
Wendi keluar dari rumah Lilis dengan perasaan kacau. Sedih, cemas dan khawatir melihat kondisi Lilis saat ini. Jika ini terjadi pada waktu dulu, pasti dia akan dengan setia menemani dan membantunya hingga dia bisa tersenyum kembali.
Sekarang semua sudah berbeda. Dia memiliki suami yang penuh perhatian dan sangat mencintainya. Sedangkan dirinya, sekarang juga telah menikah dengan Sri. Meskipun, dia sudah jatuh cinta pada Sri, akan tetapi tidak bisa dia pungkiri jika masih ada setitik rasa, yang tersisa dihatinya untuk cinta pertamanya.
Wendi sadar, semua memang tidak bisa seperti yang dia harapkan. Dia berharap ketika dia sudah menikah, dia akan bisa melupakan sepenuhnya cintanya pada Lilis. Apalagi, kini dia sudah menikah dan dia wajib bisa menerima Sri sebagai istrinya.
Menjelang Maghrib Wendi sampai di rumah Sri. Di rumah sudah tampak sepi. Hanya terlihat beberapa saudara dekat dan orangtua Sri yang sedang berbincang di depan rumah. Mereka berbicara sambil menyaksikan para pekerja membongkar dan mengangkut dekorasi dan peralatan pernikahan lainnya.
"Wendi, baru datang? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya ayah Giri, ayahnya Sri.
Wendi bercerita tentang awal mula hilangnya Wahyu dan kesedihan keluarga Nathan. Semua mendengarkan dengan seksama dan serius.
"Desa kita sudah tidak aman lagi," kata Muri, kakaknya Sri.
"Benar, padahal selama ini desa kita aman-aman saja. Sekarang kita harus lebih waspada. Ini sepertinya penculikan yang sering diberitakan di TV-TV itu. Benar-benar menakutkan," tambah Geri, pamannya Sri.
"Wendi, bagaimana keadaan Lilis? Dia pasti sangat terpukul dengan hilangnya Wahyu," tanya Pak Giri.
"Begitulah ayah, kasihan sekali. Lilis sepertinya sangat syok, apalagi Wahyu masih sangat kecil, baru 4 bulan. Dia sampai tidak makan seharian hingga tubuhnya lemas," jawab Wendi sedih.
"Yah, itu sudah pasti, tidak akan selera makan. Anak yang baru dilahirkan tiba-tiba hilang," kata Pak Giri.
"Aku rasa, pelakunya pasti sudah merencanakan dengan baik. Dan pasti, sudah tahu, kalau hari ini ada pernikahan Wendi dan Sri, sehingga lingkungan rumah Lilis sepi. Dia bebas mengambil Wahyu saat Lilis ke kamar mandi," kata Bang Muri.
"Mungkin saja, apa yang kamu katakan itu benar. Tapi, itu berarti yang menculik Wahyu, pasti orang yang kita kenal. Setidaknya kalau dia menyuruh orang lain yang melakukan, dalangnya tetaplah orang kampung kita sendiri," kata paman Geri.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Nanti kalau ada yang mendengar, mereka akan marah karena merasa di curigai," kata pak Giri.
__ADS_1
"Oh ya, Wen. Kamu masuklah, tadi aku lihat, istrimu bermuka masam setelah kamu pergi. Bujuk sana, sekarang dia itu sudah jadi tanggungjawab kamu," kata Bang Muri.
"Tenang saja, Bang. Serahkan adik Abang padaku," kata Wendi sambil tersenyum.
Wendi pergi meninggalkan ayah, paman dan Abangnya Sri untuk menemui Sri, istrinya. Wendi bergegas masuk ke kamar pengantin alias kamar Sri. Di dalam kamar, Wendi melihat Sri sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian.
"Mas, sudah pulang? Mandilah dulu, sebentar lagi adzan Maghrib tiba," tanya Sri datar.
Meskipun didalam hatinya, ada sedikit rasa kesal pada suaminya. Karena tadi, Wendi langsung terlihat panik saat mendengar berita hilangnya Wahyu.
"Ya, Sri. Aku akan segera mandi," jawab Wendi lega, setelah melihat Sri tidak marah padanya.
Sehabis mandi dan menjalankan sholat berjamaah dengan Sri, mereka keluar untuk makan malam bersama. Di ruang makan, semua sudah menunggu. Seperti biasanya, pak Giri memimpin doa sebelum makan.
