
Lilis tidak ingin menjadi penyebab retaknya hubungan antara Nathan Kakeknya. Apalagi, Guntur sudah beberapa kali menghubunginya untuk membujuk Nathan agar bersedia kembali ke kota.
Sebagai seorang istri, Lilis ingin berperan sebagai orang yang bisa menyatukan hubungan yang sudah retak diantara suami dan keluarganya meskipun Lilis harus mengorbankan perasaan traumanya. Lilis dituntut untuk bisa menyembuhkan luka hatinya demi melihat Nathan bisa kembali berdamai dengan Kakeknya.
Keputusan yang pernah Lilis pilih untuk tetap tinggal di kampung, pada akhir dia harus mengubur keinginannya. Jika ini yang kuat untuk berkata dimana ada istri dan anakku, maka disitulah aku akan tinggal.
Kini Lilis juga ingin bertekad yang sama dimana ada suaminya, disitulah Lilis dan anak-anak akan tinggal.
Suatu hari, Lilis mencoba berbicara dengan suaminya. Saat mereka hendak beristirahat, Lilis berbaring sambil bermanja di samping suaminya.
"Mas, kenapa aku jadi kangen kota?" kata Lilis pelan.
"Kamu pingin ke kota?" tanya Nathan kaget.
"Aku kangen pingin masak di rumah makan milikku, Mas. Apa yang di lakukan Mbak Surti sekarang ya?" kata Lilis memancing reaksi Nathan.
"Kamu kangen warung, apa kangen Mbak Surti?"
"Dua-duanya kali Mas." Lilis diam sesaat. "Mas, bagaimana kalau kita kembali ke sana?" tanya Lilis sambil mendongak ke wajah suaminya.
"Kenapa? Bukanya kamu benci tinggal dikota?"
"Disini, aku juga takut. Sejak hilangnya Wahyu, aku aku jadi sadar. Dimana pun tempat kita tinggal, tidak menutup kemungkinan ada kejadian yang menyedihkan. Tidak dikota ataupun di desa, jika sudah takdir pasti akan terjadi," kata Lilis.
"Ternyata istriku bertambah dewasa. Harusnya dewasa, orang mau punya anak lagi. Istriku sayang, aku pernah merasakan sakit dan pedihnya ketika berpisah denganmu. Meski aku bisa hidup, tetapi aku merasa hidup ini kosong tanpa kalian. Sekarang kemanapun kamu ingin tinggal, asalkan kita bisa terus bersama-sama, aku akan ikut denganmu. Mungkin bagi orang lain aku akan dibilang suami takut istri. Tetapi aku tidak peduli, karena aku hanya ingin hidup bersama anak dan istriku dengan damai," kata Nathan memeluk Lilis.
"Mas ...."
"Ada satu hal yang ingin aku katakan. Beberapa hari yang lalu, Guntur menghubungiku. Dia bilang Kakek sedang sakit. Tapi, aku tidak percaya itu. Kakek terlalu sering Berbohong, jadi tidak ada alasan lagi aku akan percaya padanya," kata Nathan.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika semua itu benar? Jika terjadi sesuatu pada Kakek, kamu pasti akan menyesal seumur hidup. Meskipun Kakek pernah berbuat jahat padaku, akan tetapi aku juga tidak tega jika Kakek kenapa-napa," kata Lilis.
"Kenapa Kakek tidak bisa melihatmu dengan segala kebaikan yang kamu miliki?" kata Nathan sedih.
"Aku ini hanya orang miskin. Aku tidak memiliki apapun yang bisa aku banggakan. Aku hanya punya cinta dan kesetiaan. Tapi Kakekmu menginginkan wanita yang sempurna untuk mendampingimu, yang bisa dia banggakan didepan relasinya. Aku sama sekali tidak bisa memaksa masuk menjadi kandidat menantu pilihannya," kata Lilis sambil menahan airmata yang tiba-tiba menetes.
"Sayang, yang kamu nikahi itu aku, bukan Kakek. Aku akan tetap pada pilihanku dan aku janji padamu. Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu. Jangan pernah lagi korbankan kebahagiaan kita. Cukup sekali kita berpisah," kata Nathan sambil menarik nafas panjang.
