
"Apa, Cerai? Sayang, apa maksud perkataanmu? Kamu tahu apa artinya Cerai?" tanya Nathan panik.
"Aku tahu. Aku sudah pernah mengalaminya. Jadi jangan tanya lagi, apa arti cerai," jawab Lilis datar.
"Tapi, apa masalah diantara kita? Kita selama ini baik-baik saja. Kita sudah melewati masa-masa yang indah. Kita baru saja memiliki anak. Kamu lihat, Wahyu anak kita. Itu buah cinta kita. Tidak, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Tidak akan pernah," kata Nathan sambil meneteskan airmata.
"Mas, awalnya aku rasa semua akan baik-baik saja. Kita memiliki keluarga yang harus kita jaga. Aku memiliki ibu, Naina dan Wahyu yang harus aku lindungi. Bagiku mereka lebih penting dari apapun, termasuk kamu, mas Nathan. Aku sudah memikirkannya baik-baik, tentang kita dan semuanya. Keputusanku sudah yang terbaik untuk kamu dan aku serta untuk semua orang," kata Lilis sambil menghela nafas berat.
"Sayang, jika ada masalah, beritahu aku. Aku akan menyelesaikannya untukmu. Keputusan yang kamu katakan terbaik untuk kita, untuk semua orang, apakah kamu sudah bertanya padaku, apa yang terbaik untukku? Yang terbaik untukku adalah bersamamu, bersama anak-anak kita," ucap Nathan sambil memegang tangan Lilis.
Lilis hanya diam saja, mendengar ucapan suaminya. Tiba-tiba Wahyu menangis. Lilis melepaskan pegangan tangan suaminya lalu mengendong Wahyu dan berusaha menenangkannya.
"Apakah karena aku miskin, kamu menganggap aku tidak mampu menjaga kalian? Atau kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Nathan lagi.
"Benar. Ini semua karena kamu miskin. Bagaimana kamu bisa memberi masa depan untuk anak-anak. Aku juga sudah tidak mencintaimu. Jadi, pergilah," kata Lilis sambil menahan tangisnya.
"Sayang, aku tidak percaya apa yang kamu katakan. Kau tidak mencintaiku lagi? Dan kini, kamu mengusirku?" tanya Nathan tidak percaya dengan semua ini.
"Jika masih punya malu, pergilah!"ucap Lilis keras.
"Bukankah suami istri bertengkar, berbeda pendapat itu hal yang biasa. Kenapa kamu sampai harus mengusirku?" tanya Nathan sedih.
"Haruskah aku mengulangi lagi perkataanku?" tanya Lilis menahan sedih.
"Baik, karena kamu sudah mengusirku, dan aku juga punya harga diri. Malam ini aku akan pergi. Aku harap kamu tidak akan menyesal telah mengusirku," ucap Nathan yang segera beranjak dari ranjangnya dan segera mengemasi pakainnya.
"Aku tunggu surat cerai darimu, secepatnya," ucap Lilis sebelum Nathan pergi.
__ADS_1
Nathan berharap Lilis akan menghentikannya agar tidak pergi, akan tetapi malah surat cerai yang Lilis tunggu.
Nathan pergi dengan rasa marah dan emosi yang memuncak. Lilis, wanita yang sangat penyayang dan penyabar itu sudah tidak ada lagi. Dia sudah berubah menjadi wanita matre dan tidak peduli perasaan orang lain. Selama menikah, hampir tidak ada pertengkaran dan perselisihan. Akan tetapi hanya dalam satu malam hubungan cinta ini kenapa bisa berakhir.
Di ruang tamu, Nathan berpapasan dengan ibu mertuanya. Bu Siti kaget melihat Nathan membawa koper.
"Mau kemana malam-malam begini, nak?"
"Lilis mengusirku Bu. Aku pergi, tolong jaga Lilis dan anak-anak. Jika ada sesuatu, kabari Nathan, Bu."
"Maafkan Lilis, juga maafkan ibu, ibu tidak bisa membantu apa-apa."
"Ibu, ini masalah antara aku dan Lilis. Tidak ada hubungannya dengan ibu. Nathan pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Nathan sambil mencium tangan ibu mertuanya.
"Wa'alaikum salam."