Mereka makan sambil berbicara dan dengan suasana yang ramah. Karena ini pertama kalinya, setelah menikah, Wendi makan bersama keluarga besar Sri.
"Wendi, tambah lagi ikannya. Sri, ambilkan suamimu ikan lagi," perintah ibu Nur.
Sebelum menikah, Sri tampak banyak senyum dan selalu menjadi tempat Wendi curhat tentang perasaanya pada Lilis. Apakah dia cemburu? Bukannya dia tahu perasaannya pada Lilis sudah sejak lama. Seharusnya dia tidak akan membawa-bawa hal itu setelah menikah.
Setelah makan berakhir, Sri bergegas masuk kamar untuk menunggu waktu Isyak tiba. Sedangkan Wendi berbincang-bincang dengan ayah dan ibu mertuanya di ruang tengah sambil menonton televisi. Ketika waktu isya tiba, yang lainnya segera pamit pulang.
"Wendi, sudah masuk sholat isya. Kalian bisa sholat berjamaah di kamar dan bisa langsung istirahat. Kami juga mau sekalian sholat terus istirahat. Hari ini sangat lelah sekali," kata pak Giri.
"Baik ayah. Wendi ke kamar dulu," kata Wendi yang bergegas pergi.
"Pak, pintunya langsung kunci saja. Takut nanti pada ketiduran dan bahaya kalau ada maling," kata Bu Nur.
__ADS_1
"Ya, Bu. Setelah kejadian hilangnya Wahyu, kita memang harus tambah waspada."Pak Giri bergegas mengunci pintu dan segera masuk ke kamar.
Sementara, Wendi masuk kamar dan mengajak Sri untuk sholat berjamaah. Selesai sholat, Sri bersiap tidur tanpa mengajak Wendi. Wendi anggap itu biasa, karena Wendi yakin Sri pasti malu karena ini malam pertamanya setelah menikah.
Wendi merebahkan dirinya di samping istrinya. Sesekali dia melirik kearah istrinya yang tidur membelakanginya. Wendi mulai curiga. Dia berinisiatif memeluknya dari belakang dan mencium telinga Sri.
"Mas, aku lagi dapet. maaf," kata Sri membuat dia melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa. Masih banyak waktu," kata Wendi tersenyum kecewa.
Apakah benar Sri datang bulan, ataukah itu hanya alasannya saja karena tidak ingin melayaniku? batin Wendi.
Wendi teringat apa yang dikatakan Nathan tadi sore. Malam pengantin dia kan tidur di luar. Malam ini, dia tidak tidur di luar, tapi dia tidur didalam serasa tidur diluar. Karena dia hanya bisa memandangi wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu dan tidak bisa menyentuhnya.
Wendi menarik nafas dalam-dalam, menahan hasratnya yang tidak tersalurkan. Dia mencoba tidur untuk menghilangkan keinginannya menyentuh istrinya. Mungkin ini lebih baik, daripada dia melakukan malam pertama tetapi hatinya merasa tidak tenang mengingat keadaan Lilis tadi sore. Wendi pun mulai tertidur.
Sementara Sri, merasa bersalah telah membohongi suaminya. Sebenarnya, dia bersyukur karena datang bulan, karena dia tidak sanggup membayangkan jika suaminya bermesraan dengannya, tetapi hatinya tidak ada padanya tapi pada wanita lain. Wanita yang tidak lain adalah sahabatnya dan sahabat suaminya, Lilis.
Padahal, sejak awal dia sudah tahu, tapi rasa cemburu itu lebih besar saat mereka sudah menikah.
Dipandanginya wajah tampan dihadapannya. Pria yang dulu adalah sahabatnya, yang kini tanpa diduga telah menjadi suaminya.
Maafkan aku Mas Wendi, semoga aku bisa menerima kamu apa adanya dengan kekuranganmu. Kamu pria yang sangat baik. Hanya saja, aku masih belum yakin, dengan hatimu. Semoga aku bisa, membuat hatiku percaya padamu. Tapi bagaimana aku bisa percaya, kalau kamu masih perhatian padanya. Salahkah aku cemburu?
Yakinkan hatiku, agar aku bisa percaya bahwa aku ada dalam hatimu mas Wendi.
Bersambung
__ADS_1
yuk baca karya temen aku