Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 101. Kenapa tidak mendukungku?


__ADS_3

Nathan keluar dari rumah Kakeknya dan berniat untuk memanggil taksi. Tidak disangka, Seno masih berada di dalam mobil.


"Bos, Seno antar Bos pulang," kata Seno sambil menghentikan langkah Nathan.


"Kenapa kamu belum pulang, bukankah aku sudah memintamu untuk pulang naik taksi? Karena mobil ini akan tetap berada di rumah ini," kata Nathan sedih.


"Bos, anggap saja, ini sebagai ucapan perpisahan untuk mobil Bos ini. Kita naik mobil ini sekali lagi, karena entah kapan lagi kita bisa naik mobil ini berdua," ucap Seno membujuk Nathan.


"Baiklah, mungkin ini memang akan menjadi saat terakhir aku bisa naik mobil ini," kata Nathan lalu masuk ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan, Nathan tampak diam dan wajahnya tampak sedih bercampur kecewa.


Setelah sampai di rumah, Nathan panik ketika mendapati suasana rumah tampak sepi. Pintu rumah tertutup rapat dan tidak terdengar suara apapun didalam rumah. Perasaan cemas dan panik tiba-tiba menyerangnya.


Nathan mengetuk pintu sambil mengintip ke dalam rumah. Karena tidak ada jawaban dia mengetuk pintu sekali lagi.


"Assalamualaikum. Sayang, ini aku!" teriak Nathan panik.


"Wa'alaikum salam."


Terdengar suara Lilis membuatnya lega. Dan tidak lama, pintu dibuka perlahan. Tampak Lilis tersenyum sambil memegangi perutnya.


"Ada apa, apa perutmu sakit?" tanya Nathan cemas.


Nathan segera mengusap perut Lilis dengan lembut. Nathan lalu membawa istrinya untuk duduk. Matanya tidak bisa lepas dari wajah istrinya yang tampak tersenyum tapi ada ketakutan di sana.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kamu ada di dalam rumah tetapi kenapa dari luar seperti tidak ada orang?" tanya Nathan penasaran. " Kamu tahu, aku tadi sangat panik dan cemas. Aku takut terjadi sesuatu padamu dan anak-anak."


"Mas, terus terang, aku dan anak-anak sangat takut. Setelah anak-anak tidur, aku menutup semua pintu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku masih takut jika aku akan menjadi target lagi atau bahkan anak-anak. Aku percaya pada takdir. Apapun yang terjadi memang sudah digariskan sejak awal. Tetapi sebagai manusia biasa, aku ingin berusaha agar tidak terjadi sesuatu pada keluarga kita, terutama pada anak-anak," kata Lilis sambil menarik nafas panjang.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa membuat hidup kalian merasa aman. Sebagai suami, aku merasa tidak berguna. Seharusnya aku bisa memberi rasa aman pada kalian," kata Nathan sedih.


"Mas, jangan berkata seperti itu. Saat ini aku takut, mungkin karena aku masih belum bisa melupakan kejadian hari itu. Mungkin juga, imanku yang masih lemah, yang belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan. Oh ya, mas Nathan dari mana?" tanya Lilis.


"Aku tadi baru saja memeriksa CCTV di toko tempat kecelakaan kemaren. Dan memang, aku yakin jika itu suatu kesengajaan. Hanya ada satu yang saat ini aku curigai, yaitu Kakek," kata Nathan pelan.


"Mas, kita tidak tahu siapa pelakunya. Mas juga tidak boleh menuduh tanpa bukti. Belum tentu Kakek yang melakukan semua itu. Bagaimanapun juga, ini adalah darah daging cucunya," kata Lilis sambil memegang tangan suaminya.


"Tapi aku sudah terlanjur menemui Kakek dan menanyakan kejadian itu. Meskipun jawaban Kakek selalu bilang jika bukan dia pelakunya, aku yakin dan memutuskan untuk memberinya hukuman. Aku memutuskan meninggalkan kembali keluarga Sugara," kata Nathan sedih.


"Mas, bolehkah aku berpendapat? Mas tidak berhak memberi hukuman pada Kakek, meskipun jika seandainya benar-benar dia pelakunya. Mas, seharusnya kita cari tahu dulu kebenarannya sebelum memutuskan," kata Lilis menenangkan Nathan.


