
"Apa ... ada orang yang mengaku menabrak ibu!" teriak Nathan kaget.
"Baik, kami akan segera ke sana," ucap Nathan yang segera mematikan panggilan teleponnya.
Nathan menghela nafas dan hampir tidak percaya dengan semua ini.
"Nathan, apa yang terjadi?" tanya Guntur penasaran.
"Ada orang yang menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengaku bahwa dia adalah orang yang menabrak ibu mertuaku. Aku ingin segera pergi, untuk mengetahui apakah dia sengaja menabrak ibu ataukah hanya sebuah kecelakaan biasa," jawab Nathan penuh semangat.
"Tapi sekarang kalian sedang bersama Kakek. Biarkan Kakek menikmati kebahagiaannya hari ini. Pergi ke kantor polisi besok saja, oke?" pinta Guntur.
"Baiklah. Hari ini, biarlah menjadi hari bahagianya Kakek. Terima kasih, karena kamu telah dengan tulus menjaga Kakek selama aku tidak di sampingnya," ucap Nathan sambil memeluk Guntur.
"Beliau juga Kakekku," kata Guntur.
"Aku masuk lihat Kakek dan anak-anakku. Kalian mau ikut masuk?" tanya Nathan sambil tersenyum.
"Tidak. Kalian puaskan saja bersama Kakek. Kami sudah bertahun-tahun bersama Kakek, pasti Kakek bosan melihat kami," ucap Guntur.
"Jangan bicara seperti itu," kata Nathan sambil menatap Guntur.
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius."
"Baiklah. Aku masuk dulu," pamit Nathan.
Nathan membuka pintu dan tersenyum melihat ketiga anaknya tertawa bersama sang Kakek.
"Anak-anak, kalian tidak ingin pulang?" tanya Nathan sambil mendekati mereka .
"Mas, siapa tadi yang telepon?" tanya Lilis penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Kalian jangan ganggu Kakek, biarkan Kakek istirahat," ucap Nathan pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Ayah, kami tidak ganggu Kakek. Ya kan, Kek?" kata Naina.
"Kakek bilang sama ayah, kita tidak ganggu Kakek," ucap Wahyu.
"Nathan, mereka tidak mengganggu Kakek, mereka malah membuat Kakek tertawa sampai lupa kalau Kakek sakit," kata kakek Edward.
"Baiklah kalau begitu, kalian teruskan. Ayah duduk disana bersama ibu."
Nathan mengajak Lilis duduk di kursi tidak jauh dari tempat tidur Kakek. Nathan masih menyimpan rahasia itu hingga mereka pulang ke rumah.
Di rumah, Nathan menunggu malam tiba untuk membicarakan apa yang sudah di dengarnya dari polisi.
"Sayang, besok aku ingin mengajakmu pergi ke kantor polisi," kata Nathan sambil melihat reaksi Lilis.
"Untuk apa ke kantor polisi, Mas," tanya Lilis penasaran.
"Tadi, ada kabar dari kantor polisi, kalau ada seseorang yang menyerahkan diri dan mengaku sudah menabrak ibu," kata Nathan pelan.
"Apa, apakah dia mengaku kalau dia sengaja?" tanya Lilis penasaran.
"Tidak, Mas. Aku telah menerima kepergian ibu, sejak awal. Aku sudah menerimanya sebagai takdir hidupku," ucap Lilis sambil menghela nafas.
"Aku tahu, sebaiknya kita tidur. Besok kita harus pergi dengan hati yang tenang."
***
Esoknya, Nathan dan Lilis menitipkan ketiga anaknya pada Wendi dan Sri. Setelah itu, mereka baru pergi ke kantor polisi. Selama perjalanan, mereka tampak terbawa dalam perasaan masing-masing. Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.
Setelah sampai di kantor polisi, mereka turun dan segera meminta polisi untuk mempertemukan mereka dengan pria itu.
Mereka menunggu di sebuah ruangan tertutup dengan hati tidak tenang. Meski dari awal, mereka sudah berusaha menenangkan hati, akan tetapi ketika akan langsung berhadapan dengan orang yang menabrak Bu Siti membuat mereka sulit untuk mencapai rasa tenang itu.
