
Lilis ingin sekali menangkap basah Nathan dengan kartu hitamnya. Akan terapi, dia mengurungkan niatnya karena yakin bahwa Nathan pasti memiliki alasan tersendiri menyembunyikan semua itu.
Dia menunggu Nathan, di depan mall sambil bermain ponsel. Tidak berapa lama, Nathan datang sambil membawa barang belanjaan. Nathan kaget melihat Lilis tidak menunggunya di mobil malah menunggunya di luar Mall.
"Lis, tadi aku suruh kamu tunggu di mobil. Kok malah ada di sini?"
"Lilis lupa, Lilis tidak bisa membuka pintu mobil. Tadinya mau panggil Mas Nathan, tapi ya udah lah aku tunggu di sini aja. Mas Nathan marah?"
"Aku nggak marah, hanya aku kasihan padamu, lebih baik duduk di dalam mobil sambil santai."
"Enggak apa-apa kok, Lilis duduk di sini juga sudah nyaman," kata Lilis.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita segera berangkat menuju ke rumah Kakek."
Nathan dan Lilis segera masuk kedalam mobil. Nathan segera menghidupkan mesin mobil dan segera berangkat menuju ke rumah Kakek. Selama perjalanan, Lilis dan Nathan diam seribu bahasa. Nathan sedang mempersiapkan diri untuk jujur pada Lilis. Sedangkan Lilis ingin bertanya tentang kartu hitam yang dimiliki Nathan.
Sampailah mereka disebuah rumah yang sangat besar dan mewah. Lilis hampir tidak percaya ada rumah sebesar itu dan seluas itu. Lilis melirik kearah Nathan yang terdiam setelah menghentikan mobilnya.
Mungkin kakeknya juga bekerja di rumah yang sama dengan Nathan, batin Lilis.
"Lis, sebelum masuk, aku ingin jujur padamu," ucap Nathan sambil menghela nafas.
"Jujur apa Mas. Kamu bikin aku takut saja," kata Lilis agak cemas.
"Sebenarnya, aku bukan seorang sopir pribadi. Aku pemilik restoran dan pemilik rumah ini. Aku orang yang pernah ingin menjadikanmu seorang koki di restoran ku," kata Nathan gugup.
Lilis sangat kaget dengan ucapan Nathan. Bukan karena dia mengatakan pemilik restoran dan pemilik rumah ini. Akan tetapi, dia adalah orang yang menginginkan dia menjadi koki 4 bulan yang lalu.
"Apa pak Seno itu bawahan kamu?" tanya Lilis dengan tatapan mendikte.
"Benar. Aku yang memintanya membujuk kamu untuk bersedia menjadi koki di tempatku. Awalnya, aku mendekatimu untuk membuatmu setuju bekerja di tempatku. Namun pada akhirnya, aku malah jatuh cinta cinta padamu," jawab Nathan yang membuat Lilis terdiam.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena baru sekarang aku bisa jujur padamu. Aku ..."
"Mas, meskipun aku ingin marah dan memukulmu, tetapi aku menghargai kejujuranmu. Karena lebih baik tahu sekarang sebelum kita menikah daripada tahu setelah menikah. Sekarang, masih ada waktu untukku berpikir kembali tentang keputusanku untuk menikah denganmu," ucap Lilis kemudian.
"Apa, kenapa harus dipikirkan lagi?" tanya Nathan cemas.
"Karena aku tidak yakin, bisa masuk dan mengikuti cara hidupmu sebagai seorang bos kaya. Ketika aku melihat kartu hitam milikmu, aku memang sedikit curiga. Tetapi aku tidak menyangka, kamu benar-benar memilikinya."
"Lis, cobalah untuk sedikit saja berusaha. Apa bedanya, aku seorang sopir atau aku yang seorang pemilik restoran. Kita sama-sama manusia yang butuh cinta," Nathan berusaha membujuk Lilis.
"Baiklah, karena sudah sampai ditahap ini, aku akan berusaha. Tetapi jika aku tidak sanggup dan aku menyerah, jangan pernah salahkan aku," Lilis menjelaskan perasaanya saat ini.
"Baik. Ayo kita masuk."
Nathan membantu Lilis membuka pintu mobil. Tidak ada lagi beban dihatinya, dan semua akan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Namun, matanya tertuju pada sebuah mobil yang juga terparkir didepan rumahnya. Sepertinya Nathan mengenal pemilik mobil itu.
