
Menjelang hari lamaran Wendi dan Sri tinggal menghitung hari. Persiapan lamaran yang akan diikuti prosesi pernikahan pada esok harinya, terlihat begitu menyibukkan banyak orang. Terutama keluarga dekat, kerabat dan tetangga.
Apalagi dikampung ini, keluarga Wendi termasuk keluarga yang terpandang dan di hormati. Tidak tanggung-tanggung, barang lamaran yang akan diberikan pada calon menantunya adalah kalung, gelang dan cincin pada awal lamaran.
Dan pada saat acara pernikahan, keluarga Wendi akan memberikan sebuah sepeda motor, sapi dan perabotan isi rumah. Mulai dari spring bed, toilet, lemari kayu, rak piring, peralatan dapur dan lain-lainnya yang akan dibawa bersamaan dengan calon pengantin pria pada saat acara akad nikah.
Sebagai balasannya, cukup semampunya pihak perempuan. Keluarga Sri hanya akan memberikan sebuah kulkas sebagai gantinya. Meskipun banyak yang menganggap ini terlalu berlebihan, tetapi Wendi memang ingin memberikan apa yang dia miliki untuk istrinya. Karena nanti juga semua itu akan berada di dalam rumah mereka.
Nathan ikut membantu persiapan di rumah Wendi, demikian juga dengan Bu Siti dan Naina. Lilis tidak ikut membantu karena kondisi Wahyu yang kurang selalu rewel jika banyak orang.
"Assalamualaikum."
Terdengar suara seorang perempuan dari luar. Lilis meninggalkan Wahyu yang sedang tertidur.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis.
Lilis membuka pintu dan mendapati mantan ibu mertuanya bersama kakak iparnya datang. Lilis mendadak cemas, apakah ada sesuatu yang terjadi yang membuat mereka menemuinya.
"Ibu, Mbak Mona, silahkan masuk," ajak Lilis ramah. "Silahkan duduk dulu, Lilis masuk sebentar."
"Terima kasih, Lis. Tidak perlu repot-repot," kata Bu Wati.
"Tidak repot kok, Bu. Hanya air minum saja," jawab Lilis.
Bu Wati dan Mbak Mona duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat rumah Lilis. Lilis yang baru saja membuat teh hangat untuk mereka dan berniat mengantarkan teh ke mereka, sempat kaget. Lilis tidak ingin berpikir negatif dengan kedatangan mereka, walupun perasaan itu tiba-tiba muncul.
"Ibu, Mbak Mona. Ini minumannya, silahkan di minum," kata Lilis sambil tersenyum ramah.
"Makasih, Lis," kata Mbak Mona.
__ADS_1
"Kedatangan ibu kesini, pertama ingin melihat keadaan kamu dan cucu ibu. Dan ibu senang melihat kamu sekarang lebih baik bahkan bisa dibilang sangat baik setelah berpisah dengan Desta," kata Bu Wati sambil menghela nafas panjang.
"Alhamdulillah Bu, Lilis sudah memiliki usaha sendiri yang bisa untuk merenovasi rumah ini dan untuk makan sehari-hari Lilis," kata Lilis menghadapi ucapan Bu Wati.
"Ibu juga lihat, kamu sudah menikah lagi dan sudah memiliki anak. Suamimu juga sangat baik tidak seperti anak ibu, Desta. Pastinya nanti kalian tidak hanya akan memiliki seorang anak bukan? Pasti, kalian ingin memiliki lebih dari satu," kata Bu Wati.
"Iya, Bu. Karena Lilis anak tunggal dan tidak memiliki saudara, Lilis kadang merasa kesepian. Karena itu, jika Lilis di beri anugerah dan diberi kesempatan oleh Allah, Lilis ingin memberi Naina saudara paling tidak dua. Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya Lilis.
"Lis, kamu tahu, aku sudah menikah lebih dari 10 tahun. Dan sampai sekarang, aku belum diberi keturunan. Meskipun suamiku tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu, tetapi, sebagai wanita aku juga ingin memiliki seorang anak," kata Mbak Mona sedih.
"Lilis tahu, Mbak. Lilis juga ikut sedih, dan Mbak Mona pasti juga sangat sedih belum diberi momongan. Sayang, Lilis tidak bisa membantu apa-apa," kata Lilis.
