
Lilis terbangun dari tidurnya. Nafasnya tidak beraturan. Bagaimana mungkin dia memimpikan Nathan. Padahal dia tidak pernah memikirkan Nathan terlalu dalam. Ada yang bilang, jika seseorang masuk kedalam mimpi, berarti saat ini kita sedang memikirkan orang tersebut.
Lilis tertegun sesaat, lalu dia membalikkan bantalnya agar mimpi itu tidak terulang lagi. Dia meraih botol minuman yang ada di atas meja lalu minum beberapa teguk. Lilis menghela nafas, lalu kembali melanjutkan tidurnya. Namun, matanya tidak bisa lagi terpejam.
Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, wajah dingin Nathan muncul. Nathan benar-benar membuat rencananya hancur berantakan. Bagaimana tidak, sejak pindah ke kota B, Lilis sudah memutuskan untuk fokus pada Naina dan usahanya. Namun semenjak kehadiran Nathan dalam hidupnya, semua berubah.
Setiap kali Nathan datang membantunya di warung, hati Lilis bergetar. Jantungnya berdetak tak beraturan, meski Lilis bisa menyembunyikan semua itu. Tetapi perasaan itu sangat menyiksanya.
Menyiksa dalam artian karena tidak bisa mengungkapkan perasaan. Lilis tidak mengira jika dirinya akan begitu cepat melupakan Desta. Lebih tidak mengira lagi, dia akan begitu mudah jatuh cinta lagi pada Nathan.
Lilis hanya bisa menyalahkan hatinya, yang mudah tersentuh oleh kebaikan seseorang. Tetapi, bukankah cinta itu berbeda? Mencintai dan mengagumi adalah dua hal yang berbeda. Jika mengagumi belum tentu mencintai, tetapi jika mencintai, sudah pasti mengagumi.
Lilis ingin mencoba mengetahui perasaannya pada Nathan. Cinta, atau hanya sekedar mengagumi saja.
Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi. Lilis segera bangun dari ranjang empuknya untuk berangkat ke warungnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sebelum pergi, Lilis membangunkan ibunya untuk sholat malam.
Lilis lebih bisa menjalankan sholat malam sejak membuka warung makan. Walaupun terkadang ada rasa malas yang hinggap dihatinya. Setelah ibunya tinggal bersamanya, Lilis memiliki semangat bekerja dan semangat beribadah, yang insyaallah bisa berjalan berdampingan.
Sampai di warung, Lilis segera memulai aktifitasnya memasak. Dari membuat sayur sampai membuat lauk dan memasak nasi. Saat mendengar adzan subuh, Lilis mengecilkan kompornya lalu menjalankan sholat subuh di warung yang diberinya tempat untuk istirahat dan sholat.
Begitulah setiap harinya aktivitas Lilis yang harus dilakukan. Kadang ada rasa bosan yang menyusup dihatinya, yang membuatnya malas bekerja. Namun, balik lagi. Naina, semua demi masa depan Naina. Lilis tidak ingin Naina merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu. Kelaparan dan bekerja keras sejak kecil. Lilis ingin melihat Naina hidup normal seperti anak-anak yang lain. Bermain dan tertawa tanpa beban.
Mbak Surti datang tepat setelah sholat subuh dan membantu pekerjaan Lilis. Sekitar jam 6 pagi, para pelanggan mulai berdatangan untuk membeli sarapan.
Karena ini hari Minggu, Lilis tutup lebih awal. Mbak Surti sudah pulang duluan setelah membantu membereskan barang dagangan dan mencuci semua perabotan. Lilis merapikan beberapa piring dan mangkuk ditempatnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Mas Nathan. Kok datang, ada apa?"
"Cuma pingin bantu kamu beres-beres saja. Kamu kan mau pergi berlibur sama Naina."
Natha segera membantu Lilis merapikan piring dan mangkuk di samping Lilis. Lilis hanya tersenyum menanggapi jawaban Nathan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Jawab Lilis dan Nathan hampir bersamaan. Galah datang dan sempat terkejut melihat Nathan juga ada di warung Lilis. Lilis mendekati Galah sambil membersihkan tangannya dengan kain lap.
"Ada apa, mas Galah kemari?"
"Aku ingin bicara sebentar. Apa aku mengganggu?"
"Tidak. Mari duduk, mas."
__ADS_1
Lilis mempersilakan Galah duduk disalah satu kursi pelanggan. Sementara Nathan mendadak kesal karena ternyata dia memiliki saingan. Saingan yang cukup berat, karena Galah terlihat tampan dan berwibawa serta berkelas. Pasti dia termasuk orang kaya.
"Aku dengar, kamu sudah resmi bercerai. Jadi kali ini aku ingin membicarakan lagi, tentang lamaran aku dulu."
"Lamaran?"
Lilis pura-pura tidak ingat. Karena pada dasarnya dia memang lupa kalau Galah masih mengejarnya.
"Kalau Mbak Lilis lupa. Hari ini, saya akan melamar Mbak Lilis lagi untuk kedua kalinya. Saya ingin menikahi Mbak Lilis, apakah Mbak Lilis bersedia menikah dengan saya?"
"Uhuk-uhuuk..."
