
Lilis menoleh ke arah Nathan dengan perasaan campur aduk. Lilis berharap, apa yang tadi dia ucapkan, tidak akan didengar oleh Nathan.
"Nathan, kapan mas Nathan datang?" tanya Lilis kaget.
"Sudah dari tadi. Dan kamu, harusnya cepat pergi. Kamu jangan menggoda calon istriku lagi. Atau aku akan berbuat lebih kasar dari yang pernah aku lakukan padamu," ucap Nathan menahan amarah.
Orang-orang menatap Nathan dan Desta dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka saling berbisik dan berusaha memahami situasinya.
"Kamu yang seharusnya pergi. Kamu yang ingin mengambil anak dan istriku. Bukankah masih banyak wanita yang masih gadis yang bisa aku nikahi? Kenapa harus dia?" kata Desta kesal.
"Kamu tidak ada hak untuk bilang dia istrimu. Kalian sudah bercerai dan dia berhak untuk melanjutkan hidupnya. Kau tidak berhak ikut campur."
"Benar, kau mantan suami Mbak Lilis, yang telah menelantarkan Mbak Lilis dan anaknya bukan? Pergi saja, sekarang Mbak Lilis mau menikah. Pergi!" kata salah satu pelanggan Lilis di ikuti pelanggan yang lain.
"Kalian..."
Mereka meneriaki Desta untuk segera pergi meninggalkan Lilis dan warungnya. Desta merasa kesal, dan dengan penuh dendam dia pergi sambil mengatakan sesuatu pada Nathan dan Lilis.
"Aku yakin kalian tidak akan bahagia. Karena aku akan selalu hadir dalam kehidupan kalian , meski kalian telah menikah sekalipun. Aku tunggu jandamu, Lilis."
Nathan terbakar emosi mendengar perkataan Desta. Nathan sudah bersiap untuk memukul Desta, tetapi Lilis dengan cepat menahan Nathan dengan meraih tangannya.
"Jangan kotori tanganmu dengan memukulnya. Dia sengaja, memprovokasi kamu supaya memukulnya. Tujuannya pasti untuk menghambat pernikahan kita, Mas," ucap Lilis memohon.
Nathan menggenggam balik tangan Lilis, saat melihat Desta pergi sambil tersenyum lebar, sengaja memancing emosi orang yang melihatnya.
"Kamu benar. sebentar lagi kita menikah. Aku tidak mau, merusak suasana bahagia kita dengan kehadirannya," ucap Nathan ketika Desta sudah pergi.
"Lilis, tinggal beberapa hari lagi kita menikah. Sebaiknya kamu tutup saja dulu warung makan ini," kata Nathan.
"Iya, Mas. Besok aku tutup sampai seminggu, kayaknya cukup ya Mas," ucap Lilis membuat Nathan menatapnya tajam.
Lilis pura-pura tidak tahu kalau Nathan sedang kesal padanya.
"Sudah, Mas. Hari ini aku tutup agak cepet, untuk persiapan."
__ADS_1
Nathan hanya bisa menghela nafas. Sifat sok tidak tahu atau pura-pura Lilis, membuat Nathan kecanduan. Rasanya dia ingin membalasnya tapi dengan cara lain.
***
Setelah warung tutup, Nathan sengaja tidak segera mengantar Lilis pulang. Dia ingin membicarakan sesuatu yang harus segera disetujui oleh Lilis.
"Lis, setelah menikah, aku akan tinggal di rumahmu. Apa kamu keberatan?" tanya Nathan.
"Ti tidak. Untuk apa keberatan? Lagian suami istri tinggal di manapun asal bisa bersama, masih wajar," jawab Lilis.
"Benarkah, aku akan menumpang makan di rumahmu."
"Hanya makan? Biasanya aku hampir tiap hari memberi orang lain makanan. Tidak masalah."
"Lilis, apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku mau tinggal di rumahmu?"
"Untuk apa? Di kampung ku, suami tinggal di rumah istri itu sudah biasa. Apalagi jika anak bungsu, pasti sang suami harus mau mengalah untuk tinggal di rumah mertua."
"Hhh, begitukah?"