Entah kenapa, perasaan Nathan menjadi tidak enak. Semoga itu hanya perasaan Nathan saja. Nathan mempersilahkan Lilis masuk kedalam rumah. Akan tetapi baik Nathan maupun Lilis, sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Rumah ini tampak cukup ramai. Ditambah hidangan yang sudah tersedia sebelah sana. Lilis tidak menyangka akan ada penyambutan seperti ini. Akan tetapi, matanya tak lepas dari seorang gadis cantik yang segera mendekati Nathan dan memeluknya.
"Lepaskan, Santy. Jangan seperti ini," kata Nathan sambil melepaskan pelukan Santy.
"Kenapa malu, Mas. Sebentar lagi kita kan bertunangan. Santai sajalah," ucap Santy sambil tersenyum manja.
"Tunangan. Jangan gila kamu Santy," jawab Nathan sambil melihat Lilis.
Tatapan mata Nathan seolah memberitahu agar Lilis tidak percaya dengan perkataan Santy. Lilis hanya terdiam dan mengamati peristiwa yang terjadi.
"Cucuku, cucu kesayangan Kakek. Kamu sudah datang? Kami sudah lama menunggumu. Kamu bawa teman juga? Bagus, sekalian dia bisa menjadi saksi peristiwa hari ini," Sambut Kakek Edward.
"Kakek, perkenalkan, ini Lilis yang kemarin sudah aku ceritakan pada Kakek," Nathan memperkenalkan Lilis pada Kakeknya.
__ADS_1
"Hmm, aku Kakeknya Nathan," kata Kakek Edward sambil menyalami Lilis.
"Lilis, Kakek," ucap Lilis gugup.
"Kakek, kami datang untuk..." ucap Nathan yang segera dipotong oleh Kakek Edward.
"Nathan, mari bergabung dengan keluarga Morgan," ajak Kakek.
"Ayo, Lis. Ikuti saja aku," ajak Nathan.
"Mas Nathan, jangan tinggalkan Santy," teriak Santy manja.
Lilis hanya bisa mengikuti ajakan Nathan walau didalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal. Melihat Santy yang begitu akrab dengan Nathan, membuatnya mundur selangkah dalam perasaan.
Mereka menuju ke sebuah ruangan yang penuh dengan makanan enak. Telah duduk disana seorang pria dan wanita yang ternyata adalah orangtua Santy. Perasaan Lilis mulai tidak enak dan curiga dengan keberadaan mereka.
"Silahkan duduk semuanya dan silahkan dicicipi masakan keluarga Sugara," ucap Kakek Edward sambil tersenyum.
Lilis duduk di samping Nathan begitu juga dengan Santy, dia duduk di sisi Nathan yang lain. Tampak kedua orangtua Santy tersenyum melihat Nathan dan Santy.
Hati Lilis semakin tidak karuan. Ingin rasanya dia lari dari tempat ini. Tempat ini memang tidak cocok untuk dia. Acara yang begitu formal dan penuh etika. Sangat berbeda dengan keseharian Lilis yang penuh dengan berbagai hal yang serba bebas yang lebih kepada sikap kampungan.
Lilis merasa tidak bisa menyatu dan masuk dalam keluarga Nathan ditambah dengan status dirinya yang tidak istimewa. Disisi lain, telah berdiri seorang gadis yang lebih pantas bersanding dengan Nathan dengan statusnya sebagai seorang pria berkelas.
Kehidupan orang kaya, sangat berbeda dengannya yang hanya seorang wanita desa yang sedang berjuang untuk sekedar bisa menyambung hidup.
"Sambil makan, hari ini Kakek kedatangan tamu istimewa yang sangat lama Kakek harapkan bisa menjadi bagian dari keluarga kami. Seorang wanita yang sangat cocok dengan cucuku, Nathan," ucap Kakek dengan perasaan senang.
Lilis tersenyum dalam hati, merasa tersanjung mendengar ucapan sang Kakek yang seolah menerima dirinya apa adanya. Untuk sementara, rasa lega menjalar ke dalam hati Lilis.
"Selamat datang, Santy Sidane. Calon mantu Kakek," ucap Kakek dengan nada seperti disengaja hendak menjatuhkan metal Lilis.
__ADS_1
Lilis tersedak mendengar perkataan Kakek. Lilis tidak menyangka, bahwa dirinya akan terjatuh setelah merasa terbang tinggi. Nathan segera memberinya minum sambil menepuk-nepuk punggung Lilis pelan.
"Kakek, apa yang Kakek katakan?" tanya Nathan kecewa dengan ucapan Kakeknya.