Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 94 Sketsa penculik


__ADS_3

Nathan mendatangi Kantor polisi untuk mencari informasi tentang siapa pelaku penculikan Wahyu. Dari keterangan pengemis yang membawa Wahyu, dia mendapatkan bayi itu dari seorang wanita muda. Tetapi pengemis itu tidak tahu nama dari wanita itu. Wanita itu memberikan Wahyu secara gratis tanpa meminta imbalan.


Penculik Wahyu sama sekali tidak bermotif karena uang. Tetapi ada motif lain yang memang harus diungkap segera. Hal itu malah semakin membuat Nathan penasaran. Pengemis itu mengatakan ciri-ciri wanita yang memberikan bayi Wahyu kepadanya. Akan tetapi, Nathan sama sekali tidak mengenali sosok wanita yang sudah dibuatkan sketsa oleh polisi. Mungkin karena Nathan orang baru di kampung ini yang belum mengenal orang-orang di kampung Lilis.


Nathan berpikir untuk mengajak Lilis demi mengenali siapa wanita di dalam lukisan sketsa polisi. Tetapi melihat kondisi Lilis yang masih lemah, Nathan tidak bisa membawa Lilis ke kantor polisi. Akhirnya dia memotret sketsa tersebut untuk ditunjukkan pada Lilis. Nathan mencari kesempatan untuk bisa berbicara saat suasana hati Lilis sedang bagus.


Malam sudah menunjukan pukul 10 malam. Nathan terlihat sangat gelisah diatas tempat tidurnya. Dia harus secepatnya memperlihatkan sketsa wajah tersebut pada Lilis untuk bisa mengenalinya sebelum pelakunya memiliki kesempatan melarikan diri.


"Mas, kamu kenapa, apa ada masalah?" tanya Lilis sehabis dari kamar mandi.


"Tidak. Bagaimana dengan kandunganmu, apa yang kamu rasakan? Ngidam apa?" tanya Nathan.


"Alhamdulillah, baik-baik semua Mas. Kayaknya nggak ngidam apa-apa. Mas tenang saja, kalau nanti aku mau makan apa, pasti aku bilang pada Mas," jawab Lilis sambil melihat kondisi Wahyu.


"Bagus kalau begitu, kamu istirahatlah. Biar nanti aku yang buatkan susu untuk Wahyu," kata Nathan sambil tersenyum.


"Iya, memang agak capek, Mas hari ini. Aku butuh istirahat kayaknya," kata Lilis sambil merebahkan diri di samping Nathan.


"Sebelum tidur aku ingin menunjukan sebuah sketsa foto padamu," kata Nathan sambil menunjukan sebuah foto pada Lilis.


Lilis melihat sketsa foto yang ada di dalam ponsel suaminya. Karena kurang jelas, Lilis akhirnya memperbesar lukisan itu. Sesaat matanya menyipit dan dahinya berkerut. Sepertinya dia pernah melihat wajah orang dalam sketsa tersebut.


Dadanya berdegup kencang lalu wajahnya berubah penuh emosi. Mulutnya menyebut nama seseorang.


"Wiwik ...."


Nathan terdiam mendengar Lilis menyebut nama seorang perempuan yang tidak di kenal.


"Siapa dia?" tanya Nathan penasaran.


"Tetangga. Katakan padaku, apakah dia yang menculik Wahyu?" tanya Lilis sambil menatap suaminya.

__ADS_1


"Tetangga, hanya tetangga? Benar, dia yang dicurigai menculik Wahyu. Kalau hanya tetangga, kenapa bisa sampai menculik Wahyu? Apa tujuannya?" tanya Nathan sambil memberikan dahi.


"Karena itu, aku juga ingin tahu kenapa dia sampai tega menculik Wahyu. Mas, apakah dia sudah di tangkap?"


"Sepertinya belum, mereka masih menyelidiki. Mereka tidak mau salah tangkap orang. Tapi karena kamu yakin wanita itu adalah Wiwik tetanggamu, besok aku akan mengatakannya pada polisi agar mereka segera menangkap wanita itu. Aku takutnya, dia sudah melarikan diri saat tahu, kita sudah menemukan Wahyu," kata Nathan agak cemas.


"Semoga saja, polisi segera bisa menangkap Wiwik dan kita akan segera tahu motifnya," kata Lilis.


"Semoga saja," jawab Nathan.


Sesungguhnya, Lilis mulai curiga motif Wiwik ada hubungannya dengan masa lalunya. Tapi, tidakkah seharusnya dia tahu jika itu bukan salah Lilis. Tapi, mungkin juga dia punya motif lain. Karena hanya Wiwik yang bisa menjawabnya.


