
Kedatangan Nathan ke rumah Lilis di kampung, menjadi kabar gembira bagi semua orang. Termasuk Wendi dan Sri. Usaha mereka untuk membantu menyatukan Lilis dan Nathan akhirnya membuahkan hasil. Karena diantara mereka masih ada cinta yang harus diperjuangkan, demi kebahagiaan anak-anaknya dan juga demi kebahagiaan mereka sendiri.
Hari itu, hari pertama Nathan berada di kampung. Dia berjalan keluar rumah dan berdiri di depan rumah sambil melihat orang-orang yang sudah berlalu lalang untuk memulai kesibukan. Beberapa orang yang lewat sempat menyapanya dengan ramah, karena mungkin mereka penasaran ada sosok pria di rumah Lilis.
"Kamu siapanya Lilis?" tanya seorang ibu-ibu yang hendak ke kebun.
"Saya suaminya," jawab Nathan sambil tersenyum.
"Suami barunya? Ternyata lebih ganteng dari suami pertamanya. Selamat datang di kampung Lilis. Ibu pergi ke kebun dulu."
"Terima kasih, Bu.
Ibu-ibu itu bergegas pergi, sementara Nathan tersenyum senang. Ibu itu bilang, dia lebih ganteng dari Desta. Berasa terbang ke awan merasa lebih baik dari mantannya Lilis.
"Hai, pagi-udah senyum-senyum sendiri, sadar oe," kata Wendi sambil menepuk bahu Nathan.
"Apaan, bikin kaget saja," kata Nathan kaget.
"Gimana rasanya ada di kampung. Senang, sedih atau terharu," tanya Wendi kemudian.
"Baru datang sudah nanya macam-macam. Mau masuk dulu?" tanya Nathan sambil tersenyum.
"Sekarang, sudah jadi tuan rumah di sini. Hmm, padahal dulu, aku nggak perlu disuruh masuk udah aku jelajahi aja seluruh rumah ini," kata Wendi.
"Apa, jelajahi seluruh rumah ini? Termasuk kamar Lilis?" tanya Nathan menahan kesal.
"Bicara apa kau. Cemburu, mau marah? Tenang, kecuali kamar Lilis. Tapi aku pernah masuk juga, sih," kata Wendi sengaja membuat Nathan diserang rasa cemburu.
"Aku tidak akan marah, karena saat itu aku belum suaminya. Aku tidak akan terpengaruh dengan masa lalu kalian berdua. Bahkan masa lalu Lilis dengan mantannya," kata Nathan menahan hatinya agar tidak marah.
"Yang benar, bagus kalau kamu tidak terpengaruh dengan hubungan masa lalu istrimu. Duduk di teras saja, sambil lihat orang-orang lewat."
Wendi dan Nathan berjalan menuju kursi di teras rumah. Tidak berapa lama, Lilis keluar sambil membawa secangkir kopi untuk Nathan.
"Loh, ada Wendi. Maaf ya, aku cuma buat satu," kata Lilis saat melihat Wendi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Lis. Santai saja, nanti aku buat sendiri, jika aku ingin minum kopi," kata Wendi.
"Untuk apa membuat sendiri? Sayang, kasih kopinya ke dia saja, daripada dia acak-acak dapur kamu," kata Nathan.
"Alah, bilang saja kamu cemburu," goda Wendi.
"Wendi, jangan goda dia terus. Sebentar aku buatkan secangkir kopi lagi, sekalian ambil pisang goreng," kata Lilis sambil tersenyum.
"Sayang, kamu pasti capek. Tidak usah repot-repot ladeni dia," kata Nathan lembut.
"Iya, mas. Aku masuk dulu," kata Lilis yang kemudian melangkah pelan masuk ke dalam rumah.
Setelah Lilis masuk, Nathan menyodorkan kopinya pada Wendi. Wendi hanya tersenyum melihat sikap Nathan. Akan tetapi, tidak berapa lama, Lilis sudah kembali dengan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng crispy.
"Ayo dicicipi, cemilan yang baru saja aku buat ini. Wen, Mas, aku harus masuk dulu, Wahyu lagi rewel," kata Lilis sambil tersenyum.
"Siap, Lis. Pasti nanti aku habiskan," kata Wendi.
"Sudah, masuk sana," kata Nathan kepada Lilis dengan nada cemburu.
Lilis segera masuk setelah melihat ada tanda-tanda kecemburuan di mata suaminya.
"Berlebihan, maksud kamu?"