Beberapa saat menunggu, datanglah seorang polisi membawa seorang pria dengan tangan di borgol. Yang sangat mengejutkan mereka, laki-laki yang diborgol itu adalah dokter Pradipta.
__ADS_1
"Dokter Pradipta?!" ucap Nathan dan Lilis bersamaan.
Petugas meninggalkan, dokter Pradipta bersama Nathan dan Lilis. Lilis menggenggamnya erat tangan suaminya untuk membuatnya bis menahan emosi yang mulai menumpuk di hatinya.
"Aku minta maaf pada kalian berdua, atas apa ya g telah aku lakukan pada keluarga kalian," ucap dokter Pradipta sedih.
"Dokter, kenapa dokter menyerahkan diri tanpa berbicara dulu pada kami," tanya Nathan.
"Aku tidak sanggup menahan beban penyesalan ketika melihat kalian begitu iklhas menerima semua yang terjadi, sebagai sebuah takdir yang memang harus terjadi. Kalian mampu bangkit, meski dengan luka yang begitu parah dalam hati kalian. Kalian bisa saling menguatkan dan mengingatkan untuk berserah diri pada Tuhan. Aku malu, pada diriku sendiri," kata dokter Pradipta sambil meneteskan buliran airmata yang langsung di usap dengan tangannya.
"Bolehkah, Lilis tahu, apakah benar Dokter sengaja melakukan itu?" tanya Lilis sambil terisak.
"Benar. Aku sengaja melakukan itu pada kalian. Awalnya tujuanku adalah kamu, Lilis."
"Apa, aku, kenapa?" tangan Lilis semakin erat menggenggam tangan suaminya.
"Karena, aku sangat membenci ayah Nathan, Samuel. Orang yang sudah merebut cinta dan kekasihku Ririn. Aku tidak bisa membalas pada Samuel, tetapi aku bisa membalasnya pada kalian. Aku ingin Nathan juga merasakan kehilangan, seperti apa yang pernah aku rasakan saat kehilangan Ririn. Sakit, dan aku tidak ingin sakit sendirian," kata dokter Pradipta. "Tapi aku tidak menyangka, jika ibumu mengorbankan dirinya untukmu, Lilis. Cinta ibumu juga membuatku sedih dan menyesal."
"Dokter Pradipta. Sejak pertemuan pertama kita saat ulang tahun Wahyu, apakah juga bukan kebetulan?" tanya Nathan curiga.
"Benar. Aku sengaja mendekati kalian, untuk membuat rencana," jawab dokter Pradipta.
"Apa dokter tidak tahu, merencanakan sebuah pembunuhan hukumannya sangat berat? Tidakkah Dokter memikirkan itu sebelum bertindak?" tanya Nathan. "Jika memang Dokter mencintai ibuku, Dokter pasti akan membiarkan ibu bahagia meski dengan orang lain."
"Aku tahu. Tapi waktu itu, dendamku telah membuat hatiku mati rasa. Cara mencintai yang aku pilih, telah membuat cinta menjadi benci. Sekali lagi, aku minta maaf pada kalian dan juga anak-anak kalian. Aku telah memisahkan mereka dengan neneknya," kata dokter pradipta.
"Kami bisa memaafkan apa yang Dokter Pradipta lakukan, tapi kami tidak bisa membantu Dokter untuk bebas dari hukum," kata Lilis sambil menghela nafas.
"Tidak apa. Aku yang memilih untuk menerima hukuman ini, agar rasa bersalahku akan hilang. Kian tidak perlu merasa bersalah," kata dokter Pradipta.
Setelah pembicaraan berakhir," dokter Pradipta dibawa kembali oleh petugas.
Sementara Lilis dan Nathan saling memeluk karena teka-teki kematian ibunya telah terbuka kebenarannya. Kakek tidak terlibat dan itu bisa mendekatkan kembali antara Kakek dan Nathan.
__ADS_1
Seseorang yang pernah berbuat jahat, dimata masyarakat akan di cap sebagai orang yang terus berbuat salah. Walaupun itu belum tentu perbuatannya. Sedangkan orang yang kita anggap baik, belum tentu dia adalah orang baik. Bahkan mungkin menyimpan duri dalam hatinya yang tidak kita tahu.