
Semua yang datang untuk melihat hasil tes DNA antara Bapak Edward Sugara dengan Bapak Nathan Sugara, tampak tegang. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Hasilnya adalah 99,9 persen dinyatakan ... negatif."
Mendengar hasil tes DNA yang dibacakan oleh Dokter membuat semua orang kaget. Terutama Nathan yang sudah berusaha bersusah payah ingin menunjukkan bahwa ibunya tidak pernah berselingkuh, akhirnya gagal. Kakinya lemas dan dia terduduk dilantai.
Lilis berusaha menenangkan suaminya yang terlihat sangat syok dengan hasilnya. Mereka terlihat tersenyum sinis melihat Nathan. Terutama Desta. Senyum liciknya menyeringai lebar, melihat Nathan syok dan terpukul.
Matilah kau Nathan. Itulah hukumannya karena kamu sudah berani mengambil milikku, batin Desta.
Lilis segera mengajak Nathan pulang. Lilis segera menghubungi Seno untuk menyetir mobil, karena Lilis tidak bisa menyetir. Lilis juga tidak akan membiarkan Nathan menyetir sendiri dalam kondisi seperti sekarang ini.
Tidak berapa lama, Seno datang dengan naik taksi. Lilis segera menyuruhnya mengambil mobil dari parkiran rumah sakit. Selama perjalanan pulang, suasana tampak sepi. Tidak ada satupun yang berbicara, termasuk Lilis. Dia sibuk memeluk Nathan untuk menenangkannya. Seno ingin bertanya apa yang terjadi, namun diurungkan karena melihat kondisi Nathan yang tidak seperti biasanya.
Setelah sampai dirumah, Lilis memapah Nathan masuk kedalam kamar. Lalu dia keluar untuk menemui Seno.
"Seno, kamu pasti penasaran dengan apa yang terjadi pada Nathan, bos kamu. Hasil tes DNA hari ini keluar dan hasilnya negatif. Aku mohon kamu urus semua urusan mas Nathan di restoran. Aku berharap, besok dia sudah bisa kembali bekerja," kata Lilis.
"Aku mengerti, Mbak Lilis. Semoga Mbak Lilis bisa membuat Bos kembali bekerja."
Seno pamit pergi untuk kembali ke restoran. Sementara Lilis bergegas masuk, dan berpapasan dengan ibunya.
"Lis, aku lihat tadi Nathan sepertinya sedang sakit? Segera bawa periksa ke rumah sakit, sebelum sakitnya tambah parah," kata ibu Siti.
"Ibu, Mas Nathan tidak sakit. Hanya saja hari ini dia mengalami syok dan tekanan batin karena tes DNA menunjukan dia bukan anak keluarga Sugara," kat Lilis sedih.
"Ya sudah. Kamu temani suamimu. Biar ibu kali ini yang masak. Nanti ajak dia makan. Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama," kata Bu Siti.
"Lilis temani mas Nathan dulu, ya Bu. Nanti kalau Naina mencariku, bilang saja ibu temani ayah," kata Lilis pelan.
"Kamu tidak perlu khawatir, biar Naina ibu yang urus," kata Bu Siti.
__ADS_1
Lilis lalu pergi menuju ke kamarnya untuk menemani Nathan. Saat Samapi dikamar, Lilis terkejut karena Nathan sama sekali tidak terlihat. Lilis sempat panik sebelum akhirnya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Lilis bisa bernafas lega.
Cukup lama Nathan berada di dalam kamar mandi hingga membuat Lilis kembali panik. Dia bergegas mengetuk pintu kamar mandi.
"Ada apa, sayang. Mau ikutan mandi?" suara Nathan dari dalam kamar mandi
"Aku juga mau mandi, mas. Tapi mas Nathan keluar dulu," jawab Lilis.
"Tapi aku masih ingin berendam mendinginkan kepalaku. Masuk saja kalau ingin mandi. Masuklah..."
Lilis masuk kekamar mandi yang ternyata memang tidak dikunci.
Pantesan aku disuruh masuk, batin Lilis.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Lilis memang harus masuk untuk memastikan kondisi Nathan. Lilis menyaksikan suaminya berada dibawah guyuran air shower, yang tidak ada henti-hentinya.
