
Lilis berjalan perlahan mendekati bayi tersebut. Bayi ini adalah harapan satu-satunya bagi Lilis. Jika bayi ini bukan Wahyu, maka kemungkinan menemukan Wahyu akan lebih lama lagi. Tetapi jika bayi ini adalah Wahyu, maka penantian Lilis setelah berbulan-bulan akan terwujud.
Lilis memegang tangan suaminya dengan erat. Lilis berharap bayi terakhir itu adalah bayinya yang hilang.
"Sayang, biar aku saja yang melihat bayi itu, jika kamu belum siap," kata Nathan.
"Apa mas Nathan akan bisa mengenali wajah bayi kita? Aku rasa semua wajah bayi ini sama karena mereka semua kekurangan gizi. Kita tidak akan bisa membedakan mereka. Tetapi Alhamdulillah, karena Allah memberikan tanda lahir untuk anak kita. Mas Nathan, lihatlah, apakah di punggung bayi itu ada tanda lahirnya?" pinta Lilis.
Nathan mengangguk tanda setuju. Perlahan, dia mendekati bayi yang masih dalam perawatan dan di tangannya ada jarum yang tersambung dengan infus.
Dibukanya baju bayi itu dengan lembut. Perlahan tubuh bayi kecil itu dimiringkan. Nathan ingin melihat tanda lahir yang di katakan Lilis. Jantungnya berdetak kencang dan dia hampir tidak bisa bernafas. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Nathan memejamkan matanya sesaat sebelum dia melihat punggung bayi kecil itu. Hatinya seperti menghitung dari angka satu, dua dan tiga ....
Nathan tersentak kaget.
"Wahyu ...," batin Nathan.
"Bagaimana mas, apakah dia anak kita?" tanya Lilis panik.
Nathan mengembalikan posisi bayi kecil itu seperti semula.
"Mas, kenapa kamu diam saja?" ucap Lilis bertambah panik.
Nathan memeluk Lilis yang sudah berdiri di belakangnya. Nathan berbisik pelan.
"Dia memang Wahyu, tetapi kondisinya sangat tidak baik. Sebelum kamu melihatnya, siapkan hati kamu dahulu," ucap Nathan sambil memeluk erat Lilis.
Lilis berteriak histeris saat mengetahui bayi kecil itu adalah Wahyu.
"Mas, lepaskan aku. Aku ingin melihat anakku, Mas!" teriak Lilis.
"Tapi kamu janji dulu, kamu harus tenang, jangan emosi," kata Nathan.
"Iya, Mas. Aku janji," ucap Lilis sambil terisak-isak.
Nathan melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Lilis. Matanya juga berkaca-kaca melihat reaksi Lilis. Bahagia karena akhirnya Wahyu ditemukan. Tetapi juga sedih karena melihat kondisi Wahyu yang sangat menyedihkan.
Lilis menahan tangisnya sambil menatap bayi yang bertubuh kurus kering tak berdaging dan hanya berbalut kulit. Tangannya bergetar saat hendak menyentuh tubuh Wahyu.
__ADS_1
"Wahyu ...."
Tiba-tiba, tubuh Lilis terkulai lemas. Nathan dengan cepat menangkap tubuh yang hampir jatuh kelantai. Lilis pingsan.
"Sayang, bangunlah," ucap Nathan yang segera membawa Lilis keluar ruangan untuk mencari dokter.
Lilis akhirnya dirawat di rumah sakit tempat Wahyu di rawat juga. Namun ada kabar bahagia yang terselip di antara kesedihan mereka. Lilis dinyatakan hamil oleh dokter yang memeriksanya. Lilis ditanyakan sedang hamil 4 Minggu.
Nathan bahagia sekali mendengar kehamilan Lilis. Meskipun bisa dibilang, kehamilan Lilis ini terlalu cepat. Karena anak mereka, Wahyu baru berusia 6 bulan saat ini. Tapi, anak adalah rezeki yang tidak bisa ditolak ataupun diminta. Kehadiran seorang anak, harus disyukuri sebagai nikmat. Karena harta yang paling berharga adalah anak.
Ketika kita berkumpul dengan teman-teman atau dengan kenalan kita, mereka pasti akan menanyakan 'berapa anakmu?', Bukan 'berapa banyak uangmu?'.
"Mas, kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Lilis kebingungan.
"Tadi kamu pingsan saat melihat Wahyu," jawab Nathan.
"Wahyu ...."
"Jangan khawatir, Wahyu pasti baik-baik saja. Kamu jangan terlalu tertekan. Kasihan anak dalam kandunganmu," kata Nathan mengagetkan Lilis.
