
"Kakek, apa yang Kakek katakan?" tanya Nathan kecewa dengan ucapan Kakeknya.
"Nathan, bukannya sudah jelas apa yang Kakek katakan. Hanya Santy yang cocok menjadi istrimu. Lihatlah, Santy begitu cantik, baik dan pendidikannya juga tinggi. Yang terpenting dia masih gadis," ucapan Kakek menyindir Lilis.
"Kalau begitu, kenapa bukan Kakek saja yang menikah dengannya," bantah Nathan.
"Kamu...."
Kakek sangat marah mendengar perkataan Nathan. Dia merasa kesakitan memegang dadanya hingga membuat Nathan panik. Ternyata penyakit jantung Kakek Edward sedang kumat.
"Kakek," teriak Nathan.
Lilis terdiam melihat semua ini seperti melihat sebuah drama sinetron di televisi. Matanya berkaca-kaca pertanda ada bagian hatinya yang terluka. Melihat perdebatan antara Nathan dan Kakeknya, membuat Lilis merasa kehadirannya hanya membuat masalah. Apalagi melihat Kakek Edward penyakit jantungnya kambuh karena hal ini.
Disaat semua orang sedang sibuk dan cemas dengan keadaan Kakek Edward, Lilis memutuskan untuk pergi. Pergi dari rumah ini, sekaligus pergi dari kehidupan Nathan.
Lilis berjalan pelan keluar dari rumah Nathan lalu memesan ojek online. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah sebuah sepeda motor yang dia pesan. Langkahnya terhenti sesaat, saat mendengar suara teriakan Nathan memanggil namanya.
"Lilis, jangan pergi!"
Lilis hanya menoleh sebentar lalu dia segera naik motor yang sudah menunggunya.
"Ayo berangkat saja, pak," kata Lilis tanpa menghiraukan lagi panggilan Nathan.
"Mas Nathan..." panggil Santy cukup keras.
Nathan segera berbalik masuk kembali kedalam rumah. Nathan masuk dengan tergesa-gesa dan diikuti Santy.
Selamat tinggal mas Nathan. Semoga kamu bahagia, batin Lilis.
Menyerah dan mundur, menjadi pilihan Lilis saat ini. Dia tidak ingin memaksakan sesuatu yang dapat membuat hati ibu dan Naina terluka. Cinta tanpa restu, bukanlah tujuan Lilis. Lilis ingin melindungi ibu dan Naina, sebisa mungkin menjauhkannya dari masalah yang mungkin akan terjadi setelah ini.
Akhirnya, Lilis sampai juga di rumah dengan selamat. Dia menghapus air mata yang sempat menetes agar tidak terlihat oleh ibu dan Naina.
"Assalamualaikum," ucap salam Lilis saat sampai didepan pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab Bu Siti.
"Sudah pulang, Lis. Bagaimana, apakah semua berjalan baik?" tanya Bu Siti penasaran.
"Baik, Bu. Bagaimana keadaan Naina. Apakah dia masih marah?"
"Mana mungkin dia marah. Dia hanya protes karena hanya kamu yang diajak ayah Nathan tapi dia tidak. Sekarang dia sedang tidur."
__ADS_1
" Syukurlah. Lilis masuk dulu, mau istirahat."
Lilis bergegas masuk kedalam kamarnya. Dia berusaha menyegarkan diri dan pikirannya dengan mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian santai, Lilis menjalankan sholat dan berdoa.
Ya Allah, sesungguhnya apapun yang terjadi pada hamba, adalah takdir yang harus hamba jalani. Berilah kekuatan dan kesabaran menjalani takdir ini.
Jika memang dia jodoh hamba, orang yang mampu menjadi imam yang baik untuk hamba, yang bisa membahagiakan kami bertiga, hamba mohon dekatkan dia pada hamba. Tetapi, jika dia bukan jodoh hamba, jauhkanlah sejauh mungkin agar hamba bisa melupakan cinta di hati hamba padanya.
Hamba menyadari jika sesungguhnya cinta yang sejati hanya milik Mu ya Allah. Jodoh, rezeki dan mati adalah takdir yang tidak bisa kami ubah atau kami tukar.
Ya Allah, hamba perpasrah dan berserah diri hanya pada Mu.
Ya Allah, berikanlah keikhlasan di hati hamba untuk melepaskan apa yang bukan takdir hamba. Aamiin Ya rabbal 'alamin.
Tak terasa airmata Lilis menetes perlahan, mengiringi lantunan doanya. Dia sadar, dia bukan seorang agamis, dia hanya manusia biasa yang berharap doanya akan didengarkan oleh Allah Yang Maha Mendengar.
Lilis ingin sekali bercerita kepada ibunya tentang peristiwa hari ini. Namun dia takut jika ibunya akan sedih mendengarnya. Jadi, tempat yang paling aman dan paling baik adalah mengadu hanya pada Allah.