"Mas, apa kamu bisa bernafas dibawah guyuran air shower? Sini aku akan membantumu mengeringkan tubuhmu," kata Lilis agak keras agar suaminya mendengar ucapannya.
"Nggak mas, anak kita lagi malas mandi. Kayaknya lagi pingin manjain ayahnya," kata Lilis berusaha membujuk Nathan.
Nathan mematikan shower lalu mengambil handuk dan memakainya. Nathan mendekati Lilis yang tersenyum melihat Nathan berjalan kearahnya. Nathan mengelus perut Lilis lalu tersenyum.
"Anak ayah? Sebenarnya yang pingin memanjakan aku, kamu atau ibumu?"
"Dua-duanya, Mas."
"Bisa, aja," ucap Nathan sambil mencolek hidung Lilis.
Nathan menggandeng Lilis keluar kamar mandi. Lilis meminta Nathan untuk duduk di kursi depan cermin. Lilis dengan lembut mengusap rambut Nathan dengan handuk kecil agar rambut Nathan segera kering.
"Mas, apa kamu sudah ada rencana?" tanya Lilis hati-hati, takut membuat suaminya marah.
__ADS_1
"Entahlah. Tapi aku sudah berjanji, jika aku terbukti bukan keturunan keluarga Sugara, maka aku akan pergi meninggalkan bisnis keluarga Sugara," kata Nathan sambil menghela nafas.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Mas. Meskipun kamu bukan keturunan keluarga Sugara, tetapi kamu sudah menunjukan kinerja yang baik dalam bisnis ini. Kamu sudah berjuang sejak lama. Aku rasa, kakek juga tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja," kata Lilis sambil tetap menerangkan rambut Nathan.
"Apa kamu takut karena aku akan jadi pengangguran? Tenang saja, aku bukan dia. Aku akan bekerja keras untuk kamu dan anak kita,b" tanya Nathan membuat Lilis menghentikan aktivitasnya.
"Haha, apa yang aku takutkan, Mas? suami pengangguran? Aku malah senang kalau kamu berhenti bekerja disana," jawab Lilis sambil tertawa kecil.
"Kenapa tertawa?"
"Yah, aku kan lebih bisa bermanja sama kamu. Aku mau selalu ditemani mas Nathan," kata Lilis tersenyum manja.
"Selalu ditemani? Aku jadi curiga, ditemani dimana saja itu?"
"Pergi periksa ke dokter, pergi ikut senam terus pergi makan diluar," jawab Lilis
"Bukannya minta ditemani mandi, terus ditemani dikamar, yang lebih penting, menemani tidur. Bener kan kataku. Harusnya bener dong."
Lilis cemberut manja karena disaat seperti ini, suaminya masih bisa bercanda. Nathan tertawa melihat wajah Lilis dari cermin didepannya.
"Istriku memang makin cantik kalau lagi manja begini. Jangan perlihatkan gaya manja-mu ini ke orang lain," kata Nathan sambil mendongak.
"Aku mana berani manja sama orang lain. Dihadapan mereka, aku ini Lilis yang mandiri dan pekerja keras."
"Hmm, bener juga," kata Nathan sambil tersenyum.
Lilis sangat bahagia karena suaminya tidak terlihat bersedih lagi seperti waktu di rumah sakit. Akan tetapi, Lilis menyadari bahwa peristiwa hari ini tidak akan semudah itu bisa dilupakan oleh Nathan. Apalagi sejak lahir, Nathan sudah menganggap keluarga Sugara adalah keluarganya.
Setidaknya, Lilis sudah berusaha membuat suaminya tidak akan terlalu bersedih dengan selalu mendampingi disaat dia terpuruk. Menunjukan betapa dia tidak hidup sendiri, masih ada istri dan anak-anaknya yang sangat membutuhkan dirinya sebagai kepala rumah tangga. Perjalanan hidup masih panjang dan masih banyak ujian dan cobaan yang akan mereka hadapi. Bahkan mungkin lebih berat dari ini.
Semakin cinta tumbuh kuat, akan semakin datang angin yang menerpa. Mencoba mengikis rasa saling percaya. Hanya doa yang selalu Lilis panjatkan, semoga ujian yang akan datang, mereka sanggup melewatinya bersama.
__ADS_1