"Anak kecil saja tahu, kalau kamu itu sedang cemburu. Bukankah kalian ini, harus ada rasa saling percaya? Lilis tipe wanita yang setia pada pasangannya. Jadi jangan pernah ragukan kesetiaannya," kata Wendi.
"Aku tidak meragukan kesetiaan istriku. Akan tetapi aku yang tidak percaya diri karena kamu," ucap Nathan mengagetkan Wendi.
"Apa, karena aku?" tanya Wendi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Kamu selalu ada disaat Lilis dalam kesulitan. Kamu selalu menjadi orang yang dapat memberi semangat dirinya dikala putus asa. Kamu juga yang membantu kami bisa bersama lagi sekarang. Terimakasih Wendi."
"Nathan, Jangan buat aku jadi terharu dan ingin menangis. Aku hanya mengatakan, anak dan istrimu akan pergi. Ternyata cintamu sangat besar pada Lilis. Jika tidak, kamu tidak akan jauh-jauh mengejar istrimu sampai ke sini," kata Wendi sambil menghela nafas.
"Kamu benar, Wendi. Aku memang sangat mencintai Lilis. Bahkan meski dia sedang marah dan kesal padaku. Aku ingin mengutamakan dirinya diatas apapun di dunia ini," kata Nathan sambil mengingat ketika Lilis mengusirnya.
__ADS_1
"Karena itulah, Kakekmu merasa kamu berubah. Tidak lagi mengutamakan kepentingan keluarga Sugara terutama keinginan Kakekmu untuk tetap fokus pada bisnis keluargamu," kata Wendi.
"Mungkin apa yang kamu katakan itu benar. Seharusnya, Kakek mengerti posisiku sebagai kepala keluarga. Aku sudah memiliki sebuah keluarga kecil yang harus aku utamakan kepentingannya diatas yang lain," kata Nathan.
"Menurutmu, apakah Lilis akan mau kembali ke kota B, setelah apa yang dilakukan oleh kakekmu?"
"Entahlah. Untuk saat ini, aku tidak ingin membicarakan masalah itu dengannya dulu. Aku takut dia akan sedih dan kebahagiaan yang baru saja kembali akan hilang lagi," jawab Nathan.
"Seandainya dia ingin tinggal dikampung ini, apa yang akan kamu lakukan? Karena aku tahu, Lilis saat ini sedang trauma tinggal di kota B karena ulah Kakekmu," tanya Wendi tepat sasaran
Nathan terdiam mendengar pertanyaan Wendi. Karena saat ini, Lilis memang terlihat sangat bahagia tinggal di kampung. Kampung yang penuh dengan orang-orang yang mencintai dia dan peduli padanya.
"Aku, aku akan mengikuti dia. Apapun keinginannya, asalkan bukan ingin berpisah, aku akan setuju dan mendukungnya. Termasuk jika dia ingin tinggal di kampung ini, di rumah ini," jawab Nathan.
Nathan tidak menyadari bahwa Lilis sudah berdiri di pintu dan mendengarkan apa yang ditanyakan Wendi pada Nathan. Termasuk mendengarkan jawaban-jawaban Nathan yang membuat Lilis terharu.
"Lalu, disini kamu mau bekerja apa? Di kampung ini, hanya ada pekerjaan kasar. Bekerja di ladang, di kebun dan buruh tani."
"Apa saja, yang penting halal dan menghasilkan uang untuk makan anak dan istriku. Kalau aku tidak bekerja, mereka mau makan apa? Aku tidak ingin disebut suami tidak berguna. Aku ingin bertanggungjawab atas hidup anak dan istriku," jawab Nathan.
Mendengar jawaban Nathan, Lilis meneteskan air mata dan dia tidak dapat membendung tangisnya yang mulai terdengar oleh Nathan dan Wendi
"Lilis," panggil Nathan pelan sambil berdiri.
Lilis berlari kearah Nathan dan memeluk suaminya dengan erat sambil menangis sesenggukan.
Wendi melihat adegan suami istri itu dengan perasaan canggung. Dia sudah berusaha membuat Nathan jujur dan membuat Lilis melihat bahwa suaminya bisa di andalkan. Wendi lalu melangkah pergi tanpa pamit pada mereka berdua.
"Wendi, mau kemana?" tanya Nathan.
"Mau pulang. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk. Aku mau mencari orang yang bisa aku peluk juga," jawab Wendi sambil tersenyum.
Nathan dan Lilis tertawa kecil mendengar perkataan Wendi.
Bersambung
__ADS_1
Mampir yuk ke karya temen aku