Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 79. Kenapa disebut Mantan suami


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Sejak malam itu, Nathan sudah tidak pernah lagi kembali ke rumah Lilis. Dia telah kembali bekerja seperti dulu dalam keluarga Sugara. Kakek Samuel juga sudah sembuh seperti biasanya. Apalagi sebenarnya, baik Kakek maupun Guntur sudah mengetahui bahwa Nathan adalah anak kandung dari Samuel Sugara.


Kini, kehidupan Nathan telah kembali seperti semula. Dingin dan hanya peduli pada pekerjaan. Hidupnya hanya untuk mengembangkan bisnis dan mencari uang sebanyak-banyaknya.


Walaupun terkadang rasa rindu itu sangat menyiksanya. Rindu pada istri dan anak-anaknya. Jika sudah begitu, dia akan bersembunyi didalam kamar dan menangis. Dia seperti seorang anak kecil yang kehilangan ibunya.


Jika menangis tidak bisa mengurangi rasa rindunya, dia akan pergi ke rumah Lilis. Hanya sekedar ingin melihat kehidupan Lilis setelah dia pergi. Dia diam didalam mobil yang terparkir di jalan depan rumah Lilis. Nathan melihat Lilis, tampak baik-baik saja. Tidak ada kesedihan atau rasa putus asa diwajahnya.


Entah kenapa, Nathan terlihat sangat marah melihat Lilis baik-baik saja. Cinta itu hilang begitu cepat. Seperti debu yang tertiup angin.


Lilis, aku masih mencintaimu.


Setelah puas melihat Lilis, Nathan pergi meninggalkan rumah yang pernah membuatnya bahagia. Nathan kembali ke aktivitas sehari-harinya di restoran.


"Bos, waktunya makan siang. Bos ingin makan apa?" tanya Seno sambil menyerahkan berkas.


"Aku sedang tidak ingin makan," jawab Nathan datar.


"Baiklah kalau Bos tidak mau makan. Saya lagi pingin makan nasi gandul. Seno izin ke warung sebentar bos untuk makan siang," kata Seno sengaja.


Mendengar nasi gandul, Nathan tertegun sesaat. Dia langsung teringat Lilis.


"Tunggu, bawakan aku satu bungkus," kata Nathan.


"Oke, Bos. Seno berangkat sekarang."


Seno bergegas berangkat menuju warung Lilis. Sampai disana, dia segera menemui Mbak Surti.


"Mbak Surti, tolong bungkus dua ya," kata Seno.


"Kok pesen dua mas. Apa yang satu untuk suaminya Bos?" tanya Mbak surti.


"Benar sekali."


Saat itu, Lilis datang bersama Wahyu, Naina dan Bu Siti.

__ADS_1


"Mas Seno, makan disini?" tanya Lilis.


"Iya, Mbak Lilis."


"Pak Nathan suaminya Bos, pesen juga lho Mbak Lilis," kata Mbk Surti tersenyum.


"Dia bukan lagi suami. Sekarang dia mantan suami. Sudah jangan dibicarakan lagi, lanjutkan pekerjaan Mbak Surti," kata Lilis.


"Baik, Mbak."


Seno merasa kaget saat Lilis menyebut kata mantan suami, bukannya mereka hanya bertengkar dan pisah rumah sementara saja? Kenapa terlihat serius? Setelah membayar makanan, Seno bergegas kembali ke tempat kerjanya.


Seno membawa makanan yang sudah dibelinya ke ruang Nathan. Tampak Nathan penasaran dan dia segera bertanya pada Seno.


"Seno, apa tadi kamu melihat Lilis disana ?" tanya Nathan pelan.


"Iya Bos, aku melihatnya."


"Apa kamu berbicara dengannya?" tanya Nathan lagi.


"Iya Bos. Tapi ...."


"Dia bilang Bos adalah mantan suami."


"Apa, mantan suami? kamu tidak salah dengar?"


"Tidak Bos, Seno tidak salah dengar."


Nathan yang sudah siap hendak makan, meletakan kembali sendok yang ditangannya diatas piring.


"Bawa makanan ini jauh-jauh."


"Bos tidak makan?"


"Aku sedang tidak berselera," jawab Nathan sedih. "Sekalian tutup pintunya."


Seno segera membawa pergi makanan yang tadi dipesan oleh Nathan. Nathan teringat, setelah Nathan pergi dari rumah, Lilis sama sekali tidak pernah menghubunginya. Bahkan membalas pesannya juga tidak.

