
Lilis menguatkan hatinya setelah kepergian Desta dengan istri barunya. Mungkin Lilis harus bersyukur karena wanita itu telah membawa Desta jauh darinya. Laki-laki yang selalu memberi tekanan batin dan mental serta memberinya airmata.
Mulai hari ini, Lilis telah memiliki status baru, yaitu menjadi seorang janda. Tidak ada yang buruk dengan status janda, karena dulu sang ibu juga hidup dengan status janda hingga kini dan semua baik-baik saja.
Bu Siti secara samar-samar mendengar pembicaraan Lilis dan Desta yang akhirnya berakhir dengan kata talak, yang terucap dari mulut Desta. Bu Siti bergegas mendekati Lilis yang tampak sedih.
"Lis, ibu sudah mendengar semuanya. Ibu ikut sedih untukmu nak. Kamu sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi kamu tetap tidak bisa mempertahankan pernikahan kamu dengan Desta. Ini bukan salah kamu, Lis. Desta yang bodoh, tidak tahu telah melepaskan istri yang baik sepertimu."
"Ibu, Lilis tidak sedih di talak mas Desta. Lilis sedih memikirkan Naina. Dia baru saja lahir ke dunia, tetapi dia telah ditinggalkan oleh ayahnya. Bahkan Naina belum pernah sekalipun mendapat sentuhan dari ayahnya."
"Kamu yang sabar, Lis. Insyaallah, Naina akan tumbuh menjadi gadis yang kuat meski tanpa ayahnya."
"Aamiin. Lilis berharap, Naina tidak akan kekurangan kasih sayang. Kita akan memenuhi Naina dengan cinta, sehingga dia tidak akan bertanya tentang ayahnya."
"Lalu, bagaimana tentang perceraian kamu, Lis. Apa Desta akan mengurusnya sendiri? Atau kamu yang akan menggugat cerai Desta?"
"Lilis sekarang tidak memiliki uang untuk menggugat cerai mas Desta, tapi aku harap mas Desta akan segera mengurusnya. Toh, dia yang akan segera menikah resmi dengan istri sirinya."
"Lis, lalu jika dia yang menggugat, dia tidak memiliki alasan. Tapi kamu sebaliknya, kamu memiliki banyak alasan untuk menggugat cerai Desta."
"Ibu, untuk saat ini, Lilis tidak ada uang sama sekali. Jika Lilis ingin menggugat cerai mas Desta, Lilis harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Biaya perceraian juga tidak sedikit, Bu."
"Maafkan ibu, Lis. Ibu tidak sabar ingin melihat kamu tersenyum bahagia, seperti dulu lagi. Ibu mengerti, untuk mendapatkan sertifikat perceraian juga perlu uang dan juga butuh waktu."
"Doakan saja, agar Lilis bisa segera pulih dan bisa bekerja lagi. Dengan restu ibu, Lilis yakin, Lilis akan bisa sukses suatu hari nanti."
"Tentu, ibu akan selalu mendoakan kamu, Lis. Namun ibu berharap, meskipun kamu ingin sukses, capailah dengan cara yang diridhoi oleh Allah. Jangan sekali-kali meraihnya dengan cara yang salah."
"Lilis akan selalu mengingat harapan ibu ini."
Lilis menghela nafas lega, meskipun saat ini dia tidak memiliki uang sama sekali, rasanya beban berat telah dia lepaskan dari tangannya.
***
"Assalamualaikum."
Terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari luar dan ternyata yang datang adalah Bu Sari, ibunya Wendi.
"Wa'alaikum salam."
Lilis menjawab salam dari Bu Sari dengan hati senang. Masuklah Bu Sari, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Maklum, dia termasuk salah satu orang terkaya di kampungnya. Ketika orang-orang seperti Lilis dan ibunya dapat membeli motor dengan kredit, Bu Sari bisa membeli mobil mewah secara tunai.
"Maaf, ya Lis. Bibi baru bisa jenguk kamu sekarang."
"Tidak apa-apa, bibi. Lilis tahu, bibi pasti lagi sibuk."
__ADS_1
"Ini, bibi bawa sedikit baju ganti untuk…"
Bibi berhenti sesaat sambil melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari tulisan yang biasanya ada nama sang anak.
"Siapa nama Putri kamu, Lis? Bibi tidak melihat ada poster yang ada tulisan nama anakmu?"
"Namanya Naina Najma, bibi."
"Naina Najma, bintang yang bersinar. Cantik sekali namanya, Lis. Bibi ingin menggendongnya. Coba sini, kasih ke bibi."
Lilis memberikan Naina pada Bu Sari yang tampak senang sekali melihat kecantikan Naina. Bu Sari bergumam sambil menatap putri kecil di pangkuannya.
"Jika dulu ibumu mau menikah dengan anakku, Wendi. Tentu kamu adalah cucuku."
"Bibi, bicara apa?"tanya Lilis mengagetkan bu Sari.
"Bibi, tidak ngomong apa-apa, kok. Hanya memuji Naina. Naina cantik sekali seperti ibunya."
" Bibi bisa aja," jawab Lilis sambil tersenyum.
"Lis, ibumu dimana, kok rumahmu tampak sepi?"
"Ibu sedang membeli beras di warung Bu As, bibi."
"Begitu. Lis, bibi dengar, kamu sudah berpisah dengan suamimu, apa itu benar? Maaf, bibi penasaran dengan gosip diluar. Mending bibi tanya langsung saja sama kamu."
