
Sementara Desta sedang berusaha mencari jalan mendekati Sita, Nathan sibuk bekerja di restoran milik Lilis. Hal itu membuat Naina kangen dengan keberadaan sang ayah. Padahal dulu kalau hari Minggu Nathan selalu ada di rumah. Seperti Lilis, karena hari Minggu menjadi hari keluarga.
Akan tetapi, akhir-akhir ini sangat berbeda. Hari Minggu, Nathan malah semakin sibuk di restoran karena kalau hari libur, akan semakin banyak tamu yang datang. Bagi Lilis, mungkin dia bisa memahami, tetapi bagi Naina, hal itu sangat membuatnya kesal.
Jika ayahnya pulang, dia pasti sudah sangat capek dan hanya menyapanya saja. Lalu ayahnya akan tinggal dikamar bersama sang ibu. Saat Lilis sedang duduk santai sambil nonton siaran Televisi, Naina dengan manja duduk disampingnya.
"Ibu, ayah sibuk apa, kenapa ayah jarang dirumah?" tanya Naina sambil memainkan memegang tangan ibunya.
"Ayah sedang bekerja, mencari nafkah untuk kita, Naina sayang. Naina kangen sama ayah Nathan?" tanya Lilis sambil tersenyum.
Naina mengangguk pelan. Tampak semburat kesedihan terpancar dari matanya. Lilis memeluk tubuh kecil yang baru masuk sekolah PAUD itu dengan lembut. Dan ikut merasakan besarnya rasa rindu pada ayahnya yang yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarga.
"Naina mau ketemu ayah?" tanya Lilis.
"Mau-mau. Mana ayah?" jawab Naina penuh semangat.
"Ayah masih bekerja. Kalau Naina pingin ketemu, nanti kita temui ayah di tempat kerjanya."
"Asyik, kapan, kita bisa temui ayah?" tanya Naina penasaran.
"Nanti sore saja. Sekarang Naina istirahat dulu. Ibu akan memberitahu Mbak Sri, kalau kita mau kesana."
"Baiklah ibu, Naina mau bobok bentar, nanti bangunin Naina kalau mau pergi," kata Naina lalu pergi kekamarnya untuk bobok siang.
Lilis tersenyum getir melihat Naina begitu menyayangi ayah Nathan. Begitu sangat merindukan kehadiran ayah Nathan disisinya. Bagaimana jika dia tahu jika Nathan bukanlah ayah kandungnya?
Akan tetapi, Lilis lebih memilih diam dan membiarkan rasa cinta ayah dan anak tumbuh di hati Naina dan Nathan. Biarlah Naina akan selalu menganggap Nathan sebagai ayah kandungnya begitupun sebaliknya.
Lilis menghubungi Sri untuk memberitahu bahwa sore ini dia akan datang bersama Naina. Sri tidak berani bertanya banyak karena Sri tahu kedatangan Lilis pasti untuk bertemu suaminya. Lilis juga berpesan tidak boleh mengatakan kedatangannya pada Nathan dan Wendi. Mereka berdua pasti akan heboh sendiri.
Ketika hari sudah mulai sore, Lilis membangunkan Naina dan membantu Naina mandi. Naina memakai pakaian santai dan sederhana begitu juga Lilis. Lilis hanya mengenakan pakaian santai tapi sopan mengingat kehamilannya sudah mulai terlihat.
__ADS_1
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Lilis dan Naina naik taksi. Maklumlah, mobil Nathan sudah dikembalikan pada Kakek Edward sehingga mereka sekarang sudah tidak memiliki mobil.
Selama perjalanan, Naina terlihat penuh semangat dan penuh kegembiraan karena sebentar lagi akan bertemu dengan ayahnya. Setelah setengah jam perjalanan, sampailah mereka di restoran 'Muney'.
Lilis dan Naina turun dari taksi yang segera disambut oleh Sri.
"Sri, nggak perlu sampai kamu menyambut kedatangan kami. Kamu pasti sangat sibuk dan sudah capek," kata Lilis sambil memegangi Naina.
"Tidak sibuk, kok. Suamimu itu yang sibuk. Dia sudah bekerja keras untuk kalian," kata Sri.
"Aku mengerti. Sebenarnya aku sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatannya. Dia tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar, aku takut dia nanti akan jatuh sakit."
"Mbak Sri, apa ayah ada didalam?" tanya Naina.
"Ayah Nathan ada didalam. Naina mau ketemu sekarang?" tanya Mbak Sri sambil memegang tangan Naina menggantikan Lilis.
"Mau," jawab Naina dengan riang gembira.
