Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 26. Uang nomor satu


__ADS_3

Lilis mulai menapaki babak baru dalam hidupnya, bagaimana dengan hidup Desta?


Desta menikahi Maria, namun karena Desta belum menceraikan Lilis secara resmi, mereka juga tidak bisa menikah secara resmi. Dua tahun menjalani hidup bersama Maria. Desta bersenang-senang dan menikmati uang Maria.


Maria dinyatakan hamil setelah pernikahan sirinya memasuki tahun kedua. Maria mulai sensitif dan sering menegur Desta karena sering keluar rumah dan tidak peduli padanya. Desta juga mulai merasa bosan, apalagi dari awal Desta memang tidak mencintai Maria. Desta ingin menikmati hidup mewah dengan uang Maria saja.


"Mas, besok antar aku periksa ke dokter ya," pinta Maria setengah bermanja pada Desta.


"Aku tidak bisa. Besok aku ada kerjaan dengan Feri," jawab Desta yang masih asyik dengan ponselnya.


"Mas, kerjaan apa? Jika dengan Feri, itu pasti bukan pekerjaan yang baik."


"Kamu jangan menghina temenku. Kita kenal juga dari dia. Jangan sok suci."


"Maksud mas Desta apa, bicara seperti itu?" tanya Maria kesal.


"Ah sudahlah, kau jangan memancing pertengkaran."


"Aku tidak memancing pertengkaran, tapi Mas Desta yang lebih mementingkan teman daripada aku, istrimu."


"Ternyata, lama-lama kamu lebih cerewet dibandingkan Lilis."


"Kenapa, Mas Desta bawa-bawa Lilis dalam masalah kita. Mas Desta tidak peduli perasaanku?"


"Maria, aku hanya tidak ingin, kamu membuat aku jadi berpikir kalau aku salah memilihmu."


"Mas, apa maksudmu, salah memilih?"


"Sudahlah, mana uang yang aku minta kemarin. Sudah kau siapkan?" ucap Desta tidak peduli dengan kekesalan Maria.


"Uang, uang. Di matamu hanya ada uang," kata Maria semakin kesal.


"Lalu apa. Yang aku butuhkan hanya uang sekarang. Lagian, uang itu bukan aku gunakan untuk bersenang-senang, tapi untuk buka usaha."


"Usaha, berapa kali mas Desta minta uang untuk usaha? Mana hasilnya?"


Maria bertambah kesal karena ini bukan pertama kalinya Desta meminta uang padanya dengan alasan untuk membuka usaha. Tetapi sampai saat ini, tidak ada hasil yang nyata. Malah sekarang lebih sering minta uang untuk usaha baru karena yang lama gagal. Begitu lagi dan lagi.


"Tidak usah banyak tanya. Namanya usaha, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Kamu juga tahu bisnis kan, tentunya kamu juga tahu resiko gagal itu 50:50."


"Tapi, harusnya Mas Desta tidak terus menerus meminta uang dengan alasan membuka usaha baru. Uang Maria juga bisa habis, Mas."


"Dasar kamu memang pelit. Kalau begini terus, aku akan pergi saja. Silahkan kamu hidup dengan uangmu saja."

__ADS_1


"Pergi? Mas, saat ini aku sedang hamil anak kamu, mas. Tega-teganya kamu berkata begitu padaku."


"Kalau begitu, berikan uangnya. Cepat!"


Maria berdiri untuk mengambil uang di dalam lemari pakaiannya. Sambil menitikkan airmata, Maria menggenggam uang sebesar 10 juta yang akan diberikannya kepada Desta.


Maria masih ragu ingin memberikan uang yang ada ditangannya atau tidak. Namun dengan cepat, Desta merampas uang ditangan Maria sambil tersenyum puas.


"Ini yang terakhir, mas. Maria sudah tidak memiliki simpanan lagi," ucap Maria sedih.


"Oke. Bay, pergi dulu sayang."


Desta mencium kening istrinya sebelum melangkah pergi. Maria hanya terduduk lesu. Semua uang simpanannya sedikit demi sedikit telah dihabiskan oleh Desta. Lelaki yang sudah menikahinya secara siri 2 tahun lalu. Kini tak adalagi yang tersisa. Uang yang baru saja dibawa Desta adalah simpanan terakhirnya.


