
Nathan mengantarkan Lilis pulang walau dengan kendaraannya sendiri-sendiri. Lilis naik sepeda motor dan Nathan naik mobil pribadinya yang diakui sebagai mobil bosnya.
Sampai di depan rumah Lilis, Nathan memarkir mobilnya di jalanan. Saat itu, nampak Desta tengah berdiri diluar sebuah rumah sambil memperhatikan Lilis yang baru pulang.
Entah kenapa, saat melihat Desta, Nathan menjadi sangat cemburu. Apalagi mereka tinggal berdekatan. Sepertinya itu sudah menjadi taktik Desta untuk mendekati Lilis.
Nathan setengah berlari mendekati Lilis, lalu mengikutinya hingga pintu rumah Lilis. Lilis berhenti tepat di depan pintu dan berbalik arah.
"Mas Nathan, tidak langsung pulang?" tanya Lilis.
"Tidak bolehkah aku mampir? Tadi aku lihat, mantanmu tinggal di sebelah rumahmu," jawab Nathan.
"Benarkah? Sebelah mana?" tanya Lilis panik.
"Dua rumah dari sini. Mungkin dia mau mengawasi kita?"
"Maksudmu?"
"Bisakah kita duduk sebentar untuk membicarakan ini?"
"Tentu. Masuklah dulu, tak baik bicara di luar."
Lilis dan Nathan bergegas masuk untuk membicarakan masalah Lilis dan Desta. Nathan mulai memikirkan cara untuk mengatakan yang sebenarnya pada Lilis, tentang perasaannya saat ini.
"Apakah Mas Nathan, memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah ini?
"Aku rasa, pernikahan yang sudah kita rencanakan adalah solusi yang terbaik untuk membuat mantan suamimu menyerah."
"Tapi, bagaimana mungkin kita menikah? Aku tidak ingin melibatkan mas Nathan dalam urusanku dengan mas Desta."
"Kenapa, aku sama sekali tidak keberatan. Kita adalah teman dan aku akan membantumu sampai masalahmu benar-benar selesai dengan mantan suami mu."
"Tetapi jika sampai menikah, kamu yang akan dirugikan. Statusmu akan berubah menjadi duda, dan aku tidak mau itu terjadi padamu."
"Kenapa harus menjadi duda? Tidakkah kita bisa mencoba menjalani semuanya dengan baik? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku."
"Apa perlu membuat surat perjanjian atau surat kontrak?"
"Tidak perlu, ini hanya antara aku dan kamu. Selebihnya, serahkan saja pada jodoh."
__ADS_1
"Apa kekasih kamu tidak akan marah, jika kamu menikah denganku walau itu hanya sementara?"
"Jika aku memiliki kekasih, aku tidak akan membantumu. Tapi aku hanya butuh restu dari kakek saja. Besok kita akan pergi menemui kakek."
"Kenapa aku merasa pernikahan ini seperti sungguhan. Kenapa harus meminta restu dari kakekmu?"
"Kita menikah pura-pura saja dengan penghulu palsu. Jadi nanti kita tidak perlu mengurus perceraian setelah Mas Desta pergi dari kota ini."
"Apa kamu pikir mantan suamimu itu orang bodoh? Dia juga pasti akan tahu kalau kita hanya berpura-pura."
"Mas Nathan, haruskah kita menikah sungguhan secara resmi?" tanya Lilis bingung.
"Tentu saja harus menikah sungguhan baik secara agama maupun negara," jawab Nathan. "Karena itu, kamu juga harus meminta restu dari ibumu dan Naina. Aku juga ingin mendapat Restu dari mereka secara resmi."
Lilis terdiam mendengar perkataan Nathan. Haruskah dia berbuat sejauh itu untuk membuat mantan suaminya menyerah. Dan lagi, Lilis merasa bingung melihat Nathan yang begitu ingin membantunya lepas dari mantan suaminya.
Lilis tahu pasti jika ibunya tidak akan menyetujui pernikahan ini jika beliau tahu bahwa pernikahan ini hanya sandiwara. Jika Lilis berbohong pada ibunya, saat Lilis dan Nathan berpisah, ibunya pasti orang pertama yang terluka atas kegagalan pernikahan Lilis yang kedua ini.
"Kenapa Lis, kamu kelihatan bingung begitu?" tanya Nathan cemas.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, jika mas Desta tidak pergi dari kota ini, lalu bagaimana?"