"Lis, apa itu ada hubungannya dengan Wendi?"
"Tidak. Sama sekali tidak hubungannya dengan Wendi."
"Bibi mendengar gosip antara Wendi dan kamu, mungkin saja suamimu mendengarnya lalu dia sakit hati."
"Beneran Bi, tidak ada hubungannya dengan Wendi. Bibi tenang saja, dalam perpisahan Lilis dan mas Desta tidak ada hubungannya dengan siapapun."
"Bibi jadi lega mendengarnya. Kemaren Wendi sempat curhat ke Bibi, dia mengira dan menuduh dirinya sendiri sebagai penyebab perceraian kalian. Sampai dia tidak mau makan."
"Kalau begitu, maafkan Lilis bi."
"Kamu tidak salah, Lis. Memang Wendi yang terlalu sensitif."
Bu Sari memang sangat baik. Kali ini datang membawa pakaian untuk Naina. Sejak kecil, Naina sering bermain ke rumah Bu Sari dan menganggap bu Sari sebagai ibu kedua baginya.
Setelah hampir 2 jam, Bu Sari pamit pulang. Tidak lupa, Lilis mengucapkan terimakasih. Lilis membuka beberapa pakaian yang diberikan Bu Sari padanya. Semuanya pakaian bayi yang kualitasnya sangat bagus, bisa dipastikan harganya pasti mahal.
***
__ADS_1
Esoknya, Wendi datang dengan wajah ragu. Wendi takut jika kedatangannya tidak akan disambut oleh Lilis. Kali ini dia bertaruh saja. Jika dibolehkan, dia ingin melihat Naina. Jika ditolak, dia akan pergi tanpa protes.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Nak Wendi?"
"Iya, Bu Siti. Apa boleh aku masuk untuk melihat Naina?"
"Boleh saja. Kenapa nak Wendi bertanya seperti itu?"
"Setelah semua yang terjadi, mungkin Lilis akan menghindari aku."
"Wendi, untuk apa aku menghindarimu?"
Suara Lilis mengagetkan Wendi. Wendi tersenyum saat melihat Lilis masih mau menyapanya.
"Kita tidak melakukan kesalahan, jadi untuk apa saling menghindari. Apalagi sekarang, sudah tidak ada yang harus aku jaga perasaanya."
"Aku kesini, karena aku kangen Naina. Bolehkah aku melihatnya sebentar. Setelah itu aku akan pergi."
"Masuklah. Naina pasti senang memiliki paman sepertimu."
Wendi bergegas masuk kedalam rumah untuk segera melihat Naina. Ada rasa rindu yang menyelimuti hati Wendi sejak dia mengumandangkan adzan untuk pertama kalinya pada Naina. Apakah salah jika dia merasa dan menganggap Naina sebagai anaknya?
Terlepas dari rasa cintanya pada Lilis yang tidak pernah mati, Naina memberi harapan baru bagi Wendi untuk mendapatkan perhatiannya. Seandainya diberi kesempatan, Wendi ingin membahagiakan Lilis dan juga Naina.
"Lis, aku sudah mendengar dari ibu. Apakah kamu tidak ingin segera memperjelas statusmu? Atau kamu masih berharap bisa rujuk kembali dengan Desta? Maaf, aku bertanya sebagai sahabat, bukan karena tujuan lain."
"Tidak apa-apa Wen. Aku tidak ingin rujuk dengan mas Desta lagi. Tetapi aku ingin menggunakan uang dari hasil kerja kerasku sendiri untuk mengajukan gugatan cerai."
"Tetapi, kamu akan lama terbebas dari Desta. Aku bisa memberimu pinjaman lagi, dan kamu bisa mengembalikan kapan saja, jika kamu sudah memiliki uang."
"Terimakasih, Wen. Tapi, aku sudah terlalu banyak berhutang padamu. Lagipula, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan mengajukan gugatan dengan uang aku sendiri."
"Lalu, status kamu akan tidak ada kejelasan karena meski Desta sudah menjatuhkan talak, tetapi secara hukum kalian belum bercerai."
Wendi tampak sangat khawatir, dengan keputusan Lilis. Jika Lilis belum bercerai, bagaimana dia bisa mendekati Lilis secara terang-terangan. Sedangkan Lilis, sengaja menggantung statusnya bukan ingin rujuk kembali dengan Desta, tetapi dia memberi batasan dan pagar agar tidak laki-laki yang mendekatinya, termasuk Wendi.
Lilis merasa, tidak harus menikah lagi. Dia hanya ingin fokus membesarkan Naina dan membahagiakan ibunya. Lilis ingin belajar dari ibunya, yang fokus membesarkan dirinya sejak ayahnya meninggal.
Ibunya sanggup bertahan seorang diri, hampir 15 tahun lamanya membesarkan dia. Tanpa pendidikan dan pekerjaan yang standar, beliau bisa menyekolahkan dia hingga SMK.
Kini saatnya membalas semua pengorbanan ibunya. Meski pada awalnya, setelah menikah dengan Desta, Lilis berharap kehidupannya akan semakin baik dan sukses, sehingga dia bisa membuat ibunya bahagia.
Kegagalan berumahtangga kali ini, benar-benar menjadi pukulan berat bagi hidup Lilis dan ibunya karena membuat mereka jatuh semakin dalam, dalam kemiskinan.
__ADS_1
Bersambung