Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 28. Bertemu Mantan


__ADS_3

Hubungan Nathan dan Lilis membuat Bu Siti bertanya-tanya. Beliau pun sengaja mencari waktu untuk bisa bicara dari hati ke hati dengan Lilis. Pertemanan diusia yang tidak muda lagi adalah hal yang tidak sewajarnya.


Apalagi ketika mereka pergi ke taman bermain, terlihat mata Nathan tidak bisa lepas dari Lilis. Ada decak kekaguman dan ada yang tersembunyi dari sorot mata yang tajam itu. Bu Siti tidak ingin, Lilis merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Cukup sudah penderitaan yang mereka rasakan ketika Lilis masih bersama Desta.


Apalagi Naina mulai menyukai Nathan dan ingin Nathan tinggal bersama mereka. Naina tidak tahu jika harus tinggal bersama, Nathan harus menikah dengan ibunya dulu. Meskipun itu hanya keinginan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tetap saja Bu Siti takut jika suatu saat, Naina benar-benar menginginkan sosok seorang ayah.


Setelah Naina tidur, Bu Siti mengajak Lilis berbincang-bincang di ruang keluarga sambil melihat TV.


"Lis, ibu ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Ibu, Lilis jadi takut. Jika ibu bicaranya terlalu serius. Tapi katakan saja, Lilis siap menjawab," kata Lilis agak serius juga.


"Apa kamu menyukai Nathan?"


Lilis seolah berhenti bernafas mendengar pertanyaan ibunya.


"Ibu, apa ibu melihatnya?"


"Jadi benar kamu menyukai Nathan. Awalnya ibu heran. Tidak biasanya kamu mau diantar seorang laki-laki, apalagi untuk pergi ke taman bermain yang melibatkan Naina. Jika kamu tidak suka, kamu pasti akan dengan tegas menolak."


"Ibu, Lilis juga tidak tahu, bagaimana Lis bisa menyukai dia. Sejak awal, Lilis sudah memutuskan untuk fokus pada pekerjaan dan Naina. Tetapi Lilis malah terjebak dengan cinta yang tidak seharusnya."


"Lis, cinta itu datangnya dari Allah. Ibu tidak pernah menyalahkan kamu mencintai pria manapun. Bahkan saat kamu memutuskan untuk tidak menikah lagi, ibu malah sedih. Kamu masih muda dan berhak untuk bahagia. Jangan meniru ibu. Kita memiliki jalan dan takdir yang berbeda."


"Lilis tahu, Bu. Tidak semua yang kita rencanakan dapat berjalan sesuai harapan. Dulu aku pikir, asalkan bisa bekerja dan mendapatkan uang untuk masa depan Naina, itu sudah cukup. Tetapi, Lilis tidak menyangka, akan jatuh cinta lagi dengan pria yang sama sekali tidak mencintai Lilis. Dan hal itu kadang membuat hati Lilis sedih."


Lilis memeluk ibunya karena merasakan dadanya yang terasa sesak, dan sulit untuk bernafas. Namun, cinta itu anugerah. Tidak semua orang bisa merasakan cinta. Cinta bisa membuat orang bahagia dan cinta juga bisa membuat orang menderita.


Dulu, Lilis menikah dengan Desta karena cinta. Bahkan Lilis sanggup bertahan hidup dengan suami yang pemalas dan hidup serba kekurangan. Sampai akhir, dialah yang ditinggalkan dan dialah yang terluka.


Cinta itu sanggup menahan derita tapi bukan penghianatan. Penghianatan yang mampu mengikis habis cinta yang pernah ada. Kadang hati bertanya, apakah cinta itu yang salah ataukah hati yang telah jatuh cinta pada orang yang salah?


"Lis, jangan mengingat masa lalu lagi. Ibu yakin, suatu saat akan ada cinta yang mampu membuatmu bahagia sehingga pikiran burukmu tentang cinta akan berubah. Akan ada seseorang yang baik yang dapat membimbingmu bahagia dengan cinta."

__ADS_1


"Aamiin, Bu. Semoga Lilis akan mendapatkan apa yang ibu katakan barusan."