__ADS_1


Bukankah dia bilang, dia menunggu surat cerai dari aku? Dia tidak akan mendapatkannya karena aku tidak akan pernah menceraikan dia. Apakah dia sudah melakukan gugatan ke pengadilan agama tanpa sepengetahuanku? Sehingga dia sudah menyebutku mantan suami? batin Nathan.


Perasaan Nathan menjadi kacau. Karena dia sudah tidak bisa berkonsentrasi kerja, dia memutuskan untuk pulang. Bukan pulang ke rumah Lilis, melainkan pulang ke rumah Kakek. Rumah yang di tinggali sejak pergi dari rumah Lilis.


Setelah menyerahkan semua tugas pada Seno, Nathan pulang untuk menenangkan diri. Selama perjalanan pulang, Nathan teringat Lilis dan Wahyu yang sedang tersenyum padanya. Dan Nathan segera menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba karena dia hampir saja menabrak seseorang. Untunglah dia masih sempat menginjak rem mobilnya.


Nathan berhenti sejenak, lalu meneruskan kembali perjalanannya. Begitu sampai di rumah, dia segera masuk dan bertemu dengan Kakek yang sedang berjalan keluar kamar.


"Kakek, kenapa Kakek keluar kamar? Dokter bilang, Kakek harus banyak istirahat. Jangan banyak bergerak," kata Nathan sambil membantu Kakek duduk di sofa.


"Kakek bosan tinggal di kamar terus. Kakek sekarang sudah sehat. Ini semua karena kamu dan Guntur. Kalian cucu-cucu Kakek yang hebat. Terutama kamu Nathan, kamu sudah bersedia kembali ke keluarga Sugara. Kakek sudah dengar pengakuan dari Desta, itu berarti, kamu adalah keturunan keluarga Sugara," kata Kakek.


"Kakek, Nathan menyesal, disaat Nathan memiliki segalanya, anak dan istri Nathan tidak ada di samping Nathan," kata Nathan sambil tertunduk.


"Nathan, mungkin saja dia bukan istri yang baik untukmu. Toh masih banyak wanita, yang akan mau mengejarmu. Kamu kaya, tampan, banyak uang. Wanita mana yang tidak ingin bersamamu," kata Kakek.


"Tapi aku hanya ingin Lilis dan Wahyu, Kakek. Bukan yang lain," kata Nathan.


"Kamu begitu mencintai mereka, tetapi dia tidak mencintaimu. Lilis sudah mengusirmu, bahkan dia sama sekali tidak ada keinginan untuk meminta maaf padamu," kata Kakek.


"Aku rasa, Lilis pasti menyembunyikan sesuatu. Jika tidak, mana mungkin dia akan berbuat sampai sejauh itu. Saat dia bilang tidak mencintaiku lagi, saat itu aku tahu dia berbohong. Tapi apa sebenarnya yang membuat Lilis nekat mengusirku dari hidupnya? Kakek, Nathan ingin menyelidiki alasan itu," kata Nathan penuh semangat.


"Maksud kamu apa?"


"Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat Lilis lebih memilih berpisah denganku daripada memperjuangkan cinta ini bersamaku," kata Nathan menjelaskan.


"Untuk apa kamu tahu, jika hanya akan membuat kamu semakin terluka. Biarkan semua berlalu, dan kamu tatap masa depanmu yang lebih baik," kata Kakek.


"Kenapa Kakek seolah tidak ingin Nathan tahu alasan Lilis?" tanya Nathan pada Kakek.


"Siapa bilang, Kakek tidak ingin kamu tahu? Kakek akan mendukung seratus persen keputusan kamu," jawab Kakek.


Nathan tersenyum karena Nathan memang berharap bahwa keputusan Lilis tidak ada hubungannya dengan Kakek. Nathan tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika terbukti bahwa Kakek ada hubungannya dengan perpisahan dia dengan anak dan istrinya.


Kali ini, Nathan ingin meyakinkan diri, bahwa Lilis masih sah sebagai istrinya. Terlepas dari keinginannya bercerai dengan Nathan, Nathan belum menjatuhkan talak pada Lilis. Nathan berharap istrinya belum melakukan gugatan cerai. Karena jika Lilis melakukannya, dia akan meminta penjelasan dan memaksa Lilis untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Nathan tidak akan peduli lagi dengan harga diri yang ternyata membuat dia kini jauh dari orang yang dicintainya. Dia ingin mengerti kesulitan Lilis saat ini meski Lilis tidak bicara apapun padanya. Harusnya malam itu dia tidak pergi. Harusnya dia rela menjadi orang bodoh dan tetap berada di samping keluarganya.

__ADS_1


Lilis, maafkan aku yang mementingkan harga diriku diatas kesulitan mu.


__ADS_2