Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 50. Beruntung memilikimu


__ADS_3

Beberapa hari berpikir, keputusan Nathan untuk tidak memberitahu Lilis tentang kegelisahan yang sedang dia hadapi, membuat hatinya semakin kacau. Jika sampai Lilis tahu dari orang lain, akan membuat Lilis marah.


Apalagi si Desta itu, jika dia memiliki rencana jahat dan berusaha merusak rumahtangganya dengan alasan tidak ada rasa saling percaya, semua akan menjadi kacau.


Sebelum semua itu terjadi, lebih baik Nathan bersikap jujur pada Lilis sekarang. Toh juga bukan hal yang menakutkan. Nathan berusaha mencari kesempatan untuk mengatakan semuanya saat mereka akan tidur nanti.


Nathan yang baru saja selesai mandi, keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Lilis tersenyum mengagumi sosok sempurna sang suami. Badan tinggi dan tubuh yang ideal, wajah tampan dengan dada yang bidang.


Lilis terdiam ketika sang suami mendekatinya. Nathan pasti menyadari jika Lilis terus memperhatikannya sejak keluar dari kamar mandi.


"Sudah puas melihatnya atau belum?" tanya Nathan sambil duduk di pinggiran ranjang.


"Apa sih mas. Kan ada pemandangan gratis, halal lagi," jawab Lilis malu.


"Iya, sih. Halal. Mau lihat yang lain? Halal kok, semuanya," goda Nathan.


"Sudah, sana ganti baju."


"Tunggu. Sini tanganmu sebentar. Aku tidak mau anak kita nanti ngiler karena tidak kesampaian keinginannya ketika didalam kandungan ibunya."


Lilis bingung apa sebenarnya maksud suaminya. Lilis hanya menatap suaminya penuh tanda tanya dan membiarkan suaminya memegang tangannya.


Ngidam kan maksudnya? batin Lilis.


Lilis tersentak saat tahu apa yang dilakukan suaminya. Nathan membimbing tangan Lilis, meraba bagian dadanya yang bidang dan turun ke perutnya yang rata. Lebih terkejut lagi, saat tangannya semakin turun hingga menyentuh handuk yang dipakai suaminya.

__ADS_1


Lilis langsung menarik tangannya dengan cepat yang malah membuat handuk yang di pakai Nathan terlepas. Untung Nathan dalam kondisi duduk.


"Mas, aku nggak lihat," kata Lilis sambil menutup mata.


"Lihat apa? Katanya tadi halal. Ayo lihat, tidak apa-apa," kata Nathan sambil menarik tangan Lilis yang menutupi wajahnya.


"Nggak mas. Nggak mau."


Akan tetapi tangan Nathan begitu kuat. Lilis akhirnya pasrah dan diapun membuka matanya pelan-pelan. Lilis melihat suaminya tersenyum lebar sambil memberi kode untuk melihat apa yang Lilis takutkan. Lilis menenangkan diri, dan berusaha meyakinkan diri, jika semua hal tentang Nathan adalah halal.


Apapun itu, baik tubuh maupun dalam hatinya adalah miliknya. Sambil menghela nafas, Lilis melihat handuk suaminya yang dengan cepat dibuka oleh Nathan. Hampir saja Lilis berteriak, akan tetapi dia malah tertawa karena ternyata suaminya memakai celana pendek. Lilis memukul tubuh suaminya karena merasa dikerjai.


"Sudah, sana ganti baju," kata Lilis setelah tawanya berhenti.


Nathan berganti pakaian lalu merebahkan diri di samping Lilis. Kali ini Wajahnya tampak serius. Lilis ingin sekali menggodanya, tetapi disaat serius seperti sekarang ini, rasanya tidak pantas.


"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," kata Nathan sambil menata lengannya agar nyaman untuk tidur Lilis.


"Katakan saja Mas, mungkin itu bisa mengurangi beban pikiranmu," kata Lilis lembut.


"Ternyata ayahku memiliki anak dari wanita lain," kata Nathan dengan nada sedih. "Sekitar 3 minggu yang lalu, dia datang dan melakukan tes DNA dengan kakek. Kemaren, hasilnya sudah keluar dan dia memang anak ayah. Aku tahu aku tidak memiliki hak untuk kecewa pada ayah. Anak itu, ada sebelum aku. Aku malah merasa, seharusnya dialah yang menjadi cucu Kakek, bukan aku."


