
Nathan dan Seno menjalankan sholat dhuhur sebelum melanjutkan pencariannya mencari Desta. Nathan bersimpuh dan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Karena dia hanya manusia biasa yang lemah. Dia memohon perlindungan untuk anak dan istrinya yang saat ini tidak tahu ada dimana.
Sementara itu, Lilis dan Naina ternyata berada di sebuah masjid yang sama. Akan tetapi, Lilis lebih dulu beberapa menit sebelum Nathan dan Seno datang. Lilis berada di masjid itu Karena Lilis ingin menjalankan kewajibannya. Awalnya Desta menolak karena takut Lilis akan lari, akan tetapi Desta akhirnya setuju setelah Lilis berhasil meyakinkan Desta. Lilis berjanji tidak akan lari. Lilis hanya sempat menjalankan sholat tanpa berdoa, karena Desta segera memintanya untuk kembali ke mobil.
Lilis tidak bisa menolak keinginan Desta karena ada Naina dalam ancamannya. Desta terlihat bingung, ketika dia menyadari, tindakan yang dilakukannya sudah termasuk tindakan Kriminal. Dia sudah berani membawa pergi anak dan istri orang lain. Akan tetapi, semua sudah terjadi, dan dia tidak boleh setengah-setengah.
"Mas Desta, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku sudah memberimu uang sesuai yang kamu minta. Kenapa kamu mengingkari janjimu, Mas?" tanya Lilis sambil memeluk Naina yang ketiduran karena lelah.
"Awalnya, aku hanya ingin uangmu, lalu pergi. Tapi, saat aku melihatmu, apalagi saat ini kamu sedang hamil. Aku merasa ingin bertanggungjawab," kata Desta sambil menatap Lilis sedih.
"Mas Desta, aku sekarang bukan Lilis yang dulu. Aku bukan lagi istrimu. Aku hamil juga bukan anakmu. Aku sudah menjadi milik orang lain, Mas. Jadi Lilis mohon, biarkan kami pergi. Lilis tidak akan mempermasalahkan uang 20 juta itu, asal mas Desta melepaskan kami," kata Lilis berusaha membuat Desta mengerti.
"Lilis, tidak adakah maaf untukku?"
"Aku memaafkan Mas Desta, bahkan jauh sebelum mas Desta memintanya. Kita pernah saling mencintai, meski pada akhirnya semua berubah. Mungkin kita masih bisa menjadi sahabat," kata Lilis lagi.
"Nathan benar, dia lebih beruntung karena memilikimu. Aku yang tidak pernah mensyukuri saat kamu menjadi istriku. Membiarkanmu menghadapi sulitnya hidup sendirian."
Saat itu, mata Desta tertuju pada Nathan dan Desta yang saat itu, baru saja keluar dari mobil. Desta bergegas pergi, agar mereka tidak menemukannya. Lilis kaget saat melihat mimik muka Desta berubah. Lilis berusaha melihat keluar jendela, tetapi Lilis tidak menemukan apapun karena Desta dengan cepat memutar arah.
Setelah cukup jauh dari masjid, tiba-tiba Desta menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Didepan sebuah mobil berwarna putih, berhenti tepat di depan mobil Desta.
Lilis berusaha mengira-ngira, siapa pengemudi mobil itu. Akan tetapi Lilis tidak bisa menebak dengan pasti.
Ternyata, mobil itu milik Guntur. Guntur turun dari mobil dan mendekati Desta yang masih berada di dalam mobil. Desta cemas dan khawatir. Guntur mengetuk jendela mobil Desta. Desta pelan-pelan membuka pintu jendela mobilnya.
"Desta, siapa wanita dan anak yang ada didalam mobil?" tanya Guntur.
"Untuk apa kamu tahu. Itu bukan urusanmu," jawab Desta
"Mereka anak dan istri Nathan bukan? Kamu adalah temanku, jadi apa yang kamu lakukan, tentu saja orang lain akan mengaitkan denganku."
"Teman? Teman tapi saat aku dihajar orang dan butuh bantuan, kamu tidak mau menjawab panggilanku."
"Apa? Kamu dihajar orang?" tanya Guntur sambil memperhatikan wajah Desta yang memang ada bekas pukulan.
"Siapa yang telah melakukan itu?" tanya Guntur lagi.
__ADS_1
"Kakaknya Sita."
"Hhh, kakaknya Sita. Ada urusan apa kamu sama dia?" tanya Guntur penasaran. "Apakah karena masalah malam itu?"
"Iya. Kamu juga mau menyalahkan aku?" tanya Desta sambil menatap Guntur.
"Aku juga sebenarnya sangat marah padamu, karena kamu sudah melakukan hal yang sangat tercela. Tetapi aku juga bersyukur, karena ulah kamu itu, aku sekarang akan menikah dengan Sita," jawab Guntur jujur.
