Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 7. Lilis pingsan


__ADS_3

Lilis terdiam mendengar jawaban Desta, yang seolah tidak menghargai usahanya untuk menyenangkan sang suami. Perlahan dia keluar kamar menuju meja makan, yang semua makanannya masih utuh. Makanan yang belum tersentuh oleh siapapun termasuk oleh Lilis dan ibunya.


Bu Siti melihat Lilis sedih, juga ikut merasa sedih. Beliau ikut merasakan penderitaan putrinya yang sedang hamil, yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang penuh dari suaminya.


"Lis, ayo kita makan sekarang. Jangan sampai makanan ini dingin lagi."


"Maafkan Lilis, Bu. Gara-gara Lilis, ibu sampai malam baru makan," kata Lilis pelan.


"Tidak apa, Lis. Lain kali, ingat sama bayi dalam kandunganmu, yang butuh makanan. Jangan menunggu terus jika hasilnya, dia malah nggak mau makan."


"Iya, Bu. Padahal sudah Lilis bela-belain ngutang untuk bisa makan."


"Ibu malah takut, jika kamu kebanyakan ngutang, suamimu nggak mau bantu bayar, terus kamu nanti bayarnya pakai apa? Memang, ngutang untuk makan sekeluarga, tapi tahunya suamimu, kamu sudah diberi uang belanja biarpun nggak cukup untuk sebulan," Bu Siti mengungkapkan kecemasannya.


Lilis mengerti maksud ibunya, dia memang tidak boleh berhutang terlalu banyak pada tetangga dan teman-temannya, atau masalah baru akan muncul diantara dia dan suaminya.


Akhirnya Lilis berhenti berhutang dan mencoba untuk lebih irit lagi. Biaya Ke dokter berubah jadi periksa ke bidan. Dan masih banyak hal lain yang jika bisa dihemat lagi, pasti akan dilakukan Lilis.


Usia kandungan Lilis sudah memasuki bulan ke 8. Perjuangan Lilis bertahan dengan keadaan ini, sangat membuatnya lelah. Lelah hati dan lelah pikiran. Sampai dia tidak bisa tahan lagi untuk tidak meminta uang dari suaminya secara langsung.


"Mas, minta uang belanja. Semua barang kebutuhan sudah hampir habis. Lagian cicilan motor kita udah selesai kan mas, jadi klo bisa, Lilis minta lebih."


"Sayang, usaha mas belum mendapatkan hasil yang berarti. Modal masih harus berputar lagi. Mas belum bisa kasih banyak. Seperti biasa saja, kamu nggak keberatan kan?" kata Desta lembut.


"Iya, mas. Lilis mengerti, Lilis tidak akan meminta lebih jika memang usaha mas Desta belum berjalan baik."


"Makasih sayang, atas pengertiannya."


"Mas, Lilis mau jujur sama mas Desta.


Lilis ada hutang dengan beberapa tetangga, kira-kira kapan usaha mas berhasil dan kita bisa bayar hutang mas."


"Apa, hutang?! Kamu tuh gimana sih, katanya bisa ngatur yang belanja kok masih bisa ngutang sama tetangga. Nggak, aku nggak mau ikut campur soal hutang kamu itu."


"Mas, tapi kan uang itu untuk beli kebutuhan hidup kita, mas."


"Tapi kan kamu juga nggak minta izin dulu saat mau ngutang kan. Jadi hutang kamu, ya kamu tanggung sendiri."

__ADS_1


"Aku pikir, jika usaha mas Desta berhasil, mas Desta akan memberi uang lebih padaku agar bisa membayar hutang," kata Lilis hampir menangis.


"Sudah kubilang, uang yang aku kasih untuk satu bulan. Jika kamu masih berhutang, itu kamu yang nggak bisa ngatur uang. Dasar wanita boros. Tak pandai berhemat."


Setelah berkata begitu, Desta langsung pergi tanpa peduli dengan Lilis yang masih terdiam mendengar perkataan sang suami yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


Lilis sudah tidak dapat menahan airmatanya, meskipun tidak terdengar suara isak tangis dari mulutnya. Lilis memang bersalah, telah berhutang tanpa izin. Tetapi setidaknya, Desta mengerti posisinya dengan uang belanja yang Desta berikan. Secara nyata saja, uang segitu tidak akan cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka bertiga.


Kini, dia disebut sebagai istri yang tidak bisa mengatur uang belanja, istri yang boros dan tidak pandai berhemat. Sakit rasanya. Andai saja saat ini Lilis tidak sedang hamil, tidak mungkin dia akan menerima semua perlakuan suaminya.