Perlahan Bu Siti membuatkan susu untuk Wahyu, setelah itu beliau menggendongnya. Wahyu terdiam dalam gendongan Bu Siti dan akhirnya dia tertidur. Bu Siti segera membaringkan Wahyu ke dalam box bayi.
Sedangkan Lilis, sudah tidak terdengar suara tangisnya. Bu Siti mengira, Lilis tertidur setelah lelah menangis seperti Wahyu. Tetapi ternyata beliau salah.
"Lis, Lilis, pindahlah ke atas. Nanti lehermu bisa sakit," kata Bu Siti ambil menyentuh pelan tubuh Lilis.
Tidak disangka, tubuh Lilis tergeletak di lantai membuat Bu Siti panik. Lilis pingsan.
"Lilis ...."
Bu Sri segera mengambil minyak kayu putih dan segera menempatkannya di bawah hidung Lilis agar bisa dihirup. Bu Siti juga mengoleskannya di dada dan leher Lilis. Setelah beberapa saat, Lilis tersadar dan mendapati dirinya tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Ibu, apa yang terjadi? Kenapa Lilis ada di lantai?" tanya Lilis kaget sambil berdiri dan beralih ke atas tempat tidurnya.
"Lilis, Kamu tadi pingsan. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah ini ada hubungannya dengan kepergian kamu tadi siang?" tanya Bu Siti sambil duduk disampingnya.
"Ibu, maafkan Lilis. Lilis sudah membuat keputusan. Mungkin keputusan Lilis ini akan membuat aku dan Mas Nathan tidak akan bisa bersama lagi," kata Lilis sedih.
"Lilis, ibu yakin apapun keputusan yang kamu ambil, pasti sudah kamu perhitungkan baik dan buruknya. Setiap keputusan memang tidak akan tepat bagi semua orang. Pasti akan ada yang terluka. Tetapi jika keputusan itu membuat kamu terluka, kenapa kamu tidak membaginya dengan suamimu?" tanya Bu Siti sambil menghela nafas.
"Jika aku mengatakan padanya, mana mungkin dia akan mau berpisah denganku secara baik-baik. Banyak hal yang membuat aku harus mengambil keputusan ini. Membuat diriku buruk dimatanya, sangat sulit. Aku hampir menangis melihat dia terluka," kata Lilis.
"Apa tidak ada jalan lain selain berpisah?" tanya Bu Siti penasaran.
"Aku tidak ingin membuatnya dalam pilihan yang sulit. Aku memilihkan satu untuknya, agar dia bisa melangkah ke depan tanpa menoleh lagi padaku dan anak-anaknya."
"Ibu rasa, itu tidak adil bagi dia. Baginya kalian adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Sekarang, kamu mematahkan hatinya dan bahkan hati itu mungkin saat ini telah hancur."
"Adil ataupun tidak, sudah tidak penting lagi sekarang. Bagi Lilis, keselamatan kalian diatas segalanya. Mas Nathan akan sanggup hidup tanpa kami, tapi jika terjadi sesuatu pada ibu dan anak-anak, aku yang akan mati ibu," jawab Lilis sambil menangis.
"Lilis maafkan ibu, ibu tidak akan bertanya lagi. Apapun keputusan kamu, ibu anggap itu yang terbaik untuk kita," Kata Bu Siti sambil memeluk Lilis.
"Jika di kota ini hidup kita sudah tidak aman, mungkin kita akan pergi dari sini," kata Lilis.
"Apapun keputusan Lilis, ibu ikut saja. Ibu yakin itu untuk kebaikan kita," kata Bu Siti.
Bu Siti tidak mampu lagi bertanya. Beliau takut membuat Lilis tertekan. Biarlah apapun yang dia putuskan semoga bisa di pertanggungjawabkan pada hatinya sendiri. Karena dia yang memutuskan, dia yang terluka, dia yang sakit. Asalkan dia tidak putus asa, masih ada kesempatan merubahnya dikemudian hari.
Walaupun Bu Siti tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan Lilis, beliau selalu berdoa agar Allah menunjukkan jalan terbaik untuk rumah tangga putrinya. Jangan sampai ada perpisahan untuk kedua kalinya oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
__ADS_1