Malam semakin larut, Lilis dan Nathan sudah mulai terlelap dalam mimpinya masing-masing.


***


Esok harinya, Nathan bergegas pergi ke kantor polisi untuk melaporkan temuannya tentang sosok wanita penculik Wahyu. Berdasarkan laporan Nathan, polisi segera bergegas menuju rumah Wiwik. Akan tetapi ternyata Wiwik sudah melarikan diri. Sudah 2 hari, Wiwik meninggalkan rumahnya untuk pergi merantau. Begitulah pamitnya pada orangtuanya.


Lilis dan Nathan mencoba menerima nasib karena Wahyu pun sudah ditemukan dengan selamat, meski dalam kondisi memprihatinkan. Dan hal itu sudah sangat di syukuri oleh keluarga Lilis sebagai sebuah mukjizat yang indah.


Sejak hilangnya Wahyu dan tidak ada titik terang sedikitpun, mereka hampir putus asa dan hampir menyerah juga. Saat ini mungkin juga akan ada hal yang sama tentang penculik Wahyu. Karena sekarang penculiknya sudah diketahui dan tinggal mencarinya saja. Selama Wiwik masih berada di atas bumi dan dibawah langit, pastilah polisi akan menemukannya.


Harapan-harapan itu Lilis tumbuhkan untuk menenangkan hatinya yang sedang marah dan emosi pada Wiwik. Jika dia bukan penculiknya, tidak mungkin dia pergi dari rumah setelah Wahyu ditemukan.


"Lis, apa rencana kamu sekarang? Apakah kamu akan tetap tinggal dikampung ini?" tanya Bu Siti saat semua sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Lilis belum tahu pasti. Tapi Lilis merasa nyaman tinggal di kampung ini," jawab Lilis.


Nathan mendengarkan saja percakapan antara ibu dan anak itu tanpa menyela. Nathan mencoba mendengarkan sambil bermain dengan Naina dan Wahyu.


"Kalau kamu memang lebih nyaman tinggal dikampung, ibu setuju saja. Tetapi, apakah kamu sudah bicarakan ini dengan suamimu?"

__ADS_1


"Belum, Bu. Lilis masih belum bisa membicarakan ini dengan Mas Nathan. Lilis takut kamu akan berbeda pendapat. Aku takut kami akan bertengkar saat membicarakan ini," jawab Lilis pelan, takut suaminya mendengar.


"Sebaiknya secepatnya kamu bicarakan pada suamimu. Nathan itu orang kota, dia tidak terbiasa hidup di desa kecil seperti ini," kata Bu Siti sambil menatap Lilis.


"Iya, Bu. Tunggu beberapa hari lagi, Lilis harus siap mental kalau kita nanti berdebat bahkan berantem karena ini," kata Lilis sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Seperti mau berperang saja, Lis. Menurut ibu, kamu itu terlalu jauh berprasangka. Ibu tahu bagaimana sifat menantu ibu itu, lebih baik daripada kamu," kata ibu sambil tersenyum.


"Ah, kenapa ibu membela menantu ibu, bukan anaknya?" kata Lilis cemberut manja.


"Lilis-Lilis, kamu itu sudah dewasa. Masih saja ingin bermanja di depan ibu," kata Bu Siti sambil mengelus punggung Lilis.


"Lilis ini anak ibu satu-satunya. Padahal kini saatnya, Lilis yang harus membuat ibu bisa merasakan hidup nyaman dan damai dimasa tua ibu. Semoga ibu diberi panjang umur dan bisa menemani cucu-cucu ibu hingga dewasa dan menikah," kata Lilis sambil berdoa.


"Aamiin, semoga dikabulkan."


Saat itu, terdengar bunyi ponsel Nathan. Nathan tampak serius berbicara, sepertinya itu telepon penting.


Selesai menerima telepon, Nathan mendekati Lilis.


"Wiwik sudah ditemukan," kata Nathan sambil melihat Lilis.


"Benarkah? Kapan kita bisa bertemu dia?" tanya Lilis senang dengan berita itu.


"Besok. Polisi baru akan mengkonfirmasi keterangan pengemis itu dengan Wiwik. Setelah semua jelas dan Wiwik mengaku, kita baru bisa menemuinya," kata Nathan menenangkan Lilis yang terlihat bersemangat ingin bertemu penculik Wahyu.


Lilis menahan diri, untuk tetap tenang dan menunggu hingga esok tiba.


Bersambung


yuk baca karya temen aku dibawah ini

__ADS_1



__ADS_2