Lilis tersenyum dalam tangisnya mendengar ucapan suaminya. Lilis mencoba untuk bisa berkompromi dengan trauma yang pernah dialaminya karena ancaman Kakek. Kedepannya, Lilis harus lebih berani agar tidak dianggap lemah.
***
Dua hari kemudian, Lilis sekeluarga berangkat kembali ke kota B. Sehari sebelumnya, mereka berpamitan pada para saudara dan tetangga dekat di sekitarnya. Mereka berangkat menuju bandara dan menempuh perjalanan jauh dan sampaikan mereka di kota B. Kota yang penuh kenangan, baik kenangan baik maupun kenangan buruk.
Di bandara mereka disambut oleh Seno yang segera membawa mereka kembali ke rumah Lilis. Lilis akhirnya kembali kerumah ini dengan membawa calon penghuni baru. Yaitu bayi yang ada dalam kandungan Lilis saat ini.
Nathan membuka pintu dan segera mempersilahkan semua untuk istirahat terlebih dulu. Nathan segera menghubungi Mbak Surti untuk mengantarkan makanan ke rumah karena mereka tidak akan sempat untuk memasak.
Nathan dan Lilis berjanji akan menemui Kakek di ruang sakit nanti malam, karena saat ini mereka masih kecapekan setelah perjalanan jauh.
Malamnya, mereka menemui Kakek yang sedang dirawat. Dengan penuh penyesalan. Kakek meminta maaf pada Lilis atas perbuatannya dulu pada Lilis.
"Lilis, Kakek minta maaf. Kakek sudah sangat jahat padamu," ucap Kakek pelan.
"Ya, Kek. Lilis, maafkan. Kakek cepatlah sembuh, ya?" jawab Lilis.
"Terima kasih, Lilis. Kamu sudah mau memaafkan Kakek. Mana suamimu?"
"Kakek, Nathan ada disini," kata Nathan sambil memegang tangan Kakek.
__ADS_1
"Maafkan Kakek," kata Kakek dengan suara lemah.
"Sudahlah, Kek. Istirahatlah, Kakek jangan terlalu banyak bicara dulu. Setelah Kakek sembuh, kita bisa ngobrol banyak seperti dulu," kata Nathan.
"Mas, biar Kakek istirahat. Kita sebaiknya pulang saja dulu. Tapi kalau Mas Nathan mau tidur disini, Aku biar pulang naik taksi saja," kata Lilis.
"Tidak, besok saja aku kembali lagi. Kamu juga harus banyak istirahat, tidak baik udara malam untuk kesehatanmu," ucap Nathan sambil melihat Lilis.
"Baiklah, kita pulang. Pamit dulu sama Kakek."
Nathan dan Lilis berpamitan pada Kakek Nathan. Mereka juga pamit pada Guntur dan setelah itu mereka segera pulang.
Melihat kondisi Kakek yang lemah, membuat Lilis merasa kasihan. Beliau sudah berumur, tetapi tidak tampak ada rasa bahagia dari matanya. Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan yang membuatnya selalu tampak sedih?
Lilis dan Nathan menikmati suasana malam kota B. Suasana tampak meriah di sepanjang jalan kota. Lilis tersenyum dan menelan ludah saat melihat sebuah warung tenda yang sedang menjual ketoprak.
"Mas, Lilis mau makan itu," kata Lilis sambil menunjuk warung tenda dipinggir jalan.
"Mau makan?" tanya Nathan.
"Iya."
"Baiklah, kita berhenti sebentar untuk membeli ketoprak."
Nathan menghentikan mobilnya dan segera turun untuk membelikan ketoprak untuk Lilis. Lilis tersenyum senang ketika Nathan telah kembali dengan membawa dua bungkus ketoprak.
Tapi, Lilis ingin makan di mobil. Awalnya Nathan pikir, Lilis ingin makan dirumah. Tapi dia mengiyakan saja keinginan sang istri.
Nathan dengan sabar membukakan satu bungkus ketoprak. Lilis terlihat sangat bersemangat dan segera menikmati satu potong saja. Setelah itu seleranya hilang. Lilis malah meminta Nathan untuk menghabiskan ketoprak yang tadi sudah terlanjur di cicipi Lilis. Mau tidak mau, Nathan memang harus mau karena ini keinginan Lilis.
__ADS_1
yuk Mampir ke karya temen aku di bawah ini