"Kamu bisa bantu kakak iparmu, Lis," kata Bu Wati.
"Benar Lis, mas Diro setuju aku ambil anak, tapi dia maunya yang ada hubungan keluarga. Katanya kalo masih ada hubungan keluarga kan seperti mengasuh anak sendiri," Kata Mbak Mona.
"Berikan Naina pada Mona," kata Bu Wati.
"Apa, memberikan Naina pada Mbak Mona? Maksud kalian ...," tanya Lilis benar-benar panik.
"Aku akan mengadopsi Naina. Aku janji akan merawat Naina dengan baik. Sekolah dan pendidikan yang layak sampai kuliah jika dia mau," kata Mbak Mona.
"Ini bukan masalah bisa merawat atau tidak, tetapi kenapa kalian begitu mudah mengucapkan permintaan seperti itu. Kalian tidak mempertimbangkan perasaanku. Naina itu anakku. Aku yang mengandung dan melahirkan dia dengan bertaruh nyawa. Seharusnya kalian sudah tahu jawabanku sebelum kalian berpikir untuk mengambilnya dariku," ucap Lilis emosi bercampur marah.
"Sabar, Lis. Aku tahu kamu ibunya, tapi kamu pahami juga kondisi Mona. Kamu tahu sekarang ini Desta minggat entah kemana. Dia menghilang karena malu di desa ini dia sudah tidak ada muka lagi. Anggap saja, Naina sebagai pengganti Desta. Biarkan Naina hidup di keluarga kami," kata Bu Wati berusaha menjelaskan.
"Tidak, kalian sangat egois. Hanya memikirkan diri kalian sendiri. Bagaimana dengan aku, aku juga tidak bisa hidup tanpa Naina," kata Lilis kesal.
"Tapi Lis, kamu sudah ada Wahyu. Dan kamu nanti juga akan memiliki anak lagi dengan suamimu yang baru. Kalian akan banyak anak dan kalian tidak akan merasa kesepian. Tapi aku, aku hanya minta Naina saja Lis," kata Mbak Mona memelas.
__ADS_1
"Mbak Mona, aku sedih dan aku kasihan padamu karena kamu belum di beri keturunan. Tetapi untuk memberikan Naina pada kalian, aku tidak bisa," kata Lilis sedih
"Lis, ibu tahu kamu wanita yang baik. Kamu tidak akan tega melihat Mona seperti ini. Pikirkanlah lagi dulu. Nanti, ibu dan Mona akan kembali lagi," kata Bu Wati.
"Iya, Lis. Kasihanilah aku. Apapun yang kamu minta sebagai gantinya, aku akan memberikannya padamu," kata Mbak Mona memohon.
"Kami pulang dulu, Assalamualaikum," kata Bu Wati.
"Wa'alaikum salam," jawab Lilis.
Lilis tertunduk lesu mengantar kepergian mantan ibu mertuanya dan mantan kakak iparnya itu. Sedih dan kesal menyelimuti hatinya saat ini. Karena dia tidak tahan dan dalam kebingungan , Lilis akhirnya menangis sendirian. Saat itu, Nathan baru saja pulang dari rumah Wendi. Nathan terkejut mendapati Lilis, sedang menangis di ruang tamu.
"Istriku sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis? Siapa yang sudah membuatmu menangis?" tanya Nathan bertubi-tubi.
"Lilis takut, Mas. Lilis takut," kata Lilis sambil memeluk suaminya yang duduk di sampingnya.
"Takut kenapa? Katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis. Bukankah kita sudah berjanji bahwa tidak akan ada rahasia diantara kita. Kamu akan jujur padaku dan aku akan jadi orang pertama yang tahu masalahmu?" tanya Nathan mengingatkan Lilis.
"Aku tahu Mas, aku sudah berjanji padamu. Tapi izinkan aku menenangkan diri dahulu sebelum mengatakannya padamu. Aku ingin menangis sampai rasa sesak di dadaku berkurang," pinta Lilis sambil memeluk erat Nathan.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap," kata Nathan sambil membalas pelukan Lilis.
Nathan teringat peristiwa yang dulu saat Kakek mengancam Lilis. Mungkinkah sekarang ada hal seperti itu lagi?
Bersambung
Mampir yuk ke karya teman aku
__ADS_1