"Lilis tidak bisa memberi banyak komentar, karena Lilis tidak tahu cerita tentang ayah dan ibu mas Nathan. Tapi, semua toh sudah lama berlalu. Mas Nathan jangan merasa tidak pantas. Disini tidak ada yang tidak pantas. Kalian sama-sama cucu Kakek, itu fakta yang tidak dapat dibantah," kata Lilis sambil memeluk suaminya.


"Entahlah aku lelah dan capek. Aku hanya tidak ingin kamu merasa, aku tidak jujur padamu. Kesalahanku yang dulu, tidak akan aku ulang lagi. Apapun yang terjadi, baik susah atau senang aku tetap akan menjadi pria yang jujur dan bisa kamu andalkan," kata Nathan nyaman dalam pelukan Lilis.

__ADS_1


"Aku sangat takut, jika kamu tahu dari orang lain. Kamu pasti akan membenciku. Dan ada satu hal lagi yang membuat aku kesal. Dibelakang Guntur, ada Desta, mantan suami kamu. Aku takut dia akan melakukan sesuatu untuk menyakiti keluarga kita," kata Nathan lagi.


"Tidak akan. Asalkan kita saling percaya dan saling jujur, dia tidak akan bisa merusak hubungan pernikahan kita," kata Lilis berusaha menenangkan suaminya.


"Bagaimana dengan warung makanmu, apakah Mbak Surti bisa mengelolanya dengan baik?" tanya Nathan sambil melihat wajah Lilis.


"Mas, Nathan tenang saja, Mbak Surti sudah ahli di bidangnya. Kemarin aku datang hanya untuk melihat proses pembungkusan makanan yang akan dibagi-bagikan. Aku suruh tambah beberapa bungkus lagi, supaya lebih banyak orang yang tidak akan kelaparan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan," kata Lilis sambil menghela nafas.


"Kamu sangat baik, istriku. Aku sangat beruntung memilikimu. Kamu tidak hanya memikirkan keuntungan, tetapi juga mau berbagi," kata Nathan kembali dalam pelukan Lilis.


"Karena aku pernah dalam masa-masa yang sangat sulit. Tidak punya uang, tidak bisa membeli makanan, hanya minum air putih pernah aku alami bersama ibu. Saat itu aku tidak bisa bekerja karena dalam kondisi hamil dan tubuhku lemah. Itu sangat menyakitkan dan menyedihkan. Aku tidak ingin, ada Lilis-Lilis yang lain di sekitarku. Selama aku masih bisa membantu, aku akan membantu sebisanya," kata Lilis penuh kenangan.


"Semoga, apa yang kamu lakukan bisa meringankan beban orang lain. Tidak semua orang bisa sepertimu. Setelah bangkit dari keterpurukan, kamu tidak pernah menyombongkan diri," kata Nathan lembut.


"Apa yang harus disombongkan. Semua harta yang kita miliki, akan hilang dalam sekejap apabila Allah sudah menghendaki. Semakin kita memiliki uang yang banyak, maka akan semakin banyak pula ujian yang harus kita hadapi. Manusia tidak pernah merasa cukup jika menengok ke atas. Aku ingin melihat kebawah, agar aku selalu ingat, bahwa aku juga pernah di posisi itu. Dengan begitu, aku akan selalu bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki sekarang," kata Lilis sambil merenung.


"Kamu benar, sayang. Walaupun aku ingin agar kamu bisa melupakan apa yang terjadi padamu dimasa lalu. Akan tetapi, jika melihat masa lalu, bisa membuat kamu menjadi orang yang lebih baik, aku akan menerima saja. Apalagi ingat si Desta itu, pingin aku karungin saja dia," kata Nathan sambil memoncongkan mulutnya, persis seperti Naina kalau sedang kesal.


"Lalu, bagaimana dengan restoran yang di pegang wendi, apa berjalan baik?" tanya Lilis lagi.


"Namanya juga baru belajar. Untungnya, dia juga ikut tanam modal disitu, jadi aku tidak perlu keluar uang banyak."


"Semoga restoran 'Muney' bisa berjalan dengan baik. Mungkin suatu saat, restoran itu akan sangat berguna untuk kita dimasa depan."


"Tidurlah, malam sudah larut. Mari berdoa bersama."

__ADS_1


Mereka mengucap doa sebelum tidur secara bersama. Kebahagiaan yang selalu Lilis harapkan sejak dulu. Tidur bersama dengan suami, sambil mengucap doa sebelum tidur.


__ADS_2