Inikah yang dirasakan Lilis dulu, saat menjadi istrinya Mas Desta?


Disaat Maria tengah tenggelam dalam kesedihan, Desta pergi menemui Feri untuk diajaknya pergi ke tempat karaoke. Desta, mulai merasa bosan dengan Maria.


Sejak awal, Desta memang tidak pernah mencintai Maria. Desta hanya ingin uangnya saja. Saat bercinta dengan Maria, Desta kerap kali hanya menggunakan nafsunya saja untuk memuaskan Maria. Karena ternyata, cintanya masih tertambat pada Lilis. Istri yang sudah dia talak dua tahu lalu.


"Ini belum malam Bro. Bentar lagi. Kita ngobrol dulu di sini, sambil cuci mata."


"Alah, kau ini, bilang saja mau melihat Sri. Aku tak yakin dia mau sama kamu. Hahaha..."


Saat itu, Sri lewat sambil membawa tas belanjaan. Feri tampak senang dan menggodanya. Kesempatan ini juga tidak ingin dilewatkan Desta untuk mencari tahu keberadaan Lilis.


"Cantik, boleh aku bantu?" ucap Feri menggoda.


"Aku masih bisa membawanya sendiri," jawab Sri ketus.


"Sri, apa kabar," sapa Desta pada sahabat mantan istrinya.


"Desta?" jawab Sri kaget.


"Bisa bicara sebentar?"


"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan."


"Bagiamana kabar Lilis?"


"Untuk apa menanyakan kabar Lilis, kalian sudah bercerai secara resmi. Lilis juga sudah hidup bahagia sekarang. Jangan ganggu dia lagi."


"Benarkah sekarang dia sudah kaya?"

__ADS_1


"Benar. Bahkan dia lebih kaya dari wanitamu itu. Tapi aku yakin dia, tidak akan mau melihatmu lagi."


"Kamu bicara apa, aku akan membuktikan kalau aku bisa bersama Lilis lagi. Aku mencintainya, dan aku akan mengejarnya lagi."


"Jangan coba-coba ganggu Lilis, Desta."


"Terserah aku."


Desta tertawa sambil berlalu pergi.


"Desta, mau kemana? Bukannya kita mau ke karaoke?"


"Maaf, nggak jadi. Aku ada urusan yang lebih penting."


"Sri...."


Feri menoleh ke arah Sri, yang sudah tidak ada lagi. Sri sudah pergi meniggalkan Feri yang merasa kesal dengan Desta dan Sri yang meninggalkannya sendirian.


Desta bergegas menuju rumah orangtuanya, yang sudah lama tidak dia kunjungi. Desta ingin mencari tahu alamat Lilis di kota. Desta ingin kembali bersama Lilis.


Dia berpikir, pasti sekarang Lilis berubah cantik karena dia memiliki banyak uang. Lagipula, sekarang Maria sudah kehabisan uang. Jadi saatnya mengejar Lilis kembali.


Sambil menyelam, minum air. Itulah yang ingin Desta lakukan saat ini. Mendapatkan cintanya, sekaligus uangnya.


Desta tersenyum licik, mengingat masa indah bersama Lilis. Pasti Lilis akan luluh melihat Desta menyesal meninggalkannya. Menyesal, tidak juga. Desta hanya butuh uang dan uang saja. Kalau soal cinta dan kebahagiaan, Desta tidak terlalu peduli.


Memang ketika bersama Lilis dulu, dia pernah merasakan jantung berdebar dan menikmati percintaan yang yang membuatnya menikmati sebuah hubungan. Tetapi, kalau tidak ada uang, rasanya dia lebih menderita. Jadi uang nomor satu, baru cinta. Lebih bagus kalau keduanya bisa didapatkannya.


Serakah banget aku, gumamnya pelan.


Sampailah Desta dirumah ibunya. Setelah memarkirkan motor dihalaman depan, Desta langsung masuk karena pintu sedang terbuka.


Desta berjalan menuju dapur. Disana terlihat ibunya sedang memasak untuk makan malam. Desta tersenyum licik. Saatnya bersandiwara.


"Ehem... sore Bu," sapa Desta.


"Desta, bikin kaget ibu saja. Datang tidak mengucapkan salam."


"Ibu, Desta sangat sedih. Kayaknya aku dan Maria bakalan pisah," ucap Desta merajuk.


"Apa, pisah...?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2