Bu Siti tersenyum lembut, sebagai ibu, harus bisa menguatkan hati anaknya disaat lemah. Itulah yang ingin beliau lakukan. Tapi beliau merasa sudah tua dan tidak tahu, apakah saat Lilis menemukan orang itu, beliau masih hidup atau sudah tidak ada di samping Lilis.


***


Hari ini begitu banyak pelanggan yang datang untuk makan siang. Lilis sangat sibuk hingga lupa persediaan sayur dan daging untuk besok pagi tinggal sedikit.


"Mbak Surti, aku lupa pergi ke pasar hari ini. Mana daging sama daging tinggal sedikit. Aku pergi ketempat penjagalan sapi aja langsung ya, untuk besok pagi."


"Mbak Lilis pasti capek. Kalau Mbak Surti berani naik motor sendiri, pingin gantiin Mbak Lilis," kata Mbak Surti sedih.


"Nggak papa. Aku pergi sendiri saja. Mbak Surti jaga warung saja. Siapa tahu masih ada yang mau makan siang."


" Kok tumben, Mas Nathan tidak kelihatan. Biasanya jam segini sudah makan di warung kita."


"Ih, Mbak Surti. Nanti aku bilangin Mas Nathan, kalau Mbak Surti kangen," ucap Lilis bercanda.


"Mbak Lilis, yang kangen itu saya apa Mbak Lilis?"


Lilis tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan Mbak Surti yang ikut tersenyum melihat wajah merah Lilis karena malu. Sebagai sesama wanita, apalagi Mbak Surti sudah menikah, tentu tahu wajah dan tatapan orang yang sedang jatuh cinta.


Setelah kepergian Lilis, Desta sampai di warung Lilis sambil membawa tas yang berisi pakaian ganti miliknya. Desta disambut oleh Mbak Surti dengan ramah seperti pelanggan yang lain.


"Selamat siang, Mas. Silahkan tulis pesanan, nanti saya akan kembali untuk mengambilnya," kata Mbak Surti ramah.


"Mbak, boleh saya bertanya?" tanya Desta ragu.


"Silahkan saja. Tapi apa Bapak kesini cuma mau bertanya?"


"Tidak-tidak. Saya juga lapar butuh makan siang."


"kalau begitu silahkan bertanya. Karena saya lagi sibuk di belakang."

__ADS_1


"Apa benar ini tempat tinggalnya Lilis?"


"Lilis siapa ya?


"Lilis Muneyaroh. Dari Jawa."


"Oh, Mbak Lilis? Dia tidak tinggal di sini. Tapi ini warung makan punya dia. Mas ini sepertinya juga dari Jawa ya?"


"Benar. Saya suaminya."


"Suami, bukannya Mbak Lilis sudah bercerai? Dia janda, Mas."


"Saya, mantan suaminya."


"Hmm...mantan suami? Jangan-jangan, Mas mau minta rujuk kembali?" ucap Mbak Surti menggoda.


"Benar. Menurut Mbak, bakal diterima atau tidak?"


"Aduh, gimana ya mas, ngomongnya. Nggak tahu deh. Mbak Lilis nya lagi pergi. Bentar lagi juga balik. Mas tunggu saja. Pesanan Mas nya mana?"


Desta menyerahkan nota pesanan pada Mbak Surti. Mbak Surti pamit ke dapur untuk menyiapkan pesanan Desta. Desta menunggu dengan hati cemas. Menunggu Lilis, bukan menunggu pesanan.


Mbak Surti datang dengan Membawa pesanan Desta. Desta makan sambil sesekali melihat kearah pintu masuk. Berharap Lilis segera datang.


Beberapa menit kemudian, Lilis datang dengan senyum mengembang karena daging untuk besok sudah dipesan dan tinggal mengambilnya saja besok pagi.


"Lilis...."


Tanpa menoleh, Lilis langsung melangkah menuju ke dapur. Baru beberapa langkah dari pintu, Desta memanggilnya dengan nada sedang. Namun bagi Lilis, suara Desta bagaikan petir yang menggelegar dan membuat dirinya dilanda kekhawatiran.


Lilis menghela nafas panjang dan berusaha menghapus rasa takutnya yang sempat muncul dihatinya.


Takut? Sekarang dia tidak ada hubungannya denganku lagi. Dia tidak ada hak lagi atas diriku. batin Lilis.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2