Lilis tidak menyadari kalau sejak tadi Bu Siti terus memperhatikan Lilis dan ikut merasakan kesedihan Lilis. Sebagai seorang ibu, sikap dan sifat Lilis, beliau sudah hafal betul. Namun, beliau akan tetap menunggu sampai Lilis benar-benar siap berbicara padanya sehingga bisa sedikit mengurangi beban dalam hatinya.
Naina bangun sekitar jam 4 sore, dan dengan segera mencari keberadaan ibunya. Dia berjalan menuju kekamar Lilis dengan kondisi masih mengantuk. Di dekat ruang makan, Naina bertemu Mbah Uti.
"Naina, sudah bangun? Mau kemana?" tanya Bu Siti pelan.
"Ibu."
"Sini, cucu Mbah."
Bu Siti menarik pelan tangan Naina dan diajaknya duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Di dudukannya Naina diatas sofa.
"Naina sedang cari ibu?"
"Hmm, ibu dimana Mbah Uti?" tanya Naina sambil memoncongkan mulutnya.
"Ibu sedang istirahat. Jangan ganggu ibu dulu ya?" jawab Bu Siti sambil mengelus wajah Naina.
"Tapi Naina mau menagih janji ibu. Katanya Naina akan dibelikan boneka kalau tidak ikut," jawab Naina manja.
"Nanti kalau ibu sudah bangun ya?" kata Bu Siti berusaha menenangkan Naina.
"Naina, " suara Lilis parau sehabis menangis dalam doanya.
"Ibu..."
__ADS_1
Naina berlari memeluk ibunya yang baru kuat dari kamarnya. Lilis segera menggendong Naina dan menciuminya dengan lembut sampai membuat Naina geli.
"Anak ibu, cantik."
"Ibu, geli," ucap Naina.
"Bonekanya mana?"
"Boneka? Yang di peluk ibu ini juga kayak boneka. Jadi untuk apa cari boneka lagi," goda Lilis.
"Ibu, Naina bukan boneka. Ibu," ucap Naina cemberut karena tidak mau dianggap boneka.
"Aduh-aduh anak ibu ngambek. Ya udah, Naina ini anak ibu kok di bilang boneka sih. Siapa tadi yang bilang kalau Naina boneka?" Lilis pura-pura bingung.
"Ibu, ibu tadi yang bilang, kalau Naina boneka."
"Iya kah? Hmm, kok ibu bisa lupa ya? Aduh, ibu ternyata punya penyakit lupa, bagaimana ini Naina?" kata Lilis pura-pura panik.
"Ibu, boneka," ucap Naina merajuk.
"Aduh, ibu ini benar-benar punya penyakit lupa. Sayang, ibu lupa. Nanti ibu belikan, sama Naina dan Mbah Uti," jawab Lilis berusaha menenangkan Naina.
"Naina tidak mau. Naina maunya boneka yang dibelikan ayah Nathan," kata Naina cemberut.
"Ayah Nathan sama ibu tadi lupa beli boneka."
Lilis merasa bersalah pada Naina. Boneka yang tadi mereka beli, masih berada didalam mobil Nathan.
Maafkan ibu Naina, ibu telah berbohong padamu, batin Lilis.
"Naina, nanti beli sama Mbah Uti dan ibu saja. Naina nanti bisa pilih sendiri yang Naina suka. Nanti Mbah Uti juga mau beli boneka, biar nanti bisa jadi teman bonekanya boneka Naina."
Bu Siti yang sejak tadi hanya diam, mulai ikut bicara untuk menenangkan Naina.
"Tapi, Naina harus mandi dulu. Yuk mandi sama ibu," ajak Lilis.
Sudah lama, Lilis tidak memandikan tubuh putri kesayangannya, Naina. Kali ini, mumpung tidak buka warung, Lilis ingin memanfaatkan waktu untuk bersama Naina.
Menikmati hidup sebagai ibu dan anak agar lebih dekat. Membayar waktu 2 tahun tidak bersama Naina. Walaupun mungkin tidak kan pernah cukup Lilis membayarnya.
Belum sempat mereka beranjak pergi, suara ketukan pintu menghentikan langkah Lilis. Dalam hatinya, dia berharap bahwa itu adalah Nathan yang datang untuk menemuinya. Namun, segera dia hilangkan perasaan itu. Bukankah dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan Nathan?
"Biar Lilis yang buka pintunya, Bu."
__ADS_1
Sambil menggendong Naina, Lilis berjalan perlahan menuju ke pintu depan. Dengan perasaan campur aduk, Lilis perlahan membuka pintu.
Matanya membulat tatkala melihat siapa yang berdiri didepan pintu rumahnya.