Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 105. Aku juga membutuhkanmu


__ADS_3

"Aku sudah balas dendam," kata Dokter Pradipta gugup.


"Apa maksud Dokter Pradipta?" tanya Nathan kaget.


"Maaf, aku salah ucap. Aku tadi mau bilang aku sudah salah faham," jelas Dokter Pradipta.


"Memang ada bermacam-macam alasan suami istri berpisah. Tapi insyaallah kami tidak akan bisa melewatinya, bukan begitu, Sayang?" ucap Nathan sambil menyenggol mesra Lilis yang masih cemberut.


Lilis hanya tersenyum kesal dan tidak mau bicara. Hal itu membuat Dokter Pradipta tersenyum geli melihat sepasang suami istri yang sedang marahan tapi masih bisa bercanda.


"Aku pulang saja, kian selesaikan baik-baik, jangan ada perpisahan. Lihat ketiga anak kalian," ucap Dokter Pradipta.


Dokter Pradipta segera pamit pulang untuk memberi kesempatan mereka menyelesaikan masalah mereka. Setelah Dokter Pradipta pergi, Nathan mendekati anak-anaknya dan meminta mereka untuk segera mandi dan beristirahat.


Lilis menidurkan anak-anaknya yang kini sudah tidur terpisah. Lilis membacakan cerita sebagai pengantar tidur mereka.


"Setelah ceritanya selesai, kalian harus segera tidur, ya?" kata Lilis sambil mengambil sebuah buku cerita dari atas meja.


"Siap, Bu. Biasanya yang belum tidur kan Kak Naina," kata Wahyu berbaring disisi kiri Lilis.


"Bunga mau sambil pegang tangan ibu," kata Bunga berbaring di sisi kanan Lilis.


"Naina lagi pasti yang ngalah kan. Harusnya Naina balik jadi kecil lagi sama seperti Wahyu dan Bunga," kata Naina cemburu.


"Naina tidak perlu kesal. Nanti kamu bisa bantu ibu, gantiin ibu baca cerita untuk adik-adikmu," kata Lilis sambil membenarkan posisi tidurnya.


"Tapi, aku lebih suka suara ibu," kata Wahyu.


"Bunga juga," kata Bunga.


"Yah sudah, kalian mau bikin ibu capek, kan? Entar kalau ibu kecapekan terus sakit, kalian mau tanggungjawab," kata Naina ketus.

__ADS_1


"Bener Dek Bunga. Jangan tiap malam minta ibu bacakan cerita, aku nanti yang bacakan cerita untuk Kak Naina sama Dedek Bunga," kata Wahyu percaya diri.


"Eh, apa kamu bisa baca?" tanya Naina meledek Wahyu.


"Iya, kak Wahyu. Kakak bisa baca?" tanya Bunga, ikut-ikutan Naina.


"Bisa. Meski masih ada yang mengeja," jawab Wahyu tertawa.


"Sudah-sudah. Besok kalian bergantian bacain cerita untuk Bunga. Jadi ibu masih ada waktu untuk istirahat," kata Lilis menengahi anak-anaknya yang sedang berdebat.


"Ibu, apa ayah juga kalau mau tidur minta di bacain cerita sama ibu?" tanya Bunga polos.


"Iya ibu, Wahyu juga ingin tahu," kata Wahyu penasaran.


"Nggak lah. Kan ayah sudah dewasa, tidak perlu dibacain cerita. Ya, kan Bu?" tanya Naina


"Bukan cerita. Tetapi sebelum tidur, ayah dan ibu biasanya berbincang-bincang dulu. Tentang kalian, tentang pekerjaan dan lain-lain," jawab Lilis sambil tersenyum.


"Makanya, kalian cepat tidur. Biar ayah nggak bingung cari ibu," kata Lilis sambil tersenyum.


Ketiga buah hati Lilis mulai memejamkan mata sambil mendengarkan cerita Lilis. Cerita Lilis berhenti ketika ketiganya sudah terlelap. Lilis menatap Wahyu dan Bunga yang tidur di samping kanan dan kirinya. Buah cintanya dengan Nathan. Lelaki yang mampu memberinya kebahagiaan dalam pernikahan. Lilis bangun dan mencium kening kedua anaknya tersebut. Lalu dia beralih ke kasur di bawahnya tempat Naina tidur.


Lilis mengelus rambut Naina yang panjang dan lembut. Naina, buah hatinya dengan Desta. Pria yang pernah dia cintai tetapi Desta juga pria yang sudah memberinya luka.


