
"Mas Desta..."
"Apa kabar, Lis. Apakah gadis cantik ini adalah Naina?"
"Untuk apa Mas Desta kemari?" tanya Lilis panik.
"Sabar, Lis. Jangan panik. Aku hanya ingin bertemu Naina," ucap Desta sambil tersenyum.
"Tidak panik, aku sama sekali tidak panik. Hanya saja, bukankah sudah aku bilang aku akan menikah. Apa kata orang nanti," jawab Lilis.
"Tapi aku tidak yakin kamu bisa menikah."
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Lilis.
"Karena aku tidak akan membiarkan dia mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," ucap Desta yakin.
"Apa, milikmu. Rasanya aku pingin tertawa mendengar kata 'milikku' dari mulutmu. Dulu, saat kami benar-benar milikmu, kamu sama sekali tidak pernah ingin memiliki kami bahkan meninggalkan kami. Sekarang, kami bukan lagi milikmu, kau malah mengkalim kalau kami milikmu. Atas dasar apa kamu bisa berkata begitu mudah dengan kata 'milikku'," kata Lilis mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya.
"Lilis, dulu aku memang salah. Aku tidak pernah menyadari bahwa kamu dan Naina adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Apalagi Naina, dia butuh ayah kandungnya, bukan ayah sambung."
"Memangnya kenapa kalau ayah sambung? Jika dia bisa menjaga dan menyayangi kami lebih dari ayah kandungnya, aku akan lebih memilih ayah sambung daripada ayah kandung yang sudah meninggalkan kami ditengah keputusasaan dan kelaparan."
"Tapi aku tetap tidak rela, jika dia memilikimu. Naina, ini ayah nak. Ayah kandungmu," kata Desta sambil mendekati Naina yang masih dalam gendongan Lilis.
Desta berusaha mengambil Naina dari pelukan Lilis dengan paksa. Dengan sekuat tenaga, Lilis berusaha mempertahankan Naina. Naina tampak ketakutan dan menangis melihat perlakuan Desta.
Ditengah ketegangan antara Desta dan Lilis, Bu Siti menjerit melihat peristiwa itu didepan matanya. Tega sekali Desta ingin mengambil Naina dari Lilis.
"Ibu, Naina takut," ucap Naina ketakutan.
"Desta, apa yang kamu lakukan?" ucapan Bu Siti sambil menarik tangan Desta.
Desta yang merasa kewalahan oleh kedatangan Bu Siti, tiba-tiba menghempaskan tubuh Bu Siti hingga terjatuh. Lilis semakin kuat mempertahankan Naina apalagi setelah melihat ibunya terjatuh oleh perbuatan Desta.
"Lilis, ibu tidak apa-apa, tetap pertahankan Naina!" teriak Bu Siti memberi semangat.
Meskipun Bu Siti berkata beliau tidak apa-apa, nyatanya beliau meringis kesakitan karena kepalanya sempat terbentur lantai. Lilis sangat marah dan kesal dengan perbuatan Desta yang semakin brutal.
Saat masih menjadi istrinya, Desta selalu menyakiti hati dan jiwanya. Tidak mencukupi kebutuhan lahiriah hingga hampir kelaparan. Namun kali ini, setelah bukan istrinya lagi, dia tetap menyakitinya dengan melakukan kekerasan.
__ADS_1
Tiba-tiba, seseorang datang dan menarik tubuh Desta dengan kuat. Lalu dia memukulnya dengan keras di bagian wajahnya hingga Desta hampir terjatuh. Lilis memeluk Naina dengan erat, takut jika Desta akan kembali berusaha merebut Naina dari tangannya.
"Pergilah, jangan ganggu calon istriku. Kamu hanya mantan dan kamu tidak berhak mencampuri urusan Lilis lagi," ucap Nathan dengan tatapan penuh emosi.
"Aku pergi. Tetapi aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Ingat itu," ucap Desta lalu pergi dengan menahan rasa sakit pada wajahnya.
"Bu Siti, ibu tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" tanya Nathan cemas.
Nathan membantu Bu Siti berdiri dan membantunya duduk di sofa.
"Ibu tidak apa-apa, coba kamu lihat Lilis. Dia pasti syok dengan kejadian hari ini," kata Bu Siti cemas.
Nathan segera melihat kearah Lilis. Wajah Lilis tampak sedih dan airmata menetes perlahan meski tidak terdengar suara isak tangisnya. Nathan berdiri dan mendekati Lilis. Dipeluknya Lilis dan Naina bersama-sama.
"Lilis, berikan Naina padaku, biar aku yang menggendongnya. Kamu pasti sudah lelah," bujuk Nathan.
Lilis tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala. Tampaknya dia masih trauma dengan kejadian hari ini. Hari ini benar-benar menjadi hari yang berat dalam hidup Lilis. Setelah kejadian di rumah Nathan, kini kedatangan Desta untuk merebut Naina sangat membuat Lilis tertekan.
"Lilis, duduklah dulu. Tenangkan dirimu," ajak Nathan.