"Oh jadi, apa yang aku lakukan menguntungkan kamu? Aku babak belur dan kamu yang mendapat seorang istri?" tanya Desta tersenyum pahit.
"Iya. Desta, saat ini semua orang sedang mencari keberadaanmu. Aku mohon sebagai seorang teman, pergilah dan tinggalkan mereka bersamaku."
"Tidak. mereka adalah sanderaku jika aku tertangkap," jawab Desta tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Mereka tidak bersalah, Desta. Kamu lihat, mereka adalah orang-orang yang seharusnya kamu sayangi dan lindungi. Anak dan mantan istrimu tidak bersalah. Kasihan mereka," kata Guntur.
Desta melihat ke arah Lilis yang sedang memangku Naina yang masih tidur. Hatinya tersentuh melihatnya. Akan tetapi belum sempat dia menjawab pertanyaan Guntur, bunyi suara sirine polisi terdengar semakin dekat. Desta panik.
"Apa mereka membawa polisi?" tanya Desta panik.
"Kurang ajar. Aku harus pergi. Cepat pinggirkan mobilmu sebelum mereka dekat!" teriak Desta.
"Desta, mereka akan lebih dulu sampai sebelum aku menyingkirkan mobilku. Jadi sebaiknya kamu pergi dan larilah sebelum mereka sampai ke sini."
"Tapi bagaimana dengan mereka? Aku juga harus membawa mereka," kata Desta sambil melihat kearah Lilis dan Naina.
"Jangan bawa mereka, mereka hanya akan mempersulit langkahmu. Kamu lihat, dia senang hamil dan anaknya juga masih kecil. Pergilah dan tinggalkan mereka. Aku akan membuat mereka tidak mengejarmu," kata Guntur merayu dan membuat Desta percaya dengan ucapannya.
"Betul juga."
Desta segera mengambil uang dan kopernya dari dalam mobil. Dia berniat lari secepat mungkin. Akan tetapi mobil polisi, mobil Wendi dan mobil Seno sudah sampai di sana. Desta berlari sekuat tenaga dan dikejar oleh beberapa orang polisi.
Sementara Nathan segera membuka mobil dan dia terharu mendapati anak dan istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Rasa syukurnya melebihi apapun yang tidak dapat dia ucapkan dengan kata-kata. Lilis membangunkan Naina dan Nathan membantu Lilis dan Naina keluar dari mobil.
"Mas, maafkan Lilis," ucap Lilis sambil memeluk Nathan erat.
Wendi segera menggendong Naina agar Nathan dan Lilis bisa berbicara.
__ADS_1
"Sudahlah. Bagaimana kondisi kandungan kamu?
"Baik-baik saja, Mas. Mas aku ..."
"Aku tahu kamu sedang cemas saat itu. Tapi lain kali, kamu harus melibatkan aku dalam mengambil keputusan. Keselamatan kalian sangat berharga untukku. Jangan membuat keputusan sendiri lagi, apalagi dalam hal berbahaya seperti ini."
"Iya, mas. Maafkan Lilis. Lain kali Lilis akan meminta izin darimu dulu sebelum bertindak," kata Lilis sambil menangis.
"Aku benar-benar seperti orang gila mencarimu."
"Mas, Apakah kira-kira mas Desta bisa tertangkap?" tanya Lilis.
"Semoga saja. Aku sangat ingin melihatnya masuk penjara setelah apa yang dia lakukan padamu dan Naina."
Terdengar suara ambulan datang . Mereka semua terkejut dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Seno, ada apa ini, Kenapa ada ambulan datang?" tanya Nathan panik.
"Desta kecelakaan, Bos," jawab Seno yan baru datang.
"Kecelakaan?"
"Tadi saat dia berlari, tanpa sengaja dia tertabrak sebuah mobil yang sedang melaju. Dia pasti tidak memperhatikan jalan saat lari."
"Lalu bagiamana keadaannya?"
"Cukup parah, Bos. Tapi kita lihat nanti setelah di rumah sakit," jawab Seno.
"Baiklah, kamu urus selama Desta di rumah sakit. Karena disini dia tidak ada keluarga. Bagaimanapun juga dia ayah Naina," kata Nathan sambil melihat Lilis.
"Mas Nathan, kamu baik sekali. Kamu masih mau mengurus mas Desta meskipun dia sudah berbuat jahat," kata Lilis pelan.
"Istriku sayang, aku ingin kamu selalu merasa aman dan nyaman sebagai istriku."
"Aku mencintaimu Mas Nathan dan kini lebih mencintaimu," ucap Lilis berbisik di telinga. Nathan.
"Aku juga sangat mencintaimu, lebih dan lebih lagi setelah hati ini aku tahu betapa sangat berartinya keberadaanmu di sisiku," ucap Nathan lembut.
__ADS_1