"Itu pemilik restoran ini kan? Dan itu, putrinya yang namanya ... siapa, kok aku lupa ya?" kata Meli.
"Namanya, Naina. Tetapi kenapa suaminya tidak ikut? Apa karena suaminya kaya dan punya bisnis sendiri. Sibuk pastinya," kata Wati sambil tersenyum.
"Dengar-dengar, restoran ini hadiah pernikahan dari suaminya yang sudah diatasnamakan istrinya semua. Beruntung banget ya, Bu Lilis," kata Fara.
"Iya, dengar-dengar juga kalau Bu Lilis memiliki sebuah warung makan yang menunya hampir sama dengan yang di restoran sini. Cuma harganya yang beda karena dijualnya di daerah kawasan industri. Pembelinya pasti golongan menengah ke bawah," kata Meli.
"Ada lagi, hampir tiap hari Bu Lilis membagi-bagikan makanan kepada gelandangan dan orang-orang miskin yang tidak bisa membeli makanan. Mungkin itu yang membuat Bu Lilis memiliki keberuntungan yang baik," kata Wati dengan nada kagum.
"Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan pekerjaan. Nanti kena tegur dari Bu Sri. Yuk," ajak Meli.
Lilis hanya tersenyum saja mendengar bisik-bisik dari para karyawannya. Saat Lilis menoleh kearah tamu, Lilis melihat sang suami tengah melayani tamu dengan senyum ramahnya. Lilis tertegun, suaminya tampak berbeda dengan yang dulu.
__ADS_1
Nathan telah banyak berubah, bukan lagi Nathan yang dingin dan cuek pada orang lain. Tidak terasa air bening menetes disudut matanya. Lilis segera mengusapnya sebelum Naina dan Sri menyadarinya.
Ketika Naina melihat sang ayah, Naina langsung berlari ke arah ayahnya tanpa peduli orang-orang yang memperhatikan Naina. Naina langsung memegang tangan ayahnya.
"Ayah, ayah kerja disini?" tanya Naina menatap sang ayah yang langsung jongkok didepan Naina.
"Naina, sayang, Kamu kok bisa ada disini?" tanya Nathan kaget.
"Sama ibu, ayah," jawab Naina sambil menengok kearah ibunya.
"Oh, ibu?" Nathan berdiri dan menatap wajah Lilis yang tampak terlihat menahan kesedihan.
Nathan menghela nafas panjang. Apa yang dilakukannya saat ini mungkinkah memang membuat istrinya sedih. Lilis dan Sri mendekati Nathan.
"Kalian masuk dan bicarakan di ruangan kerjaku. Banyak orang disini, jangan sampai kalian menjadi bahan tontonan gratis," kata Sri pada Nathan dan Lilis.
Sri meraih baki yang ada ditangan Nathan. Lalu memberi isyarat mereka untuk segera pergi ke ruangannya. Nathan menggendong Naina dan mengajak Lilis masuk. Lilis mengikuti langkah sang suami sambil sesekali menghela nafas agar tangisnya tidak meledak disini.
Nathan menurunkan Naina dan mendudukkan Naina di kursi setelah sampai di ruangan Sri. Nathan melihat ke arah Lilis yang masih berdiri dan menatapnya lembut. Nathan merentangkan kedua tangannya memberi petunjuk pada istrinya untuk mendekat.
Lilis melangkah pelan mendekati Nathan yang tersenyum kearahnya. Lilis berdiri tepat didepan sang suami yang kemudian memeluknya mesra. Rasa haru menyelimuti hati keduanya. Mereka tenggelam dalam perasaan masing-masing.
Lilis dan Nathan kaget saat Naina menarik pelan baju mereka. Naina merasa diabaikan dan tidak diperhatikan oleh ayah dan ibunya. Lilis melepaskan pelukannya, diikuti Nathan. Mereka tersenyum saat melihat wajah Naina cemberut manja.
"Maaf, sayang. Hampir lupa," kata Nathan sambil melirik kearah Lilis.
"Iya sayang, adik tadi yang pingin peluk ayah," tambah Lilis.
"Naina nggak marah, ayah dan ibu boleh berpelukan. Tapi jangan sampai lupa Naina ada disini," kata Naina manja.
Lilis dan Nathan duduk di samping Naina, lalu mereka memeluk Naina bersamaan sebagai tanda permintaan maaf. Naina merasa senang, ayah dan ibunya selalu rukun dan tidak pernah sekalipun bertengkar dihadapan Naina.
__ADS_1
"Naina seneng banget, ayah dan ibu sangat menyayangi Naina. Lebih seneng lagi, melihat ayah dan ibu selalu rukun," ucap Naina pelan dan membalas pelukan ayah dan ibunya.