Nathan membantu Lilis duduk, dan Lilis masih terlihat dalam kondisi ketakutan.
"Ayah Nathan..." ucap Naina menyadarkan Lilis dari ketakutannya.
Lilis melonggarkan pelukannya pada Naina hingga membuat Naina beralih ke pangkuan Nathan. Nathan tersenyum pada Naina agar tidak membuat Naina semakin ketakutan dan trauma.
"Naina, maafkan ayah Nathan karena datang terlambat. Harusnya ayah Nathan datang lebih awal agar kalian tidak mengalami hal seperti ini," kata Nathan sambil menghela nafas.
"Ayah, Naina dan ibu tadi sangat ketakutan," ucap Naina mengadu pada Nathan.
"Ayah tahu. Tapi sekarang kalian tidak perlu takut lagi. Ayah akan selalu menjaga kalian," kata Nathan menangkan Naina.
"Ayah, tinggallah bersama disini," pinta Naina membuat Lilis, Bu Siti dan Nathan kaget.
"A.. ayah tinggal disini?" ucap Nathan gugup.
"Naina, ayah Nathan masih banyak pekerjaan. Biarkan ayah pergi sekarang," ucap Lilis mengusir Nathan secara halus.
Lilis tahu, ini tidak sopan. Apalagi setelah Nathan membantu mengusir Desta dari rumahnya. Namun ini adalah hal terbaik yang harus di lakukan untuk menjauhkan Naina dari Nathan. Agar Naina tidak terlalu bersedih, saat Nathan tidak bisa dipanggilnya lagi dengan sebutan 'ayah'.
__ADS_1
"Tidak, Lis.aku tidak ada pekerjaan hari ini. Tapi Naina, ayah juga tidak bisa tinggal disini. Ayah harus menikah dengan ibu dulu, baru ayah boleh tinggal bersama kalian," kata Nathan penuh harap.
"Kalau begitu, menikahlah dengan ibu," ucap Naina sambil melihat ibunya.
Nathan tersenyum mendengar perkataan Naina. Sungguh sesuai harapan. Naina bakal membantunya membuat Lilis tetap memilih menikah dengannya. Karena Nathan menyadari, setelah semua yang terjadi hari ini di rumahnya, Lilis pasti menyerah dan memutuskan untuk mundur.
"Naina, ibu...," ucap Lilis gugup
"Baiklah, ayah mau menikah dengan ibu. Asal ibu juga mau menikah dengan ayah."
"Naina, masuk dulu dengan Mbah Uti. Biar ayah dan ibu bicara dulu, ya?" kata Bu Siti membujuk Naina.
"Iya, Mbah Uti. Ayah, ibu, menikah ya?" ucap Naina bahagia.
Lilis tahu, ibunya sengaja memberi waktu padanya untuk berbicara pada Nathan. Tentu saja menyelesaikan masalah yang terjadi tadi siang.
"Lilis, aku masih khawatir, mantan suamimu akan datang lagi dan mengganggu kamu dan Naina."
"Lilis ucapkan terimakasih pada Mas Nathan, karena sudah membantu Lilis," ucap Lilis pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, sebentar lagi kamu akan menjadi istriku, jadi itu sudah menjadi kewajiban ku," ucap Nathan percaya diri.
"Istri?"
"Ya, istriku. Kenapa, apakah ada yang salah? Bukannya kit sudah sepakat bhw kita akan menikah?"
"Apakah Mas Nathan lupa kejadian siang ini? Kakek Edward tidak setuju dengan hubungan kita, bahkan dia sudah memberimu calon istri yang sepadan."
"Aku tahu kamu marah atas kejadian tadi siang. Tetapi, bukankah aku juga tidak setuju dengan keputusan Kakek? Lilis, berjuanglah bersamaku. Jangan biarkan aku berjuang sendiri untuk pernikahan kita," pinta Nathan.
"Aku tidak yakin, aku bisa."
"Kamu harus yakin. Aku mencintaimu dan yakin kita bisa melewati ini. Urusan Kakek, aku akan segera menyelesaikannya. Lagipula, Kakek hanya pura-pura sakit. Itu lebih memudahkan jalan kita untuk tetap menikah."
"Pura-pura, Kakek tidak benar-benar sakit?" tanya Lilis kaget.
"Benar. Lilis, serahkan semua padaku. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Masalah pernikahan, serahkan semua padaku. Aku yang akan mengurusnya. Kamu tinggal berikan KTP sama KK kamu padaku.Tunggu kabar baik dariku."
Lilis tidak bisa berkata-kata lagi. Keputusannya mundur dan menyerah dari pernikahan, malah membuat Nathan semakin berusaha secepat mungkin untuk segera menikahinya. Walaupun begitu, Lilis masih butuh penjelasan tentang penyakit Kakek Edward karena Lilis tidak mau salah melangkah dan berakibat ada yang terluka diatas kebahagiaannya.
__ADS_1
Apakah ini jawaban atas doaku?
Bersambung