Semakin Lilis mencoba menerima dan mengerti keadaan suaminya, semakin sakit pula hatinya. Desta belum berubah dan entah kapan dia akan bisa berubah.


Lilis lebih terpukul lagi, ketika mengetahui bahwa ibunya, ternyata mulai mencari barang bekas lagi untuk di jual. Lilis merasa syok dan dia tiba-tiba pingsan ketika bertemu ibunya di jalan.


Ibu Siti, berteriak memanggil nama putrinya. Kebetulan saat itu Wendi lewat di tempat itu. Wendi panik melihat Lilis pingsan dijalan. Dia segera membawa Lilis ke rumah sakit terdekat.


Menurut dokter, Lilis terlalu banyak tekanan dan kurang beristirahat. Kondisi tubuhnya melemah karena dari pagi ternyata dia belum makan. Sebenarnya, Dokter menyarankan untuk rawat inap. Tetapi, Lilis menolak dengan alasan badannya sudah baikan dan bisa segera pulang.


"Lilis, menginap saja dirumah sakit barang sehari. Nanti aku yang akan bicara pada suamimu jika kamu opname," kata Wendi.


"Benar kata nak Wendi, Lis," ucap Bu Siti.


"Baiklah, jika maunya kamu begitu. Aku urus dulu biar kamu bisa cepat pulang."


"Terimakasih, nak Wendi."


"Terimakasih, Wendi."


Wendi bergegas mengurus biaya dan pengobatan Lilis dan setelah itu dia segera membantu Lilis pulang ke rumahnya.


"Wendi, berikan catatan biaya perawatan padaku. Jika nanti aku sudah mempunyai uang, aku pasti akan menggantinya," kata Lilis saat Wendi hendak menyalakan mobil.


"Tidak perlu, Lis. Biayanya tidak seberapa. Jika kamu punya uang, nanti bisa kamu gunakan untuk yang lain. Bukankah kita teman?"


"Teman, biarpun kita berteman, hutang tetaplah hutang, Wen."


"Sudahlah, aku ngalah saja. Kamu menang. Ini, simpan baik-baik."

__ADS_1


Wendi menyerahkan nota biaya perawatan Lilis sambil tersenyum. Mungkin ini lebih baik untuk hubungan mereka. Saat Lilis melihat nota ini, dia akan teringat pada Wendi. Kapan lagi Wendi bisa diingat Lilis. Setelah menikah hubungan mereka, tidak seperti dulu lagi.


"Kenapa tersenyum Wen?"


"Tidak, aku hanya teringat saat kamu masih kecil, kamu sangat keras kepala, seperti sekarang."


Lilis tampak diam saja mendengar ucapan Wendi. Wendi pun akhirnya ikut diam dan segera menghidupkan mobilnya.


"Jangan lupa pakai sabuk pengaman. Hati-hati dengan kandunganmu," kata Wendi mengingatkan Lilis.


Lilis segera memakai sabuk pengaman dengan hati-hati. Sementara Bu Siti hanya diam saja melihat Lilis dan Wendi berbicara dan tampak rasa canggung di antara keduanya.


Setelah sampai di rumah, Lilis turun perlahan diikuti bu Siti yang kemudian membantunya turun.


"Terimakasih, nak Wendi."


"Sama-sama Bu Siti. Jangan sungkan, jika butuh bantuan, panggil saja Wendi. Saya pamit pulang dulu," ucap Wendi sebelum pergi.


Lilis dan Bu Siti melangkah masuk, dan mereka duduk di ruang tamu.


"Lis, apa tidak sebaiknya kamu istirahat di kamar saja."


"Ibu, ada yang ingin Lilis tanyakan pada ibu."


"Katakanlah, ibu pasti akan menjawabnya."


"Mengapa ibu melakukan pekerjaan itu lagi? Ibu sudah tua, Lilis tidak mau ibu nanti jatuh sakit."


"Ibu hanya ingin membantumu, biarpun hanya sedikit, masih bisa untuk menambah uang belanja."


"Ibu…maafkan Lilis. Di usia ibu, seharusnya ibu bisa hidup nyaman. Maafkan Lilis, Lilis belum bisa membuat ibu bahagia."


Bu Siti memeluk Lilis yang sedang menangis. Berusaha menenangkan hati sang putri yang telah terluka.


"Sudahlah, nak. Ibu tidak apa-apa. Semoga suatu saat, ibu bisa melihatmu tertawa dan hidup bahagia. Maka ibu juga akan hidup bahagia juga."


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like dan koment


__ADS_2