"Aku ...."


"Aku melakukan semua ini demi siapa? Demi kamu. Aku meninggalkan semuanya. Dan kamu menganggap apa yang aku lakukan ini salah?" ucap Nathan lalu pergi meninggalkan Lilis yang masih tidak percaya kalau Nathan sangat marah padanya.


Lilis tertunduk lesu. Airmatanya bisa terbendung lagi. Lalu dia menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya. Lilis mungkin harus memahami sikap Nathan yang sedang sedih karena keputusan yang diambilnya saat ini. Walaupun sebenarnya Lilis tidak pernah berharap, jika suaminya akan memutuskan tanpa berbicara dulu dengannya.


Sejak hari itu, hubungan Lilis dan Nathan mulai terasa jauh. Nathan tidak lagi mau berbicara banyak kepada Lilis. Dia hanya bicara seperlunya saja. Bahkan sikap saling menggoda dan saling bercanda sudah tidak terdengar lagi.


Lilis bingung harus bagaimana menghadapi sikap dingin suaminya. Haruskah dia minta maaf dan menarik perkataannya hari itu ataukah membiarkan semua karena Lilis tidak merasa bersalah.

__ADS_1


Lilis tidak mengerti, kenapa sikap suaminya berubah dingin padahal hanya Lilis hanya sekedar mengingatkan saja. Apakah cara yang Lilis pakai terlalu menggurui?


Dua hari telah berlalu. Hari ini, Lilis melihat suaminya sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan karena Lilis sedang tidak enak badan. Sementara anak-anak masih belum bangun. Lilis terharu, meskipun Nathan tidak banyak bicara, tapi dia paham betul saat Lilis sedang malas pasti dia yang membuat sarapan.


Lilis diam-diam memerhatikan suaminya sibuk membuat nasi goreng yang memang sangat disukai anak-anak. Ada kesedihan dimata Lilis melihat kondisi rumah tangganya saat ini. Meski baru marahan dua hari, rasanya sudah kangen dengan candaan suaminya.


Biasanya mereka akan saling berebut untuk meminta maaf duluan, karena prinsip awalnya lebih baik merasa bersalah daripada saling menyalahkan. Tetapi kini, prinsip itu tidak tahu sembunyi di mana. Mereka merasa saling gengsi untu meminta maaf.


Lilis memberanikan diri mendekati Nathan yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi. Sepertinya nasi gorengnya sudah matang dan tinggal menaruhnya di dalam wadah. Karena bau nasi goreng begitu menyengat, Lilis sampai bersin beberapa kali. Hal itu membuat Nathan menarik nafas kasihan padanya.


"Sayang, kenapa kamu kemari? Jika kamu masih lelah, kamu istirahat saja di kamar," kata Nathan sambil memberi Lilis tisu.


"Lilis ...."


"Maafkan aku ya. Sebenarnya aku juga tidak bisa lama-lama tidak pedulikan kamu. Aku hanya marah karena sepertinya pengorbananku tidak ada artinya di matamu," kata Nathan sambil memeluk tubuh Lilis.


"Maafkan aku juga. Karena tidak pernah menganggap pengorbanan mas Nathan dan malah menyalahkan perbuatan mas Nathan. Aku tahu semua ini demi Lilis dan anak-anak," kata Lilis sedih.


"Sudahlah, kamu istirahat lagi saja. Pagi ini, aku yang akan melayani kalian. Nanti kalau Wahyu sudah bangun, aku yang akan mengurusnya juga," kata Nathan lembut.


Lilis tersenyum lega. Hubungannya dengan sang suami telah ada jalan terang. Kini dia bisa beristirahat dengan tenang karena suaminya tidak akan bersikap dingin lagi padanya. Bahkan, suaminya yang akan membantunya merawat Wahyu.


Lilis kini bisa bermanja lagi dengan suaminya. Sebuah ciuman kecil di kening Lilis, membuat Lilis merasa bahagia.


Bersambung

__ADS_1


yuk baca karya temen aku, judulnya di bawah ini



__ADS_2