"Apa, anak?"
"Benarkah, Lilis hamil? Kita akan memiliki anak lagi, apakah Mas Nathan senang?" tanya Lilis agak cemas.
"Sayang, tentu saja aku senang kamu hamil. Keluarga kita akan bertambah dan pasti keluarga kita akan semakin ramai nantinya. Saat kita tua nanti, akan banyak yang menemani kita," kata Nathan.
"Mas, terima kasih. Bolehkah sekarang aku melihat Wahyu? Aku ingin secepatnya bisa membawa Wahyu pulang," kata Lilis.
"Tentu saja. Tetapi aku akan meminta polisi untuk mencari tahu, siapa yang sudah menculik anak kita," kata Nathan menahan marah.
"Mas, aku setuju. Aku ingin tahu juga kenapa dia menculik anak kita. Malam ini aku mau tidur disini menemani Wahyu," kata Lilis.
"Iyah, kita akan tetap disini sampai Wahyu bisa kita bawa pulang. Aku akan memberitahu ibu dan Naina," kata Nathan.
Nathan dan Lilis tetap tinggal di rumah sakit sampai Wahyu diizinkan untuk dibawa pulang. Wahyu dirawat selama 3 hari dan akhirnya, hari ini dia sudah diizinkan dibawa pulang oleh Nathan dan Lilis.
Setibanya di rumah, mereka disambut oleh beberapa warga sekitar yang ikut bahagia melihat Wahyu sudah ditemukan. Suasana haru menyelimuti rumah Lilis. Naina terus berada disisi adiknya seolah tidak ingin meninggalkan adiknya sendirian.
Setelah rumah sepi karena hari sudah mulai malam dan orang-orang sudah pamit pulang, Naina masih tidak mau meninggalkan adiknya.
__ADS_1
"Naina, kamu tidurlah. Hari sudah malam," kata Lilis lembut.
"Naina takut adik hilang lagi," jawab Naina.
"Sayang, adik tidak akan hilang lagi. Bahkan Naina akan memiliki adek baru lagi," kata Lilis tersenyum.
"Adik baru, Bu?"
"Hmm. Seneng nggak?"
"Naina senang sekali, Bu. Kapan adek baru Naina lahir?" tanya Naina sambil tersenyum.
"Masih 8 bulan lagi. Semoga semua lancar yah, Naina," jawab Lilis memeluk Naina. "Makanya, sekarang Naina tidur. Biar adik Wahyu juga bisa istirahat dengan tenang, Sayang."
"Baik, Bu."
Naina bergegas pergi dan langsung masuk kedalam kamar untuk tidur. Sementara Bu Siti mendekati Lilis yang masih terlihat sedih. Bu Siti duduk di dekat Lilis.
"Lis, ada apa? Ibu dengar, kamu hamil lagi. Tapi kenapa kamu tampak sedih?" tanya Bu Siti.
"Lilis sedih, karena melihat kondisi Wahyu, Bu. Pertama kali Lilis melihatnya, Lilis tidak kuat. Bahkan Lilis sampai pingsan," kata Lilis sedih.
"Kamu pingsan? Lalu kondisimu sekarang? Kenapa kemaren tidak meminta ibu datang menemanimu di rumah sakit?"
"Lilis tidak apa-apa, Bu. Justru karena Lilis pingsan itu, kita jadi tahu kalau Lilis hamil," jawab Lilis memeluk ibunya.
"Ternyata semua ada hikmahnya. Diantara kesedihan yang kamu alami, ada terselip kebahagiaan lain. Semoga semua akan baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan pelaku penculikan Wahyu, apa sudah ditemukan?"
"Sepertinya, belum Bu. Besok Mas Nathan akan mencari tahu ke kantor polisi. Dua bulan ini, Wahyu dibawa mereka untuk mengemis di jalan. Ditengah terik matahari dan mungkin dia kelaparan. Siapa yang tahu, Wahyu diberi minum apa, sampai dia menderita gizi buruk. Masih ada beberapa bayi yang belum diketahui dimana keluarganya," kata Lilis mengingat kondisi Wahyu.
"Sabar, Lis. Semua sudah berlalu. Semoga tidak akan ada lagi bayi-bayi yang diculik. Kasihan sekali mereka," kata Bu Siti.
Mereka bersyukur karena Wahyu bisa ditemukan dalam kondisi masih hidup meski dengan kondisi yang mengenaskan.
Tinggal mencari tahu siapa penculik Wahyu
Bersambung
yuk baca karya temen aku dengan judul dibawah ini
__ADS_1