
Hidup Lilis sudah berubah banyak sejak memiliki usaha sendiri. Dia mulai membeli rumah walaupun dengan cara kredit. Sebuah rumah di impian yang nyaman untuk anak dan ibunya.
Terakhir kali Lilis menghubungi ibunya, ibunya sangat khawatir jika Desta datang dan hendak mengambil Naina. Hal itu sangat membuat hati Lilis panik. Setelah berpikir panjang, Lilis memutuskan untuk membawa ibu dan Naina bersamanya ke kota B.
Selain itu, Lilis juga akan mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan agama. Keputusan yang memang harus segera diambil Lilis sebelum terlambat. Sebelum Desta lebih banyak lagi menyakiti dirinya. Tentu saja, Lilis harus segera meresmikan perceraiannya jika tidak ingin Desta kembali mengusiknya. Kali ini, Lilis ingin terbebas sepenuhnya dari sang mantan. Bukan untuk menikah lagi, namun untuk membuat hati sang ibu, lebih tenang.
Dengan keputusan yang Lilis ambil kali ini, akan menjadi awal baru kehidupan Lilis yang benar-benar membuatnya memiliki status resmi sebagai janda.
Hari ini, Lilis memutuskan pulang dengan membawa tabungan yang dia miliki walaupun tidak begitu banyak. Dia juga menutup warung untuk sementara, dan membuat pengumuman didepan warungnya, agar orang tahu kapan dia akan buka warungnya lagi.
Lilis mengepak pakaiannya kedalam sebuah koper besar. Dia yang dulunya datang dengan pakaian seadanya dan hanya beberapa biji, kini satu koper, penuh dengan pakaian gantinya. Apalagi dia juga membelikan Naina dan ibunya pakaian baru jadi koper besarnya penuh dengan sampai harus bawa tas lain lagi.
Maklum, ini pertama kalinya dia pulang kampung. Tentunya, juga harus bawa oleh-oleh dari kota B untuk tetangga-tetangga terdekat. Meskipun hanya berupa jajanan ala kota B yang cukup terkenal. Bingka Bakar dan Bilis Molen menjadi pilihan utama Lilis.
Setelah perjalanan selama 3 jam lebih, sampailah Lilis di Bandara terdekat dengan tempat tinggal Lilis. Hati Lilis terasa cemas dan jantungnya berdegup kencang. Naina dan ibunya akan menjemputnya di bandara ini bersama Wendi. Awalnya, Lilis ingin naik taksi, namun Bu Siti melarang karena biasanya banyak korban penipuan di bandara. Lebih aman jika ada yang menjemput.
Lilis turun perlahan dari pesawat yang membawanya kembali ke kampung halamannya. Kampung yang memiliki banyak kenangan. Kenangan manis dan pahit yang membawanya jauh dari putrinya. Lilis berjalan menuju tempat pengambilan koper dan tas. Setelah itu dia berjalan menuju ke hall kedatangan untuk mencari ibu dan Naina diantara ratusan penjemput.
Lilis berhenti sesaat dan mengamati orang-orang didepannya yang terlihat cemas menunggu orang terkasih yang mereka tunggu. Matanya tertuju pada sesosok ibu-ibu yang sudah tampak sepuh, sedang berdiri sambil memegang selembar kertas bertuliskan namanya, Lilis.
Tiba-tiba airmata Lilis mengalir tak terkendali. Dia berjalan mendekati ibunya dengan senyum dan tangis haru yang bercampur menjadi satu. Hampir dua tahun lamanya, mereka berpisah. Meski sering VC, tetap saja bertemu langsung adalah obat rindu yang paling mujarab.
Ketika sampai didepan ibunya, kakinya terasa lemas. Lilis jatuh terduduk dibawah kaki ibunya. Selama 20 tahun hidup bersama, mereka sangat bahagia meski hidup serba kekurangan. Sekali berpisah, hampir dua tahun lamanya dan itu menjadi hal paling menyakitkan dalam sejarah hidup Lilis dan ibunya.
Bu Siti segera menarik tubuh Lilis yang masih lemah. Lilis segera bangkit dan memeluk ibunya sambil menangis. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang terus menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ibu, maafkan Lilis Bu," ucap Lilis sambil terisak.