Naina, anakku. Maafkan ibu, ibu belum bisa memberitahukan siapa ayah kandungmu. Semoga kamu bisa mengerti semua ini demi kamu, anakku. Ibu tidak ingin kamu merasa terbebani dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa ayah kandungmu adalah ayah yang tidak berguna. Dia tidak pernah menyayangimu apalagi menginginkanmu.


Tidak terasa airmata Lilis menetes perlahan membasahi pipinya yang chubby. Lilis segera pergi karena tidak ingin tangisnya pecah di kamar anak-anaknya. Lilis berjalan sambil terisak menuju kamarnya.


Melihat Lilis menangis, Nathan sangat khawatir dan merasa bersalah. Perbedaan pendapatnya siang ini, telah membuat Lilis sedih. Dengan sigap, Nathan bangkit dari tempat tidurnya untuk memeluk istrinya. Peluk. Nathan membuat Lilis menangis semakin kencang. Tentu saja, hal ini membuat Nathan semakin merasa bersalah.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berbeda pendapat denganmu. Oke, kita akan tetap tinggal di rumah ini seperti yang kamu mau. Tolong, berhentilah menangis," kata Nathan panik.

__ADS_1


Lilis pelan-pelan menghentikan tangisannya. Dalam hati dia tersenyum melihat suaminya sangat takut melihatnya menangis. Bahkan semua keinginan Lilis berusaha di kabulkan oleh Nathan.


Setelah Lilis berhenti menangis, Nathan menggendong tubuh Lilis yang bergelayut manja di tubuhnya. Direbahkannya tubuh wanita beranak tiga yang masih terlihat seksi. Mungkin bukan seksi, tetapi lebih bisa di bilang bahenol. Karena tubuhnya agak gemuk dan padat berisi.


Lilis tersenyum saat suaminya berbaring di sampingnya. Lilis menggunakan tangan suaminya sebagai bantal tidurnya. Kali ini, Lilis terlihat manja setelah suaminya ketakutan melihatnya menangis. Sebenarnya suaminya bodoh atau suaminya sengaja bersikap bodoh untuk membuatnya nyaman. Tetapi Lilis sangat bahagia saat airmatanya selalu di hapus suaminya dengan kasih sayang yang sangat dalam. Sehingga, Lilis merasa dialah yang bodoh karena tidak memahami apa yang dilakukan suaminya demi melihatnya bahagia.


"Mas, maafkan aku. Tadi aku menangis dan membuatmu sedih dan merasa bersalah. Ini bukan karena perbedaan pendapat kita siang tadi," kata Lilis sambil membenamkan kepalanya di dada suaminya.


"Aku tahu," jawab Nathan sambil tersenyum.


"Mas Nathan tahu? Tapi, kenapa mas Nathan meminta maaf padaku?" tanya Lilis kaget.


"Aku akan melakukan apapun, asal kamu berhenti menangis. Aku tidak bisa melihat air matamu mengalir di depanku. Apa kamu berpikir aku bodoh?" tanya Nathan sambil mencium kening Lilis.


"Kok tahu sih, Mas."


"Anggap saja aku bodoh. Aku akan bersikap bodoh asal kamu bisa tersenyum kembali," jawab Nathan. "Apa anak-anak sudah tidur?"


"Sudah. Mereka semua pinter-pinter, bisa membuat ibunya tidak kelelahan. Mereka bisa memikirkan cara agar aku tidak terlalu capek. Mereka sepertinya sudah lebih dewasa," kata Lilis. "Mereka juga tahu, kalau ayahnya juga membutuhkan ibunya. Sama seperti mereka."


"Bagus dong. Mereka bener-bener pengertian, tidak ingin memiliki ibunya sepenuhnya. Karena pastinya, ayahnya lebih membutuhkan ibunya dibanding mereka," ucap Nathan memberi kode.


Lilis tersenyum melihat suaminya mulai aktif. Sebuah ciuman awal membawa mereka melewati malam yang indah. Mereka menyadari, mereka saling membutuhkan dan saling ingin dimengerti kebutuhan masing-masing. Tidak perlu aneh-aneh, cukup hal yang sederhana saja.


Malam semakin larut dan dingin, akan tetapi di kamar pasangan suami istri itu terlihat lebih panas dari bara api.


Bersambung


yuk baca karya temen aku yang judulnya ada dibawah ini


__ADS_1


__ADS_2