"Lis, kamu anak tunggal, aku juga cucu satu-satunya Kakek. Aku juga tidak bisa meninggalkan Kakek sendirian. Terus kita harus bagaimana baiknya," tanya Nathan cemas.
"Sebenarnya, masalah seperti ini seringkali menjadi masalah yang serius. Jika tidak ada yang mau mengalah diantara suami-istri. Akhirnya mereka lebih memilih berpisah karena mereka tidak mendapatkan solusi yang tepat. Aku juga bingung, siapa diantara kita yang harus mengalah?" tanya Lilis.
"Lis, aku tidak mau mendengar kamu berniat membatalkan pernikahan kita. Apalagi memikirkan berpisah setelah menikah. Pelan-pelan kita akan mencari solusi bersama. Untuk sementara, kita akan bergantian tempat tinggal," jawab Nathan.
"Bergantian tempat tinggal, maksudnya?"
"Kita tinggal bergilir saja. Seminggu di rumah kamu, seminggu di rumahku. Bagaimana, cukup adil kan?" jawab Nathan sambil tersenyum.
"Cukup adil, tapi aku merasa seperti lintang ngaleh saja."
"Apa itu lintang ngaleh?" tanya Nathan bingung dengan istilah bahasa jawa.
"Artinya, hidup berpindah-pindah, seperti bintang meteor."
__ADS_1
"Bisa juga, ya. Untuk yang lain, kita pikirkan setelah menikah saja," kata Nathan kemudian.
"Ya sudah. Sebaiknya aku memang harus segera untuk mengambil pakaian yang akan aku pake saat menikah nanti."
Nathan segera membantu Lilis menutup warung dan segera mengantar Lilis pulang.
***
Sementara Desta yang sedang kesal, pergi ke sebuah bar yang cukup terkenal di kota B ini. Uang yang dia miliki juga mulai menipis. Usahanya mendekati Lilis dan berharap bisa menumpang hidup padanya bisa dikatakan gagal karena sekarang Lilis akan segera menikah.
Mau tidak mau, dia harus mau berpikir untuk mendapatkan uang agar bisa tetap bertahan hidup di kota ini. Tetapi dia sangat bingung dan merasa frustasi. Selama ini, dia tidak pernah bekerja. Desta terbiasa hidup dengan santai dengan mengandalkan uang dari wanita.
Untuk sementara, dia ingin menghilangkan rasa bingungnya dengan minum hingga mabuk. Saat itu, tiba-tiba datanglah seorang pemuda yang juga terlihat sedang banyak masalah.
"Hai, bro. Kamu kelihatannya bukan orang sini kan?" tanyanya sambil duduk disampingnya.
"Benar, aku dari Jawa."
"Pasti sedang banyak masalah. Aku melihat dari raut wajahmu, tampak suram."
"Kamu hebat, bisa tahu kalau aku sedang banyak masalah. Oh ya, aku disini belum miliki teman. Bisakah kita berteman?"
"Tentu saja. Namaku Guntur."
"Desta."
Mereka mulai berteman dan mereka tampak sangat cocok satu sama lain. Mereka tertawa dan minum bersama.
Guntur, pemuda asal pinggiran kota B. Datang ke kota B dengan membawa sebuah tujuan yang membuatnya berada didalam dilema. Dia datang ingin bertemu dengan keluarga ayahnya. Namun, dia baru tahu jika ayahnya sudah meninggal 6 tahun yang lalu.
Untuk saat ini, dirinya terpaksa mengurungkan niatnya dan bertahan hidup dengan bekerja sebagai seorang satpam. Sebenarnya, ibunya sudah meninggal setahun yang lalu dan ibunya juga melarangnya untuk tidak mencari ayah kandungnya. Namun, gejolak perasaan seorang anak, membuatnya ingin bertemu sang ayah. Guntur masih bingung, antara menuruti keinginan sang ibu atau keinginannya.
Keinginannya untuk bertemu sang ayah yang sudah meninggal, membuatnya akan dianggap hanya ingin mengambil harta warisan yang ditinggalkan oleh ayah kandungnya.
Pada kenyataannya, dia hanya seorang anak yang disembunyikan oleh ibunya dari ayah dan keluarganya.
__ADS_1