"Lilis, anak ibu. Lilis yang dulu masih suka merengek, kini telah menjadi dewasa. Sudah memiliki tanggung jawab. Apa yang harus ibu maafkan dari kamu?"
"Lilis, Lilis tidak berbakti pada ibu. Setelah hampir dua tahun Lilis baru bisa pulang."
"Lilis, kamu pergi juga untuk kami. Apa kamu tidak ingin melihat Naina?"
"Tentu saja Lilis mau, Bu. Dimana Naina?"
"Ayo ikut ibu, Naina sedang bersama nak Wendi beli mainan," jawab Bu Siti sambil membantu membawa tas Lilis.
Lilis mengikuti langkah ibunya pelan-pelan. Lilis tersenyum melihat ibu yang sudah melahirkannya itu memang masih bisa berjalan cepat. Didekat mobil Wendi, nampak seorang gadis kecil tengah bermain boneka dengan riang gembira.
Lilis takjub melihat Naina sudah besar dan sudah bisa berjalan. Naina yang dulu waktu ditinggalkannya masih bayi merah, sekarang dia sudah berubah berkulit putih bersih. Naina sama sekali tidak terlihat seperti anak miskin dan terlantar.
"Naina," panggil Bu Siti.
"Mbah Uti," jawab Naina.
Naina sangat senang melihat Bu Siti yang dipanggilnya Mbah Uti. Naina memeluk kaki Bu Siti, karena tinggi Naina hanya bisa memeluk kakinya.
"Naina, ibu Lilis sudah datang."
Naina masih takut melihat Lilis. Meski mereka sering berbicara di ponsel secara VC, tetapi secara nyata, Naina masih belum bisa menerima kehadiran Lilis secara utuh.
__ADS_1
"Naina..."
Suara Lilis pelan sebagai awal perkenalannya dengan putrinya. Naina bersembunyi di balik kaki Bu Siti, hanya kepalanya saja yang tampak menyembul menatap Lilis. Lilis tersenyum sambil mengeluarkan sebuah boneka cantik, yang sengaja Lilis bawa untuk menarik perhatian Naina.
"Ibu Lilis bawa boneka cantik. Naina mau tidak?" tanya Lilis lembut.
Naina mendongak keatas, melihat Bu Siti yang tersenyum sambil mengangguk pelan sebagai isyarat Naina boleh mendekati Lilis. Naina berjalan pelan mendekati Lilis yang matanya mulai berkaca-kaca melihat buah hatinya yang sangat imut.
"I...Bu."
Ucap Naina terbata-bata diiringi tangis Lilis yang pecah seketika. Lilis tidak dapat menahan tangis bahagianya, setelah mendengar Naina memanggilnya ibu. Naina tersenyum manis pada Lilis sambil mengulurkan tangan meminta boneka yang ada ditangan Lilis.
"Bolehkah ibu menggendong Naina?"
"Emm," ucap Naina sambil mengangguk.
Lilis mengusap airmatanya dengan saputangan yang dibawanya. Lalu dia tersenyum sambil jongkok untuk meyerahkan boneka itu pada Naina. Setelah mendapatkan boneka, Naina mencium pipi sang ibu yang hatinya kembali berwarna. Lilis memeluk Naina lembut lalu berdiri dan menggendong Naina. Naina sudah tidak canggung lagi bersama ibunya.
Drama pertemuan antara Lilis dan anaknya, membuat Wendi sempat menitikkan airmata. Wendi terharu melihat Lilis pulang dengan membawa kabar gembira. Lilis sudah bisa mencapai impiannya untuk memiliki usaha sendiri dan sukses.
Meskipun, Lilis tidak ingin disebut sukses, karena dia baru memulai usahanya dan masih rumah makan yang sederhana. Lilis pulang dengan wajah dan penampilan yang berbeda. Wajah buluk dan hitamnya dulu telah hilang, dan berganti Lilis yang berwajah cantik, putih bersih dan kulit yang mulus.
Dulu saja, Lilis menolaknya. Apa lagi sekarang?
Pikiran Wendi menjadi galau. Dilain sisi, dia begitu bahagia, melihat Lilis kembali. Selebihnya perasaan kalah, telah datang duluan menderanya.
__ADS_1
Bersambung