Suara batuk Nathan terdengar cukup keras, saat mendengar Galah melamar Lilis untuk dijadikan istri. Nathan berusaha menahan rasa kesalnya karena dia kalah start. Harusnya dia bertindak duluan sebelum orang lain mendapatkan Lilis.
Terdengar suara piring beradu pelan, tetapi suaranya cukup mengganggu pendengaran Lilis dan Galah.
"Mbak Lilis, bagaimana?"
Lilis tertegun sesaat, namun dia memang harus memberi jawaban yang tegas dan tepat supaya tidak membuat Galah sakit hati.
"Begini, mas Galah. Memang saya sudah mendapat surat cerai, tetapi saat ini saya belum memikirkan untuk cepat menikah lagi. Saya ingin mengobati luka hati saya dulu. Dan entah sampai kapan, saya baru akan memikirkan untuk menikah lagi."
"Bukan karena dia?"
"Mana mungkin dia. Dia adalah teman, sama seperti saya dan mas Galah."
"Teman, mana ada lelaki dan wanita dewasa ada hubungan teman. Seorang laki-laki tidak akan mau meluangkan waktu dan tenaga hanya untuk teman. Dia pasti memiliki niat lain yang dia sembunyikan. Aku juga seorang laki-laki. Aku tahu dan faham betul apa yang dia lakukan, sama denganku. Ingin mengejarmu."
"Itu tidak mungkin. Kalau mas Galah ingin bukti, saya akan menanyakannya langsung padanya di hadapanmu."
Galah terdiam dan hanya melihat Lilis dengan pandangan tidak percaya. Lilis bergegas berdiri dan langsung mendekati Nathan yang masih merapikan piring.
"Mas Nathan, apakah mas Nathan menyukaiku?" tanya Lilis to the point.
Nathan gelagapan mendengar pertanyaan Lilis yang sama sekali tidak pernah dia duga akan sejelas itu.
Lilis, apa yang coba ingin kau ketahui tentang perasaanku?
"Mas Nathan, aku menunggu jawabanmu?"
"Mana mungkin aku menyukaimu. Bukankah kita teman?"
Maafkan aku Lis, aku takut berterus-terang padamu. Jika kamu tahu aku mencintaimu, kamu pasti akan mengusirku. batin Nathan.
Mendengar jawaban Nathan, hati Lilis agak kecewa. Entah apa yang membuat Lilis tiba-tiba sedih, apakah karena bukan jawaban itu yang Lilis harapkan?
__ADS_1
"Syukurlah, jika mas Nathan tidak menyukaiku. Aku bisa bernafas lega."
Lilis melangkah menuju tempat Galah duduk. Nathan menampar mulutnya sendiri, karena telah melewatkan saat yang penting. Jika tadi dia menjawab ya, pasti hasilnya akan berbeda. Mungkin saja Lilis akan menerimanya. Tetapi semua menjadi kacau karena salahnya sendiri.
"Mas Galah dengar sendiri kan, dia tidak menyukaiku. Jadi, apa yang mas Galah katakan tadi itu tidak benar."
Galah tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Dia bodoh sekali," gumam Galah sambil menatap Nathan. "Mungkin aku memang salah. Semoga suatu saat mbak Lilis bisa menemukan pasangan yang tepat. Saya menerima keputusan Mbak Lilis."
"Aamiin. Terimakasih, Mas Galah. Semoga Mas Galah juga menemukan wanita yang baik, yang bisa membuat Mas Galah bahagia."
"Aamiin. Terimakasih juga atas doanya. Mulai sekarang, saya tidak akan mengganggu hidup Mbak Lilis lagi. Saya permisi pulang dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Wa'alaikum salam," jawab Nathan pelan.
Meski Nathan kecewa pada dirinya saat ini, hatinya masih bisa bergembira karena Lilis telah menolak Galah.
Lelaki seperti Galah saja dia tolak, apalagi lelaki sepertiku, yang hanya seorang sopir? Apa aku harus menunjukan siapa aku sebenarnya, agar Lilis menerimaku? Apakah dia wanita yang mementingkan harta dan penampilan? Tetapi dia tidak begitu. Atau malah setelah tahu siapa aku, dia malah menjauhiku?
"Mas Nathan, kamu salah meletakkan piringnya Mas. Harusnya disebelah sana."
Ucapan Lilis mengagetkannya. Nathan tersenyum malu.
"Maaf, Lis. Aku melamun."
"Hmm. Melamunkan pacar ya? Sudah sana pulang, samperin. Biar tidak melamun terus."
"Lis, izinkan aku mengantar kalian pergi ke taman siang ini," ucap Nathan penuh harap.
"Nggak, aku takut nanti saat nyetir kamu melamunkan pacarmu. Bisa kecelakaan nanti."
"Aku janji, aku nggak akan melamun."
"Baiklah, mengingat kamu tidak menyukaiku. Aku jadi bebas membuatmu menjadi supirku untuk sementara."
"Aku terima."
Mereka tertawa bersama penuh misteri. Setelah semua beres, Lilis dan Nathan pergi meninggalkan warung menuju rumah Lilis.
Nathan memulai pendekatan untuk memikat Naina. Baginya, saat ini, Naina lah satu-satunya harapannya mendapat kepercayaan Lilis.
Bersambung
__ADS_1