 tingkat. Ibu, ibu, ibu baru ayah."


"Nathan akhirnya mengerti, Bu. Perjuangan seorang ibu, tidak akan pernah bisa dibalas dengan apapun di dunia ini. Tapi terkadang seorang anak tidak menghargai seorang ibu bahkan berbicara kasar. Nauzubillah min dzalik, dosa besar itu," kata Nathan.


__ADS_2