"Gampang, kita jalani saja pernikahan kita sebagaimana pasangan menikah lainnya. Apa kamu malu, mempunyai suami seorang sopir?"
"Lilis, sebenarnya, aku sudah lama jatuh cinta padamu," ucap Nathan agak gugup.
Lilis terkejut, tetapi dalam hatinya, dia bersorak gembira mendengar pengakuan Nathan yang tiba-tiba.
"Karena itulah, aku berharap bisa menjaga kalian bertiga di masa depan. Jadi, aku ingin pernikahan ini, tidak hanya untuk membuat mantan suamimu menyerah. Tetapi juga untuk masa depan kita," tambah Nathan.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, ini terlalu mendadak bagiku. Aku…."
"Aku tahu, aku akan sabar menunggu. Atau anggap saja aku tidak pernah mengatakan ini. Kamu fokus saja untuk tujuanmu," ucap Nathan.
Tampak ada kekecewaan di wajahnya yang tadinya penuh semangat. Lilis hanya bisa menghela nafas dan tidak bisa memberinya jawaban karena Nathan sudah terlanjur berkata yang membuat Lilis diam.
"Ya sudah. Kita jalankan sesuai rencanamu saja," jawab Lilis tersenyum.
"Besok, aku akan secara resmi meminta izin pada ibumu. Setelah itu, kita temui kakekku."
__ADS_1
Lilis mengangguk setuju. Biarlah, apa yang akan terjadi selanjutnya, menjadi rahasia Allah. Yang pasti, Lilis lega karena pernikahan yang awalnya hanya sebuah sandiwara, akhirnya bisa menjadi pernikahan yang dia inginkan.
Meskipun Nathan belum tahu isi hatinya, Lilis bisa berbakti dan menghindarkan diri dari dosa mempermainkan sebuah pernikahan. Meski Lilis merasa takut akan terulang perpisahan untuk kedua kalinya, Lilis tetap berpikir positif akan takdir yang diberikan Allah kepadanya.
***
Lilis dan Nathan tidak menyadari bahwa Desta terus mengamati rumah Lilis sejak kepulangannya dari warung bersama Nathan. Sudah hampir satu jam, Nathan belum juga keluar dari rumah Lilis. Pikiran buruk merasuki hatinya dan membuatnya ingin melihat apa yang dilakukan Nathan selama itu.
Namun, Desta mengurungkan niatnya ketika melihat Nathan dan Lilis sudah keluar dari rumahnya. Mereka tampak begitu mesra membuat Desta kesal. Sebelum pergi, Nathan mencium kening Lilis yang semakin membuat Desta bertambah kesal.
Padahal, apa yang dilakukan Nathan dan Lilis memang disengaja untuk membuat
Desta kesal. Saat itu, Naina muncul dan berlari mengejar Nathan.
"Ayah Nathan…."
Suara Naina mengagetkan semua orang, termasuk Nathan. Padahal, dialah yang mengajari Naina memanggilnya 'ayah'. Kau sampai Lilis tahu aku yang mengajari, Lilis bisa ngambek kayak tadi.
"Ayah, ayah datang kok tidak temui Naina?" ucap Naina sambil menarik ujung baju Nathan.
"Ayah…? Naina, maaf. Ayah terburu-buru, besok ayah datang lagi untuk bertemu Naina dan nenek. Okey?" jawab Nathan sambil menggendong Naina.
"Naina, biarkan paman pergi," kata Lilis.
"Ayah, ibu. Bukan paman." bantah Naina
"Siapa yang ngajarin kamu panggil ayah?" tanya Lilis kesal dan malu.
Lilis tidak ingin, Nathan nanti mengira, dialah yang mengajari Naina memanggil 'ayah' pada Nathan.
"Lis, aku…"
"Ayah Nathan," ucap Naina sambil menunjuk pipi Nathan yang membuat Nathan salah tingkah.
"Mas Nathan, kamu?" kata Lilis kaget.
Lilis tidak menyangka jika yang mengajari Naina memanggil 'ayah' adalah Nathan sendiri. Mau senang atau marah, Lilis menjadi bingung. Akhirnya hanya sebuah helaan nafas dan senyum malu terlihat di wajah Lilis.
Nathan tersenyum malu juga sambil menunduk, karena Naina tidak bisa berbohong. Untung saja, Lilis tidak marah hanya terlihat kaget saja.
__ADS_1
Naina-Naina…
Bersambung